
Yusuf sudah tidak ingin berbicara dengan Robert, semuanya akan diurus oleh Edi setelah pulang dari luar negeri!
Begitu Yusuf pergi, para tamu di sekitarnya segera menjauhkan diri dari Robert, lalu mulai berbisik.
"Beraninya menyinggung keluarga terkemuka Anderson, nasib anak muda ini akan segera berakhir."
"Mau salahkan siapa! Hanya bos perusahaan hiburan, beraninya dia menyinggung keluarga Anderson, bukankah ini namanya mencari mati!"
"Awalnya aku ingin berteman dengannya, tapi sekarang sepertinya tidak jadi!"
"Apakah kamu mencoba untuk mendapatkan perhatian Jasmine? Jangan bermimpi! Anak muda ini telah menyinggung keluarga Anderson, jangankan sebuah perusahaan hiburan, bahkan sepuluh perusahaan pun akan hancur hanya dengan satu kata dari keluarga Anderson. Hati-hati jangan sampai terlibat!"
"..."
Sekelompok orang terus berbisik.
Awalnya ada beberapa orang yang ingin datang untuk menyapa Lia dan Robert.
Namun, begitu melihat sikap Yusuf, orang-orang ini membatalkan niat mereka, dan segera berjalan ke tempat lain untuk menyapa orang lain.
Apa boleh buat, keluarga Anderson terlalu berpengaruh di ibu kota, bahkan Bambang dan Wiranto juga tidak mampu menyaingi!
"Ayo masuk juga," kata Robert.
Sunshine Manor sangat besar, dan tempat di mana mereka berada saat ini adalah alun-alun Sunshine Manor.
Lebih jauh ke depan adalah Kastil Manor.
Dan perjamuan hari ini diadakan di kastil.
"Robert, aku tidak menyangka Alex juga mencari orang-orang dari keluarga Anderson, ini sangat merepotkan." Lia berkata kepada Robert dengan wajah muram.
Robert merentangkan tangannya dan berkata, "Biarkan saja. Steven mengalami kecelakaan di depanmu, tidak mengherankan kalau Alex membawa mereka ke sini."
__ADS_1
Lia merenung selama sesaat dan menjawab, "Aku akan menjelaskan kepadanya, masalah ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan kita!"
“Tidak perlu.” Robert menggelengkan kepalanya.
Sulit menjelaskan kepada orang-orang ini, terutama ketika hal tersebut menyangkut masalah yang melibatkan anak-anak mereka sendiri.
Steven, sebagai putra bungsu dari keluarga Anderson, mengalami kecelakaan yang begitu besar, tidak peduli bagaimanapun dia menjelaskan, mereka tidak mungkin akan mengubah pikiran dan sikap mereka.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Jika kita tidak menjelaskannya, ketika Edi kembali dari luar negeri, dia pasti akan menyerang kita!" kata Lia cemas.
“Kalau begitu biarkan saja dia datang,” jawab Robert.
Lia menggertakkan giginya, lalu tiba-tiba menghela napas, dan berkata kepada Robert, "Robert, maafkan aku, semua ini gara-gara aku, kalau bukan karena aku, kamu juga tidak akan terlibat dalam masalah ini."
Robert menepuk pundaknya dan berkata, "Tidak perlu meminta maaf, juga bukan semua karenamu. Saat itu, Steven juga ingin mencari masalah dengan kita."
Ketika dia menggunakan 'Stiker Kesialan Super', Robert sudah menduga bahwa keluarga Anderson pasti akan melakukan pembalasan suatu hari nanti.
Hanya saja hari pembalasan telah datang, tetapi dia tidak menyesal. Steven menindas Lia di depannya dan ingin memukulnya. Dia tidak bisa menahan diri, baik itu untuk dirinya sendiri atau untuk Lia, dia tidak bisa duduk diam dan mengabaikan perbuatan Steven!
Sambil berbicara, keduanya berjalan ke kastil yang megah, dan sudah ada banyak tamu yang sudah hadir di sana.
Tamu-tamu dari luar terus berdatangan, waktu perjamuan dimulai sudah semakin dekat.
Keduanya terus mengobrol.
Ada semakin banyak tamu di aula.
Banyak dari mereka adalah tokoh-tokoh yang biasanya hanya bisa dilihat di TV. Hari ini, semuanya ada di sini, dapat dilihat bahwa pengaruh Tuan Besar Setiawan sangat besar di Jakarta.
Di aula yang kejauhan.
Lia menunjuk seorang pemuda yang mengikuti Bambang, lalu dia berkata dengan wajah muram. "Itu adalah Alex, kakaknya Jacky!"
__ADS_1
Robert menolehkan kepala.
Robert tahu nama Alex sejak lama, tetapi hari ini adalah pertama kalinya dia bertemu Alex, dia memiliki tinggi tubuh lebih dari 180 cm, mengenakan pakaian jas yang rapi, terlihat bersemangat, tetapi wajahnya ....
Wajahnya tampak menjijikkan, ingin sekali Robert menamparnya.
Saat Lia memperkenalkan Alex kepada Robert, kebetulan Alex juga melihat mereka, kemudian tersenyum.
Robert memicingkan matanya.
Senyuman ini tampak sangat provokatif.
"Robert, sebentar lagi waktunya menyerahkan hadiah kepada kakekku. Kamu tidak lupa membawa hadiah. ‘kan?" tanya Lia.
Robert mengangguk dan berkata, "Bagaimana mungkin aku melupakan hal ini! Hadiah ada di saku celanaku!"
"Hadiah macam apa? Bisakah kamu memberitahuku sekarang?" tanya Lia.
“Tunggu sebentar lagi!” kata Robert sambil tersenyum.
"Lupakan saja, sudah, kamu di sini dulu, aku akan pergi mengucapkan selamat ulang tahun kepada kakekku," kata Lia.
Robert mengangguk dan berkata, "Pergilah."
Lia mendengus lalu berlari kecil ke arah Bambang.
Pada saat ini, seluruh keluarga Setiawan yang berada di aula berjalan ke Bambang lalu berdiri rapi di depannya, termasuk Jacky.
Kemudian, mereka membungkukkan tangan bersama-sama dan berkata serentak. "Selamat ulang tahun! Semoga panjang umur!"
Bambang tertawa dan berkata, "Baiklah! Cepat bangun."
Setelah itu, mereka berdiri tegak dan berjalan di depan Bambang sambil tersenyum.
__ADS_1
Jacky berdiri di belakang Bambang, tetapi dia memandang Robert yang berada di antara kerumunan dan tersenyum.
Selanjutnya, pertunjukkan seru akan segera dimulai.