Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Hadiah kecil


__ADS_3

Dua bulan berlalu…


Clara merasa tubuhnya semakin ringkih. Entah kenapa sering sekali masuk angin. Parahnya hari ini. Dia sama sekali gak bisa bangun dari tidurnya. Tubuhnya lemas dan linu.


"Poc, kamu gak kerja?" tanya Boby yang sudah rapi.


"Badanku lemes Kak," jawab Clara yang masih betah bergelung dengan selimut. Boby duduk ditepi ranjang mereka. Meraba kening Clara dengan telapak tangannya.


"Gak panas, tapi apa yang kamu rasakan?" tanya Boby khawatir.


"Gak tau Kak, badanku gak karuan rasanya. Lemas, mual, kayak bandeng presto," jawab Clara.


"Kok bandeng presto?" tanya Boby heran.


"Iya bandeng presto kan tulang lunak," jawab Clara yang masih bisa ndagel (melucu). Padahal mukanya sudah pucat pasi. Boby tertawa dibuatnya. Raut sedih kemudian tergambar. 


"Apa kamu bisa periksa sendiri Poc? Aku tidak bisa mengantarmu. Pekerjaanku padat," kata Boby sedih.


"Gak masalah, aku bisa naik taksi nanti," kata Clara menenangkan. Meski entah nanti beneran bisa naik taksi atau tidak.


Clara periksa sendiri sore harinya. Saat badannya sedikit bisa diajak kompromi. Justru terkejut karena dokter menanyai masa suburnya. Ah, benar juga… dia sudah telat datang bulan. Dokter menyarankan dia tes urine saat itu juga. Hasil tes urine menunjukkan kalau Clara positif hamil. Wanita itu tersenyum girang seorang diri. Segera mengecek hpnya mau mengabari Boby. Sayangnya hp Boby non aktif. Biasanya Boby seperti itu kalau ada tugas penting.


Esoknya Clara periksa ke dokter obgyn. Sangat penasaran dengan bayinya. Boby tidak pulang semalam. Belum tahu juga kabar ini.


"Usia kehamilan kurang lebih satu bulan, selamat Bu, anda sudah jadi ibu," kata dokter itu ikut girang. Meskipun agak heran ada wanita periksa hamil pertama kali seorang diri.


"Apa dia sehat Dok? Kapan saya bisa tahu jenis kelaminnya?" tanya Clara bersemangat.


"Ibu harus menjaga asupan nutrisi Ibu agar dia tumbuh sehat. Masalah jenis kelamin nanti setelah berusia lebih dari lima bulan," jelas dokter laki laki tersebut.


Clara pulang sambil senyum senyum. Sayang sekali Boby tidak bisa di hubungi. Clara akan memberi kejutan Boby dengan buku dan hasil usg esok kalau dia pulang. Malam ini Boby kembali tidak pulang.

__ADS_1


***


Pagi kembali datang. Clara merasa tubuhnya kembali lemah. Muntah tiada henti. Sampai dia lemas di dekat kamar mandi. Boby masih tidak bisa dihubungi. Kepalanya berputar parah… untungnya dia sempat mendial nomor telepon ibu penjaga kontrakan sebelum jatuh pingsan.


Clara bangun saat perjalanan menuju UGD rumah sakit. Ibu penjaga kontrakan menemaninya. Bersama dengan anak laki lakinya.


"Maaf tadi kami mendobrak kontrakan," kata Bu Rete, panggilan akrab pemilik kontrakan.


"Mas Boby aku hubungi gak aktif Mbak, ada nomor saudara lain yang bisa dihubungi?" tanya Nizam, anak pemilik kontrakan. Clara disarankan untuk rawat inap. Wanita itu bengong sesaat… siapa yang bisa merawatnya saat Boby gak ada??


"Apa kamu bawa hpku Zam?" tanya Clara. Nizam mengangguk dan memberikan hp Clara.


Wanita itu akhirnya menghubungi Hani. Minta Rina atau siapa saja datang menemaninya.


"Jadi aku akan punya keponakan?? Jadi akhirnya kamu mau hamil juga??" tanya Hani bahagia. 


"Mau hamil juga! Ya maulah. Kamu sendiri tahu gimana pernikahanku. Jadi wajar aku baru hamil sekarang," omel Clara. Hani tertawa di seberang sana. Dan berjanji segera menyusul ke Jogja secepatnya.


Hani mematikan sambungan telepon sambil kebingungan. Tito di sebelahnya juga ikut bingung. Mereka berdua sedang berada di rumah sakit juga sekarang. Ibu drop lagi kondisinya. Dilarikan ke rumah sakit pagi ini.


"Jangan, jangan kasih tahu dulu. Dia juga gak baik kondisinya," kata Tito.


"Lalu siapa yang berangkat menemani Clara disana?" tanya Hani lagi. Dua orang itu sama sama kebingungan. Akhirnya Hani memukul telapak tangannya sendiri. Menemukan ide siapa yang bisa menemani Clara di Jogja.


"Kenapa tidak kepikiran dari tadi!!" kata Hani bersemangat. Kemudian menelpon orang yang dimaksud.


***


Setengah hari itu Clara ditemani ibu kontrakan dan Nizam. Saat dirinya bangun tidur siang, ada Santi dan Dito yang ada disampingnya. 


"Mbak, selamat ya," kata Dito.

__ADS_1


"Makasih To, makasih. Tapi… kok kalian disini? Aku tadi nelpon Hani," kata Clara heran.


"Iya, kami disini dulu. Ikut repot gara gara kamu sakit," kata Santi tanpa ada nada bercandanya. Membuat Clara tidak enak sendiri.


"Dulu waktu Jesi hamil yang repot keluarga Jesi. Bukan keluarga Dito," tambah Santi. Clara mencoba tersenyum.


"Makasih kalau begitu, kalian mau direpotkan saat aku hamil 'cucu' Mama," jawab Clara menegaskan kata cucu dengan sangat jelas.


Kemudian Clara menghubungi Hani. Panggilannya tidak terjawab. Balik menghubungi Tito. Masih sama…. Semua anggota keluarganya enggan menjawab panggilannya. Clara kesal sendirian. Sudah sore waktunya mandi, namun para penunggunya ini gak peduli. Dito sibuk main game, sedang Santi sibuk berbincang dengan dengan keluarga pasien lain. Bicara ini itu seolah dia yang paling care untuk Clara. Wanita itu memang menggunakan fasilitas kantor real dari kedok kantor Boby. Hanya dirawat di kelas dua. Dengan empat orang pasien di dalamnya.


Akhirnya Clara turun dari ranjang sendirian. Dito melirik saja, kemudian sibuk lagi dengan hpnya. Santi masih asyik berbincang saat Clara masuk kamar mandi. Mandi sendiri sebisanya. Dengan selang infus yang masih menempel. Keluar dari kamar mandi belum juga ada yang peduli. Mencantolkan selang infus pada tiang infus kemudian berbaring. Benar benar pasien mandiri. Batin Clara. 


Beranjak malam Dito meminta uang sama Clara.


"Mbak ada uang kecil gak? Aku gak punya uang kecil buat beli makan malamku sama Mama," kata Dito.


"Ambil saja dompetku di nakas To," jawab Clara. Wanita itu tahu adik iparnya enggan mengeluarkan biaya selama menunggu dia di rumah sakit. Padahal Nizam dan ibu kontrakan saja justru mau menunggu dengan ikhlas. Nizam bolak balik ke kontrakan dan beli makan siang dengan uangnya sendiri. Perlahan ada yang menghangat di mata Clara. Memproduksi air mata dengan deras. Clara berbalik menghadap tembok. Menangis dalam diam. 


Santi terus saja mengeluh dengan panasnya ruang rawat kelas dua pada tetangga kamar Clara.


"Dulu suami saya sukses buka toko besi. Jadilah saya baru ini ngerasain kamar kelas dua. Biasanya vip terus dong. Ada acnya kaya dirumah saya. Gak kipas satu buat barengan gini," kata Santi.


Malam datang lagi. Boby belum nampak. Sistem penjawab pesan untuk agennya memberi tahu Clara kalau dia bebas tugas malam ini. Kemungkinan akan tahu kabar Clara dirawat nanti atau pagi.


"Ah, tidur di kolong rumah sakit. Sempit dan panas," kata Santi lagi lagi mengeluh. Sungguh Clara mau seorang diri saja dirawat daripada ditunggu dua orang monster itu.


Boby datang tengah malam. Dengan muka sedikit lebam di bagian dahi.


"Mukamu kenapa Bob?" tanya Santi khawatir lebay. Mengelus pelipis Boby kemudian mencium pipinya. Menunjukkan pada Clara kalau Boby anak kesayangan 'miliknya'. Clara cuma dianggap perebut. Apalagi sifat Boby yang sama persis dengan mendiang Tono. Membuat Santi tahu betapa enaknya dicintai Boby sebagai wanitanya. Santi tidak rela!! Jujur saja Santi mau memiliki Boby seorang diri tanpa dibagi dengan istri manapun.


"Mama ih, cium cium segala. Ini cuma kejedot pintu," kata Boby. Menuju keranjang tempat Clara berbaring. Memeluk istrinya dengan erat.

__ADS_1


"Terimakasih, terimakasih sudah mau mengandung anakku," bisik Boby haru. Pasangan itu sudah pesimis dapat anak. Karena kb yang dipakai Clara dulu. Harus ber kb lebih lama lagi untuk menunggu Boby lulus. Peraturan asrama tidak mengizinkannya memiliki anak. Kedua orang itu berpelukan lama dalam haru.


"Bob, udah dulu. Mama mau pulang ke kontrakanmu saja. Disini Mama gak bisa tidur," kata Santi menyela. Boby pun menyerahkan kunci kontrakan dan motornya.


__ADS_2