Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Pernikahan impian bersama


__ADS_3

Boby kembali ke rumahnya dengan wajah cerah. Bersiul siul sambil turun mobil. Hari baru, tahun baru, dan rencananya istri baru. Hehehe istri mungil yang masih suci. Ah…. Mimpi apa dia sampai dapat Pocik??


"Seneng banget," komentar Dito yang lagi asyik nyuci motor di dekat garasi. Motor kesayangan yang dimiliki Dito. 


"Seneng dong, sebentar lagi kamu juga akan senang. Kamu akan punya kakak ipar dalam waktu dekat. Aku udah ngelamar dia kemarin," kata Boby sambil memegangi dagunya mirip anggota Cherrybelle.


"Wes, wes, wes serius Mas? Dia mau sama kamu? Yakin??" tanya Dito gak percaya.


"Dua rius malah," kata Boby sambil berlalu masuk rumah.


***


Acara lamaran Clara dan Boby rencananya akan diadakan bulan depan. Sudah berbicara pada kedua belah pihak orang tua yang setuju saja. Akan tetapi entah mengapa Boby sering melihat Tono tidak fokus. Seperti banyak pikiran. Terakhir Tono ingin menjual mobil keluarga dengan alasan bosan. Alhasil papanya itu hanya akan naik motor saat berangkat ke toko besi.


Boby pulang dini hari setelah tugas. Dikejutkan oleh Tono yang masih terjaga di ruang keluarga.


"Belum tidur Pa?" sapa Boby. Yang urung masuk kamar. Tono menoleh sejenak pada putra sulungnya itu. Menghembuskan asap rokok dengan perlahan dari hidung dan mulutnya. Boby ikut mengambil satu batang rokok dan menyulutnya.


"Belum, rencananya kapan kamu mau nikahi Clara? Resepsinya… bulan berapa?" tanya Tono.


"7 bulan lagi mungkin," jawab Boby. 


"Clara mau menjahit sendiri baju ijab dan resepsi, jadi… ya agak lama. Kalau aku maunya langsung aja gak usah lama lama," kata Boby sambil nyengir.


"Clara minta apa buat lamaran?" tanya Tono makin cemas. Berarti duluan masuk kuliah Jesi daripada nikahan Boby. Tono takut uangnya tidak cukup untuk membuat resepsi yang layak.


"Gak minta. Dia terima apapun yang kita berikan," kata Boby bangga. Dulu Jesi meminta nominal dan jumlah perhiasan. Sedang Clara tidak meminta apapun.


"Kalau nikahanmu diundur setahun lagi gimana Bob? Biar Papa punya cukup waktu ngumpulin uang. Biar resepsimu sama dengan resepsi Dito dulu. Jesi …. Minta kuliah. Uang Papa berkurang untuk semua kebutuhan Ayuna dan keluarga kecil Dito. Sekarang ngepas untuk itu saja," Tono menjelaskan keuangannya secara jujur. Sebenarnya dia malu. Sebagai kepala keluarga, sampai gak bisa mencukupi kebutuhan semua anggota keluarganya.

__ADS_1


"Itu sebabnya Papa mau jual mobil?" tanya Boby. Tono mengangguk pelan.


"Buat biaya resepsi mu nanti. Itupun kayaknya masih kurang kalau sama dengan resepsi Dito. Papa gak mau membedakan kalian," kata Tono sedih.


Boby menghembuskan asap dari mulutnya sampai habis. Dia merasa kasihan dengan Papanya. Sejak Boby kecil, papanya itu selalu memenuhi apapun maunya. Sampai dirinya pernah bertanya dulu.


"Pa, kenapa semua mauku kamu turutin?" tanya Boby kecil.


"Karena untuk itulah Papa bekerja keras. Untuk mencukupi dan menyenangkan orang orang yang Papa sayangi. Kamu nanti juga harus begitu Nak. Saat kamu memiliki istri dan anak," kata Tono waktu itu. Kenangan itu membekas pada ingatan Boby sampai sekarang. Dan rasa mengalahnya pada Dito sudah mengakar dari kecil. Dito tetap adik kecil untuk Boby. Walaupun waktu kini merubah Dito menjadi kepala keluarga terlebih dahulu.


"Biar Boby urus pernikahan Boby sendiri Pa. Papa urus saja kuliah Jesi dan kebutuhan Ayuna. Boby punya tabungan kok," kata Boby. Papanya menatap Boby dengan sendu.


"Kamu yakin?" tanya Tono. Boby mengangguk.


"Gak usah dipikir. Boby juga gak akan iri sama Dito. Clara juga bukan cewek matre. Terimakasih sudah menjadi kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab. Sekarang ijinkan Boby belajar bertanggung jawab juga seperti Papa," kata Boby sambil mematikan rokoknya di asbak.


"Aku mau tidur Pa, besok pagi Boby harus ke kantor lagi," kata Boby sambil menepuk pundak tua papanya.


***


Boby menunggu Clara di parkiran kampus. Sudah bilang kalau mau menjemputnya tadi. Menyalakan rokoknya duduk dengan tenang di bangku semen. Menikmati pemandangan mahasiswi mahasiswi disana. Sayangnya ternyata penghuni kampus Clara kebanyakan cowok. Dengan muka amburadul karena jurusan seni. Agak eneg dilihat Boby yang mata keranjang. Yang agak seger cuma danau kecil tengah kampus yang dikelilingi bangku untuk duduk para mahasiswa disana.


"Siang calon imam," sapa Clara dengan ceria. Mengejutkan lamunan Boby pada cewek kampus.


"Siang bidadari surgaku," jawab Boby gak mau kalah. Clara tersenyum malu.


"Kunci stang dulu motormu, kita mampir makan siang yaa," kata Boby sambil menuju motornya.


"Aku udah nitip Merlin. Dia yang bawa pulang motorku nanti," kata Clara.

__ADS_1


Boby manggut manggut. Menyalakan mesin motornya dengan semangat. Clara duduk di belakangnya tanpa pegangan.


"Aku mau ngebut lho Poc," kata Boby.


"Hummm," dijawab Clara sambil sibuk memakai helm dan menata tasnya. Boby langsung ngegas dan ngerem dalam waktu bersamaan. Membuat Clara terantuk ke depan. Dua tonjolan favorit Boby menghimpit punggungnya dengan nyaman. 


Clara mengeplak helm Boby. Kesal karena terkejut dengan aksi Boby.


"Sabar Kak!! Sabar!! Ini lho aku peluk kamu!!" kata Clara sambil melingkarkan tangannya di pinggang Boby dengan erat. Boby nyekikik saja. Melajukan motornya dengan pelan.


Rama melihat interaksi mereka dengan pilu. Clara tak pernah sebahagia itu saat bersamanya.


"Kasihan… udah biarin dia bahagia. Lagian masih bagusan kamu kok. Pacarnya Clara itu cuma tukang cilok," kata Merlin yang tiba tiba nyempil di samping Rama.


“Tukang cilok?” tanya Rama heran. Merlin mengangguk yakin.


Clara dan Boby makan di foodcourt rumah sakit. Rencananya Boby akan menemani Clara melihat outlet tehnya. Boby menjelaskan kalau pernikahannya nanti akan ditanggung dari kantongnya sendiri. Menceritakan sejujur jujurnya kondisi rumah.


"Karena itu maaf jika nanti resepsi dipihakku sederhana. Gak kaya punya Dito kemarin. Juga mahar dan uang dapur yang tidak seberapa," kata Boby.


"Aku juga berencana membiayai pernikahanku sendiri Kak. Ibu masih engap dengan biaya pernikahan Mas Tito. Aku gak tega menambah beban dengan pesta kita nanti," kata Clara santai.


"Eh, gimana kalau pesta kita jadiin satu? Jadi ijab, trus resepsinya jadi satu. Toh biaya kita kak suka suka kita kan pestanya?" ide Clara.


"Undang penyanyi dangdut sexy, resepsi yang asyik gak monoton. Mengundang banyak teman teman koplak," kata Boby semangat.


“Ya gak trus penyanyi sexy kali,” kata Clara sambil mencebik.


“Hehehehe buat hiburan teman teman kita Poc,” kilah Boby.

__ADS_1


“Kita? Elu aja kali,” kata Clara. Boby nyengir sambil mencium tangan Pocik. Siang itu mereka sepakat menggelar resepsi pernikahan bersama.


__ADS_2