Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
Bab 119


__ADS_3

"Robert, aku ada urusan di perusahaan besok. Kamu juga bersiap-siap. Aku akan datang menjemputmu lusa pagi!" Lia duduk di kursi pengemudi dan berkata kepada Robert sambil tersenyum.


Robert melambaikan tangannya dan berkata, "Sampai jumpa."


Setelah berpamitan dengan Lia, Robert menatap rumah yang dia sewa di lantai tiga.


Lampu di dalam rumah masih menyala.


Namun, Robert tidak naik ke atas, dia tidak tertarik untuk naik ke atas untuk menyapa Junius dan putranya.


Saat akan pergi, Robert tiba-tiba melihat seorang anak nakal sedang melukis Peppa Pig di CRV kesayangan Junius dengan batu kecil.


"Nak."


Robert mengingatkan, "Jangan melukis seekor saja, harus satu keluarga dong, biar gak kesepian si peggy!"


"Baik!"


Anak kecil itu mengangguk dengan penuh semangat.


Robert tersenyum lalu mengendarai mobil dan pergi.


Baru pergi sesaat, Robert langsung menerima telepon dari ayahnya.


“Halo, Robert, bagaimana kabarmu dengan pamanmu? Mereka tidak mengatakan apa-apa, ‘kan?” Antonius tertawa.


"Ada!"


Robert langsung menjawab, "Mereka bilang uang yang Ayah berikan terlalu sedikit, enam juta tidak cukup untuk mereka. Mereka menyuruh ayah mengirim 200 juta lagi. Mereka ingin tinggal di hotel bintang lima, ingin makan abalon Australia! Mereka bilang kalau Ayah tidak setuju, berarti tidak menganggapnya sebagai kakak, dia akan memutuskan hubungan persaudaraan dengan Ayah."


Terdengar suara tawa ibunya di ujung telepon.


Antonius tertegun selama dua detik, lalu berkata dengan marah. "Apakah kamu ingin dihajar? Bukankah aku menyuruhmu melayani mereka dengan baik? Kenapa malah membuat mereka marah?"


"Tidak tidak."


Robert buru-buru menjelaskan. "Aku hanya berpikir bahwa Ayah terlalu tidak adil sama ibu, masa uang tidak dikasih ke ibu malah dikasih ke paman? Ayah jangan lupa kalau kita tidak satu keluarga dengan mereka."


"Dasar sialan! Beraninya kau mengajariku, tunggu kamu kembali aku akan menghajarmu hingga babak belur!"


"Aku salah, aku salah! Aku tutup telepon dulu, ya! Bye-bye!"


Kemudian, Robert langsung menutup telepon, lalu menggelengkan kepala dan tersenyum, yang penting pikiran kolot orang tua bisa diubah secara perlahan!


Tidak perlu buru-buru!


Begitu tiba di rumah, Robert pergi mandi dan langsung tidur.


Keesokan harinya, Robert tidur hingga siang.

__ADS_1


Kali ini, dia belajar lebih pintar, tidak segera membeli saham Hontaro.


Biarkan mereka merasa cemas.


Satu jam kemudian, Joe datang.


Kemarin dia sudah mendiskusikannya dengan Robert bahwa hari ini dia akan membawa kontrak pengalihan saham untuk melakukan transaksi.


Apa yang tidak Robert sangka adalah dia bahkan membawa notaris, sepertinya dia sangat buru-buru ingin Robert segera menandatangani kontrak.


Robert membaca sekilas kontrak tersebut, isi kontrak sangat adil, bahkan ada beberapa klausul yang menguntungkan Robert, misalnya, mereka perlu bekerja sama secara aktif dengan Robert untuk melakukan sertifikasi perusahaan dan menangani berbagai hal dengan syarat tidak mempengaruhi kepentingan dan hak mereka sendiri.


Jelas mereka benar-benar ingin segera mengalihkan saham di tangan mereka agar bisa dicairkan.


Yang satu ingin membeli, dan yang satu ingin menjual.


Transaksi seperti ini selalu bisa dilakukan dengan cepat, dan dengan sertifikasi dari notaris, transaksi selesai dalam waktu kurang dari setengah jam.


“Terima kasih! Tuan Robert, terima kasih!” Joe berkata dengan penuh semangat sambil berlinangan air mata.


Robert tersenyum dan berkata, "Tidak usah sungkan."


Dia hanya berharap bahwa setelah eksperimen modul kapasitor baru Hontaro berhasil, Joe tidak datang marah-marah padanya karena kelak saham Hontaro akan melonjak tinggi.


Namun, Joe seharusnya tidak akan menyalahkan dia karena mereka menganggap Hontaro sebagai beban, dan Robert yang membantu mereka melepas beban tersebut.


Siapa yang mau melakukan bisnis yang tidak menguntungkan?


“Tuan Joe, mau kubawa pergi makan?” tanya Robert dengan ragu-ragu.


"Tidak! Aku harus mengirim uang kepada para pemegang saham terlebih dulu, lalu jalan-jalan di Jakarta selama dua hari. Sudah tiga tahun aku tidak pernah keluar jalan-jalan, hampir membuatku depresi!" Joe menghela napas.


"Baiklah kalau begitu." Robert tersenyum.


Setelah itu, Joe mengantar notaris pulang.


Baru pada sore hari, Robert membeli saham Hontaro.


Orang-orang yang ingin mencari keuntungan dari selisih harga penjualan sudah menjual saham di tangan mereka, harga saham hari ini bahkan lebih murah dari kemarin.


Hanya dalam waktu setengah jam, Robert berhasil membeli saham Hontaro sebesar enam miliar.


Sisa investor ritel yang belum sempat menjual saham di tangan mereka sangat cemas, tapi sayangnya pembelian saham memiliki batas, batas maksimal pembelian setiap saham adalah enam miliar.


Namun, tidak banyak investor ritel yang tersisa di pasar saham sekarang.


Besok beli sekali lagi seharusnya sudah cukup.


Setelah itu, Robert menyiapkan hadiah kakeknya Lia.

__ADS_1


Hadiah yang dia katakan adalah kontrak kerja sama pertama dengan perusahaan Hontaro!


Apa yang paling penting bagi pasar elektronik?


Tentu saja baterai!


Tanpa listrik, semua elektronik adalah sampah!


Asalkan Grup Setiawan dan perusahaan Hontaro melakukan kerja sama, mereka pasti dapat menyapu seluruh pasar elektronik!


Inilah hadiah yang dipersiapkan oleh Robert!


Sebenarnya bekerja sama dengan siapa itu sama saja, tapi Grup Setiawan adalah perusahaan besar, selain bisa memperoleh keuntungan, dia masih bisa sekalian memperkokoh kursi Lia di Grup Setiawan.


Hari berlalu dengan cepat.


Dalam sekejap mata sudah tanggal 5 Juli.


Pada hari ini, Robert membeli saham Hontaro sebesar enam miliar lebih awal.


Dia tidak bisa menunda lagi hari ini, karena informasi dari sistem Berita Utama Besok mengatakan bahwa percobaan akan berhasil di pagi ini, jika dia menunggu sampai sore baru membelinya, diperkirakan akan sangat sulit mendapatkannya pada saat itu!


Pukul sepuluh pagi.


Robert berhasil membeli enam miliar saham Hontaro.


Dia meletakkan ponselnya dan tertawa, dalam lima hari dia membeli saham Hontaro sebanyak 30 miliar secara gila-gilaan, pembelian saham Hontaro akhirnya berakhir dengan sukses, dan hasilnya jauh melampaui harapannya!


Awalnya, Robert mengira bahwa dia hanya bisa memperoleh 85% saham Hontaro, tapi tidak disangka karena dia sengaja mengundur waktu pembelian, akhirnya dia berhasil memperoleh total 92% saham Hontaro, 8% sisanya berada di tangan para investor ritel.


Dihitung menurut saham yang diterbitkan, saham yang dia peroleh mendekati 65% dari saham saat go public, ditambah dengan yang dia beli dari Joe kemarin, sekarang dia memegang saham sebesar 85%. Total saham ini bahkan lebih tinggi dari saham yang dia pegang di Starway Entertainment. Kali ini dia benar-benar adalah bos besar perusahaan Hontaro!


Pada saat ini, Lia meneleponnya.


"Halo, Robert, di mana kamu sekarang, aku akan menjemputmu."


"Aku berada di Artha Gading Villa No. 1, datanglah ke sini," jawab Robert.


Sepuluh menit kemudian.


Sebuah Maserati putih berhenti di depan Robert.


Robert tersenyum dan hendak berjalan mendekat.


Pada saat ini, Lia keluar dari mobil.


Mata Robert langsung berbinar begitu melihat Lia.


Lia mengenakan gaun merah panjang ketat, rambut panjang yang terurai hingga ke bahu, ditambah dengan lekuk tubuh yang ideal, memancarkan pesona yang unik.

__ADS_1


__ADS_2