
Boby dibawa ke ruang perawatan setelah lukanya selesai diobati. Mendapat banyak jahitan dan lumayan jelimet. Hari sudah pagi. Orang tuanya menunggu diluar ruang tindakan. Mamanya bermata sembab sedang papanya terlihat cemas. Boby menceritakan dengan bangga apa yang terjadi.
"Cuma aku yang bisa membekuk penjahat itu, sayangnya dia terlepas karena kami bergumul di lumpur yang licin," kisah Boby menyembunyikan pikirannya yang melayang sejenak pada Pocik. Membuat dia meleng dan terluka.
Hari beranjak berganti sore yang cerah. Revan masuk rumah sakit berjalan bersama timnya untuk menjenguk Boby. Melewati cafetaria rumah sakit yang hampir sepi karena para penjualnya bersiap tutup.
"Clara," sapa Revan pada gadis yang sedang menutup gerai minuman teh.
"Pak Revan," sapa Clara sedikit terkejut.
"Kamu kerja disini? Katanya kuliah?" tanya Revan.
"Saya memang kuliah Pak, disini jaga gerai minuman sampai dapat pegawai," jawab Clara.
"Usaha kecil kecilan?" Tebak Revan. Clara mengangguk.
"Ndo, balikin buah ke mobil. Kita sudah dapat oleh oleh yang akan membuat Boby waras," kata Revan sambil memandang Clara.
"Siap Pak, lumayan buat cemilan besok di kantor," jawab Nando patuh berbalik menuju mobil. Beri dan Jon tertawa ngakak. Entah atasannya yang koplak atau Nando yang terlalu penurut.
Lengan Clara ditarik Revan. Dia menceritakan apa yang terjadi dengan Boby dan meminta Clara ikut dengannya. Walaupun masih sebal, Clara mengikuti Revan dan timnya.
***
Sementara itu di ruang perawatan…..
Gina datang ke ruang Boby dengan membawa buket buah yang dilapisi gula. Berjalan dengan senyum di wajah. Gadis yang cantik sekaligus sexy. Dan dia menyadari kelebihannya itu. Membuat Gina selalu percaya diri dimanapun.
"Selamat sore," sapa Gina ramah sambil masuk kamar Boby. Mama Santi langsung melongo. Wanita di depannya ini sangat sexy. Sedangkan Boby malah berdecak sebal.
"Sore," jawab Santi sambil menerima uluran tangan dari Gina.
"Saya Gina, teman kerja Mas Boby," kata Gina memperkenalkan diri.
"Polisi juga?" tanya Santi.
__ADS_1
"Bukan, saya wartawan stasiun tv xxx," jawab Gina. Percakapan singkat terjadi. Mama Santi titip Boby sebentar untuk mandi.
"Mau mandi mandi saja Ma. Aku gak usah dititipin. Boby bukan balita yang akan terjun dari ranjang atau lompat lompat gak jelas," protes Boby.
"Mandi aja Tante, saya jaga anak tante yang ganteng ini," kata Gina. Santi meninggalkan Boby dan Gina dengan senyuman. Ah, mungkin Gina lebih cocok jadi menantunya daripada si janda.
"Mau apa kesini!" kata Boby ketus. Setelah mamanya masuk kamar mandi.
"Menjenguk kamu dong Mas, apa lagi? Bentuk prihatin dari redaksi kami," kata Gina.
"Mau makan oleh olehku? Kamu akan sehat seketika," kata Gina mencabut strawberry berbalut gula. Boby memalingkan wajahnya saat Gina menyodorkan buah itu dekat bibirnya. Gina tidak menyerah lebih dekat menyodorkan buahnya. Boby menampik tangan Gina dengan kasar. Gerakannya itu membuat luka yang baru dijahit terasa berdenyut ngilu.
"Aw, aw, aw," pekik Boby kesakitan.
"Eh… maaf maaf. Sini aku tiupin," kata Gina panik. Bibirnya monyong mendekat. Bermaksud meniup luka di lengan Boby.
Saat itu juga ketukan pintu terdengar. Pintu langsung terbuka. Wajah Revan dan Clara menyembul dibalik pintu. Bibir monyong Gina tertangkap mata mereka. Seolah ingin mencium Boby. Apalagi gadis sexy itu duduk ditepi ranjang yang ditiduri Boby. Clara melongo sesaat.
"Pocik," kata Boby melihat siapa yang datang. Clara tidak jadi masuk. Ngeloyor pergi begitu saja.
"Ndo, ambil lagi buahnya," perintah Revan sebelum masuk ruang perawatan Boby.
Nando bengong sesaat. Sebelum kembali turun satu lift dengan Clara.
"Gak jadi nengok Mas Boby Mbak?" tanya Nando didalam lift.
"Gak, dia udah dijenguk cewek sexy. Mungkin teman temanmu mengganggu tadi. Mereka lagi mau adegan romantis," kata Clara hampir menangis.
"Mbak Clara mau nangis?" tanya Nando bodoh. Clara melorok sebal pada pria di sampingnya. Kenapa orang ini menyebalkan? Batin Clara.
"Ada yang salah dengan wajah saya Mbak? Atau Mbak baru sadar kalau saya lebih ganteng dari Mas Boby?" tanya Nando sambil ngaca dilift.
"Ada Mas, yang salah saya karena satu lift dengan kamu!!" Kata Clara gemas. Lift terbuka. Clara berjalan dengan cepat meninggalkan Nando. Akan tetapi langkah kaki pendeknya tersusul Nando yang berjalan santai. Nando sendiri terhitung jangkung untuk ukuran polisi.
"Mbak, kok jalannya kaya kura kura?" ejek Nando sambil nyengir. Clara sebal melepas tas selempangnya dan memukulkan pada Nando disampingnya. Tidak kena karena Nando menghindar dengan cepat. Kemudian berlari menghindari amukan Clara yang lebih garang.
__ADS_1
"Permisi Mbak, saya mau lari sore," kata Nando berlari kecil menuju parkiran. Clara tersenyum melihat aksi Nando. Lupa kalau tadi hampir menangis.
"Polisi edan," gumam Clara seorang diri. Polisi mesum, menyebalkan, dan banyak tingkahnya lagi terluka. Batin Clara pilu.
***
Boby mencak mencak sama teman temannya.
"Kenapa langsung buka pintu! Kenapa gak nunggu disuruh dulu! Kenapa gak bilang kalau bawa Pocik!!" Kata Boby kesal.
"Kenapa kamu cerewet? Kenapa ada dia? Mau apa bibirnya monyong kaya tadi!!" Jawab Ine ketus. Sambil menunjuk Gina yang betah duduk di sisi ranjang Boby.
"Gayamu hancur karena Clara, tapi buayamu masih sama!" lanjut Ine yang lebih galak dari Boby. Gadis itu tahu rasanya mencintai. Dan melihat orang yang dicintai berciuman dengan wanita lain.
"Kamu pikir hati wanita terbuat dari besi sampai gak sakit melihat adegan mesra dengan wanita lain?!!" omel Ine. Hening… tim itu memang agak merinding kalau Ine mengomel. Bahkan Revan sekalipun.
Mama Santi keluar kamar mandi.
"Pak Revan," sapa Santi ramah. Selanjutnya terjadi obrolan basa basi menjenguk orang sakit.
"Kasihan Boby, karena tugas negara sampai dia terluka seperti ini," kata Santi sambil mengelus kepala Boby. Revan tersenyum.
"Lebih kasihan lagi kalau dia harus menanggalkan sabuk hitam karatenya, Bu. Menangkap satu penjahat, satu lawan satu bisa terlepas. Itu kebodohan," kata Revan dingin. Melirik Boby yang langsung buang muka ke sembarang arah. Tidak mau apa yang sebenarnya terjadi diketahui Revan.
Gina ikut pamit saat tim Revan pamit. Berjalan disamping Ine dengan santai. Gadis berpotongan rambut pixel cut itu acuh saja pada Gina.
"Siapa tadi? Gadis yang bersama kalian tadi?" tanya Gina membuka percakapan.
"Wanita yang seharusnya ada disamping Boby! Bukan wanita gatel!" kata Ine ketus. Menarik tangan Nando yang berjalan di belakangnya. Mempercepat langkahnya berjalan lebih dulu.
"Apa dia teman wanita tadi? Apa dia selalu judes? Apa ada pria yang tertarik dengan wanita jutek seperti itu!!" kata Gina sama sekali tidak suka.
"Tugasmu meliput berita kriminal, bukan meliputi kehidupan pribadi kami," jawab Beri gak kalah pedas.
***
__ADS_1
Selamat berhari minggu bestie, semoga selalu dalam keadaan sehat, bahagia, dan mampu mencapai apa yang diinginkan. Terimakasih untuk dukungan, like, komen, dan suscribenya. Semoga kisah receh mirip koin ini menghiburmu. Aamiin