
Dari berwisata berdua itu, Clara dan Tama lebih mengenal. Jarak umur mereka lumayan jauh ternyata. Terpaut sekitar dua belas tahun. Tama ternyata lulusan sarjana pendidikan IPS. Kemudian melamar kerja menjadi TKI di jepang selama empat tahun. Baru kembali sekitar dua tahun ini. Dia juga memiliki usaha kost kostan di belakang sebuah pabrik textile besar. Jujur Clara agak minder dengan Tama. Dia terlihat seperti butiran debu kalau begitu. Hanya anak baru lulus sekolah ingusan yang kebetulan bertemu ditempat kursusan haaaa…. sedikit jauh…… seperti langit dan bumi.
“Mau makan apa Dek?” tanya Tama saat mereka sudah bosan bercerita di tikar sewaan. Juga sedikit tidak nyaman dengan banyaknya monyet liar disekitar tempat itu.
“Belum lapar Mas, nanti saja. Kita ke tempat air terjun lebih dekat yuk!” ajak Clara. Gadis itu penasaran dengan air terjun yang terlihat dekat sekali dari tempat mereka duduk.
Tama berdiri merentangkan tangan pada Clara dan membantu gadis itu berdiri. Mereka berjalan mendekat ke arah air terjun itu.Ada jembatan merah melintang di atas aliran air terjun. Tama mau berfoto di jembatan itu. Dia menggandeng Clara dan meminta seseorang disitu untuk memfoto mereka.
“Beneran mau foto disini Mas?” tanya orang yang dimintai tolong mengambil foto mereka.
“Memang kenapa?” tanya Tama heran.
“Katanya kalau berfoto di jembatan ini, tapi belum menikah bisa putus tengah jalan lho,” kata Mas tadi. Tama justru tertawa.
“Saya gak percaya mitos Mas, ya gak Yang?” tanya Tama sambil menyenggol lengan Clara. Gadis itu tersipu malu. Panggilan ‘Yang’ baru pertama Tama berikan padanya. Mereka tetap berpose di jembatan air terjun itu. Kemudian lebih turun lagi merasakan dinginnya air walaupun cuma sebatas betis.
Clara dikagetkan oleh monyet kecil yang tiba tiba muncul di hadapannya. Monyet itu baru saja mengayun dengan akar pepohonan dan langsung mendarat di batu besar dekat Clara.
“Waaaaa!!!!” teriak Clara sambil mengangkat dua tangannya. Lucunya monyet itu juga berteriak sambil mengangkat tangannya mirip Clara. Sebenarnya dua makhluk itu sama sama terkejut dengan kehadiran masing masing. Beberapa menit mereka berpose seperti itu. Membuat pengunjung yang menyaksikan kejadian itu tertawa termasuk Tama. Pria itu kemudian mencipratkan air ke arah monyet kecil. Monyet itu ketakutan dan berlalu.
“ Hus.... Hus... Sana pergi," kata Tama sambil menggerakkan tangannya kearah atas. Mengawasi monyet tadi yang sudah menjauh.
"Kamu diikuti monyet Yang. Monyetnya mungkin mengira kamu satu species sama dia,” kata Tama sambil tertawa lagi.
“Ih Mas Tama begitu deh, Aku kan takut. Jahat ya ngatain aku mirip monyet!!” jawab Clara sambil cemberut. Dalam hati Clara sebenarnya menertawakan dirinya sendiri tapi gengsi mengakui. Tama tak enak hati melihat muka cemberut Clara. Pria itu merasa bercandanya keterlaluan.
"Enggak enggak aku cuma bercanda, mana ada monyet secantik kamu," rayu Tama sambil mengedipkan mata. Kemudian mengajak Clara naik. Menyelesaikan keceh mereka hari itu.
__ADS_1
***
Mereka mampir di sebuah warung mie ayam saat pulang. Tama menyampaikan perasaannya.
"Aku mau serius sama kamu, aku suka kamu," kata Tama sambil menatap mata Clara. Gadis itu terbengong sesaat.
"Mas yakin mau pacaran sama aku? Jarak umur dan…….finansial kita jauh Mas. Kamu tahu sendiri kondisi rumahku tadi. Kita seperti,-"
"Aku gak peduli dengan jarak finansial atau apapun itu. Yang penting aku cinta kamu dan mau serius dengan kamu. Kamu terima atau tidak?" potong Tama. Clara diam beberapa saat.
"Kamu mau jadi pacarku tidak?" tanya Tama tidak sabaran. Clara tersenyum dengan sikap tama yang seperti terburu buru itu.
“Oke, kita coba pacaran ya Mas,” jawab Clara. Tama tersenyum mendengarnya.
***
“Mas kenapa gak bilang mau kerumahmu, Aku kira kan main kemana,” protes Clara pada Tama. Pria itu cuma nyengir.
“Memangnya kenapa? Kan cuma ketemu ibuku saja Yang,” jawab Tama santai. Panggilan ‘Yang’ sudah akrab di telinga Clara seminggu ini.
“Tapi aku compang camping Mas. Penampilanku mirip brandal gini kamu ajak ketemu orang tua,” protes Clara. Tama hanya mesem mesem menanggapinya.
Mereka disambut ibu Tama dengan ramah. Wanita tua itu senang sekali Tama membawa wanita lain kerumah ini. Akan tetapi, ada sepasang mata yang memandang sedih ke arah Tama dan Clara yang bergandengan tangan masuk rumah. Tangan wanita tua itu mengelus gawang pintu. Seolah mengelus anak gadisnya yang selalu dia rindukan. Wanita tua itu menatap Tama dan Clara hingga menghilang dari pandangannya. Kemudian masuk rumahnya sendiri dengan perasaan sedih. Rumah yang tepat berada di depan rumah keluarga Tama. Walaupun dengan kondisi yang jauh berbeda.
Tama menggendong bocah kecil dan keluar menemui Clara.
“Kenalin nih, anak kecil kesayangan. Namanya Firdaus,” kata Tama sambil menyerahkan Firdaus kepangkuan Clara. Gadis itu agak kikuk menerimanya. Firdaus langsung menangis saat tahu tidak lagi digendong Tama. Bocah itu merentangkan tangannya kearah Tama.
__ADS_1
“Ow sayang sini ikut Papa,” kata Tama mengejutkan Clara. Ekspresi terkejut Clara langsung terbaca Mbah Narti, ibunya Tama.
“Itu…. ponakannya Tama, tapi Tama biasa disebut Papa.” jelas ibu Tama buru buru setelah melihat ekspresi terkejut Clara. Tama tersenyum kecut menanggapinya.
Clara diterima baik oleh keluarga Tama. Setelah beramah tamah dan berkenalan dengan hampir seluruh keluarga Tama, Clara diajak muter muter sawah keluarga Tama yang ujungnya sampai gak kelihatan. Clara diceritakan tentang proses tanam padi yang ternyata cukup panjang.
“Kita mulai dari pembibitan, kemudian tandur…..” Tama terus bercerita sambil mengajak Clara berjalan di pinggiran sawah yang rindang. Clara menyukai suasana sawah yang syahdu. Dia hidup dan besar di area perkotaan yang padat penduduk dan bangunan. Melihat sawah dan area terbuka seperti ini serasa cuci mata untuk Clara.
“Waaa Mas… ada belalang!!!” teriak Clara heboh sendiri. Ada belalang besar yang hinggap di pohon dekat mereka duduk.
“Namanya di sawah ya banyak belalang Sayang,” jawab Tama santai.
“Tapi aku geli sama belalang Mas. Buang sana jauh jauh!!” kata Clara. Tanpa sengaja gadis itu nemplok nemplok sama Tama. Pria itu tersenyum karena ada yang hangat dengan punggungnya.
“Kenapa geli? padahal belalang gak berbahaya dan gak punya tubuh melata kayak ulat?” tanya Tama sambil menyingkirkan belalang itu menjauh dengan kibasan jaketnya. Belalang besar itu pun terbang pergi.
“Karena kaki depannya lebih panjang dari kaki belakang. Udah gitu matanya melotot keluar,” kata Clara sambil bergidik ngeri. Tama malah tertawa. Baginya itu alasan gak masuk akal buat seseorang takut.
“Lha emang bentuknya gitu Yang, tapi kan malah lucu,” jawab Tama.
“Haaa lucu kamu lihat dari sebelah mana mas? Geli tau. Serem. Aku heran kenapa hewan seperti itu ada di lagu anak anak. Pok ame ame belalang kupu kupu. Emang apa sebanding belalang disandingkan sama kupu kupu,” kata Clara protes. Tama semakin tertawa ngakak.
‘Trus harusnya gimana lirik lagunya?” tanya Tama.
“Auukkk… tapi mungkin bisa diganti sama pok ame ame beruang kupu kupu,-”
“Siang mikirin kamu, malamnya mimpiin kamu,” lanjut tama sambil menatap kearah hamparan sawah yang luas. Membuat gadis itu merona begitu saja. Tama selalu bisa membuat Clara baper. Kebersamaan mereka sore itu semakin mendekatkan mereka satu sama lain, walaupun Tama tetap saja pria tertutup dan pendiam. Hanya membahas hal hal yang terlihat saja.
__ADS_1