
Elysia diam-diam menggeser buku dari wajahnya.
Dia memandang Dewi yang sedang berdiri dengan linglung.
Apa yang terjadi pada Bibi? Kenapa reaksinya begitu besar?
"Bibi? Apakah kau ... baik-baik saja?"
Elysia bertanya pada Dewi dengan cemas.
Pada saat ini, Dewi tiba-tiba menoleh dan menatap Elysia dengan tatapan tak percaya.
"Elysia, berapa banyak saham Hontaro yang kau beli?"
“300 juta, bukankah aku sudah memberitahumu sebelumnya?” jawab Elysia.
Ternyata tentang saham Hontaro, tampaknya bibi ingin membujukku menjual saham lagi!
“Jangan membujukku lagi, aku tidak ingin menjualnya.”
Setelah Elysia selesai berbicara, dia menggeser kembali bukunya di depan wajah dan bersiap untuk lanjut membaca.
Namun, Dewi tiba-tiba bergegas mendekat dan memeluknya.
“Haha! 300 juta! Elysia! Aku benar-benar mencintaimu!” kata Dewi dengan bersemangat.
"Hah!"
Elysia berteriak, "Bibi, lepaskan! Cepat lepaskan!"
Butuh kekuatan besar untuk mendorong Dewi menjauh.
Dia merapikan pakaiannya dan berkata dengan marah, "Bi, apa yang kau lakukan? Kau ingin mencekikku? Apa yang membuatmu bersemangat seperti ini?"
Dewi meraih tangan Elysia dengan penuh semangat, dan berkata, "Apakah kau tahu? Saham Hontaro melonjak tinggi! Pagi ini perusahaan Hontaro berhasil menciptakan modul kapasitor baru, para ahli mengatakan bahwa saham Hontaro setidaknya bisa naik 70 kali lipat! 300 juta menjadi 21 miliar!"
"Apa?"
__ADS_1
Ketika Elysia mendengar ini, matanya melebar karena terkejut.
21 miliar?
300 juta menjadi 21 miliar?
Saham Hontaro?
Apakah ini tidak bercanda?
Dia tahu bahwa Robert tidak akan membohonginya, karena dia telah mengenal Robert dengan sangat baik selama bertahun-tahun.
Robert berani mengatakan bahwa saham Hontaro akan naik, berarti dia benar-benar merasa bahwa saham Hontaro akan naik, jadi bukan hanya omong kosong, itulah kenapa Elysia tanpa ragu-ragu mempercayainya.
Bahkan jika saham Hontaro tidak naik pada akhirnya, seperti yang dikatakan Dewi, Elysia tidak akan mengatakan apa-apa, apalagi menyalahkan Robert.
Hanya 300 juta, dia masih bisa menanggung kerugian tersebut, jika membutuhkan uang, dia hanya perlu memintanya lagi dari orang tuanya.
Namun, sekarang Dewi malah mengatakan bahwa saham Hontaro akan naik lebih dari tujuh puluh kali lipat. Benar-benar mengejutkan.
“Bibi, kau tidak membodohiku, ‘kan?” tanya Elysia dengan heran.
Dewi berkata dengan sangat bersemangat. "Kabar ini kuperoleh dari seorang temanku yang bekerja di sebuah perusahaan sekuritas. Aku tidak mungkin salah! Lebih dari 20 miliar, lebih besar dari pendapatan rata-rata orang yang bekerja di luar negeri selama sepuluh tahun!"
Setelah mengatakan itu, Dewi menepuk dadanya dengan kuat, dan berkata, "Elysia! Aku teringat 600 juta saham Hontaro yang baru saja aku jual! Sial! 600 juta aku jual begitu saja! Benar-benar rugi besar!"
Selesai berkata, dia duduk di kursi sambil memegangi dadanya.
Elysia menepuk punggung Dewi dan menghiburnya. "Tak apa-apa, Bi, uang hanyalah benda mati. Meskipun sangat penting dalam hidup, tapi bukanlah yang terpenting, uang hanya perlu secukupnya saja."
"Enak sekali kau ngomong!"
Dewi memelototi Elysia dengan marah dan berkata, "Kau memperoleh 21 miliar dalam sekejap! Tentu saja kau bisa mengatakan dengan seenaknya. Aku telah berinvestasi di saham selama bertahun-tahun, tapi tak mendapatkan keuntungan satu sen pun, bahkan kehilangan uang lebih dari 2 miliar!”
Pada saat ini, dia tiba-tiba teringat sesuatu, lalu menatap Elysia dengan ekspresi serius. "Elysia, aku ingat Robert membeli banyak saham Hontaro, ‘kan? Berapa banyak saham yang dia beli? Baru-baru ini ada seseorang yang terus membeli saham Hontaro, setiap hari membeli 6 miliar saham, jangan-jangan orang itu adalah Robert."
"Aku tidak tahu."
__ADS_1
Elysia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak bertemu dengannya baru-baru ini, dan jarang kontak dengannya. Sepertinya dia cukup sibuk."
Dewi berdiri, memegang dagunya lalu berkata sambil berpikir, "Terakhir kali di hotel, dia mengatakan bahwa dia memesan 6 miliar saham Hontaro, dan dalam beberapa hari terakhir, ada orang yang memesan saham Hontaro sebesar 6 miliar selama lima hari berturut-turut! Dari sini, aku cukup yakin kalau orang itu adalah Robert! Artinya, dia membeli 30 miliar saham Hontaro!"
Elysia mengangguk dan berkata, "Seharusnya begitu."
"Apanya yang seharusnya?"
Dewi berkata dengan bersemangat, "Apakah kau tahu apa artinya ini? Ini namanya membeli saham di harga terendah. Robert membeli 30 miliar saham Hontaro di harga terendah dan memperoleh keuntungan sebesar lebih dari 200 miliar. 200 miliar! Dia memperoleh keuntungan 200 miliar dari perdagangan saham! Elysia, suamimu sungguh hebat!"
Ketika Elysia mendengar ini, wajahnya langsung memerah dan segera berkata, "Bi, apa yang kau bicarakan! Suami apanya! Aku tak punya hubungan apa-apa dengan Robert!"
"Hei! Untuk apa malu! Bukankah itu hanya masalah waktu! Apa mungkin suami sebaik ini masih bisa direbut orang lain?" kata Dewi.
"Aku tak mau bicara denganmu!"
Elysia berkata dengan marah, berbalik dan hendak masuk ke dalam.
"Tunggu!"
Dewi meraih tangannya dan berkata dengan marah. "Elysia, aku tidak peduli saham yang dijual siapa yang dibeli oleh suamimu, tapi dia tak boleh membeli saham yang kujual. Tidak peduli bagaimanapun, kau harus meminta dia mengembalikannya, tak perlu terlalu banyak, setengah, atau paling sedikit sepertiga. Kalau tidak, jangan salahkan aku merusak hubungan kalian, supaya kau merasakan penderitaan berpisah dengan kekasih!"
Elysia tersipu dan berkata, "Bi, aku tak akan menghiraukanmu lagi kalau kau masih terus berbicara seperti ini! Hubungan kalian apanya? Mana boleh kau berbicara seperti itu!"
Dia sangat marah hingga hampir menangis ketika Dewi mengucapkan kata-kata tersebut!
"Oke! Aku tidak akan membicarakan suamimu! Bibi salah ngomong!"
Dewi buru-buru meminta maaf, dan dia juga tahu kalau dia masih terus membicarakannya, Elysia pasti mengamuk!
Meskipun penampilan Elysia terlihat seperti seorang dewi, sebenarnya kepribadiannya sangat sensitif dan sangat pemalu, terutama dalam hal perasaan.
Kalau tidak, dia juga tidak mungkin diam-diam menyukai Robert selama tiga tahun, tetapi tidak pernah mengungkapkannya!
Dewi menunjuk ke luar dan berkata, "Meskipun aku tidak terlalu akrab dengan Robert, tapi setidaknya pernah makan bersama, ‘kan? Mana boleh dia membeli saham yang kujual. Benar, ‘kan?"
“Kau tak boleh menyalahkan Robert. Saat berada di Rose Restaurant, Robert sudah menyarankan agar kau tidak menjual saham Hontaro. Kau sendiri yang ingin menjualnya!” Elysia menjelaskan.
__ADS_1
"Hai."
Dewi melototi Elysia sambil berkacak pinggang, dan berkata, "Aku bibimu! Aku yang telah membesarkanmu selama lebih dari sepuluh tahun! Kau berpihak pada siapa? Hah?"