
Boby meminta izin Clara untuk melakukan pesta lajang di rumahnya. Berdalih itu sudah tradisi kantor, Boby dengan mudah memperoleh izin dari Clara.
***
Hp Clara berbunyi. Saat dia masih sibuk dengan outlet esnya. Pesan dari Mama Santi. Meminta baju baru lagi untuk kegiatan arisan. Katanya mau nyumbang ke panti asuhan. Clara melengos saja. Panti asuhan!!! Paling cuma banyak foto foto sama hahahihi. Pamer kalau mereka berjiwa emas. Nymbang gak seberapa, riyanya yang dibanyakin. Memuakkan!! Benar benar memuakkan!! Belum juga dibalas Mama Santi sudah menelpon. Clara mematikannya tanpa menjawab. Pesan datang lagi.
'Berani kamu matiin telpon dari aku!! Janda gak tau diuntung!!' pesan Santi.
Clara sudah tidak tahan lagi. Pernikahannya tinggal seminggu lagi. Dirinya saja tidak ambil cuti kuliah atau libur karena banyak hal yang harus ditangani. Seorang diri mengurus semuanya, montang manting secara fisik dan finansial. Emosi dan kelelahan secara fisik dan mental membuat Clara mendatangi rumah Boby.
Sampai dirumah Boby suasana rumah sudah sepi. Clara tahu Boby ada tugas dari malam. Jesi dan Dito pasti sudah berangkat kuliah. Sedang papa pasti sudah ada di toko besi. Pas sudah!! Kalau mau adu mulut atau jambak jambakan sekalian juga bisa. Clara menerobos masuk ruang tengah begitu pintu dibukakan Atun.
"Maksud Mama apa? Mama gak lihat sebentar lagi Clara mau nikah? Hanya hitungan hari dan Mama sempat sempatnya masih meminta baju? Mama yakin masih waras?" tanya Clara penuh emosi. Santi yang duduk santai diruang keluarga langsung berdiri. Menampar pipi Clara dengan keras. Postur tubuh Santi yang tinggi besar membuat Clara tersungkur dengan satu tamparan keras.
"Janda tidak tahu diuntung!!! Mau kamu aku batalkan pernikahanmu itu?!! Aku dengan senang hati melakukannya. Boby akan dapat 'gadis' yang lebih kaya dan dari kamu dengan cepat!!" kata Santi jumawa. Clara berdiri balik menampar Santi dengan keras.
"Lakukan saja!! Lakukan semua yang Mama mau lakukan!! Aku gak peduli!! Aku bukan sapi perah yang bisa Mama ancam terus terusan!!!" kata Clara penuh emosi.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Clara saat dia balik badan. Melihat Boby berdiri di pintu ruang tengah. Tercengang melihat apa yang terjadi. Clara sedih melihat muka sedih Boby. Akan tetapi dia memutuskan melewati Boby begitu saja. Mata Clara sendiri sudah sembab. Santi langsung nangis sejadi jadinya. Clara pergi dari rumah itu dengan sumpah serapah dari Santi. Atun dan baby sitter Ayuna yang menyaksikan semua dari dapur sampai ikut meneteskan air mata. Mereka kasihan sama nasib Clara.
Boby memeluk tubuh Santi yang lemas diatas sofa.
"Kamu salah pilih Bob, kamu salah pilih!! Lihat apa yang wanita sun ndal itu lakukan. Dia menampar Mama!!! Dia menampar Mama saat belum resmi jadi menantu Mama. Apa yang akan dia lakukan kalau jadi menantu? Mungkin dia akan membunuh mamamu ini," kata Santi sambil nangis sesenggukan. Santi yang menghadap pintu masuk ruang tengah tahu benar kalau Boby datang sesaat sebelum Clara menamparnya. Boby pasti tidak mendengar hinaan dan melihat tamparannya pada Clara. Dia berminat jadi korban. Boby hanya diam. Mengusap lembut bahu Santi dalam pelukan. Boby shock dengan sikap Clara.
Hari kian sore, matahari menunjukkan sinarnya sebelum tenggelam dalam peraduannya. Boby sama sekali tidak bisa tidur. Padahal semalaman penuh begadang karena tugas. Pikirannya berputar putar antara Pocik dan mamanya. Pocik bukan orang yang mudah tersulut emosi dan marah seperti tadi…. Tapi….. apa Mamanya yang salah? Apa salahnya??? Sampai sore pun Boby belum mendapat pesan dari Pocik. Kenapa Pocik tidak mau menjelaskan? Boby menyulut tembakau yang dia punya. Menghirup nikotin sampai ke dalam paru parunya.
"Kopi Mas," kata Atun mengagetkan. Membawa secangkir kopi yang tadi dipesan Boby.
"Mas pasti pusing mikirin Nyonya sama Mbak Clara," kata Atun pelan. Kepalanya celingukan takut ada yang mencuri dengar. Boby langsung menatap Atun antusias.
"Atun takut ngomong disini Mas, takut Ibu njedul sewayah wayah (datang tiba tiba)," kata Atun pucat.
"Aku tunggu di penyetan depan komplek. Bilang Mama kamu disuruh Boby beliin rokok," kata Boby cepat. Dia beranjak dari duduknya. Berjalan menuju gerbang rumahnya.
Atun datang beberapa saat kemudian. Sambil cengar cengir duduk dihadapan Boby.
__ADS_1
"Kita kayak kencan Mas," kata Atun girang. Boby langsung menunjukkan muka muaknya.
"Cepat katakan," kata Boby tidak sabar.
"Tapi Atun haus mas, lapar juga," kata Atun mencari kesempatan. Boby memanggil pelayan. Atun memesan bebek goreng ndower dan dua es jeruk. Boby hanya menggeleng saat ditawari. Mukanya sudah sangat penasaran.
"Sebenarnya ini bukan pertengkaran pertama ibu dan Mbak Clara, Mas. Ini pertengkaran kedua mereka. Ibu juga salah karena menpar Mbak Clara duluan. Bukan seperti yang ibu ceritakan…." Atun mulai buka suara apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar. Termasuk pertengkaran Clara dan Santi sebelum nikah kantor.
"Ibu juga sering meneror Mbak Clara lewat telepon kalau bajunya gak jadi jadi," kata Atun.
Atun merasa Boby harus tahu fakta yang sebenarnya. Kasihan janda bernama Clara itu. Atun sebenarnya seumuran dengan Boby. Akan tetapi nasib membawanya menjadi pembantu saat dia lulus SMP. Sampai sekarang dia mengabdi pada keluarga Boby. Saat pria itu juga masih bocah. Bahkan Atun tahu kalau Clara itu adalah cinta pertama majikannya. Atun pernah menemukan foto Boby dan Clara saat mereka masih sama sama SMA. Juga betapa hancur hati Boby saat dia ditinggal Clara. Entah dengan keluarganya sendiri. Sadar tidak kalau Boby jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan gadis yang sama.
Boby manggut manggut mendengar. Menggabungkan potongan saat Clara ingin restu yang sesungguhnya. Hah, siapa sangka mamanya sekejam ini? Tapi sekejam kejamnya dia tetap mamanya. Hah!!! Dia harus apa?
"Makasih Tun, kamu sudah mau menceritakan ini. Makasih banyak," kata Boby sambil menepuk tangan Atun berkali kali. Kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan menyelipkannya di tangan Atun.
"Ini buat bayar, kembaliannya buat kamu. Makasih untuk infonya," kata Boby sambil menepuk kepala Atun dengan sayang. Kemudian berlalu dari restoran penyetan itu. Atun masih merasa tangannya hangat karena tepukan tangan Boby lagi. Juga kepalanya seakan baru saja tersengat embun penyejuk jiwa. Atun melihat uang merah dalam genggamannya. Semerah wajahnya sekarang. Bagi Atun, Boby itu mempesona. Terlepas dari semua sikap nakalnya. Akan tetapi dia sadar diri…. Tidak mungkin Boby meliriknya. Setidaknya Mas Boby harus bahagia dengan orang yang dia cintai. Batin Atun.
__ADS_1
Boby pulang ke rumahnya. Mengambil jaket dan kunci motornya. Melajukan motornya menuju suatu tempat yang sangat ingin dikunjungi saat ini. Berharap kemelut sebelum pernikahan ini dapat terselesaikan dengan damai.
"Aku mau bicara, ada waktu?" tanya Boby. Orang itu melepas kacamata bacanya. Memandan Boby dengan tatapan bertanya tanya.