
Tama masuk ke bengkelnya dengan langkah lebih ringan. Restu dari Nina?? Kemungkinan besar juga restu dari ibu. Haaa apa dia mimpi??? Apa dia bisa bersama Citra? Serius??? Tama sendiri tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apakah semua mimpi mimpinya selama ini akan menjadi nyata? Bersama Citra, memperistri Citra? Membayangkannya saja sudah membuat hatinya berbunga bunga.
Hapenya berbunyi. Telpon dari pengacara. Memberitahu bahwa harta gono gini Tama dan Clara hanya rintisan bengkel yang belum sepenuhnya maju ini. Harta lain rumah, mobil dan dua kost tidak masuk dalam gono gini. Itu artinya hartanya aman. Apalagi pihak Clara tidak menuntut. Justru siap mengembalikan mahar yang dulu pernah diberikan. Tama menggeleng.
"Jangan terima apa pun dari mereka. Yang sudah menjadi hak milik Clara biar jadi milik dia. Uang, mobil, motor, perhiasan. Saya akan memberikan satu bidang tanah dan beberapa uang sebagai permintaan maaf," kata Tama mengakhiri percakapan.
Ah Clara….. gadis lucu yang selalu menarik. Hummm….. Tama merasa berdosa atas apa yang terjadi pada gadis itu. Perlahan Tama membongkar gallery di hp nya. Berisi beberapa foto Clara dan Daus. Tama tersenyum. Mereka mirip kakak adik daripada ibu dan anak. Tama semakin tertawa karena melihat foto foto konyol Clara dan Daus. Ah, anaknya itu pasti kangen mama koplaknya.
"Terimakasih sudah mengisi hidup Daus dengan cinta. Terimakasih sudah menyadarkan keluargaku secara tidak langsung," gumam Tama sambil mengelus wajah Clara di layar hapenya.
***
Hari putusan tiba. Clara hadir hanya dengan Pak Juni. Wajahnya lebih segar daripada persidangan yang lalu lalu. Entah kenapa Tama senang melihatnya. Hakim menjatuhkan talak satu untuk mereka. Dengan ketentuan lain lain yang tertuang. Termasuk hak asuh Daus yang jatuh ke tangan Tama.
Tama mengulurkan tangan untuk bersalaman. Clara menerimanya sambil mengusap air mata.
"Terimakasih untuk waktu yang singkat. Maaf untuk semua kelakuanku. Terima Kasih sudah menyayangi Daus dengan tulus…. Aku juga... menyayangimu," kata Tama tulus. Clara mendekat mereka berpelukan sesaat.
"Makasih untuk semuanya. Maaf kalau aku punya salah," kata Clara sambil melepas pelukan. Tama tersenyum. Mengusap pipi Clara sesaat.
"Jangan lupa undangannya. Aku mau kirim bom ke resepsimu dengan mantan bodohmu itu," kata Tama. Giliran Clara yang tertawa ngakak.
"Aku juga mau mau diundang ke resepsimu. Kamu gak boleh salah sebut namaku saat malam pertama sama Mbak Citra. Aku dengar keluargamu sudah merestui," kata Clara. Tama cuma tersenyum. Mereka berpisah dengan senyuman. Hal yang tidak pernah dilakukan saat mereka berstatus suami istri. Betapa hidup ini aneh? Semua tidak perlu dekat jika berujung pertikaian. Kadang menjaga jarak justru memperindah sebuah hubungan.
"Mantan suamimu memberikan beberapa harta untukmu. Aku akan mengurusnya sampai bisa jadi hakmu seutuhnya," kata Pak Juni dimobil.
"Tapi saya tidak meminta," jawab Clara kebingungan.
"Iya, tapi mereka memberikan secara suka rela. Mau ditolak? Atau buat Bapak saja? Nominalnya lumayan lho," kata Pak Juni sambil tersenyum.
__ADS_1
"Eh, ya jangan. Saya gak minta kok.... Kalau maksa ya udah saya terima," kata Clara sambil nyengir. Pak Juni tertawa mendengarnya.
Pulang kerumah, Clara disambut buket bunga besar bertuliskan 'Ini bunganya, kamu jandanya. Jadilah janda kembang. Selamat atas setatus jandanya. Kamu janda sekarang!' pengirimnya tidak lain dan tidak bukan Boby.
Keluarganya menyambut Clara dengan pelukan.
"Maafkan Ayah... Ayah harusnya gak nerima pinangan mereka sembarangan dulu," kata Ayahnya penuh sesal. Yang belakangan ini menghindari Clara karena rasa bersalahnya. Clara menggeleng.
"Ini bukan salah siapapun. Ini jalan hidup Clara," kata Clara yang sudah lebih tegar.
"Ayah janji akan mengambil keputusan tidak terburu buru. Hanya memberikanmu pada orang yang tepat kelak," kata Ayah. Clara tersenyum.
***
Seminggu berlalu.....
Motor, perhiasan, baju semua barang Clara di rumah Tama sudah berpindah kerumahnya. Termasuk lemari besar dan meja rias.
"Aku janda kaya Pak," kata Clara sambil nyengir. Pak Juni tertawa.
"Kamu ini Client termuda saya dan orang yang paling apa adanya yang pernah saya temui. Uang dan tanah segitu cuma nyempil buat mantan suamimu. Kalau kamu menuntut, kamu bisa dapat lebih banyak," kata Pak Juni.
"Ah, ini saja sudah banyak Pak. Aku sudah seneng," kata Clara sambil nyengir.
"Selamat kalau begitu," kata Pak Juni sambil tertawa ngakak. Dengan semua hak milik Clara yang sudah aman, artinya kerja sama mereka berakhir.
"Jangan pernah datang menemui saya. Jangan pernah bermasalah lagi. Tata hidupmu.... Kuliah sana! Uang dari mantan suamimu lebih dari cukup untuk sekolah lagi," kata Pak Juni. Mereka berpisah dengan senyuman. Kuliah ya.... Apa bisa?? Itu adalah mimpi Clara dulu.... Benar.... Sekarang dia bisa sekolah lagi.
***
__ADS_1
Sore hari jadwal anak anak karate. Boby sudah datang untuk mengajar. Sebelumnya masuk butik dengan sumringah. Membawa bungkusan berwarna pink cerah.
"Hai… aku mau ngasih ini buat kamu. Dibuat secantik mungkin yaa," kata Boby sambil menyerahkan bungkusan itu dihadapan Clara.
"Ini apa?" tanya Clara sambil membongkarnya.
"Itu seragam buat nikahan adikku dua minggu lagi," kata Boby membuat Clara tercengang. Nikahan adiknya???Clara diajak??
"Gercep amat Bob," komentar Maya yang nguping.
"Barang bagus May, takut di serobot orang," jawab Boby cengengesan.
"Gak dibuat macem macem lho Bob. Kamu bikin Clara nangis, Ibu suruh Bapak bedil kamu," kata Bu Nir. Boby nyengir merinding. Haaa Pocik punya support system atasanya.
"Barang aku bukan barang yaa!" kata Clara sok ngambek. Membelai bungkusan dari Boby. Bahan kebaya pink cerah kombinasi emas. Indah sekali.
"Ini modelnya harus gimana?" tanya Clara. Mereka selanjutnya membahas model bahan kebaya yang diberikan Boby. Entah mengapa hati Clara deg degan. Diberi kebaya untuk pernikahan adiknya?? Apa artinya Clara akan dikenalkan sebagai calon istri? Ah, apa secepat ini?? Bluss… pipinya memerah.
***
Boby pulang ke rumahnya. Mamanya langsung keluar saat dengar motor anaknya memasuki gerbang rumah.
"Atun bilang kamu ambil satu baju seragam keluarga. Buat siapa?" tanya Mama Santi antusias. Anaknya yang terkenal bad boy ini ambil satu baju seragam? Artinya sudah serius dengan seorang wanita. Akan diperkenalkan di acara nikahan kelak. Itu berita menggembirakan. Apalagi Boby sudah dilangkahi Dito. Adiknya itu menikah duluan.
"Ada deh, kejutan buat orang rumah," kata Boby tersenyum misterius.
"Ih, gitu deh kamu… main rahasia rahasiaan," kata mama sambil menepuk lengan Boby.
"Bocoran nama aja deh," kata mama belum menyerah. Menarik narik lengan Boby yang mau masuk kamar.
__ADS_1
"Pliiiiss Mama mohon," kata Mama sambil memelas. Biasanya jurus ini mempan sama Boby dan papanya. Mereka berdua bak pinang dibelah dua. Ya seleranya, ya hatinya, ya sikapnya. Bersama Boby Santi merasa bersama Tono, papa Boby. Jadilah Boby adalah sandaran dan tempat manja kedua setelah Tono. Boby menghentikan langkahnya.
"Namanya Clara," kata Boby singkat senyum sekilas membayang di wajahnya. Santi melihat itu. Senyum cinta dari sang anak sulung. Clara? Clara siapa? Dimana rumahnya? Bagaimana rupanya??? Ah…. Santi makin kepo maksimal.