Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Pertemuan kembali


__ADS_3

Clara dapat undangan pernikahan Tama. Ia memutuskan datang bersama Rama. Daripada gabut sendirian datang di acara mantan. Dikira dia belum move on nanti. Padahal saat ini teman lelaki terdekatnya ya cuma Rama.


Rama merasa dapat angin segar. Hubungan mereka kian dekat kalau begini.


"Hai, kamu cantik sekali," kata Rama saat melihat Clara memakai kebayanya. Clara cuma tersenyum.


"Yuk jalan," ajak Clara. Tidak mau terlihat berbosa basi. Perjalanan berisi keheningan. Selain karena motor Rama yang berisik, juga karena Clara yang belum mau dekat dengan siapa pun.


"Ini pernikahan siapa?" tanya Rama saat mereka sampai di gedung.


"Pernikahan mantan suamiku," jawab Clara tanpa ragu. Biar Rama tahu kalau dia janda.


"Kamu sudah pernah menikah?" tanya Rama kaget. Clara mengangguk. Sudah, selama kurang lebih sembilan bulan," jawab Clara, kemudian menuju para among tamu. Bertemu Nina yang langsung heboh…


"Pacar barumu?" tanya Nina agak heran. Boby dan Clara terlihat begitu mencintai dan kompak… apa benar bisa putus???


"Bukan, cuma teman," jawab Clara. Rama kecewa dibelakangnya. Dia berharap menjadi lebih dari teman tentu saja.


Clara bertemu Hani dan teman teman lain di kos Tama. 


"Gak jadi sama Kak Boby?" tanya Hani. Clara menggeleng.


"Iya wis… cari saja yang lain. Kemarin aku sempat nginep dirumahnya…." Hani menceritakan kejadian Boby mabuk dan teriak teriak di teras rumahnya.


"Aku dengar juga dari Jesi kalau di kamar Kak Boby ditemukan banyak alat kontrasepsi. Itu alasan Kak Boby jarang tidur di rumah," bisik Hani mengakhiri gosip. Clara lemas mendengarnya. Seburuk itukah Boby?? Hatinya yang kembali patah terasa patah lagi kalau begini. Terbayang perselingkuhan Tama dan Citra lagi.


"Siapa Boby?" tanya Rama kepo.


"Mantan, mamanya menolak aku karena aku janda," jawab Clara.


"So what dengan janda! Bahkan kamu janda tanpa anak," kata Rama ikut jengah. Seolah dia kerabat Clara.


"Memang keluargamu tidak menolak kalau kamu dapat janda? Aku tidak yakin," kata Clara pesimis.

__ADS_1


"Tidak, mami dan papiku adalah orang yang terbuka pikirannya. Tidak kolot. Aku yakin mereka merestui aku dengan siapapun orang yang aku cintai. Termasuk kamu," kata Rama yakin. Menggenggam tangan Clara.


"Hehehe… aku mau begini dulu…. Menikmati masa janda. Tidak berniat menjalin hubungan dengan pria manapun," jawab Clara sambil menarik tangannya.


"Apa enaknya menjanda?" tanya Rama yang heran dengan kata kata Clara. 'Menikmati masa janda?'


"Enaklah, jadi artis kampung, tiap gerak gerikku jadi obrolan hangat. Dipandang bernoda, padahal aku udah mandi bersih... Pakai rinso lagi," jawab Clara koplak. Rama tertawa mendengarnya.


Clara memberi ucapan selamat pada Tama. Yang diberi ucapan malu malu. Melihat Clara begini ingatanya melayang pada hari hari manisnya. Ah, Clara…. Gadis itu ternyata tetap membekas indah dalam ingatan Tama. Kenapa sekarang terlihat begitu cantik? Clara terlihat bersinar setelah bercerai darinya.


"Selamat ya Mas, aku senang salah satu mimpimu tercapai," kata Clara. Tama tergagap dengan lamunannya sendiri pada gadis itu. Gadis?? Haaa iya Clara itu masih gadis. Entah mengapa ada sesal yang dalam pada Tama. Kenapa tidak berfikir untuk menikmati tubuh gadisnya dulu? Padahal setatusnya suami istri. Dia malah sibuk memikirkan Citra.


"Kamu sibuk apa?" tanya Tama. Lebih kaget lagi saat tahu yang dibawa Clara bukan Boby.


"Ini calonmu? Kamu putus dari Boby?" tanya Tama lagi.


"Aku sibuk kuliah. Dia teman kuliah. Duit hasil menjanda aku buat kuliah.... Biar jadi janda pinter," jawab Clara tidak menjawab pertanyaan tentang Boby.


"Mbak Citra… selamat," kata Clara beralih ke Citra yang terlihat amat bahagia.


Keluarga besar Tama hadir dalam pernikahan itu. Seolah gak ada pertentangan dapat Citra yang janda. Apa dia juga harus dapat yang duda juga? Biar imbang gitu? Apa kalau dia dapat duda, keluarga si duda tidak akan menolaknya? Huft….


***


Boby berdiri agak jauh dari rumah mungil milik Pocik. Beberapa hari mencari informasi tentang Pocik. Mudah, menggunakan lencananya dan sedikit uang. Dia sudah menemukan rumah Pocik yang baru. Mobil pink yang dulu masih sama. Terparkir di garasi depan rumah. Boby yakin Pocik ada dirumah itu, tapi Boby ragu mendekatinya…. Takut kalau kalau merusak kebahagiaan Pocik. Bagaimana kalau kemarin udah beneran jadian sama cowok bernama Rama itu? Bagaimana kalau dia ditolak? Dan cowok bernama Rama itu sudah memenuhi hati Pocik? Ah!!!! Boby pusing sendiri memikirkan segala kemungkinan.


Revan datang mengetuk kaca mobil Boby.


"Apa yang darurat?" tanya Revan saat masuk dalam mobil. Tadi dia ditelpon Boby katanya ada yang darurat. Boby menunjuk rumah mungil Clara. Revan memperhatikan sekilas. Kemudian menabok kepala Boby disampingnya.


"Sejak kapan darurat percintaanmu harus telpon aku!!" Kata Revan kesal. Mengenali mobil Clara dengan mudah. Boby nyengir.


"Kamu kan yang pengalaman ngadepin cewek ngambek Pak," kata Boby.

__ADS_1


"Memang dia ngambek?" tanya Revan. Boby menggeleng. Langsung menghindar saat tangan Revan kembali akan menabok kepalanya.


"Aku bingung cara memulai percakapan," kata Boby jujur. Revan menepuk keningnya pelan. Kebiasaan istrinya menular padanya.


"Punya anak buah go blok kaya gini kok ya aku waras," kata Revan kemudian menarik Boby keluar mobil. Berjalan lurus ke rumah Clara dan membunyikan bel. Menggenggam erat tangan Boby mirip mereka sepasang kekasih. Clara membuka pintu tak lama.


"Ada…," kalimatnya terpotong melihat siapa yang datang. Tubuhnya sedikit merinding karena rindu. Revan nyengir dengan Boby yang bermuka tegang.


"Pagi Clara…. Ada manusia go blok dan bobrokan mau bicara sama kamu," kata Revan menarik tangan Boby kedepan. Mendorongnya masuk rumah bersama Clara. Boby terhuyung, namun sempat menangkap tubuh Clara yang akan terjatuh. Revan mengambil kunci dari pintu bagian dalam rumah. Kemudian mengunci rumah dari bagian luar. Menempatkan kunci tergantung dilubang kuncinya. Berbalik dan pergi meninggalkan rumah Clara.


Boby menangkap tubuh Clara yang didorong Revan masuk rumah. Tersenyum memandangi Pocik yang sekarang begitu dekat.


"Kak," kata Clara menyadarkan Boby dari euforia kebahagiaan di otaknya.


"Eh, kamu gak terluka kan?" tanya Boby masih betah memeluk tubuh Clara erat.


"Enggak, cuma engap…. Lepasin dulu," kata Clara. Boby sadar dia memeluk tubuh Clara terlalu erat. 


"Ma… maaf, aku gak sadar," kata Boby salah tingkah. Mereka berdua sama sama salah tingkah. Menghimpit rasa rindu masing masing yang memenuhi seluruh relung raga. Agar tak lepas kendali dan mengagetkan orang disampingnya.


"Duduk Kak," kata Clara menunjuk sofa kecilnya. Ruang tamu yang sekaligus menjadi bengkel tempat kerjanya. Bermacam alat jahit, kain dan mesin jahit bercampur jadi satu. Agak kacau karena Clara belum membereskannya dari lembur semalam.


"Rumah yang nyaman," puji Boby tanpa berpikir. 


Clara mengangkat alisnya.


"Seperti sarang burung kayak gini kamu bilang nyaman?" tanya Clara yang merasa diejek.


"Bersamamu selalu nyaman. Bagaimanapun tempatnya," Boby ngeles mirip bajai.


"Mau apa kesini?" tanya Clara tersadar siapa lelaki ini. Lelaki yang harus dihindari jauh jauh. Melihat ekspresi muka Clara yang berubah dingin membuat Boby kecil.


"Apa kamu sudah bahagia Poc?" tanya Boby sendu.

__ADS_1


"Bukan urusanmu, aku bilang untuk menjauh. Pergi dari rumahku!" usir Clara sambil berusaha membuka pintu rumah. Tidak bisa...


__ADS_2