
Robert merenung selama sepuluh detik, dan akhirnya memilih untuk menjawab telepon.
Sebenarnya dia tidak mau menjawab telepon.
Tetapi jika dia menutup telepon secara langsung, dia khawatir pamannya pasti akan melapor kepada ayahnya.
Dengan temperamen ayahnya, ayahnya pasti akan menelepon dan memarahinya, mengatakan bahwa dia tidak sopan, bahkan telepon paman sendiri tidak dijawab.
“Hei, Robert, di mana kau sekarang?” Junius bertanya langsung begitu panggilan tersambung.
Robert menyeringai dan berkata, "Ada apa? Aku sedang sibuk."
"Hei? Jaga sikapmu, apakah itu sikap berbicara dengan pamanmu? Biar kuberitahu, mobil sepupumu digores anak kecil dua hari yang lalu, dan sudah diperbaiki di toko. Tunggu kapan kau ada waktu tolong ambil kembali mobilnya." Junius langsung memerintah begitu saja.
Robert bergeming.
Hanya dengan mendengar perkataan Junius, Robert sudah tahu apa maksudnya.
Menyuruhnya membawa kembali mobil? Dia pasti ingin dia membayar biaya perbaikan mobil.
Terlebih lagi dengan skala bagian yang digores oleh anak nakal itu, uang untuk memperbaiki mobil pasti tidak sedikit, dan orang tua dari anak nakal itu pasti tidak akan membayarnya.
Dan goresan disengaja bukan termasuk kerusakan mobil, jadi tidak bisa mengklaim asuransi, jadi Junius pasti ingin dia yang membayarnya.
"Itu ... Paman, kau beri aku uang untuk perbaikan mobil dulu, aku akan membawa mobil itu kepadamu saat aku ada waktu," kata Robert.
Tidak peduli berapa besar biaya perbaikan mobil tersebut, Robert tidak ingin membayarnya sama sekali.
"Mau aku yang bayar?"
Ketika Junius mendengar ini, dia segera menjadi cemas, dan berkata dengan marah. "Robert, kau yang menyewa rumah itu, kau yang mencari tempat sewa di sana, mobil kami tergores di situ, tidakkah kau harus bertanggung jawab? Masih beraninya kau meminta uang perbaikan mobil dariku? Apakah kau tidak tahu malu?"
Robert bergeming.
Orang tua ini benar-benar tidak tahu malu.
Dia mengambil keuntungan dari orang lain, dan merasa hal itu adalah hal yang sepatutnya, tidak bersedia menerima kerugian sedikit pun.
“Kau seharusnya meminta orang yang menggores mobilmu yang membayarnya? Kenapa malah memintaku yang membayarnya untukmu?” Robert berkata dengan tidak berdaya.
"Kau yang menyewa rumah itu, kami hanya pergi mencarimu! Bukankah ayahmu memberimu enam juta? Rumah itu milik teman sekelasmu, dan kau sama sekali tidak perlu membayar uang sewa sepeser pun. Enam juta sudah cukup untuk memperbaiki mobil! Jangan bertele-tele, bersikaplah seperti seorang pria! Kalau kau benar-benar tidak ada waktu, transfer uangnya kepada kami, kami akan pergi mengambil mobil sendiri!" Junius berkata dengan marah.
Robert bergeming.
Orangtua ini benar-benar pandai membujuk, tidak heran ayah ditindas habis-habisan oleh kakaknya.
Berbicara panjang lebar, ternyata pamannya menginginkan uang enam juta itu.
__ADS_1
"Baik!"
Robert langsung menjawab. "Karena paman sudah berbicara seperti itu, maka tentu saja boleh! Tunggu kabar baik dariku."
"Hmm ... begitu baru benar! Sampai di sini dulu, kalau mobilnya sudah kau ambil, tolong telepon aku atau kakak sepupumu." Junius tertawa gembira.
Selesai berbicara, Robert menutup telepon.
Robert memegang telepon dan menyeringai.
Boleh apanya!
Tunggu saja kalian!
Huh, jika aku pergi dan mengambil mobil untuk kalian, makan namaku bukan Robert.
Kemudian, Robert mengendarai mobil ke Junior Hotel.
Begitu tiba di pintu hotel, seorang pria paruh baya berusia 40-an dengan setelan biru berdiri di pintu, ketika dia melihat Robert datang, dia segera menyapanya dengan hangat. "Halo, Bos Robert."
“Apakah kau Ricky?” Robert bertanya dengan heran.
Dari suara di telepon, dia berpikir bahwa Ricky adalah orang yang serius, tetapi ketika dia melihat orang yang sebenarnya, Robert terkejut.
Meskipun pria ini terlihat berusia empat puluhan, dia memiliki kumis dan rambut yang mesum, begitu juga dengan matanya.
Ricky tertawa dan berkata. "Ya, Bos Robert, ini aku. Aku tidak menyangka Bos Robert lebih muda dari yang terlihat di foto."
Robert merentangkan tangannya dan berkata. "Semua orang yang pertama kali melihatku selalu berkata begitu."
“Mari masuk, Bos Robert, aku sudah memesan kamar, Jasmine dan yang lainnya juga ada di dalam,” kata Ricky dengan antusias.
Robert mengangguk dan mengikuti Ricky ke dalam.
Kamar pribadi ada di lantai dua.
Ini adalah ruangan yang besar, tetapi hanya ada dua orang di dalamnya.
Salah satunya adalah Jasmine, dia mengenakan atasan suspender, terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya, terlihat sangat muda dan cantik.
Di sampingnya, ada seorang wanita berusia tiga puluhan.
Begitu Robert melihat wanita itu, matanya melebar karena terkejut.
Sial!
Kenapa dia?
__ADS_1
Wanita ini adalah wanita yang ia temui pada saat dia menggunakan stiker kesialan super pada Steven, wanita pemilik SUV itu.
Pada saat itu, pemilik mobil itu dengan putus asa berteriak agar anak di dalam mobil menginjak rem, dan anak di dalam memutar setir dengan panik, menyebabkan kaki Steven hancur dan patah.
Tetapi sejak itu, Robert tidak pernah melihatnya lagi, dan tidak tahu apakah wanita itu terlibat dalam insiden itu atau tidak.
Robert awalnya ingin bertanya tentang situasinya, tetapi sayangnya tidak berhasil menemukannya, tidak disangka akan bertemu dengannya di sini.
Melihat Robert masuk, Jasmine tersenyum, lalu berdiri dan berkata. "Robert, izinkan aku memperkenalkan, ini adalah mantan agenku yang aku katakan terakhir kali, Dasmine! Seperti namaku, ada nama ‘mine’ di namanya!"
Dasmine segera berdiri, dan dengan sopan berkata kepada Robert. "Kau adalah bos besar, ‘kan? Halo, kau ...."
Belum selesai berbicara, dia melihat tatapan aneh Robert.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Dasmine bertanya dengan bingung.
Dia tidak mengenal Robert.
Situasi malam itu terlalu berbahaya, dia memperhatikan mobil dan orang-orang yang terluka sepanjang waktu, jadi tidak memperhatikan Robert yang ada di kerumunan.
Di sisi lain, Robert berbeda,
Kesannya terhadap pengemudi wanita ajaib ini lebih dari yang bisa dia ungkapkan.
Robert kembali sadar, dia berkata dengan tersenyum kering. "Tidak ada, tidak ada, bagus. Jasmine, agen yang kau cari sangat bagus."
"Tentu saja."
Jasmine tertawa kecil dan berkata. "Dasmine adalah agen yang sangat baik. Dia banyak membantuku pada awalnya. Tanpa dia, aku tidak akan berada di posisiku sekarang ini! Sayangnya, Hartono memaksanya pergi! Dua hari yang lalu, aku mendengar bahwa dia sedang dalam masalah dan kehilangan ratusan juta. Karena itu, rumahnya digadaikan. Sekarang adalah waktu yang sulit baginya. Meskipun aku ingin membantunya, tapi aku tidak dapat banyak membantunya! Ketika kau bilang ingin menggantikan agenku, orang pertama yang terlintas di pikiranku adalah dia!"
"Tidak apa-apa! Ratusan juta saja, perusahaan akan mengeluarkan biaya tersebut!"
Robert segera menepuk dadanya dan meyakinkan. "Karena Kak Dasmine adalah anggota perusahaan kita, maka masalahnya adalah masalah perusahaan, dan perusahaan akan bertanggung jawab atas semua barang yang ia gadaikan!"
Ketika Dasmine mendengar Robert memanggilnya 'Kak Dasmine', wajahnya menjadi pucat karena ketakutan, dan segera melambaikan tangannya. "Bos, Anda terlalu sungkan ...."
Belum selesai berbicara, Robert langsung menyela, dan berkata kepada Ricky. "Ricky selesaikan masalah Dasmine, bayar semua hutangnya, dan gandakan gajinya agar dia dapat bekerja di perusahaan dengan baik. Oke?"
Semua masalah ini disebabkan olehnya.
Pada akhirnya, tidak terjadi apa-apa padanya, tetapi malah membiarkan Dasmine yang disalahkan dan menyebabkan begitu banyak masalah. Adalah tugasnya untuk membantunya menyelesaikan masalah ini.
"Tidak masalah!"
Ricky segera meyakinkan. "Aku akan mengatur masalah ini setelah kembali, dan menyelesaikan semua masalah Kak Dasmine!"
Jangan bercanda, bos besar saja telah memanggil Dasmine ‘Kak Dasmine’, mana berani dia memanggilnya Dasmine?
__ADS_1