Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Selamat datang, Nak


__ADS_3

Tepat seperti dugaan mereka. Ketuban Clara merembes. Clara langsung ditahan tidak boleh pulang dari rumah sakit. Dokter Bambang menyarankan dua pilihan. Sesar atau mau induksi. Boby dan Clara berdebat sendiri.


"Induksi Dok, siapa tahu bisa normal," kata Clara.


"Sesar Dok, saya gak tega lihat dia lahiran," kata Boby dengan muka pucat. Mukanya sudah pucat sejak di rumah. Dia sudah melihat beberapa kali video orang lahiran. Lututnya lemas jika itu terjadi pada Clara. Dokter Bambang jadi bengong.


"Aku yang mau lahiran," kata Clara ngeyel.


Akhirnya Dokter memberikan jalan tengah. Induksi dulu, jika tidak berhasil sesar. Mereka akhirnya sepakat. Boby baru ingat menghubungi Sus Wiwik. Yang langsung bersedia datang dengan senang hati. Juga menghubungi keluarganya dan keluarga Clara. 


Mamanya mau datang kalau bayinya sudah lahir. Dengan alasan tidak tega melihat orang lahiran. Sedang keluarga Clara ribut mencari mobil atau angkutan lain yang cepat membawa mereka kesana. 


Tidak mungkin membawa ibu naik motor sampai sana. Mengingat kondisi kesehatan beliau.


"Tapi ini malam tahun baru. Cari mobil dimana?" tanya Tito bingung.


"Kita naik kereta saja," usul Rina. Sambil mengecek jadwal kereta terdekat. Ternyata tidak ada.


"Andai kita semua muat dalam mobil Dito," kata Hani sambil mencoba aplikasi ojek yang terus menerus ditolak drivernya. Akhirnya Ayah keluar sebentar. Balik kerumah dengan membawa berita bahagia.


"Kita dapat mobil yang muat buat kita semua," kata Ayah bersemangat.


"Mobil siapa?" tanya Ibu.


"Mobil Karno. Nanti sore sepulang dia kerja sanggup mengantar kita semua," kata Ayah. Orang rumah langsung bengong. Kemudian tertawa cekikikan. Karno adalah tetangga mereka. Yang setahu mereka memiliki mobil bak terbuka.


"Gak papa malah seru. Kita bisa tahun baruan di jalan," kata Tito bersemangat. 


Akhirnya sore itu keluarga Clara berangkat. Ibu sudah dibawakan jaket sama Hani. Mereka duduk lesehan menggelar tikar di bak belakang mobil.


"Cus…. Otw jogja… kayak kambing bentar gak papa," kata Tito semangat. Membuat yang lain nyekikik saja. Keluarga itu harus sedikit lebih lama dijalan. Karena memutar dari jalan besar. Menghindari polisi yang pastinya akan menyetop. Karena mereka pakai mobil bak untuk mengangkut orang.

__ADS_1


***


Induksi berlangsung. Sus Wiwik tiba dengan cepat. Dengan senang hati menunggu Clara di ruang persiapan persalinan. Boby baru ingat kalau peralatan baju bayinya tertinggal. Pulang sejenak untuk menyiapkan perlengkapan bayi yang tertinggal. 


Sampai menjelang sore belum ada pergerakan. Clara tidak merasakan efek induksi apapun. Akhirnya Boby menandatangani surat operasi untuk Clara. 


Pukul setengah 6 sore Clara dibawa ke ruang operasi. Boby diizinkan menemani di samping Clara. Pria itu yang pucat. Pria itu yang tegang. Tangannya bahkan lebih dingin dan berkeringat dari tangan Clara.


"Tanganmu…. Seperti es Kak," kata Clara sambil tertawa kecil. Jelas mengejek Boby yang terlihat penakut sekali.


"Diamlah Poc! Aku takut sekali," kata Boby lirih. Clara mengkode Boby untuk mendekat. Boby mendekatkan telinganya pada bibir Pocik.


"Apa ini mental seorang perwira BIN??" bisik Clara sambil nyekikik. Boby mencubit hidung Clara. Membuat wanita itu semakin ngakak.


"Tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku! Ini adalah ketakutan suami terhadap istri dan anaknya!" kata Boby kesal. 


Dia yang menemani, dia yang di ejek. Pocik yang mau operasi santai. Sedang dirinya bisa bergetar begini. Boby memang seorang perwira BIN. Seorang yang disegani oleh bawahan dan musuhnya. Akan tetapi dia tetap seorang suami yang ketakutan ditinggal istrinya melahirkan. Walaupun sesuai kemauannya Pocik lahiran sesar, Boby memang seperti itu. Seorang yang tegas dan pemberani. Bahkan tidak gentar menghadapi senjata dari te ror ris di negeri ini. Dia garang diluar, namun sebenarnya hello kitty di rumah.


Proses operasi berlangsung. Boby duduk samping Clara. Tangan mereka saling bertaut. Tirai dibentangkan di antara dada dan perut Clara.


"Spongebob!" seru mereka bersamaan. Clara hampir terpingkal sesaat. Lupa kalau dirinya sedang dioperasi. 


Boby sudah kepo sama bayi mereka yang sedang dibersihkan. Kemudian menatap Pocik dengan haru. 


"Terimakasih untuk perjuanganmu. Terimakasih untuk hadiah terindah dalam hidupku. Aku….. mencintai kalian," kata Boby haru. Membuat Clara ikut meneteskan air mata.


"Bayinya perempuan dan sangat sehat Bu," kata suster sambil meletakkan bayi itu di dada Clara. Bayi mungil itu tidur saja dengan anteng. 


"Dedek, selamat datang," kata Boby senang. Mereka memang biasa memanggil bayi itu dengan sebutan Dedek.


"Bapak boleh ikut saya sebentar. Mendoakan sekaligus menuliskan nama bayi," kata suster.

__ADS_1


"Nama??" kata Boby bodoh. Dia bahkan belum menyiapkan nama untuk bayinya. Sudah diminta Pocik mempersiapkan nama sejak tujuh bulan, namun dirinya selalu bingung. Nama bagaimana yang bagus untuk anaknya.


Clara tersenyum. Tahu benar kebingungan suaminya.


"Namanya ada di hpku. Di catatan," kata Clara. Boby tersenyum senang. Mencium kening pocik sekilas.


"Terimakasih cantik. Aku pergi sebentar yaa…. Jumpa lagi nanti. Sekali lagi terimakasih karena menjadikan aku seorang ayah," kata Boby girang.


Boby berlalu dengan bayi mungil mereka. Proses jahit menjahit ala dokter masih berlangsung. Tiba tiba dada Clara terasa sesak. Sangat sesak hingga sulit bernafas.


"Ssssuuss….. se….se….sesak," kata Clara terbata. Suster awalnya menyuruh Clara relek saja. Akan tetapi kemudian Clara terbatuk. Membuat dokter yang sedang menjahit kocar kacir di bawah sana.


 "Saturasi 40 persen Dok," lapor Suster sambil melihat alat ditangan Clara. Wanita itu sudah tersengal nafasnya.


Dokter melakukan tindakan. Clara akhirnya dibius total.


"Dibuat tidur saja Bu," ucap Suster sebelum Clara jatuh ke alam mimpi.


***


Clara bermimpi melihat cahaya putih dan menyenangkan. Cahaya yang tidak silau, namun terang. Sebuah cahaya indah yang belum pernah Clara lihat. Dia bengong seorang diri. Mana bayinya? Batin Clara seorang diri. Ingat kalau dia baru saja lahiran. Entah datang dari mana. Seorang lelaki tampan menanyainya. 


"Bertahan atau ikut saya?" katanya ramah dan sopan. Clara bingung. 


"Ikut kemana? Bukankah saya harus melihat bayi saya?" tanya Clara. Lelaki itu tersenyum.


"Anda mau mengurus bayi anda?" tanya lelaki itu lagi.


"Tentu saja Mas," jawab Clara yakin. Memangnya mau apa dia? Clara ingin segera melihat bayi perempuan yang selalu sibuk bergerak di dalam perutnya itu. Belahan jiwa yang kecil dan indah. Mungkin akan menjadi segala pelipur lara dan semangatnya nanti.


Clara tersadar dengan banyak dikelilingi orang. Semua orang nampak lega dan mengucap syukur saat dirinya membuka mata. Clara bingung sendiri. Suara detektor jantung keras disampingnya. Juga selang oksigen yang terpasang di hidungnya.

__ADS_1


"Bu, apa yang ibu rasakan?" tanya Suster disampingnya.


"Saya… lapar Sus," jawab Clara yang kaget dengan suara lemahnya sendiri.


__ADS_2