Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Kesayangan Boby


__ADS_3

Kesehatan ibu membaik setelah dirawat selama 4 hari. Beliau diizinkan pulang dan dijemput oleh Boby. Clara sendiri sedang ada tugas empat mapel sekaligus. Jadi tidak bisa ikut.


"Terimakasih Bob, sudah repot repot mengantar Ibu. Terimakasih juga karena sudah mencintai Clara dengan sepenuh hati," kata Ibu.


"Sama sama Bu, saya yang beruntung dapat Clara. Saya juga anak Ibu, jadi jangan sungkan," jawab Boby.


"Kalian jadi menunda momongan?" tanya Ibu. Boby mengangguk. Ibu nampak kecewa.


"Bujuklah Clara untuk mau hamil sekarang Bob. Umur orang tidak ada yang tahu. Ibu ingin mengurus cucu dari kalian," kata Ibu.


"Saya akan bicarakan Bu, namun keputusan tetap berada ditangan Clara. Boby tahu menjadi seorang ibu itu tidak mudah. Dan Clara juga masih sekolah," kata Boby. Dia tidak ingin memaksa Pociknya. Walaupun tetap akan membicarakan nanti.


***


Boby balik menuju kantor setelah mengantar ibu. Betapa terkejutnya Boby melihat kekacauan di ruangannya. Revan ngamuk pada Nando. Memukuli Nando dengan membabi buta. Sudah dipegangi Beri dan Jon, namun kalah kuat. Revan begitu berambisi memukuli Nando. Anggota lain tidak berani mendekat. Tahu betul betapa garangnya Revan. Mereka juga mengira ini masalah kerjaan. Revan marah dan memukul itu hal wajar saat timnya melakukan kesalahan.


"Bob tolonglah Bob," kata Jon saat melihat Boby masuk ruangan. Revan terlepas lagi dari cengkeraman Beri dan Jon. Menuju Nando yang lemas disudut meja. Boby dengan cepat menangkis pukulan Revan untuk Nando. Balik memukul ulu hati Revan dengan sekuat tenaga. Sekali pukul Revan mundur. Terbatuk sesak karena Boby tepat mengenai ulu hatinya. Belum menyerah…. Kini amarah Revan tertuju pada Boby. 


"Minggir!!! Bukan urusanmu!!" kata Revan dengan mata menyala marah pada Boby. "Urusanku karena Nando temanku!!" jawab Boby dengan berani. Padahal hatinya ciut juga dengan tatapan Revan. Pergelutan singkat terjadi. Boby kembali berhasil menendang perut Revan. Perwira itu mundur memuntahkan isi perutnya. Boby tersenyum jumawa. Bolehlah kalah pangkat, namun pemegang sabuk hitam terbaik tetap Boby seorang.


"Selesaikan baik baik lah Van, aku yakin ini bukan urusan kerjaan," kata Boby. Membantu Revan berdiri. 


Ine datang kebingungan.


"Rrree???...... Nando….," kata Ine melihat dua orang lelaki kesayangannya sama sama KO. Nando dibantu Beri dan Jon. Sedang Revan dibantu Boby berdiri.


"Haaa ini sumber masalah baru datang!" kata Jon kesal. Ine langsung menatap Nando. Felingnya sudah tidak enak. Revan tahu hubungan Nando dengan Ine. Membuat dirinya semakin marah karena dia tidak diberi tahu. 


"Yuk Ne, beli es boba," ajak Boby menarik tangan Ine keluar ruangan. Biar Nando dan Revan bisa bicara.

__ADS_1


"Kalau pukul pukulan lagi gimana??" tanya Ine khawatir.


"Kita jual tiket pertandingan sekalian," jawab Boby santai.


***


Boby pulang malam hari. Masih terdengar suara mesin jahit manual dalam rumah. Clara langsung membuka pintu begitu mendengar suara mesin mobil Boby.


"Kakak lama deh!! Aku nungguin tau," kata Clara. Boby langsung menubruk tubuh mungil istrinya. Berpelukan erat. Seakan charging kekuatan dan melepas segala kepenatan diluar sana. Menciumi rambut Pocik dengan sayang.


"Udah kangen sama Kak Boby yang ganteng ini??" tanya Boby sambil nyengir.


"Bau ih, mandi sana!" kata Clara mendorong tubuh Boby menjauh.


"Mandiin dong cantik," kata Boby sambil mencolek dagu Clara. 


"Kakak udaahhh…. Jahitanku banyak iiihhh," kata Clara dengan muka malu parah. Boby cekikikan sambil berlalu. Saat Clara sudah mulai lagi dengan mesin jahitnya, pria itu kembali mengejutkan dengan menggigit telinga Clara.


"Habis mandi dilanjut yaa," bisik Boby yang membuat Clara membeku di tempat.


Mereka sudah berada diatas kasur. Boby kembali menciumi muka Clara. Menceritakan tentang keinginan ibu untuk tidak menunda kehamilan.


"Tapi aku masih semester 3 kak. Masih 5 semester lagi. Ribet kalau ada bayi," kata Clara.


"It's ok Poc. Itu cuma pendapat ibu. Semua terserah sama kamu….tapi…. Kalau bikin gak di jadiin juga gak papa kan?" tanya Boby dengan senyum mesum. Clara langsung berbalik. Tidur membelakangi Boby.


Pria itu gak kalah akal. Ilmunya menggerayangi tubuh wanita sudah dalam tahap mahir. Clara menahan sebisanya. Walaupun tangan Boby sudah menjalari tubuhnya. Tetap konsisten pura pura tidur. Boby justru mengambil kain dan menutup mata Clara sekalian.


"Sambil bobok gak papa," bisik Boby. Clara tidak tahan untuk tidak mengeluarkan suara. Bajunya sudah lepas semua entah kemana. Boby memborgol tangan Clara diatas kepalanya. Ada sensasi lain yang lebih menantang. Saat tangan terikat dan mata tertutup.

__ADS_1


"Kkkkaaaakkk…..," pekik Clara karena Boby menyerang tubuhnya secara acak. Kadang di gunung, kadang dibawah kadang tiba tiba cium bibir. Mata Clara yang tertutup membuat wanita itu tidak tahu mau diserang sebelah mana.


"Salah!!" kata Boby sambil memelintir dibawah sana dengan keras.


"Ahhhh….. Bob," jerit Clara selanjutnya. Teriakan Clara memenuhi kamar itu. 


"Bobbbiihhhh udah dulu…. Ah…. Udahan," kata Clara yang sudah mencapai. Dia mau ambil nafas sebentar. Boby justru menyodok lebih dalam. Berpacu lebih cepat. Tidak peduli pada racauan Clara yang kian menjadi.


Pertempuran berakhir seperti biasa. Clara yang kalah ronde dan lemas. Boby melepas semua ikatan di tubuh istrinya. Menyelimuti mereka dengan satu selimut yang sama.


"Bob aku ngiler," rengek Clara sambil tenggelam di dada Boby.


"Kok ngiler?" tanya Boby.


"Aku gak sempat mingkem tadi… enak jadi men ndde ssahh terus sambil buka mulut," jawab Clara jujur. Boby nyekikik dibuatnya. Menciumi gemas rambut istrinya.


Baru saja mereka akan terlelap. Hp Boby berbunyi dengan nyaring. Telepon dari Dito. Boby mengangkatnya sambil setengah terpejam. Clara juga setengah terpejam di dadanya.


"Mas, maaf ganggu… tapi papa saat ini dibawa kerumah sakit," kata Dito. Boby dan Clara langsung bangkit dari tidurnya. Dito bilang papa sakit beberapa hari ini. Kemudian semakin lemas saja. Merasa badannya kesemutan dari pagi. Akhirnya mama memutuskan membawanya kerumah sakit.


Boby langsung memakai bajunya. Clara juga ikutan memakai baju.


"Tidurlah Poc, biar aku susul sendiri. Besok aku kabari," kata Boby. Dia tahu istrinya sudah ngantuk luar biasa. Matanya saja sudah setengah terpejam.


"Aku ikut Kak," bantah Clara. Tidak mau meninggalkan Boby disaat saat seperti ini. Apapun kondisinya. Boby mencium kening Clara sejenak. 


"Terimakasih selalu ada buat aku," kata Boby sebelum mengambil kunci mobil miliknya. Bergandengan mereka menuju mobil. Meninggalkan rumah dengan sedikit ngebut. Clara tahu mata berair suaminya. Walaupun Boby mencoba fokus dengan jalanan.


"Dia…. Papa terbaik yang pernah kumiliki," kata Boby dengan suara parau. Clara mengusap lengan suaminya dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2