Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Mempertahankan


__ADS_3

Boby pulang lagi. Clara berencana mengenalkan Boby pada Bayu. Akan tetapi Bayu banyak alasan bertemu Boby.


"Padahal udah aku wanti wanti buat datang. Udah aku bilang aku yang traktir film dan makan malamnya sekalian….eh… malah batalin di menit menit terakhir!!! Dasar Bayu Lesus!!!! Awas aja besok kalau ketemu di tempat kerja!!" omel Clara panjang kali lebar. Mereka saat ini menuju gedung bioskop di lantai atas sebuah mal. 


Boby tersenyum mendengarnya. Merangkulkan tangannya di pundak Pocik.


"Aku yakin dia tidak sanggup bertemu denganku," kata Boby percaya diri.


"Hah, memang kenapa?" tanya Clara heran.


"Karena dia akan sakit hati…" kata Boby membatin 'dengan kemesraan kita' sebagai lanjutannya.


"Ha?? Sakit hati??? Emang kenapa hatinya tersakiti??" tanya Clara semakin tidak mengerti. Boby hanya tersenyum. Mengeratkan pelukannya pada pundak Clara.


Mereka nonton film lokal yang ada. Clara hanya kangen momen berpacaran dengan Boby. Jadi nonton apa saja film yang lagi diputar. Lebih sering mereka yang main film sendiri. Clara sudah merah padam dengan perlakuan Boby. Bukan hanya ciuman, suaminya itu berhasil mengacak acak kaos yang dia pakai. 


"Pulang yuk… cel lanna dal lamku sudah basah kuyup," bisik Clara dengan nafas berat.


"Disini juga boleh kalau udah gak tahan," kata Boby jahil. Clara menggeleng.


"Aku takut digrebek," jawab Clara sambil menarik tangan Boby berdiri.


Mereka berhasil menuntaskan satu ronde panjang di dalam kamar mereka. Boby sengaja meninggalkan banyak tanda di leher Pocik.


"Andai ada anak yang bisa memperkuat hubungan kita Poc," kata Boby sedih. Setelah permainan mereka usai. Clara mengangguk.


"Aku juga menginginkannya. Gak papa, nanti setelah Kakak lulus kita langsung program," kata Clara. Kontrak yang mereka tanda tangani adalah bersedia menunda memiliki anak selama masa pendidikan. Andai ada anak Poc, maka tak ada lelaki lain yang mendekatimu sedekat ini. Batin Boby sedih sebelum jatuh ke alam mimpi.

__ADS_1


Pagi harinya Clara terlambat bangun. Dia gedandapan sendiri. Tambah ngamuk ketika melihat lehernya yang babak belur parah.


"Kakak!!! Ini lama nutupinnya. Aku bisa beneran terlambat kerja," kata Clara panik. Boby cuma nyengir nyengir. Itulah yang dimau Boby. Akhirnya dengan menebalkan muka, Clara masuk kerja. 


Clara diantar Boby masuk kerja.


"Kerja yang bener yak," kata Boby sambil melirik leher istrinya. Ah, dia puas sekali. Clara meraih tangan Boby dan menciumnya. 


"Gak boleh nakal. Gak boleh godain cewek," pesan Clara posesif. Boby menarik hidung Clara. Mereka tertawa berdua sebelum berpisah. 


Bayu melihat interaksi suami istri itu dari balik jendela lantai dua. Tempat ruangannya berada. Tidak menyangka sosok Boby adalah pria gagah berotot yang terlihat atletis. Apa lagi interaksi mereka yang terlihat saling mencintai. Ada yang nyeri tidak bisa dikatakan. 


"Mau apa?? Dia memang suaminya," gumam Bayu seorang diri. Hatinya tambah nyeri saat melihat tanda di leher Clara.


"Edan, gak pernah ketemu, sekali ketemu langsung sikat!!" kata Mbak Gendis sambil nyekikik.


"Baguskan… nih…. Nihh…. Tanda dari suamiku. Lihat semua!!! Apa perlu aku buat pengumuman pakai pengeras suara agar semua orang tahu," kata Clara setengah gila. Sudah bosan jadi bulan bulanan temannya karena tanda Boby. Lagi lagi temanya ngakak. Minus Bayu yang terlihat lesu hari itu. Beberapa temannya menyadari itu. 


"Apaan sih gak jelas," elak Bayu.


Ada pesan dari Nana masuk. Bayu menanggapinya. Lumayan…. Sedikit mengalihkan rasa nyeri di dadanya.


"Wooiii senyam senyoom. Mau makan gak?" tawar Clara. Bayu baru sadar ini sudah masuk jam makan siang.


"Makan dong," kata Bayu semangat. Ah, minimal masih bisa makan berdua. Batin Bayu.


"Hayuk kalau gitu. Kak Boby udah nunggu diluar. Sekalian aku kenalin sama dia," kata Clara. Hati Bayu melencos. 

__ADS_1


"Aku…. Masih ada sedikit kerjaan. Kamu makan duluan aja," kata Bayu beralasan. Sok sibuk dengan komputer di depannya. Clara mengangkat dua bahunya.


"Ya udah, duluan ya," kata Clara berlalu.


***


Waktu yang singkat buat Boby berakhir. Dengan malas dia kembali keasrama. Berharap kebersamaannya dengan Pocik akan selalu sama. Boby masih yakin dirinya yang menjadi pemenang hati Clara saat ini. Entah selanjutnya..... kebiasaan bisa menghasilkan cinta. Dan Boby tidak sampai hati melarang Pocik berteman dengan Bayu. Rindu memang berat. Seberat itu sampai Boby memahami posisi istrinya.


***


Hari ini dengan nekat Bayu mengajak Clara bolos. Kemarin dia meng acc cuti Clara yang tidak diminta. Sambil dirinya sendiri menelan dua butir obat maag. pura pura mulai mletre. Agar ijin sakitnya bisa di acc juga hari ini.


"Kamu gila Bay, apa kata Pak Bisma kalau dia tahu," kata Clara sambil naik kedalam mobil Bayu. Pria itu cuma tersenyum. Ada hal yang harus segera diluruskan dengan Clara. Bayu tidak ingin hatinya terus terombang ambing.


"Kamu…. Cantik," ucap Bayu sambil melirik Clara disampingnya. Wanita itu tidak memakai celana halus dan kemeja. Baju wajibnya ketika kerja. Melainkan memakai kaos oversize dan celana jeans selutut. Santai sekali. Membuat kesan mungil nya semakin terlihat. 


"Haaahhh aku sudah kenyang dengan gombalan suamiku. Jangan ditambah lagi," jawab Clara santai. Melepas sepatunya dan ongkang ongkang kaki diatas dashboard mobil. Bukan pose jaim saat wanita sedang berkencan. Bayu tersenyum. 


Mereka sampai pada air terjun Parang Ijo. Air terjun di kawasan kota tetangga. Tempatnya sepi dan syahdu. Ini juga hari kerja. Jadilah tempat itu sepi pengunjung. Bayu menggandeng tangan Clara saat menuruni tangga buatan untuk mencapai air terjun. Clara pura pura sibuk dengan tasnya agar tidak terlihat menghindari tangan Bayu.


"Dingiiinn… sejuk lagi," komentar Clara. Dari tempat mereka berdiri sudah terlihat air terjun yang cantik. Juga kolam alami dan buatan. Kolam alami membentuk sengkedan. Jadilah nampak air terjun itu bertingkat tingkat.


"Ayo naik kesana!" ajak Bayu sambil berusaha menggandeng tangan Clara lagi. Kali ini Clara tidak menolak. Dia ikut menggenggam tangan Bayu karena jalan yang mereka lalui licin dan berbatu.


Bayu tetap menggenggam tangan Clara meski jalan yang dilalui sudah datar. Bahkan saat mereka duduk di atas bebatuan. Dibawah mereka ada kolam kecil setinggi mata kaki yang jernih airnya. Air terjun utama juga menjulang di atas mereka. Spot yang tepat untuk menikmati air terjun tersebut. Bayu menarik tangan Clara yang masih dia genggam. Menciumnya perlahan. Clara merasa ada yang aneh dengan sikap Bayu. Tidak biasanya dia begini.


"Tanganku bau terasi lho Bay, aku habis masak sambal terasi tadi," kata Clara sambil nyekikik. Membuka camilan yang ada di tasnya. Bayu menatap intens Clara disampingnya.

__ADS_1


"Kenapa betah LDR an sama suamimu?" tanya Bayu. 


"Karena keadaan. Harus seperti ini. Mau gimana lagi," jawab Clara sambil sibuk mengunyah keripik kentangnya. Bayu manggut manggut. Mata mereka bertemu sejenak. Ada kecewa yang tertangkap mata Clara di wajah Bayu.


__ADS_2