Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Sunshine a new day


__ADS_3

Clara bangun lebih pagi dari biasanya. Dengan sedikit semangat dan tenaga. Kata Pak Juni 90% dia akan menjanda minggu depan. Sebuah predikat yang rawan, namun bodohnya dia perjuangkan sebulan lebih ini. Clara tersenyum miris mengingat fakta itu. Ah, sudahlah. Hidup memang seperti ini. Clara berencana jadi hot janda. Melirik Mbaknya yang masih tidur di sampingnya dengan liur menetes deras.


Dia bangun keluar kamar. Melewati dapur dan ruang makan. Melihat Tito sedang mengobok obok stok persediaan makanan di dapur. Penampilannya rapi, bahkan pakai kemeja putih dan celana bahan hitam. Clara terheran sendiri. Tito? Bangun pagi? Udah mandi?


"Cari apa?" tanya Clara sambil mendekat. Tito terlonjak kaget.


"Ngagetin aja!" kata Tito sebal. Clara tertawa ngakak.


"Cuma ditanya gitu kok kaget. Yakin masih preman? Atau udah ganti sebutan jadi preman dapur? Cari apa sih?" tanya Clara kepo. Tito masih ngobok ngobok stok dapur.


"Cari lauk, aku gak tega bangunin ibuk, ibuk kesiangan dan aku harus sarapan," kata Tito. Di tangannya sudah ada sepiring nasi sisa semalam. 


Clara tersenyum. Ini perubahan Tito yang bagus. 'Tidak tega membangunkan ibuk.' Biasanya gak sungkan bikin repot. Gedor gedor kamar orang cuma pingin barang kecil yang dia mau. Atau cuma tanya cd faforit yang nyempil entah dimana.


"Mau aku buatkan telur dadar?" tawar Clara. Tito mengangguk antusias. Clara mulai memanaskan wajan diatas kompor.


"Mau kemana? Tumben rapi," tanya Clara sambil menatap Tito yang menunggu dimeja makan.


"Kerja lah," jawab Tito dengan perlente.


"Eh, kamu kerja dimana?" tanya Clara kaget. Perhatiannya sebulan lebih ini tercurah pada persidangan dan pekerjaan. Hingga ia jarang ada waktu dirumah atau memperhatikan orang rumahnya.


"Pabrik tekstil depan kos Tama. Satu bagian sama Hani," jawab Tito.


"Kamu kebangetan Ra, aku lho udah mau terima gaji. Kamu belum tahu aku udah kerja," lanjut Tito. Clara tersenyum gembira. Tidak menyangka kakaknya yang bandel perlahan berubah bertanggung jawab seperti ini. Minimal bekerja. Dan bertanggung jawab untuk kebutuhannya sendiri. 


Clara menyerahkan telur panas ke piring Tito.

__ADS_1


"Selamat untuk pekerjaan barumu To, aku ikut senang. Makan dan berangkatlah. Kamu shift pagi kan," kata Clara sambil menepuk pundak Tito. Berlalu pergi menuju kamar mandi.


"Selamat untuk persidanganmu…. Aku dengar kamu akan……menang. Ah, aku harus memberimu selamat untuk….. status janda?" kata Tito sedih. Kebingungan harus suka atau duka untuk adik bungsunya ini. Clara tersenyum. 


"Aku bahagia… tidak perlu bersedih," kata Clara. Ibu ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar. Langsung datang memeluk Clara. Tangis pecah di antara keduanya sesaat. Clara melepas pelukan.


"Clara bahagia Bu, Clara bahagia. Ibu gak perlu merasa sedih," kata Clara sambil mengusap air mata dipipi ibunya.


"Ngomong ngomong anak ibu tuh kasihan makan nasi sisa kemarin. Untung aku datang. Gak jadi dia makan pakai garam," kata Clara sambil nyengir. Ibunya tertawa ngakak.


"Maaf ya Lee, ibu kesiangan. Biasanya juga gedor gedor minta makan. Kok ini tumben diem aja," kata Ibu sambil membuatkan teh hangat untuk Tito. Clara tersenyum dibuatnya.


***


Clara berangkat kerja dengan semangat. Senyum terukir dari bibirnya. Maya melihat senyum itu ikut bahagia. Awalnya dia tidak menyangka kalau temannya itu serius dengan perkataannya menjanda, tapi ijin beberapa waktu belakangan ini membuat Maya sedikit miris. Merasa simpati pada Clara.


"Aku kan emang cantik dari sononya Mbak," jawab Clara.


"Enggak yang kemarin kemarin gak cantik. Mirip hantu. Diam, sedih, kosong," kata Maya. Clara tertawa.


"Padahal aku masih napak bumi lho," jawab Clara. Bu Nir datang dari sisi dalam butik.


"Ah, my sunshine….. begini lebih baik. Ibu sampai kangen lihat senyummu," kata Bu Nir. Clara tersenyum lagi. Memeluk Bu Nirmala yang sangat membantu akhir akhir ini. 


"Makasih buat ijinnya Bu. Clara tertolong karena punya majikan sebaik Bu Nir," kata Clara yang kerap ijin untuk persidangan.


"Apa semuanya sudah beres? Apa sudah putusan?" tanya Bu Nir. Clara menggeleng.

__ADS_1


"Baru minggu depan, tapi pengacara saya bilang 90% kami menang," kata Clara. Bu Nir mengangguk tersenyum kecil sambil mengusap pundak Clara.


***


Sementara itu di rumah Mbah Narti terjadi perdebatan antara Tama dan Nina. Tama datang untuk melabrak Nina yang justru membela Clara saat persidangan.


"Dasar kakak gak berguna! Kau suka adikmu bercerai? Apa semua orang harus gagal sepertimu? Sok jagoan!! Sok pahlawan!!! Itu sebabnya Clara mampu menyewa pengacara mahal," kata Tama penuh emosi. Mukanya masih lebam semua. Hasil gelud yang tak seimbang kemarin memang rugi besar di Tama. Dia yang memulai pertikaian, dia yang babak belur dihajar. Nina santai menanggapi. Minum susu diet sebagai sarapan paginya.


"Kenapa? Kamu mencintai Clara? Lalu kenapa menyakitinya? Kau benar mencintai atau hanya tertarik?" tanya Nina sambil meminum susunya. Duduk santai padahal Tama sudah mencak mencak disampingnya. Nina memang seperti itu. Santai....


Tama terdiam. Ditanya seperti itu membuatnya berpikir jauh ke dalam hatinya. Hanya Citra…. Bukan Clara yang dia perjuangkan mati matian dalam persidangan. Yang sebenarnya mungkin hanya rasa dendamnya pada Boby yang mendominasi.


Nina makan pisang sambil melirik Mbah Narti di ambang pintu dapur.


"Dengar Tam, Mbak melakukan semua demi kamu. Demi kebahagiaan kamu. Mbak gak mau kamu hidup dengan orang yang tidak kamu cintai. Jangan tanya kenapa karena Mbak tahu rasanya. Kita sudah sama sama besar…" Nina menjeda sebentar. Melirik Mbah Narti yang masih membeku di tempatnya.


"Lepaskan Clara…. Mbak merestui kamu untuk bersama dengan orang yang kamu cintai. Mbak akan mendukungmu," kata Nina tegas. Tama terbengong. Mbah Narti langsung mendatangi kursi Nina.


"Nina!!! Kamu sadar apa yang baru saja kamu ucapkan??!!" bentak Mbah Narti keras.


"Nina sadar Bu, sepenuhnya Nina sadar. Cinta Tama tidak terbantahkan, bahkan saat dia sudah memperistri gadis semenarik Clara," kata Nina. Wanita itu kemudian meraih tangan ibunya. Menciumnya beberapa kali. Mengusap air matanya yang mulai membanjir dengan punggung tangan ibunya.


"Biarkan Tama bahagia Bu, Nina mohon. Dia gak salah pilih kaya Nina. Citra gadis yang kalem. Lupakan dendam masa lalu dan berdamailah dengan keadaan Bu, Nina mohon," kata Nina sambil sesenggukan.


Mbah Narti ikut meneteskan air mata. Membelai punggung Nina dengan sayang. Nina mendekap tubuh ibunya sambil menangis. Ini adalah hal langka. Nina yang kuat, tegar, mandiri menangis dipelukan ibunya. Mbah Narti sendiri lupa kapan Nina menagis dalam pelukannya. 


Tama mendekat. Ragu ragu dia merangkul dua orang Srikandi dalam hidupnya itu. Mereka bertangisan dalam haru….. Matahari yang lebih terang bersinar dirumah itu…. Semoga……

__ADS_1


__ADS_2