
Rini mundur setelah ciumannya tidak terbalas.
"Ini yang terakhir. Aku akan melapor pelecehan kalau terjadi lagi," kata Boby dingin. Mengusap bibirnya di depan Rini, kemudian berlalu.
Tidak ada yang berubah dari Boby. Meski rindu dan jarak memang menyiksa. Rini tetap berusaha dekat, meski diabaikan dengan cara mengenaskan.
"Aku tidak percaya kalau Kak Boby udah nikah." Itu semboyan Rini yang dia pegang teguh. Taruna dan taruni STIN memang terkenal tangguh dan ngeyelan. Itu adalah salah satu didikan disini.
***
Clara menata hidup setelah wisuda. Melamar beberapa pekerjaan. Ingin menjajal gelar barunya sebagai sarjana. Bisnis es di tiga outlet cukup untuk membiayai Boby dan Santi. Sedang jahitan cukup untuk hidupnya sendiri. Sekarang saatnya Clara upgrade hidup.
Boby kembali pulang sejenak.
"Kakak," kata Clara sambil memeluknya. Merasakan tubuh suaminya kian terbentuk saja.
"Apa kabar Sayang? Aku kangen," kata Boby. Erat mereka berpelukan. Tidak peduli dengan hiruk pikuk bandara yang masih ramai. Boby melepas pelukan mereka. Mengeluarkan kotak merah berbentuk hati dari dalam ranselnya.
"Apa ini?" tanya Clara dengan mata berbinar.
"Hadiah untuk kelulusanmu. Maaf terlambat," kata Boby. Clara tersenyum senang. Kembali bergelayut di leher Boby. Memeluk tubuh suaminya lagi. Boby mengelus rambut Pocik.
"Coklat!!!" pekik Clara senang. Membuka hadiahnya didalam mobil.
"Suka?" tanya Boby. Sekilas melirik wajah Pocik disampingnya.
"Tentu saja!! Ini enak," kata Clara dengan mulut penuh coklat.
Mereka tiba di rumah. Boby menjilati sisa coklat di mulut Pocik.
"Iya enak," kata Boby. Clara memasukkan satu potong coklat ke mulut Boby. Pria itu menolaknya.
"Aku suka menikmatinya dari bibirmu," kata Boby. Merebut coklat yang sudah masuk mulut Clara dengan mulutnya. Seperti biasa mereka akan menghabiskan waktu dengan bercanda. Bicara ini itu dan banyak kegiatan absurd.
__ADS_1
Perbedaan terjadi saat Boby akan kembali ke asrama. Seseorang membunyikan bel pintu rumah mereka.
"Kak Boby ada?" tanya Rini pada Clara yang membukakan pintu. Dua orang itu saling tatap dalam ketidak sukaan. Boby keluar dari ruang tengah karena namanya dipanggil.
"Rini!!" kata Boby terkejut. Tidak menyangka dengan kenekatan Rini.
"Halo Kak, aku mau bareng sama Kakak nanti. Ambil penerbangan sore kan?" tanya Rina pede.
"Dia… teman kampusku Poc. Rini… ini Clara istriku," kata Boby menegaskan kata istri. Dua orang wanita itu bersalaman. Boby merangkul pundak Clara yang mempersilahkan wanita itu masuk. Awalnya Clara biasa saja, namun sikap kikuk Boby justru membuatnya terlihat mencurigakan.
"Kakak, jujur siapa dia?" tanya Clara di dalam kamar. Saat itu mereka sedang berkemas menunggu tiga jam lagi keberangkatan.
"Teman, apa lagi?" jawab Boby dibuat setenang mungkin. Clara lekat memandang wajah suaminya. Boby justru mencium bibir Clara dengan panas. Mereka menuntaskan satu ronde panas dengan Rini berada di ruang tamu. Tentu bisa mendengar keluhan Clara yang selalu berisik.
Pasangan itu menemui Rini dalam kondisi rambut basah. Rini tersenyum mengenaskan. Boby jelas sengaja melakukannya tadi. Hati Rini patah melihat kemesraan pasangan di hadapannya.
Seperti biasa… Clara membuat Boby overload dengan bawaannya.
"Ada abon, serundeng, sama dendeng kalau kamu gak suka lauk di asrama bisa makan itu. Ada minuman herbal kalau masuk angin. Aku tambah satu jaket biar Kakak gak bingung kehabisan jaket," kata Clara di dalam mobil. Rini menjadi penonton mereka di jok belakang.
Clara melepas kepergian Boby dengan tawa seperti biasa. Boby duduk diruang tunggu bersama Rini.
"Apa sekarang sudah puas?" tanya Boby sinis. Rini hanya terdiam
"Siapa yang kamu sogok sampai bisa dapat alamat rumahku?" tanya Boby lagi sambil menatap Rini dengan kesal. Gadis itu hanya terdiam. Patah hati yang menyakitkan untuk Rini.
***
Clara sedikit ngambek dengan Boby. Tidak mau mengangkat telepon Boby diakhir pekan. Tahu benar kalau Rini kemungkinan punya hubungan spesial dengan suaminya. Boby kewalahan mengatasi ngambek istrinya kali ini. Terkurung di tembok asrama seperti ini agak susah menghadapi Pocik yang marah. Dia harus minta tolong Nando agar membawakan hadiah hadiah kecil atas nama dirinya seminggu ini. Akhirnya Pocik mau mengangkat teleponnya malam ini.
"Pocik…. Sayang….," kata Boby ditelpon. Hening…. Diangkat, tapi tidak mau bicara.
"Udah dong ngambeknya. Apa gak kangen aku? Aku lho kangen banget sama kamu. Sampai gak doyan makan dan sakit sakitan. Kamu gak kasihan sama aku?" rayu Boby dengan nada semelas mungkin.
__ADS_1
"Sakit apa?" tanya Pocik jutek diujung sana. Boby tersenyum lega. Sepertinya ngambeknya berangsur membaik. Buktinya mau mengangkat telpon dan bicara.
"Malarindu dong, penyakit paling berbahaya karena obatnya cuma kamu," jawab Boby sambil senyum senyum. Fadli disampingnya menunjukkan muka muaknya. Boby menoyor kepala Fadli sejenak.
"Gombalanmu enak ditujukan untuk taruni taruni disana!" Clara masih minta dirayu.
"Ah… apa ada wanita disini? Aku cuma lihat alang alang. Wanita tercantik tetap istriku," jawab Boby. Hening….
"Poc, aku ganti pakai video call yaa," kata Boby lagi. Mereka akhirnya saling tatap lagi setelah sekian lama. Boby bersyukur dalam hatinya.
"Aih cantiknya istriku," kata Boby gemas.
"Gantengnya suami bobrokku!!" kata Pocik pedas.
"Aku udah insyaf Sayang. Serius! Aku udah gak tertarik main cinta. Percaya dong. Yang lain cuma alang alang. Yang cantik cuma kamu seorang," kata Boby. Pocik menyunggingkan senyum kecil. Betapa leganya Boby saat itu.
Berita terbaru yang diterima Boby adalah Pocik yang bekerja sebagai designer di sebuah pusat oleh oleh batik tulis kawasan Solo.
"Kenapa tidak menjahit saja dirumah?" tanya Boby. Merasa kasihan dengan istrinya yang montang manting kerja. Sedang dirinya enak enakan di asrama.
"Jahitan masih jalan kok, tapi aku mau jajal gelar baruku. Gak capek, cuma kerja sampai sore. Senin sampai jumat. Buat ngisi waktu. Biar gak…. Kebayang bayang kamu terus," kata Pocik. Boby tersenyum sumringah. Merasa masih sangat dicintai Pocik.
"Terserah, yang penting jangan capek capek. Aku minta maaf karena merepotkanmu. Hah, bukan aku yang menafkahimu, tapi justru kamu yang menafkahiku. Benar benar memalukan," kata Boby sedih.
"Tidak masalah Kak, kita berjuang bersama," kata Pocik riang. Boby berjanji dalam dirinya. Begitu dia lulus, dia akan memanjakan Pocik sebisa mungkin. Akan membuat istrinya itu diam dirumah. Menikmati apa yang menjadi haknya dengan layak.
"Aku mencintaimu Poc. Ingat itu baik baik. Jangan pernah tergoda dengan lelaki manapun," kata Boby sungguh sungguh. Mengusap layar hpnya dengan sayang.
"Gak salah?? Kamu itu yang jangan tergoda!!" Clara kembali ngegas.
"Enggak, gak akan tergoda, karena aku takut gak dikasih uang saku sama kamu," kata Boby memelas. Membuat Clara tertawa dibuatnya.
Panggilan berakhir. Clara melihat nomor Bayu beberapa kali muncul saat panggilan tadi. Bayu adalah HRD di tempat kerjanya yang baru. Yang selalu ber chatting dengan Clara saat malam tiba. Bayu itu asyik. Satu server dengan Clara. Panggilan masuk saat Clara selesai membalas chat dari Bayu.
__ADS_1
"Posesif deh Bay…. Kaya pacar aja. Aku lagi selesai telponan sama suami," kata Clara saat mengangkat panggilan dari Bayu. Hati yang sepi membuat Clara membuka pertemanan seluas luasnya. Walaupun tidak akan sampai hati untuk berselingkuh.