
Lamaran digelar di rumah Clara. Beberapa tetangga dan RT diundang. Agar mereka tahu kalau Boby adalah calon Clara. Tangan Boby bergetar saat menyematkan kembali cincin di jari manis Clara. Padahal saat di Dieng biasa aja. Terhitung pede dan nekat.
"Kamu bisa grogi juga ya," bisik Clara.
"Diem! Atau aku cium kamu disini," jawab Boby. Clara tersenyum. Senyum Clara menular pada Boby. Melumerkan ketegangan yang tadi tercipta pada diri Boby. Clara memang segalanya. Semangat hidup, semangat memperbaiki diri dan sumber senyuman Boby. Hidupnya berputar di sekeliling Clara. Gadis imut yang memenuhi hatinya untuk pertama kali dan terakhir kali. Clara yang diterima Boby dengan segala kelemahan dan kelebihannya. Dia sanggup mentolerir kelemahan Clara dengan cinta yang dia miliki.
***
Clara montang manting dengan kegiatannya setelah itu. Kuliah, jahit, jualan es teh, persiapan pernikahan, dan syarat pernikahan dengan Boby. Seperti biasa menikah dengan abdi negara membutuhkan banyak persiapan dan banyak syarat.
Hari ini jadwal dia psikotes di kantor Boby. Berangkat sendiri karena Boby sedang ada tugas diluar. Clara kesal luar biasa sama Boby. Dua pasangan lain diantar dengan mesra. Dia luntang lantung seorang diri.
"Calonnya siapa Mbak?" tanya calon mempelai laki laki yang lain. Mungkin kasihan melihat Clara sendirian.
"Boby Mas," jawab Clara.
"Boby?" tanya pria itu minta penjelasan lebih lanjut.
"Bripda Boby Haryanto, bagian narkoba," jawab Clara menjelaskan.
"Oh, anak buah Pak Revan? Loh kok gak nemenin kesini?" tanya teman Boby.
"Katanya ada tugas luar Mas," jawab Clara.
"Haa… oh…. Iya… iya tugas luar," kata pria itu agak terheran dan agak gak percaya. Justru melirik polwan yang membawa tiga buah buku psikotes tebal. Senyum senyum sendiri kemudian berbisik pada pasangannya. Clara agah heran, tapi mengabaikan.
Clara kemudian masuk ruang psikotes. Polwan yang menunggu sama sekali tidak ramah. Entah ada masalah apa sama dia. Clara mengembalikan buku psikotes baik baik. Buku itu justru dibanting sama dia.
"Santai Mbak," kata Clara sambil tersenyum. Akan tetapi si polwan justru melorot ngajak ribut.
__ADS_1
"Udah santai kaya dipantai!! Apa?? Mau ngajak ribut??" tanyanya sudah dengan pose berdiri. Clara sudah siap menjawab, tapi Jon menariknya keluar ruangan dengan cepat. Entah datang dari mana Jon itu. Clara merasa memang di awasi.
"Yuk lanjut tes wawancara," ajak Jon sambil menarik Clara keruang berikutnya.
"Cinta, kita pamit yaa," kata Jon pada polwan tadi.
"Kamu gak ada tugas luar Mas?" tanya Clara pada Jon. Mukanya pucat pasi. Dia tidak terbiasa berbohong.
"Uu… udah selesai. Itu kamu ditunggu sama tukang wawancaranya. Aku tunggu disini ya," kata Jon sambil nyengir.
"Emang siapa calon suamiku? Kenapa kamu yang nungguin aku? Suruh dia kesini atau aku akan marah," kata Clara. Sekarang dia tahu kalau dibohongi. Boby sengaja tidak mau mengantarnya.
Usai tes wawancara Clara merasa hapenya bergetar. Pesan dari Boby. Katanya menunggu Clara di parkiran mobil. Masih ada satu tes kesehatan. Dan mata tajam Cinta masih mengawasinya seolah dia hewan buruan. Ada apa?? Boby tidak mau kesini dan wanita garang itu???
Clara berjalan menuju parkiran motor. Dia malas menemui Boby. Mau langsung pulang saja sendiri. Padahal tangan kirinya mulai kebas hasil suntikan. Baru Clara mau jalan, kunci motornya dicabut dengan cepat dari motor. Boby nyengir menunjukkan gigi rapinya.
"Aku udah bilang nunggu di parkiran mobil lho Poc, kok malah pulang sendiri. Apa kuat bawa motor sampai rumah? Katanya suntikannya bikin kebas," kata Boby lembut.
"Pulang yukkk, aku antar pakai mobil," kata Boby menuntun Clara turun dari motornya.
Selanjutnya hanya keheningan yang mengisi perjalanan. Clara tidak mau buka mulut kalau Boby tidak menjawab. Sedang Boby memilih bungkam. Tahu benar, apapun yang dia kata nanti akan membuat Pocik tambah marah.
"Poc, sayang," kata Boby mesra. Tidak ada tanggapan Pocik lurus menatap depan.
"Makan dulu yuk, udah mau lewat waktu makan siang lho," kata Boby. Tidak ada tanggapan lagi. Boby tetap membelokkan mobilnya pada sebuah restoran.
Clara membeku di tempat. Padahal Boby sudah turun dari tadi. Dia bukan cewek manja yang minta dibukakan pintu mobil, tapi kali ini Clara benar benar malas turun.
"Sayang, jangan begini dong. Yuk turun yuk," ajak Boby sambil membuka pintu sisi Pocik. Menarik pelan Pocik agar mau mengikutinya masuk.
__ADS_1
Segala bujuk rayu Boby dikeluarkan. Hasilnya Pocik tetap beku. Kadar marahnya lebih dari biasanya. Atau mereka yang jarang sekali saling marahan. Membuat Boby sedikit kelimpungan menghadapi gadis beku di depannya.
"Ya udah, kamu mau tahu apa?" Boby menyerah. Pocik malah buang muka.
"Iya, seperti dugaanmu, dia salah satu mantan pacarku sebelum kamu. Itu sebabnya aku gak enak kalau harus nganter kamu," jelas Boby.
"Berapa lama kalian pacaran? Apa saja yang kalian lakukan sampai dia sesinis itu sama aku dan kamu gak berani mengantar??!" tanya Clara masih ketus. Boby garuk garuk kepalanya yang tidak gatal. Simalakama. Dijawab makin ngamuk, gak dijawab ya ngamuk.
"Jawab!" kata Clara penuh emosi.
"Aku jawab kalau sudah selesai makan," kata Boby yang melihat kearah waiters yang datang. Benar saja waiters itu menyajikan makanan untuk mejanya.
Mereka makan dalam keheningan. Clara merasa badannya makin tidak enak. Tidak menghabiskan nasi dipiringnya. Boby merasa itu kode kalau dia harus bicara jujur lagi.
"Dia Cinta, mantan aku. Aku memutuskannya sepihak setelah mencium kamu pertama kalinya. Saat kamu masih sidang dengan Tama," kata Boby.
"Kamu bilang kamu jomblo waktu itu!" protes Clara. Boby nyengir saja.
"Pulang yukk," ajak Boby.
"Apa saja yang kalian lakukan sampai dia segitu gak terimanya dan marah sama aku?" tanya Clara tidak menghiraukan ajakan pulang Boby. Yang ditanya menghela nafas. Dia tahu betapa keponya Clara. Semua masalah harus dikupas tuntas, sampai dia puas.
"Banyak, termasuk mengambil keperawanannya. Kami melakukan atas dasar suka sama suka dulu," kata Boby jujur. Menyesali seberapa brengg sseknya dia dulu. Clara menghela nafas jengah. Berdiri dan meninggalkan Boby begitu saja.
Boby mengejar Clara di parkiran. Bermaksud menghentikan langkah kaki gadis itu dengan menarik lengannya.
"Aaawww!!!" pekik Clara kesakitan. Lengannya yang kebas justru ditarik Boby.
"Eh, maaf cantik…. Maaf ya, aku gak sengaja," kata Boby sambil mengelus lengan Clara. Boby merasakan suhu tubuh Clara yang meningkat. Juga mukanya yang kian memucat.
__ADS_1
"Kamu demam sayang?" tanya Boby. Clara diam saja. Hatinya dongkol, tapi malas berdebat. Masuk mobil dan pura pura tidur. Gak disangka tidur beneran.