Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
Bab 89 John yang Ketakutan


__ADS_3

"Kamu ... apa yang ingin kamu lakukan!"


Dylan melihat senyum jahat Robert, dan wajahnya menjadi pucat ketakutan.


Perubahan situasi seringkali terjadi begitu mendadak.


Beberapa menit yang lalu, Elysia masih bertanya dengan cemas apa yang ingin Dylan lakukan.


Dalam sekejap mata, situasinya berubah dan malah Dylan yang bertanya pada Robert apa yang ingin dia lakukan.


Robert tersenyum dan berkata, "Tentu saja melakukan apa yang kamu pikirkan."


Selesai berkata, Robert langsung meninju wajah Dylan.


Bam!


"Ah ... jangan pukul wajahku!"


"Ah ... Hardi selamatkan aku!"


Hardi memandang Dylan yang dipukuli sambil menelan air liur ketakutan. Dia menahan ketakutan, dan berteriak keras, "Robert! Hentikan! Apakah kamu tahu siapa dia? Dia adalah putra John! Apakah kamu tidak takut mati kalau memukulnya hingga babak belur?"


Meskipun Hardi berteriak keras, tapi dia tidak berani melangkah maju, dan hanya berani berteriak di tempat.


Mana mungkin dia berani melangkah maju?


Tiga pria kekar itu dijatuhkan Robert dalam sekejap, kekuatan tempur Robert telah jauh melebihi dugaannya!


Bahkan kalau saat ini ada tiga klon yang sama dengan dirinya, dia juga tidak mungkin bisa mengalahkan Robert!


Robert berhenti memukul Dylan, lalu menoleh menatap Hardi dan berkata, "Hardi, ada apa? Kamu juga ingin mencobanya?"


Mendengar ini, Hardi segera mundur selangkah tanpa sadar dan berkata dengan cemas, "Kamu ... apa yang ingin kamu lakukan?"


Robert mencibir, "Dasar pengecut!"


Setelah berbicara, dia menoleh untuk menatap Dylan.


Pada saat ini, ponsel Dylan tiba-tiba berdering.


Dia segera mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


Saat berikutnya, seolah-olah dia telah bertemu penyelamat, dia segera menjawab panggilan dan berteriak, "Ayah! Selamatkan aku! Seseorang telah memukul putra kesayanganmu! Selamatkan aku ..."


Teriakannya terlalu berlebihan, Elysia dan Dewi pun terdiam saat melihat reaksi Dylan.


Tadi dia terlihat sombong dan hebat, tapi sekarang dia hanya bisa menangis dan meminta tolong!


Robert menoleh untuk menatap Hardi, matanya penuh dengan penghinaan dan berkata, "Hardi, lihat kondisi tuanmu. Apakah kamu mendapatkan keuntungan dengan menjadi anjingnya?"


Wajah Hardi menjadi muram ketika mendengar perkataan Robert, tapi dia tidak bisa menyangkalnya sama sekali.


Awalnya, dia ingin mengandalkan Dylan untuk memberi pelajaran pada Robert. Bagaimanapun, Dylan adalah anak orang kaya di Jakarta.


Dia tidak menyangka bahwa Dylan akan ketakutan setengah mati di depan Robert.


Pada saat ini, Dylan tiba-tiba melepaskan diri dari tangan Robert dan meraung dengan marah, "Bajingan, beraninya kamu memukulku, ayahku tidak akan mengampunimu!"


Kemudian, Dylan menekan tombol loudspeaker.


Pada saat yang sama, suara yang penuh emosi terdengar dari speaker ponsel.


"Bajingan! Beraninya kau memukul putraku! Apakah kau ingin mati?"


Ketika Hardi mendengar kata-kata John, dia langsung menertawakan Robert dan berkata, "Robert, apakah kamu tahu siapa John? Sekarang Bos John sudah tahu bahwa kamu memukul putranya, jadi kamu tunggu dan lihat saja, Bos John tidak akan mengampunimu!"


Robert melambaikan tangannya dan berkata, "Jangan khawatir, aku akan mengurusnya."


Setelah berbicara, dia berjalan ke hadapan Dylan dalam dua langkah. Wajah Dylan berubah ketakutan. Dia melangkah mundur dan berkata dengan panik, "Kamu ... kamu masih ingin memukulku?"


Robert menggelengkan kepala dan berkata, "Aku ingin berbicara dengan ayahmu."


"Ayahku?"


Dylan mengerutkan kening, dan kemudian tertawa kuat. "Apa? Kamu juga tahu takut? Kamu ingin meminta belas kasihan pada ayahku? Kamu telah memukuliku hingga babak belur, dan masih ingin meminta ayahku mengampunimu? Kecuali kamu membawa Elysia ke ranjangku, lalu ...."


Sebelum dia menyelesaikan perkataannya, Robert melototinya dan dia terpaksa menelan kembali kata-katanya.


Tidak peduli seberapa hebat ayahnya, ayahnya tidak mungkin bisa membantunya sekarang, kalau Robert ingin memukulnya, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Kemudian, Robert menatap ponsel Dylan, dan mencibir, "Kamu John, ‘kan?"


"Ya, Nak, karena kamu pernah mendengar nama besarku, maka ...."

__ADS_1


Robert langsung menyela dan berkata, "Sisanya akan kita bahas nanti, Bos John, aku lihat dahi anakmu terlihat gelap, sepertinya adalah roh jahat yang mengganggunya, aku khawatir dia akan ada segera mendapat bencana besar!"


Begitu mendengar perkataan ini, John yang berada di ujung telepon langsung tercengang. Termasuk semua orang di tempat juga ikut tercengang.


Dahi menjadi gelap? Diganggu roh jahat?


Kenapa Robert mengatakan hal-hal yang aneh? Mungkinkah dia bisa meramal?


Dalam situasi ini, apa gunanya dia mengatakan itu?


Apakah John bisa mengampuninya hanya karena dia mengatakan itu?


Tapi selanjutnya, sesuatu yang sulit dipercaya pun terjadi.


John tiba-tiba bertanya dengan ragu. "Kamu ...."


Robert tersenyum dan berkata, "Siapa aku itu tidak penting, yang terpenting adalah apa yang kukatakan selalu menjadi kenyataan, bukan?"


"Kamu ...." John tiba-tiba berseru.


Saat berikutnya, seolah-olah seekor kucing telah terinjak ekornya, dia berteriak dengan cemas. "Nak! Cepat pulang! Cepat!"


"Ayah? Ada apa denganmu ...."


“Jangan banyak bertanya! Cepat! Cepat!” John mendesak dengan cemas, seolah-olah sebentar lagi nyawa putranya akan dalam bahaya.


Sebenarnya, John memang takut akan hal ini.


Saat Robert mengucapkan kalimat itu, dia sudah menyadari bahwa Robert adalah pria yang bersama Lia malam itu, pria yang sangat misterius.


Gara-gara perkataannya, Steven yang selama ini selalu beruntung dan tidak pernah tertimpa kesialan tiba-tiba mendapatkan bencana dan hampir saja mati, sekarang dia masih terbaring di ruang ICU.


Menurut apa yang dikatakan dokter, kemungkinan untuk diselamatkan sangat kecil!


Bahkan jika berhasil diselamatkan, dia mungkin juga akan lumpuh seumur hidup!


Itu semua terjadi hanya gara-gara satu kalimat sederhana dari Robert.


Dylan adalah putra satu-satunya dan anak kesayangannya. Jika sesuatu terjadi pada Dylan, maka hidupnya tidak memiliki arti lagi.


Jadi ketika dia mendengar perkataan Robert, John langsung ketakutan.

__ADS_1


“Segera pulang! Sekarang! Segera! Segera! Kalau tidak, aku akan mematahkan kakimu!” John meraung histeris di telepon.


__ADS_2