Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Tahun baru


__ADS_3

Hujan terus mengguyur kota Jogja di akhir tahun ini. Kota dengan segala pesona yang cantik. Kota yang tertata dan nyaman. Segala yang ada di Jogja adalah pesona. Pantas saja kota ini menjadi destinasi wisata banyak orang.


Walaupun harga kebutuhan lebih mahal dari kota asal, namun Clara menikmatinya. Bukan hanya harga kebutuhan. Harga tanah disini juga berlipat. Membuat Clara dan Boby berpikir ulang untuk membeli rumah disini. Selain karena cicilan rumah yang digadaikan belum lunas. Walaupun hidup mereka sudah perlahan membaik dan tidak semlarat dulu.


Hari ini mereka kontrol kandungan.


"HPL nya pertengahan Januari ya Bu. Jadi bulan depan ibu sudah lahiran. Mulai sekarang kontrol dua minggu sekali ya," pesan Dokter Bambang.


"Baik Dok, apa saya masih boleh piknik kecil? Merayakan tahun baru gitu," tanya Clara. Boby ikut menyimak.


"Mau kemana? Kalau luar kota jangan," kata Dokter mengingatkan. Clara menggeleng.


"Saya cuma mau nginep di Kaliurang situ Dok. Ngerayain tahun baru dari ketinggian," kata Clara. Yang seminggu ini ngiler staycations di Kaliurang sama Boby. Mengenang bulan madu mereka dulu.


"Boleh, silahkan kalau cuma deket," kata Dokter Bambang. Clara senang bukan main.


Pulang dari rumah sakit mereka berkemas untuk piknik sebelum Clara melahirkan.


"Kamu yakin kuat?" tanya Boby memastikan. Clara mengangguk senang. Menyiapkan baju bajunya masuk koper.


"Nanti kalau sakit atau ada yang kenceng bilang yaa. Sini aku gantikan. Kamu istirahat saja," kata Boby mengambil tumpukan baju ditangan Clara. Dia yang menyiapkan semua. Clara rebahan sambil perintah. 


"Bapak, dedek laper," kata Clara saat Boby selesai menyiapkan baju. Hari memang sudah malam.


"Dedek mau makan apa?" tanya Boby mendekat. Mengelus perut Clara yang membuncit.


"Mau nasi bakar, jeruk anget, sama telur puyuh bacem," kata Clara sudah membayangkan makanan makanan itu. Entah mengapa dia gampang sekali pingin sesuatu saat hamil.

__ADS_1


"Boleh, mau makan ditempat atau bawa pulang? Kalau bawa pulang kamu tunggu disini aja," kata Boby.


"Bawa pulang," jawab Clara yang udah mager. Akhirnya Boby berangkat sendiri. Pulang membawa semua pesanan Clara tanpa kurang sedikitpun. 


Sedang Clara sibuk streaming Spongebob dari hpnya. Entah mengapa dia jadi suka sekali kartun itu sejak hamil. Bentuk Spongebob yang kotak kuning membuat dia ingin tertawa. Juga kenaifan sifat Spongebob yang mirip Boby. Berada dalam keluarga toxic, namun tetap berusaha baik. Sebenarnya itu sifat baik, karena kita memang tidak dianjurkan balas dendam. Akan tetapi jadi terlihat bodoh sendiri. Mirip Spongebob bersama Mr. Krabs dan Squidward. 


Boby menyiapkan makan mereka. Mengambil piring dan sendok. Menuang jeruk hangat Clara pada gelas dan membawa makanan itu di hadapan Clara.


"Suapin!" kata Clara manja. Malas pegang sendok.


"Manja deh," kata Boby, namun tangannya sudah sigap menyuapi istrinya. Clara masih asyik melihat Spongebob bahkan saat makananya habis.


"Minum," kata Clara sambil menggapai gapai gelas. Bukan bermaksud mengambil sendiri, tapi menyuruh Boby mengambilkan.


"Kita jadi mirip mendiang papa sama mama dulu," kata Boby sambil mengambilkan minum Clara.


Boby kemudian bercerita sekilas tentang masa kecilnya. 


"Papa bilang mama itu orang yang diambil dari orang tuanya demi mendampingi papa. Jadi harus dimanja. Aku sebenarnya tidak begitu menerimanya. Bagiku itu salah. Rumah kami tidak seimbang. Papa terus bekerja dan mama terus rebahan. Mungkin itu yang menyebabkan aku tidak terlalu menghargai wanita dulu," kenang Boby.


"Dan kamu jadi buaya yang mempermainkan wanita. Menukar tambahkan aku dengan kakak kelas!!" lagi lagi nyanyian tukar tambah Clara berkumandang. Boby tertawa. Mencium bibir istrinya sejenak.


"Tapi aku sadar papa ada benarnya sekarang. Aku mencintaimu, membuatmu jauh dari keluargamu. Berjuang hidup miskin disini bersamaku. Mengandung anakku dengan susah payah. Papa benar, kita harus memanjakan istri kita," kata Boby sambil menciumi muka Clara. 


"Tapi bagiku papamu tetap salah. Kita membangun rumah tangga. Berarti harus take and give. Kalau satu memberi doang dan satu menerima doang tidak akan seimbang," kata Clara. Boby mengangguk. Kembali menciumi Clara. Kali ini tangannya sudah tidak ditempat. Bergerilya ke tempat tempat kesukaannya.


"Aku akan memberikan cinta, perhatian dan sayangku sama besar dengan yang kamu berikan. Aku gak mau jadi mamamu," kata Clara.

__ADS_1


"Aku akan memberikan seluruh cintaku cuma sama kamu," kata Boby melepaskan daster Clara. Wanita itu menahannya.


"Beneran cuma sama aku? Sama mama dan adikmu??" tanya Clara.


"Itu hal lain. Tapi paling besar cuma sama kamu," kata Boby berusaha menarik daster Pocik. Mereka tarik tarikan daster. Naff ssu Boby sudah diujung. Dua kepalanya sudah berdenyut.


"Aku sobek kalau kamu terus menahannya!!" ancam Boby dengan muka frustasi. Clara tertawa. Rasanya senang sekali menikmati wajah tertekan Boby.


Mereka melewatkan malam panas berdua. Boby yang biasanya main kalem setelah Clara hamil seperti terbakar. Bermain agak keras di atas tubuh istrinya. 


***


Pagi datang. Hari ini Boby libur. Jadilah dia yang membereskan pekerjaan rumah. Clara masih santai santai rebahan. Gulang guling dikasur sambil lihat Spongebob.


"Ibuk mau susu?" tawar Boby. Clara menggeleng. Dia tidak suka susu dari dulu. Hamil juga malas minum susu. Sebagai gantinya Clara rutin minum vitamin dokter.


Boby datang tetap membawa susu untuk Clara.


"Aku kan gak mau Kak," protes Clara. 


"Diminum udah dibuatin juga," paksa Boby. Yang tahu benar Clara tidak suka susu. Agak dipaksa saat hamil seperti ini. Clara dengan malas bangkit. Ada yang keluar cukup deras dari bawah tubuhnya.


"Kak, aku ngompol," kata Clara panik. Buru buru menuju kamar mandi. Boby tertawa melihatnya. Agak kasihan juga. Boby tahu benar Clara yang tidak bisa menahan pipis lama. Membereskan sprei bekas ompol Pocik…. Tapi… ini terlalu banyak untuk pipis seseorang. Boby menciumnya. Tidak bau pesing!


Clara di kamar mandi untuk cebok dan mengganti ce lana da lamnya. Ketika mengangkat kaki, dia merasakan sesuatu merembes lagi. Terlalu banyak untuk pipis. Buru buru membuka pintu kamar mandi. Ternyata Boby juga berlari ke arah kamar mandi.


"Bukan pipis!!" kata mereka serentak. Mukanya juga panik berdua.

__ADS_1


Boby membopong Clara kedepan. Memesan taksi online dan mengambil tas.


"Ada yang sakit?" tanya Boby memastikan. Clara menggeleng. Mengelus perutnya dengan sayang.


__ADS_2