Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
Bab 92 Beli Saham Lagi


__ADS_3

"Hah? kamu?" Kelvin tidak berani percaya.


Pria yang bermain piano itu Robert? Jangan bercanda!


Kelvin adalah teman terbaiknya, dia adalah orang yang paling memahami Robert.


Kalau Robert adalah pria dalam video itu, maka Kelvin adalah Beethoven!


"Robert, apakah kamu pikir aku bodoh? Kamu mengatakan bahwa kamu bisa bermain piano dan bernyanyi? Suaramu jelek sekali, kamu bisa bernyanyi? Kamu ingin membodohi siapa? Itu hal yang mustahil! Apakah kamu tahu berapa banyak tuts pada sebuah piano?" Kelvin menyindirnya tanpa segan.


Robert tersenyum dan berkata, “Totalnya 88 tuts, 52 di antaranya adalah tuts putih, dan 36 adalah tuts hitam!"


Kelvin berkata, "... googling-mu lumayan cepat!"


“Lupakan saja kalau kamu tidak percaya padaku, apakah kamu sudah mencarikan perusahaan cangkang yang kukatakan sebelumnya?” Robert langsung mengubah topik, tidak ada artinya terus membicarakan topik video tersebut.


Ketika Kelvin mendengar ini, dia langsung bersemangat, lalu berkata sambil tersenyum. "Aku telah mencari beberapa perusahaan, dan salah satunya ada di Jakarta. Ayo kita pergi melihatnya?"


"Baik, kamu datang ke sini atau aku yang pergi mencarimu?"


"Aku akan pergi mencarimu, aku ingin merasakan serunya mengendarai Bugatti!" jawab Kelvin


“Bisakah kamu mengendarai mobil itu? Mobil itu berbeda dengan mobil biasa, sulit dikendalikan.” Robert mengingatkan.


Mobil dengan 16 silinder sulit dikendarai, jika tidak hati-hati akan langsung lepas kendali, hanya dengan sedikit menginjak pedal gas, mobil akan langsung melaju cepat!


Supercar No. 1 dunia sangat mengerikan, akselerasi 100 kilometer dapat dilakukan dalam sekejap.


“Robert, apakah kamu meremehkanku? Aku sudah mengendarai mobil bom-bom ketika aku berusia tiga tahun, mengendarai traktor ketika aku berusia lima tahun, bagaimana mungkin aku tidak bisa mengendarai Bugatti? Dari kemarin sore sampai sekarang, aku telah menyentuh semua yang ada di mobilmu, dan mengendarai mobilmu mengelilingi kampus, aku yakin tidak ada masalah!"


"Oke, baiklah! Oh ya, aku tidak di indekosku."


"Tidak di indekos? Lalu di mana?"


"Di Boulevard, Artha Gading Vila No. 1."

__ADS_1


"Boule ... Apa? Kamu di Boulevard? Artha Gading Vila No. 1? Untuk apa kamu ke sana?"


"Itu rumahku, apakah ada masalah?"


Kelvin terdiam. "..."


Tentu saja tidak ada masalah, bukankah hal yang wajar orang yang mampu mengendarai supercar tinggal di rumah mewah?


"... aku akan ke sana sekarang," kata Kelvin dengan marah.


"Yah, kutunggu di rumah," jawab Robert.


Setelah menutup telepon, dia membuka aplikasi trading untuk memasang order sebesar 6 miliar lagi.


Kemarin dia telah memasang 6 miliar, dan transaksi berhasil dalam waktu kurang dari satu jam.


Sayang, limit transaksi hanya 6 miliar per hari, kalau tidak, Robert ingin membeli sekaligus dengan semua uangnya.


Namun, pasar saham akan kacau dengan cara pembelian seperti itu, limit adalah cara yang baik untuk mengendalikan pasar saham.


Robert juga berpikir untuk membuka beberapa akun lagi, tetapi tidak jadi.


Dia bukan paus yang dapat memanipulasi pasar saham, dan juga tidak memiliki kemampuan untuk menghindari pengawasan. Begitu ketahuan, dia akan menghadapi risiko akun diblokir oleh pihak pengawas.


"Apa?" Robert langsung berseru saat membuka aplikasi trading.


Kemarin, harga jual yang dipasang berada di harga 3000, dan hari ini harganya naik menjadi 3200 rupiah. Tidak hanya itu, kemarin semua yang terpasang adalah order penjualan, tetapi hari ini ada sebagian order pembelian.


Semua investor ini adalah spekulan yang cerdik, melihat bahwa dia membeli dalam jumlah besar kemarin, mereka segera menaikkan harga jual ataupun ada sebagian yang memasang order pembelian di harga rendah dan bersiap-siap menjual di harga tinggi untuk mendapatkan keuntungan.


Tetapi Robert sudah menduga akan terjadi hal seperti ini.


Dia tidak ingin meniru para spekulan yang masih ingin membeli dengan harga terendah kemarin, karena order pembelian di atas pada dasarnya adalah para spekulan, orderan mereka tidak banyak, jadi butuh waktu yang lama untuk terjadi transaksi.


Robert tidak punya waktu untuk itu, 3.200 masih dalam kisaran toleransinya, tidak berdampak besar baginya, paling-paling saham yang didapatkan lebih sedikit saja.

__ADS_1


Setelah itu, Robert sekali lagi memasang 6 miliar di harga 3200 rupiah!


Meskipun hanya selisih 200 rupiah, peringatan transaksi berbunyi terus.


20 lot, 200 lot, 100 lot, sekarang sudah mencapai ribuan lot!


Investor lain yang kemarin tidak sempat melakukan aksi jual sudah menunggu dua hingga tiga jam untuk melakukan order penjualan sebelum pagi.


Melihat orderan Robert sekarang, mereka bagaikan hiu yang mencium bau amis darah, bergegas menjual saham yang ada di tangan mereka dengan panik.


Setelah itu, panggilan telepon dari Komisi Regulasi Sekuritas datang seperti yang dijanjikan.


Pada saat yang sama, di kantor Manajer Umum Perusahaan Hontaro.


Joe dan Lewis sedang mengobrol dengan santai.


"Lewis, orang yang membeli saham kita kemarin seharusnya tidak lagi impulsif, dan mungkin sudah menjual sahamnya hari ini," kata Joe.


Lewis menggelengkan kepalanya dan berkata, "Belum tentu, paling harganya akan kembali ke harga kemarin, dan kalau menjual saham dalam skala besar, harganya diperkirakan akan turun, kurasa orang itu tidak akan menjualnya hari ini, setidaknya menunggu besok atau lusa."


Joe mengangguk setuju dan berkata, "Iya benar! Manfaatkan kenaikan harga saham hari ini, kamu harus segera menjual saham yang ada di tanganmu, kalau tidak sahammu akan menjadi sampah!"


"Aku tidak akan menjualnya."


Lewis menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak punya banyak saham, jadi tidak ada gunanya kujual!"


"Terserah kamu deh! Oh ya, apakah orang itu akan terus membeli saham dalam skala besar hari ini?"


"Tidak mungkin! Kecuali dia benar-benar bodoh! Para paus pun tidak akan berani bermain seperti itu! Kalau tidak hati-hati, uang mereka akan hangus!"


"Aku juga berpikir begitu! Dia ...."


Sebelum selesai berbicara, Jesika berlari dengan tergesa-gesa dan berkata dengan penuh semangat, "Bapak Manajer, orang itu membeli 6 miliar lagi!"


"Apa?!"

__ADS_1


"Apa?!"


Keduanya berseru kaget.


__ADS_2