Aku Menggali 1 Ton Emas

Aku Menggali 1 Ton Emas
157


__ADS_3

Awalnya, Robert benar-benar terlalu malas untuk berurusan dengan orang-orang ini.


Para anggota Asosiasi Kaligrafi ini, yang mengatakan bahwa diri mereka sebagai 'Master Kaligrafi', dari karya-karya yang mereka tampillkan di pameran, mereka adalah orang awam dalam pandangan Robert.


Bahkan Luvi, yang merupakan kaligrafer terbaik, karyanya hanya bisa dikatakan biasa-biasa saja.


Berurusan dengan orang-orang ini sama dengan membuang-buang waktu saja!


Hanya saja orang-orang ini bersikeras ingin membuktikan status mereka sebagai master kaligrafi, oleh karena itu Robert hanya bisa mengabulkan permintaan mereka, membiarkan mereka melihat apa itu kaligrafi yang sebenarnya, agar mereka tidak lagi menyesatkan orang lain dengan karya mereka.


Begitu mendengar kata-kata Robert, orang-orang di tempat pun mencibir.


"Ingin membiarkan kita tahu bahwa kita bukan apa-apa? Benar-benar tidak tahu diri!"


"Haha! Benar-benar tidak tahu diri!"


"Anak muda zaman sekarang ini, tidak tahu apa-apa, tahunya hanya membual!"


"Ini namanya keras kepala! Kita lihat saja nanti bagaimana tulisannya!"


"..."


Bahkan Elysia juga cemas untuk sementara waktu.


Luvi berkata ingin Robert menulis kaligrafi yang bisa meyakinkan mereka, tetapi apa standarnya?


Sama sekali tidak ada standar, jangan katakan Robert tidak tahu kaligrafi, bahkan jika dia tahu kaligrafi dan bisa menulis karakter kaligrafi dengan baik, mereka bisa saja mengatakan bahwa mereka tidak puas dengan tulisan Robert.


Jika dia tahu dari awal akan terjadi hal seperti ini, dia tidak akan menyuruh Robert datang ke sini.


Tetapi apa boleh buat, semuanya telah terjadi. Elysia berjalan dengan cepat ke hadapan Robert dan membujuk. "Robert, aku tahu kau melakukan ini untuk kebaikanku, tapi jangan impulsif, mereka ...."


Robert terkekeh. "Aku tahu kekhawatiranmu, tidak apa-apa, aku yakin aku bisa mengatasinya!"


Inilah kepercayaan dirinya sebagai seorang master kaligrafi!


Jika dia bahkan tidak bisa menangani Asosiasi Kaligrafi Jakarta yang tidak seberapa ini, bagaimana dia bisa menyebut diri sendiri sebagai master kaligrafi?


Selesai berkata, dia berjalan langsung ke empat karakter 'Musim Semi, Musim Panas, Musim Gugur dan Musim Dingin' yang memenangkan kompetisi kali ini, dia menunjuk ke tulisan di atas meja dan berkata, "Siapa yang menulis karya ini?"


Irwan di kerumunan berdiri, mengambil napas dalam-dalam, dan tersenyum ringan. "Aku yang menulisnya, apakah Anda punya komentar?"


Untuk memenangkan kompetisi ini, dia telah bekerja keras selama beberapa bulan.


Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa dia yakin tidak lebih dari tiga orang yang seusia dengannya di Jakarta yang bisa melampaui dirinya dalam bidang kaligrafi!


Alasan kenapa dia membayar beberapa anggota Asosiasi Kaligrafi dan Julfikar dari UI untuk memberinya nilai tinggi adalah untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


Tepat ketika dia berpikir bahwa Robert akan memuji karyanya.


"Tulisanmu benar-benar jelek!"


Robert tiba-tiba berkata.


Selesai berbicara, dia mengambil karya itu dan melemparkannya ke lantai.


"Kau ...."


Mata Irwan melebar, dan menunjuk Robert dengan marah hingga tidak bisa berkata apa-apa.


Ini adalah karya juaranya, tetapi malah dibuang ke lantai oleh Robert seperti sepotong sampah, benar-benar keterlaluan.


Jika bukan karena fakta bahwa Robert adalah pemilik Bugatti, dia pasti sudah memarahinya sejak awal.


Ketika orang-orang di sekitar melihat adegan ini, mereka semua menyalahkan Robert.


"Terlalu sombong!"


"Dia menyebut karya kaligrafi sang juara sampah? Dia pikir siapa dia? Master kaligrafi?"


"Haha! Benar-benar tidak tahu diri! Mari kita lihat apa yang bisa dia tulis!"


"..."


Menghadapi kemarahan dari kerumunan, Robert tidak marah.


Dan pada saat Robert memegang kuas, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang diaktifkan di benaknya, muncul berbagai hal yang berhubungan dengan kaligrafi. Muncul gambar gerakan dan sapuan kuas yang hanya bisa dimengerti oleh kaligrafer tingkat master.


Pada saat ini, Robert berdiri di depan meja dan mengangkat kuas dengan fokus, dari luar, dia tampak tenang dan damai, tetapi gerakan kuasnya benar-benar keren.


Melihat adegan ini, mata Luvi melebar karena terkejut.


Dia telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mendalami kaligrafi dan memiliki pemahaman terdalam tentang kaligrafi. Dia juga memiliki kontak dengan para kaligrafer papan atas dari Asosiasi Kaligrafi.


Tetapi barusan, tepat ketika Robert mengambil kuas, gerakan yang bebas dari ujung kuas membuatnya terkagum-kagum padanya.


Perasaan kuat semacam ini, bahkan tidak pernah ia rasakan saat bertemu dengan master kaligrafi dari Asosiasi Kaligrafi Nasional!


Perasaan ini hanya sekilas, dan bahkan membuat Luvi merasa bahwa dia berhalusinasi.


Julfikar melihat gerakan Robert, dan mencibir. "Berpura-pura hebat! Kau ...."


Belum selesai berbicara, Luvi di sebelahnya buru-buru menghentikannya dan menyuruhnya untuk tidak bersuara!


Julfikar hendak bertanya kenapa, pada saat ini, Robert tiba-tiba menulis.

__ADS_1


Dalam sekejap, kuasnya bergerak seperti naga dan ular, dan berjalan seperti air, tampak sangat bebas leluasa.


Bagi mereka yang telah menorehkan prestasi besar dalam kaligrafi, sapuan kuas mereka akan berjalan seperti gerakan naga menelan gunung dan sungai.


Robert mengambil kuas dan langsung menulis empat kata dalam satu tarikan napas.


'Musim semi, panas, gugur, dan dingin!'


Luvi membuka mulutnya lebar-lebar ketika Robert sedang menulis, dan tidak menutupnya sampai Robert selesai menulis.


Bukan hanya dia, semua orang yang hadir, semuanya membuka mulut lebar-lebar!


Hanya dengan gerakan kuas dari Robert saja sudah cukup untuk menaklukkan semua orang yang hadir!


Hening!


Hening bagaikan semua orang telah mati!


Hanya suara rahang terbuka lebar yang terdengar.


Pada saat ini, Robert perlahan meletakkan kuas dan mengambil langkah di belakang lapangan.


Segera, dua anggota BEM pun datang, mengambil karya yang ditulis oleh Robert, dan memajangkannya di papan pameran.


Julfikar meliriknya dan mencibir. "Biasa-biasa saja! Beraninya sombong di depan kami hanya dengan tulisan seperti ini?"


Elysia melirik Robert dengan cemas.


Masalah hari ini, jika tidak bisa ditangani dengan baik, kedua universitas dan asosiasi kaligrafi pasti akan mempermasalahkan hal ini, dan tidak peduli berapa banyak uang yang dimiliki Robert, ia juga tidak dapat menyelesaikan masalah ini!


Namun, pada saat dia melihat Robert, dia menemukan bahwa Robert hanya berdiri di sana dengan tenang, seolah-olah apa yang terjadi di depannya tidak ada hubungannya dengan dia.


Orang seperti Julfikar tentu saja tidak dapat benar-benar memahami kaligrafi, dan adalah hal yang wajar ia tidak menyadari bahwa Robert telah mencapai tingkat tertinggi master kaligrafi!


Tetapi, Robert memandang Luvi, yang berdiri tak bergerak di depan karyanya. Meskipun lelaki tua ini memiliki emosi yang kuat, tetapi tingkat keterampilan kaligrafinya tidak rendah. Jika dia tidak dapat melihat tingkat kaligrafi Robert, maka itu hanya dapat menunjukkan bahwa seluruh Asosiasi Kaligrafi hanyalah kumpulan sampah-sampah tidak berguna.


Setelah suara Julfikar jatuh, siswa lain di sebelahnya juga ikut-ikutan memberikan komentar.


"Iya benar! Kelihatannya tidak begitu bagus!"


"Masih kalah dengan yang ditulis Senior Irwan!"


"Awalnya aku mengira dia adalah master hebat di dunia kaligrafi! Ternyata dia tidak tahu apa-apa!"


"Wakil Presiden Luvi! Beri pelajaran padanya, biarkan dia tahu konsekuensi dari menghina kaligrafi!"


"Iya benar! Wakil Presiden Luvi, kau ...."

__ADS_1


"Diam!"


Pada saat ini, Luvi tiba-tiba mendengus, menyela kata-kata semua orang ini.


__ADS_2