Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
147


__ADS_3

Setelah Robert selesai makan dan pamitan pada Lia, dia langsung keluar dari rumah dan pergi ke gedung Longtech untuk menerima pendapatan sewa.


Namun, begitu keluar dia langsung menerima telepon dari Kelvin.


“Ada apa, Bro?” Robert berkata sambil masuk ke dalam mobil.


Kelvin berteriak dan berkata dengan suara sedih. "Robert, mari kita menjadi sahabat lagi di kehidupan selanjutnya! Selamat tinggal! Angin di lantai atas sangat kuat ...."


Robert bergeming.


Waduh!


Apa ini 'perpisahan'?


Lantai atas mana yang anginnya begitu kencang?


Apa yang dia lakukan?


"Tunggu!"


Robert berkata dengan tak berdaya. "Kelvin, bukankah dua hari ini kau sedang mencari lokasi untuk Perusahaan Berto? Kenapa kau tiba-tiba bosan hidup? Apa yang terjadi? Di mana kau?"


Kelvin berkata dengan suara tersendat. "Aku di lantai atas Hotel Astro! Robert, ingatlah untuk mengambil mayatku nanti! Jangan lupa untuk meminta penata rias untuk merias mayatku agar terlihat lebih baik, dan bakar lebih banyak uang kertas untukku. Aku tidak punya hobi lain selain uang! Oh ya, dan ...." Ia menjeda ucapannya.


"Tunggu sebentar! Aku akan pergi ke sana. Aku tidak ingat apa yang kau katakan sekarang, beri tahu aku di sana saja, aku takut melupakan pesan terakhirmu!" kata Robert.


Selesai berbicara, dia menutup telepon dan bergegas ke Astro Hotel.


Dua puluh menit kemudian.


Ketika Robert tiba di Hotel Astro, dia melirik ke lantai atas.


Tidak ada seorang pun di atas, mungkin Kelvin berada di sisi lain.


Dia bergegas masuk hotel dan berlari ke lantai atas dalam satu tarikan napas.


Di kejauhan, Robert melihat Kelvin berdiri di salah satu sisi gedung, dan sedang menatap ke arah pintu masuk di lantai atas.


Melihat adegan ini, Robert merasa lega.


Untung masih belum terlambat.


Dia mengangkat tangannya dan menyapa Kelvin. "Kelvin, kau ...."


Belum menunggu Robert menyelesaikan kata-katanya. "Arrghh ...."


Kelvin berteriak dengan sedih. "Jangan hentikan aku! Biarkan aku mati!"

__ADS_1


Selesai berkata, dia langsung berlari ke tepi gedung.


Robert bergeming.


Waduh!


Apakah dia akan melompat sekarang?


Lalu apa yang tadi dia lakukan di sini?


Menungguku datang baru melompat?


Kelvin bergegas ke tepi gedung dan hendak memanjat, lalu menyadari bahwa tidak ada respons apa pun di belakangnya.


Dia berbalik dan menemukan bahwa Robert masih berdiri di tempat dan tidak bergerak sama sekali.


Melihat adegan ini, Kelvin tertegun sejenak, lalu meletakkan satu kakinya di tepi teras, dan berteriak kepada Robert. "Aku tak ingin hidup! Jangan tarik aku, biarkan aku mati! Jangan tarik aku!"


Robert berkata, "Aku tidak menarikmu kok ...."


Dia telah lama berteman dengan Kelvin, dan sangat memahaminya!


Bagaimana mungkin dia tidak tahu apa yang Kelvin pikirkan?


Jika di telepon, ketika Kelvin tiba-tiba mengucapkan selamat tinggal padanya, dia masih merasa sedikit khawatir, tapi begitu dia datang ke sini dan ketika melihat Kelvin terus menatapnya, dia sudah tahu kalau Kelvin sedang berpura-pura.


Jika dia pergi menariknya sekarang, dia takut Kelvin akan berakting berlebihan dan bahkan mungkin akan terjatuh ke bawah jika tidak hati-hati.


Kelvin tercengang dan bertanya, "Robert, kenapa kau tidak menarikku?"


"Aku ...." Ia menggantung ucapannya.


Robert menjawab. "Aku belum mempersiapkan mental! Aku baru saja tiba di sini, dan kita masih belum mengatakan sepatah kata pun, melihatmu ingin melompat ke bawah, aku benar-benar ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa!"


“Kalau begitu secara insting kau seharusnya datang menarikku, bukan?” Kelvin bertanya dengan marah.


"Aku sudah sangat ketakutan jadi tubuhku tidak bisa merespons!" Robert menjelaskan.


“Kalau begitu kau juga harus menarikku. Bukankah biasanya selalu akan ada orang yang datang menarik kalau melihat ada orang yang ingin melompat dari gedung? Kau membuatku situasiku sangat canggung, tahu? Sialan!” Kelvin memarahi.


Robert bergeming.


Dia berjalan ke arah Kelvin dengan tak berdaya dan bertanya, "Kelvin, jangan melompat, oke?"


"Baik!"


Kelvin langsung bangkit dan berjalan kembali ke kursi santai di lantai atas dengan wajah cemberut dan kemudian duduk, lalu menyalakan sebatang rokok.

__ADS_1


Robert juga menghampiri, menyalakan sebatang rokok, dan bertanya, "Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba ingin bunuh diri?"


Ketika Kelvin mendengar ini, dia menangis lagi, air matanya membasahi rokok, lalu menutup matanya dan berteriak, "Robert, angin di atas sangat kuat, hatiku sangat ...."


“Berhenti! To the point saja!” Robert berkata sambil mengeluarkan gumpalan asap rokok dengan suasana hati buruk.


Kelvin menyusutkan kepalanya dan berkata dengan suara kecil, "Aku ... aku tidak mendengarkan nasihatmu. Aku menjual saham Hontaro dua hari kemarin."


Robert bergeming.


Waduh!


Tidak disangka dia menjual saham Hontaro, tidak heran si pria gemuk ini menangis sedih dan berteriak ingin melompat dari gedung.


Bagi Kelvin, uang adalah nyawanya, kehilangan begitu banyak uang sekaligus sama seperti mengambil nyawanya.


Robert menepuk pundaknya dan membujuk dengan serius. "Tidak apa-apa! Kau ingin bunuh diri demi saham sialan itu? Apa perlu?


"Kenapa tidak!"


Kelvin menatap, dan berkata dengan marah, "Enak sekali omonganmu, kau sudah membeli begitu banyak saham Hontaro, tentu saja tidak merasa sedih! Tahukah kau apa impian terbesarku? Memperoleh keuntungan 2 miliar dari saham! Awalnya dengan 200 juta aku bisa memperoleh keuntungan 14 miliar! Tapi malah kujual begitu saja! Bisakah kau memberiku kompensasi? Apakah kau tahu berapa banyak investor yang bunuh diri gara-gara saham Hontaro? Setelah dua hari mengantri, akhirnya sampai giliranku! Belasan dari mereka telah digotong pergi di bawah sana!"


Robert berkata, "Tidak mungkin!"


Kelvin berbicara banyak, tapi Robert dengan tajam menangkap satu kalimat penting dari Kelvin.


Ternyata Kelvin berniat untuk memperoleh saham Hontaro darinya.


Kelvin berkata, "Kenapa tidak mungkin?"


Robert menarik napas dalam-dalam, dia merentangkan tangannya dan berkata, "Kau sendiri yang menjual sahammu, jadi kau hanya bisa menanggungnya sendiri, kalau kau benar-benar ingin melompat dari gedung, langsung lompat saja, aku pasti akan menyiapkan peti mati emas yang bagus untukmu, tapi jangan bermimpi untuk memperoleh saham Hontaro dariku!"


Kelvin menghisap rokok lalu menghembuskan asap secara perlahan, lalu berkata dengan wajah sedih. “Sial! Tak jadi bunuh diri, aku masih punya orang tua, masih banyak gadis cantik yang menungguku, aku tidak boleh mati begitu saja!”


Robert bergeming.


Cepat sekali dia membujuk diri sendiri.


"Oh ya, aku akan memberitahumu masalah pemilihan lokasi untuk perusahaan."


Kelvin mengubah topik pembicaraan dan berkata, "Aku telah memilih hampir tiga lokasi, semua lokasinya sangat strategis. Salah satu lokasi yang paling strategis berada dekat Gedung Longtech, tapi harganya juga yang tertinggi! Biaya sewanya lebih dari 20 miliar per tahun! Dua sisanya lebih murah, tapi lokasinya agak buruk, aku akan membawamu pergi survei kalau ada waktu."


Robert menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu, ikut denganku ke gedung Longtech. Aku berencana meletakkan perusahaan di sana."


"Apa?"


Ketika Kelvin mendengar apa yang dikatakan Robert, matanya melebar karena terkejut. "Meletakkan perusahaan di gedung Longtech? Apakah kau bercanda? Semua perusahaan di sana adalah perusahaan besar di Jakarta! Jangankan perusahaan, bahkan karyawan yang bekerja di gedung Longtech juga memiliki status sosial yang lebih tinggi dari mereka yang bekerja di luar sana! Perusahaan kita hanyalah perusahaan keuangan kecil, untuk apa kita meletakkan perusahaan di sana?"

__ADS_1


“Kau tidak perlu khawatir tentang ini! Aku punya pengaturanku sendiri!” Robert berkata sambil tersenyum.


Si gemuk ini sama sekali tidak tahu bahwa sekarang dia adalah pemilik gedung Longtech! Sebentar lagi Kelvin pasti akan terkejut!


__ADS_2