
Pada saat ini, Wiranto Robert saling menatap.
Robert sudah mengatakan apa yang seharusnya ia katakan. Sekarang saatnya bagi Wiranto untuk membuat keputusan, karena kerja sama bukan urusan satu orang, perlu dilakukan oleh kedua belah pihak.
Melihat mata Robert, Wiranto tiba-tiba tersenyum.
"Robert, kau tidak begitu percaya padaku? Apakah kau tidak takut setelah mengetahui informasi ini, aku memakan semua bagianmu? Bagaimanapun, keuntungan yang bisa diperoleh dari proyek kawasan universitas sangatlah besar!" Wiranto berkata sambil menuang segelas anggur.
Sekarang Robert telah memberi tahu semua informasi yang ia ketahui, dan bisa saja dia langsung pergi dan mengkhianati Robert, dengan begitu semua uang akan menjadi miliknya.
Robert menjawab sambil tersenyum. "Aku tidak suka basa-basi, aku lebih suka to the point! Tentu saja, semuanya terserahmu, aku tidak bisa mengendalikan keputusanmu, tapi aku bisa memutuskan pilihanku sendiri. Tuan Wiranto, bagaimana menurutmu?"
Setelah mengatakan itu, Robert mengangkat gelas sambil tersenyum, lalu dengan lembut mengangkatnya ke arah Wiranto, dan meminumnya.
Melihat ini, Wiranto tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Kau ini! Apakah maksudmu kalau sikapku salah, kau akan segera memberi tahu informasi ini kepada para pengembang real estat lainnya agar semua orang ikut bersaing dalam proyek kawasan universitas?" Wiranto bertanya sambil tersenyum.
Robert tertawa kecil, tetapi tidak berbicara.
Dia memang punya rencana ini, tetapi dia tidak akan melakukannya kecuali itu adalah pilihan terakhir.
Wiranto menggelengkan kepalanya dan terkekeh. "Sepertinya kau masih tidak terlalu mempercayaiku, tapi aku bukan orang jahat. Aku mengundangmu ke sini hari ini karena ingin mendapatkan izin kerja sama modul kapasitor baru Hontaromu, sedangkan kau juga ingin bekerja sama denganku dalam proyek kawasan universitas, kita sama-sama memiliki kepentingan masing-masing dan saling membutuhkan, jadi kau tidak perlu bersikap seperti itu padaku! Dan mengenai cara bekerja sama ...."
Setelah mengatakan ini, Wiranto menyesap anggur, lalu merenung selama beberapa detik, dan kemudian berkata, "Aku dapat memberimu 30% dari keuntungan proyek. Bagaimanapun, aku perlu berinvestasi dan menghidupi banyak pekerja! Aku akan mencari kerja sama dengan beberapa bos besar real estat yang punya hubungan baik denganku. Aku yang akan mengurus masalah kerja sama, semua orang akan memberimu setidaknya 30% dari keuntungan. Bagaimana?"
Robert mengangguk dan berkata, "Tidak masalah."
Keuntungan 30% sudah sangat besar. Lagi pula, dia hanya memberikan informasi, dan tidak perlu mengeluarkan apa pun, sedangkan mereka tidak hanya perlu berinvestasi, tetapi juga menghidupi banyak karyawan.
Robert awalnya berpikir Wiranto paling hanya akan memberinya 20% dari keuntungan, dia tidak menyangka Wiranto akan memberinya 30%, ini sudah melebihi harapannya.
Jika dia punya cukup uang, dia akan membeli semua tanah secara langsung, sama sekali tidak perlu membicarakan kerja sama dengan Wiranto di sini.
Namun, setelah pembelian saham dan pengeluaran lainnya, sekarang uang yang dia miliki hanya tersisa beberapa ratus juta.
Sekarang dia memiliki banyak perusahaan, tetapi tidak ada uang di sakunya.
“Kalau begitu kita sepakat, ya! Semoga kerja sama kita bisa berjalan dengan baik.” Wiranto tertawa.
__ADS_1
Segera setelah itu, keduanya bersulang.
Dua jam kemudian, Robert mabuk berat karena terus dipaksa minum oleh Wiranto.
Dalam hal minum alkohol, Robert dan Wiranto tidak berada di satu level yang sama.
Sebagai raja real estat, Wiranto sudah terbiasa minum alkohol di saat membicarakan kerja sama dengan klien, jadi dia lebih kuat minum alkohol daripada siapa pun, apalagi dalam menghadapi Robert yang biasanya jarang minum.
Pada akhirnya, Wiranto meminta sopir untuk mengantar Robert kembali.
Setibanya di rumah, Lia mengerutkan kening saat melihat penampilan mabuk Robert. "Kenapa kau minum begitu banyak? Berapa banyak alkohol yang kau minum?"
Robert terhuyung-huyung, lalu tersenyum dan berkata, "Tidak banyak, aku ... masih bisa minum!"
Setelah itu, dia memeluk bahu Lia dan berkata sambil tersenyum, "Kak Wiranto, ayo! Ayo minum tiga ratus gelas lagi!"
Lia bergeming.
Kau sudah mabuk berat!
Sopir Wiranto, Hendri, yang berdiri di samping menyeringai ketika melihat penampilan Robert. "Eh ... Direktur Lia, Tuan Robert sudah kuantar kembali. Kalau tidak ada apa-apa, aku akan kembali dulu."
"Baik, terima kasih," kata Lia.
Setelah keluar dari vila, Hendri segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon Wiranto.
“Hendri, kau sudah mengatar Tuan Robert pulang?” Wiranto bertanya di ujung telepon.
Hendri berkata dengan penuh semangat, "Sudah Pak! Oh ya, aku punya informasi menarik tentang Tuan Robert di sini, apakah Bapak ingin mendengarnya?!"
"Hah? informasi apa? Coba ceritakan," kata Wiranto dengan penuh minat.
Hendri tersenyum dan berkata, "Aku rasa Bapak pasti tidak akan percaya setelah mendengar informasi ini! Tuan Robert tinggal bersama Direktur Lia!"
"Hah? Direktur Lia yang mana? Lia Setiawan?"
"Ya! Keduanya tinggal bersama! Informasi ini sangat menarik, ‘kan? Tadi begitu Tuan Robert masuk ke rumah, dia langsung memeluk bahu Lia dan berkata, 'Kak Wiranto, ayo minum lagi,' tadi aku hampir saja tidak bisa menahan diri dan tertawa!" Hendri bergosip dengan gembira.
“Hendri, informasimu sangat menarik, tapi sudah bukan informasi baru, aku sebelumnya sudah tahu!” jawab Wiranto.
__ADS_1
Wiranto tahu bahwa Robert memiliki hubungan yang baik dengan Lia. Bagaimanapun, pada jamuan ulang tahun Bambang, Lia telah mengatakan bahwa Robert adalah pacarnya, dan ketika Lia bertengkar dengan Bambang, Robert juga yang membawanya keluar dari pesta perjamuan.
Jadi sangat wajar kedua pasangan tinggal bersama.
Satu-satunya hal yang membuatnya merasa menarik adalah Robert memanggil Lia ‘Kak Wiranto’, diperkirakan ekspresi Lia pasti sangat lucu saat itu.
Di Boulevard, Artha Gading Villa No. 1.
Lia memindahkan Robert ke kamar tidur dengan susah payah dan melemparkannya ke tempat tidur.
Meski jaraknya hanya beberapa puluh meter, Lia telah kehilangan semua kekuatannya dan langsung tumbang dan kelelahan di tempat tidur.
Lia berkata dengan marah. "Kau ini tidak terlihat gemuk, tapi berat sekali! Kalau bukan karena aku tak punya tempat tinggal, aku tak akan repot-repot memindahkanmu ke tempat tidur!"
Setelah itu, Lia hendak berdiri dan pergi, tetapi Robert tiba-tiba memeluk pinggangnya, dan menekannya di tempat tidur, lalu dia memeluk Lia seperti memeluk boneka, kemudian mencari posisi yang nyaman, dan tertidur.
"Arghhh!"
Lia menjerit dan memeronta, tetapi dia malah menemukan bahwa Robert sedang tidur pulas. Tidak peduli bagaimana dia mendorong, Robert tetap tidak bergerak.
"Bajingan kau! Sengaja mengambil kesempatan berbuat mesum padaku di saat mabuk!"
Lia melototi Robert yang wajahnya sudah sangat dekat dengannya. Dia menggunakan seluruh kekuatannya, tetapi butuh lebih dari sepuluh menit untuk mendorong Robert menjauh darinya.
Sedangkan Robert tidak bergerak dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun, diperkiran dia benar-benar sudah tertidur.
Lia memelototi Robert dengan marah.
Kemudian, dia mengambil napas panjang, lalu mulai menanggalkan pakaian Robert.
Pakaian Robert penuh dengan keringat, kalau dia tidur dengan memakai pakaian ini, diperkirakan besok badannya pasti sangat bau.
Keesokan harinya.
Robert terbangun, dah merasa kepalanya sangat pusing.
Dia mengangkat selimut dan hendak bangun dari tempat tidur.
Kemudian ....
__ADS_1
Robert menunjukkan ekspresi kebingungan, dia berteriak, dan segera menutupi dirinya dengan selimut.
Astaga! Di mana pakaianku?