
Suasana dalam mobil hening. Clara dan Santi menuju tempat arisan yang dimaksud. Santi sibuk dengan hapenya.
"Eehh… ini jalannya lewat mana ya Tan?" tanya Clara mencoba membuka percakapan.
"Pakai hapemu! Masak iya gak bisa nemuin jalan!" kata Santi berubah ketus. Clara langsung tidak berani bicara. Fokus menyetir sampai restoran yang dimaksud.
Mobil mereka sampai di lokasi resto yang dimaksud.
"Panggil Mama kalau di depan orang orang yang dikenal. Panggil Tante kalau kita sedang berdua atau ditempat yang tidak banyak orang kenal. Itu berlaku sampai nanti. Jangan sampai Boby tahu. Aku sebenarnya masih malas menerimamu sebagai menantu! Ngerti?" kata Santi kejam. Clara mengangguk meski hatinya perih.
"Jawab pakai mulut!" kata Santi meninggi.
"Ngerti Tan," kata Clara pilu. Santi minta diturunkan di lobby resto. Sedang Clara bingung mencari parkiran sendiri. Clara mengusap air matanya yang mulai mengambang.
Nyatanya calon mertuanya belum bisa menerima dirinya dengan baik. Hanya bagus di depan orang lain saja. Mungkin hanya menerimanya karena Boby. Ah, sudahlah tidak boleh cengeng. Bukankah semua memang perlu perjuangan? Sudah akrab berjuang dari kecil kenapa harus takut berjuang lagi?? Yang penting Boby mencintainya. Batin Clara memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Pertemuan haha hihi yang memuakkan untuk Clara sebenarnya. Nyanyi nyanyi, pamer harta, pamer anak, pamer liburan. Lebih miris lagi ternyata Clara dipamerkan sebagai calon menantu, seorang desainer sekaligus pengusaha.
"Clara ini masih berstatus mahasiswi di IsI. Jadi karier dikejar, pengusaha dikejar, pendidikan juga dikejar. Cocok sekali untuk putraku yang polisi. Sama sama pekerja keras," kata Santi bangga. Sok sayang banget sama Clara.
"Iya, yang menjalani aku setengah mati. Sampai tidur dini hari, bangun dini hari. Iya anakmu yang bobrok dan mesum maksimal," batin Clara menambahi. Hatinya gedek tapi bibirnya tersenyum. Ah, Clara gak mau jadi artis. Melelahkan.
Ternyata pertemuan seperti itu harus dihadirinya tiap bulan. Tiap bulan juga dia harus menyiapkan derss code untuk mamanya dan dirinya sendiri. Itu perintah Santi. Clara lelah kalau mengaku. Akan tetapi ini salah satu wujud perjuangannya untuk dapat restu mama mertuanya. Walau sisi positifnya dari pertemuan ini adalah pelanggan jahitnya bertambah dari kaum kaum sok sial lita itu.
***
Hari pernikahan Hani dan Tito tiba. Clara berhasil menyelesaikan semua kebaya keluarga yang jumlahnya belasan. Agak ngoyo… membuat semuanya seorang diri. Boby ikut sibuk membantu resepsi ini. Jadi tim wira wiri sejak pagi.
"Kak Boby udah sarapan?" tanya Clara sambil membawa souvenir kedepan.
"Belum," jawab Boby mengikuti Clara padahal dia lagi disuruh Pak De buat ngangkut beberapa kursi untuk di ruang rias. Konsentrasinya langsung meleng kalau itu tentang Clara.
"Mau sarapan nasi box ada di ruang rias," kata Clara sambil menata souvenir di depan.
"Makan kamu yuk," bisik Boby sambil mencium pundak Clara sekilas.
__ADS_1
"Hus mulutmu!! Kondisikan waktu dong Kak!" kata Clara kesal. Boby nyengir saja. Kalau Pocik mengizinkan dia sudah membobol Pocik dari dulu. Benar benar perjuangan pertobatan yang panjang untuk bisa bersama Pocik tanpa melakukan hal iya iya.
"Makan diluar yuk. Aku mau nasi uduk," ajak Boby. Clara manut saja.
Boby langsung mencium Clara begitu masuk mobil. Jatah wajib saat mereka berdua saja. Entah dimanapun. Clara hafal diluar kepala sebagaimana mesum kekasihnya itu.
"Udah… ciumanmu bikin aku tambah lapar," kata Clara sambil mendorong dada Boby menjauh.
"Setelah ini rencanakan pernikahan kita. Aku gak mau tahu yaa… aku gak tahan nunggu lama lama," kata Boby jujur sekali. Clara tertawa mendengarnya. Mobil bergerak meninggalkan gedung.
"Menikah bukan karena nafsu, menikah itu karena cinta," kata Clara.
"Apa kamu belum bisa melihat seberapa cintaku padamu?!!" tanya Boby. Nadanya meninggi. Gak terima dibilang nafsu doang.
"Emang seberapa?" tanya Clara sambil tersenyum.
"Seujung kuku," jawab Boby sambil nyekikik. Tangan Clara jahil mencubit paha Boby.
"Ahhhh, Sayang dengar dulu penjelasanku," kata Boby sambil berusaha melepas cubitan Clara.
"Seujung kuku sayang…. Biarpun kamu potong, akan tumbuh lagi," gombal Boby. Clara senyum senyum malu.
"Kamu selalu gitu kalau sama cewek?" tanya Clara.
"Ya nggak lah kalau sekarang," kata Boby yakin.
"Kalau dulu???"
"Poc kok belum nemu penjual nasi uduk yak… udah jauh dari gedung ini," kata Boby mengalihkan pembicaraan. Selalu mengalihkan pembicaraan kalau membahas masa lalunya yang amburadul gak jelas.
Mereka kembali setelah sarapan. Acara berlangsung lancar dan bahagia. Hampir sore mereka beres dengan gedung dan segala keribetannya. Boby dan Clara mengantar keluarga Clara menuju rumahnya. Kemudian cuss pulang menuju rumah masing masing.
Ibu Clara tersenyum mengantar Clara dan Boby dari halaman. Senyum haru yang membuat ayah mengusap punggung ibu.
"Sekarang tinggal kita mikir Clara dan Rina Pak," kata Ibu sambil menyusut air mata haru.
__ADS_1
"Apa Boby benar lelaki pilihan??" tanya Ayah yang tidak mau salah pilih lagi untuk Clara. Ibu mengangguk.
"Clara terlihat bahagia sekali disamping Boby," kata Ibu yakin.
***
3 bulan berlalu....
Putaran bumi menunjukkan waktu tiada berhenti. Dan putaran waktu akan terasa indah dan cepat ketika kamu bahagia. Clara baru selesai mandi setelah jadwal kuliah yang semakin memadat. Bob datang dan membunyikan bel rumah Clara.
"Ada yang ketinggalan?" canda Clara pada Boby. Senyum menghiasi bibirnya. Ketemu aja jarang jarang sekarang. Kesibukan masing masing dari mereka penyebabnya. Belum tentu seminggu sekali mereka berkencan. Apa barang yang ketinggalan coba. Boby tersenyum.
"Ada, hati dan cintaku ketinggalan di kamu," gombal Boby. Mendorong tubuh Clara masuk rumahnya.
Lagi lagi Boby berhasil membuat Clara tak berkutik dengan ciumannya.
"Udah…. Udah dulu," kata Clara memelas. Boby tersenyum. Menyusut sisa salivanya di mulut Clara dengan tisu. Clara anteng duduk dipangkuannya.
"Jalan jalan yuk besok tahun baru lho," ajak Boby.
"Kemana?" tanya Clara sambil bersandar pada pundak Boby yang nyaman. Melingkarkan tangannya di bawah ketiak Boby. Bagi Boby ini seperti mimpi. Pocik sudah ada dalam pelukannya. Mau menunjukkan cintanya dengan gamblang. Bahkan beberapa kali gadis tegar ini menunjukkan sifat manjanya. Boby tahu itu pertanda baik. Wanita yang nyaman akan berubah menjadi manja tanpa diminta.
"Dieng…. Tapi aku maunya nginep," bisik Boby ditelinga Clara.
"Tapi aku mau dua kamar… Gak boleh ada adegan mesum selain ciuman," kata Clara tegas sambil bangkit menatap mata Boby.
"Sesuai maumu cantik," kata Boby sambil merengkuh kembali Clara dalam pelukannya.
Mereka cuss dari rumah Clara. Perjalanan panjang ditempuh. Jarak dari kota mereka sampai dieng cukup jauh. Akan tetapi Boby tahu Pocik sangat ingin pergi kedataran tinggi itu. Dataran tinggi dengan banyak tempat wisata yang elok.
Mereka sampai di vila pesanan Boby hampir tengah malam. Pemilik vila adalah ibu ibu ramah yang menyenangkan. Boby mengingkari janjinya. Dia hanya memesan satu kamar untuk mereka berdua. Clara langsung cemberut.
"Kak, aku gak mau diapa apain ya!!" tegas Clara saat Boby masuk kamar sambil membawa dua tas bawaan mereka. Satu punya Clara satunya punya Boby.
"Memangnya aku mau ngapain sih?" tanya Boby sudah membaringkan Pocik diatas kasur. Memberikan kecupan dan belaian walau dengan sedikit paksaan.
__ADS_1
"Kak!!" Clara memegang tangan Boby yang sudah berhasil membuka pengait di punggungnya.
"Sedikit saja…. Aku janji," bisik Boby. Tiba tiba pintu kamar mereka diketuk orang.