
Boby ternyata memiliki trauma masa kecil cukup dalam dengan Santi. Masih selalu marah kalau Santi menelpon.
"Kenapa sekarang sok perhatian, padahal dulu cuek!! Aku gak pernah diperhatikan!!! Sibuk arisan terus!! Aku dipukul pakai sandal. Mulutku dipukul pakai sandal. Sakit!!! Sakit!!" kata Boby marah marah. Seolah pemukulan Santi itu baru saja terjadi. Clara mematikan sambungan video call dengan Santi. Memeluk Tubuh Boby yang masih terbaring.
"Sudah tidak ada… sudah tidak ada Sayang. Sekarang tidak sakit," kara Clara berusaha menenangkan Boby.
Santi menangis pilu di pulau jawa sana. Merasa anaknya tidak mencintainya lagi. Boby ingat pernikahannya dengan Clara, bahkan cintanya pada janda itu. Akan tetapi tidak ingat kasih sayangnya sebagai seorang ibu. Clara merebut Boby dari dirinya. Clara itu perebut!!! Batin Santi pilu.
Dito pulang sambil bersiul siul bahagia. Belanja banyak barang dengan keluarga kecilnya. Yang Santi dengar, Dito menjual satu gerai es milik Clara tanpa sepengetahuan Clara. Karena surat kosong yang ditandatangani Clara dipakai Dito untuk surat perwalian atas apa yang Clara punya. Bukan hanya untuk surat resign dari kantornya.
"Lihat Ma, anting dan kalung baruku. Ini satu set. Lebih bagus dari milik Mbak Clara," kata Jesi bangga. Memperlihatkan kalung dan anting berbentuk kupu kupu itu.
"Bagus," komentar Santi singkat. Jesi kemudian menyerahkan kalung panjang untuk Santi.
"Yang ini buat Mama," kata Jesi. Santi melihatnya. Tersenyum senang juga. Apa lagi setelah tahu banyaknya gram dalam kalung itu. Kalung yang besar dan indah. Dipastikan geng sosialitanya iri.
"Makasih Jes," kata Santi sambil tersenyum. Tahu benar perbuatan Dito dan Jesi salah, namun dia diam saja! Biar janda itu terpuruk! Clara sudah mengambil Boby darinya.
Dito mengirimkan sejumlah uang untuk Clara. Untuk biaya hidup dan pegangan selama di Medan. Biaya berobat Boby emang gratis, namun tidak untuk biaya hidup Clara dan kebutuhan lainnya.
"Poc."
"Iya Kak."
"Siapa nama aslimu? Bukankah Pocik itu panggilan kesayanganku?" tanya Boby. Otaknya mengalami perkembangan yang baik. Memorinya perlahan kembali.
"Nama asliku Clara Nessa Kak," jawab Clara sambil menyibin tubuh Boby yang masih terbaring lemas. Boby manggut manggut. Sekilas semua kenangan tentang Pocik tersusun jelas. Segala tentang Pocik diingat dengan baik. Pocik adalah kenangan manis yang dia ingat.
***
Boby keluar dari rumah sakit setelah tiga minggu dirawat. Clara memutuskan stay di tempat ini sampai Boby memungkinkan diajak pulang. Dokter juga menyarankan begitu. Clara mengambil kost kecil dibelakang rumah sakit.
__ADS_1
"Apa kita pulang?" tanya Boby sambil melihat kos itu.
"Tidak tentu saja. Sementara disini dulu sampai Kakak sembuh," kata Clara. Sambil mendorong kursi roda Boby.
"Poc, apa mantan suamimu selingkuh di kos yang ujung?" tanya Boby aneh. Dia mengingat Tama dan Citra ternyata. Ingatannya memang kacau balau seperti itu. Clara tersenyum.
"Itu sudah lama Kak. Sudah lewat," kata Clara.
"Aku ingin memelukmu, tapi ku tahan karena aku tidak mau membuatmu jadi tambah masalah. Aku… mencintaimu lagi bahkan saat kita pertama kali bertemu lagi," pengakuan Boby. Tidak sadar dia juga mengaku dialah yang mencuri buku nikah dari rumah Tama. Segala memori yang diingat Boby diceritakan pada Clara. Ini perkembangan yang bagus menurut dokter.
***
Tiga bulan Boby menjalani perawatan. Fisioterapi untuk kedua tangannya dan kaki sebelah, karena yang sebelah patah, jadi akan lebih lama sembuhnya. Perilaku Boby juga perlahan membaik. Tidak lagi memusuhi Santi. Sudah ingat semua memori yang pernah dialami.
Boby sudah sangat bosan menjadi si sakit. Kedua tangannya sudah bisa normal, namun kakinya masih belum bisa melangkah. Boby terjatuh saat mencoba berdiri sendiri. Clara sedang mandi di kos mereka. Rintihan terdengar dari mulut Boby membuat Clara menghentikan mandinya. Keluar hanya berbalut handuk.
"Kakak!!" pekik Clara kaget. Boby terjatuh dari ranjang. Boby hanya diam dengan muka ditekuk. Clara membantunya berdiri.
"Pergi!!! Pergi dari sini Poc!!! Kenapa kamu masih disini menemaniku?? Padahal aku manusia cacat dan hilang ingatan. Pergi!!!…. Pergi!!" kata Boby sambil menunduk. Kesedihan dan putus asa jelas tergambar diwajahnya.
Clara sudah berderai air mata. Berusaha merengkuh Boby dalam pelukannya. Pria itu menolak. Justru mendorong tubuh Clara hingga jatuh dari kasur.
"Aku bilang pergi!! Aku tidak mau dipeluk!! Aku tidak mau dikasihani!! Pergi sana!! Kenapa setia pada pria cacat sepertiku!!" kata Boby dengan mata menyala. Putus asa dengan semua yang terjadi. Pengobatan yang panjang dan lama tentu saja mempengaruhi mentalnya. Boby tertunduk pilu diatas kasur. Clara mengerti itu dengan baik kondisi suaminya. Wanita itu beranjak. Membiarkan Boby tenang sejenak. Clara berjalan menuju lemari pakaian. Memilih baju untuk dirinya kenakan.
Clara membuka handuknya. Boby yang tertunduk jadi mengawasinya. Clara tahu itu. Meletakkan bee hha yang sudah dipegang. Berjalan lurus ke arah Boby tanpa sehelai benang pun.
"Kakak mau nyusu?" tanya Clara sambil mengarahkan dadanya ke muka Boby. Pria itu menatap gunung yang ranum. Tubuh putih Pocik yang menggiurkan. Mirip remaja abg padahal sudah berumur. Perlahan Boby membuka mulutnya. Clara menggigit bibir bawahnya. Perlakuan Boby yang Clara rindukan.
Pasangan itu tidak melakukan yang semestinya. Boby belum sanggup menggerakkan kakinya. Tidak mungkin juga Clara di atas dan menindih kaki Boby. Clara hanya memuaskan Boby dengan baby oil. Bermain dengan tangannya. Boby kelimpungan sendiri. Perlakuan Clara membuat otaknya rilex.
"Oh Poc… ah…. Ah…," Boby menn ddesah panjang. Memuntahkan apa membuatnya melayang. Cairan itu tumpah memenuhi bagian tubuhnya dan tangan Clara. Wanita itu membersihkannya dengan telaten.
__ADS_1
Boby mencubit kecil apa yang menggantung di dada Clara.
"Kak!" kata Clara sambil menampik tangan Boby.
"Aku sudah, kamu cuma panas doang," kata Boby bersedih.
"Itu hutang kamu. Kamu harus menggantinya nanti kalau sudah sehat. Lengkap dengan bunganya. Ingat itu," kata Clara sok galak. Boby nyengir saja. Tiba tiba semangatnya untuk pulih membara lagi.
"Aku akan menebus semua hutangku," kata Boby ceria.
"Harus!! Kenapa aku betah berada di sampingmu, karena burungmu masih bisa berdiri. Coba kalau sudah tidak bisa, sudah kutinggal dulu dulu," kata Clara sambil tertawa tawa. Boby ikut tertawa.
"Dasar mesum!" kata Boby sambil merentangkan tangannya. Meminta Pocik memeluknya. Wanita itu dengan senang hati datang. Memeluk Boby dengan tubuh polosnya.
"Kamu yang mesum!" jawab Clara dalam pelukan Boby.
"Kamu!"
"Kamu!"
"Siapa yang mulai? Siapa yang menyusuiku duluan?" tanya Boby sambil mencium leher putih Clara. Meninggalkan banyak tanda kesukaannya dulu.
"Kakak!! Nanti kita kontrol," protes Clara.
"Memangnya kenapa kalau kontrol? Kamu biar gak digoda cowok cowok di rumah sakit. Sudah ada stempelku disini," kata Boby sambil menunjuk bekas kemerahan yang perlahan jadi ungu. Clara geleng geleng kepala.
"Posesif e kumat (sifat posesifnya kambuh)," kata Clara sambil tersenyum kecil. See ekss selalu membuat Boby lebih bersemangat. Clara tahu itu. Dasarnya mesum, dasarnya mesum. Pria mesum, bobrok yang kucintai. Batin Clara sambil senyum senyum.
"Apa yang kau pikirkan? Kenapa senyum senyum begitu?" tanya Boby curiga. Kemampuannya sebagai perwira BIN sudah bekerja.
"Aku hanya membayangkan anak kita. Akan mirip siapa nanti?" kata Clara berbohong. Boby tahu Pocik bohong, tapi tetap menanggapi. Mereka akhirnya ngobrol ngalor ngidul membahas anak mereka kelak.
__ADS_1