Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Kejutan dari Tito


__ADS_3

Clara lebih dulu pamit dari yang lain. 


"Hati hati dijalan yaa…Nak…. Eh," kata Bu Nir saat Clara pamit. Baru menyadari kalau Boby dan Clara dulu punya hubungan… dan sekarang Clara punya gandengan baru???


"Bob, Ibu minta maaf. Ibu baru sadar saat Clara pamit," kata Bu Nir sambil nyengir.


"Saya sudah bersih dicuci mereka Bu," jawab Boby manyun. Seisi ruangan kembali tertawa ngakak.


"Clara… tunggu," kata Revan. Saat Rama dan Clara sudah mau berboncengan dengan motor.


"Aku boleh bicara sebentar?" tanya Revan sambil menyingkir jauh dari Rama. Clara mengikutinya. Revan menjelaskan siapa Gina. Dan kesedihan Boby ditinggal Clara.


"Ini memang bukan urusanku, tapi aku sudah menganggap Boby adikku sendiri. Aku sedih untuk dia. Beri dia kesempatan, maka kau akan tahu seberapa besar cintanya untukmu," kata Revan yang sudah bicara panjang lebar versi dirinya.


"Aku tidak tahu…. Terimakasih sudah menyayanginya Pak," kata Clara berlalu. Hatinya masih gamang dan galau.


***


Clara dan Rama sampai dirumah Clara kembali. 


"Langsung pulang!" kata Rama yang berubah jadi jutek. Hatinya panas membara. Dia mengetahui ciuman Boby dan Clara tadi. Padahal Clara tidak pernah menerima ciumannya sepasrah itu. Dia juga tahu tatapan sendu Clara saat wanita itu menempel di samping Boby.


Sedangkan Clara hanya menatap aneh sesaat pada motor Rama yang melesat. Sedikit bertanya tanya apa yang terjadi pada Rama? Kenapa tiba tiba seperti ngambek? Clara mengangkat kedua bahunya sambil mencebik. Malah sedikit bersyukur kalau begini. Dia bisa menjahit dengan tenang. 


***


Dua hari hidup Clara tenang. Bisa menjahit dengan tenang dan bisa menikmati liburannya. Hanya Merlin yang datang berkunjung, karena dia sibuk remidi. Entah apa yang dipikirkan Merlin. Gadis itu lebih banyak remidi dari lulus. Padahal semester gasal seperti ini banyak teorinya. 


Hingga sore hari saat Clara tenang menikmati secangkir teh dan gorengan. Hapenya berbunyi nyaring. Panggilan dari Ibu.


"Iya Bu," jawab Clara singkat.


"Pulanglah, Masmu mau lamaran," kata Ibu. 


"Haah!!! Siapa Tito???" tanya Clara terkejut. Ada gitu cewek yang mau sama Tito??


"Memang kamu punya Mas berapa Ra?" Tanya ibu sambil nyekikik.

__ADS_1


"Satu lah Bu, tapi setahu Clara masku ya gak ganteng ganteng amat emang ada yang mau?" tanya Clara sambil nyekikik.


"Sembarangan! Yang suka temanmu sendiri yaa," kata Ibu. Clara jadi makin kepo siapa orangnya.


***


Betapa terkejutnya Clara setelah tahu siapa yang akan dinikahi kakaknya. Dia adalah Hani. Bestie koplaknya yang banyak berjasa untuknya.


"Sumpah loe mau… mau sama masku?" tanya Clara heboh di telpon.


"Iya, kenapa? Kamu gak mau punya kakak ipar secantik aku?" Jawab Hani.


"Haaa kepalaku mules Han," jawab Clara. Hani tertawa mendengarnya.


"Btw aku mau kado yaa, kadoku milih sendiri," kata Hani.


"Opo? Tidak boleh lebih dari lima ribu," jawab Clara sambil nyekikik.


"Yeee adik ipar pelit. Aku mau baju seragaman keluarga. Sekalian jahitin," kata Hani sambil nyekikik.


"Itu namanya bukan minta kado, tapi ngerampok!" Kata Clara kesal. Di seberang sana Hani tertawa senang. Diturutin senang, gak diturutin yowes. Permintaannya emang agak keterlaluan.


"Tapi ada syaratnya ya, bahannya gak boleh yang mahal mahal. Lebih bagus kalau bahan sprei aja," kata Clara bercanda. Hani langsung mencak mencak.


"Kamu tega keluargaku pakai bahan sprei?!!" teriak Hani.


"Yo gak papa malah seru bertema. Mau tema apa? hello kitty, doraemon, atau lol surprise?" kata Clara sambil nyekikik. Tito yang di dekat Clara menabok kepala adiknya itu. Mereka tertawa bersama.


"Semoga kamu juga dapat jodoh terbaikmu," kata Tito saat panggilan telepon berakhir. Mengacak acak rambut Clara dengan sayang.


Jodoh??? Pikiran Clara langsung melayang pada Boby. Ah… sedang apa pria bobrok itu? Sepertinya dia juga sudah jarang dapat gangguan telepon nomor baru. Biasanya sampai bosan memblokir nomor. Daftar blokirannya sampai mengular banyak gara gara Boby. Akhirnya Clara mengutak atik hpnya sebentar. Membuk blokir nomor Boby dari hpnya. 


Sementara yang dibuka blokirannya sudah dalam tahap menyerah. Sudah lelah menunggu kepastian. Walaupun jauh dari lubuk hatinya dia masih mengharap Pocik menerimanya.


"Ayo berangkat," kata Revan mengejutkan lamunan Boby. Mereka membantu tim polres kota tetangga menangkap bandar narkoba. Boby memilih sibuk bekerja. Mungkin lebih baik begitu. Dia tidak pantas untuk Pocik.


Hari hari selanjutnya Clara banyak disibukkan dengan jahitan dan lamaran. Bolak balik dari rumahnya sendiri kerumah ibunya. Hingga tidak sempat melihat hape. Walaupun sedikit merindukan Boby yamg belum juga menghubunginya.

__ADS_1


***


Hari ini Clara masuk kuliah kembali. Semangat baru, semangat ribet. Tiga bulan lagi Tito dan Hani menikah setelah lamaran kemarin. Clara bahagia luar biasa. Punya ipar sefrekuensi dengannya. Meskipun harus nombok jahitan dan kain untuk nikahan mereka kelak. Tidak masalah. Clara senang bila keluarganya senang. Apalagi bisnis teh sudah terlihat menghasilkan. Walaupun jauh dari balik modal, tapi Clara berencana tambah outlet lagi. Entah nanti kalau dapat tempat strategis.


Langkah Clara terhenti karena Rama menghadangnya.


"Aku butuh bicara," kata Rama. Menarik Clara ketaman kampus. Duduk selonjoran di atas rumput yang hijau.


"Kamu gak ada usaha menghubungi aku? Kita udah seminggu lebih tidak berkomunikasi lho," kata Rama sendu. Clara meringis. Dia baru sadar tidak berhubungan dengan Rama dalam waktu yang lama. Kenapa rasanya tidak masalah sama sekali??


"Aku ngambek lho Ra. Aku lihat kamu ciuman sama si Boby itu dirumah bosmu, tapi kamu gak pernah merasa. Apa kamu gak kangen aku?" tanya Rama. Tidak… batin Clara yakin. Akan tetapi bagaimana cara menyampaikan ini agar tidak melukai hati Rama?


"Ra," Rama menyenggol lengan Clara yang bengong.


"Eh, Mas… aku minta maaf. Sepertinya hubungan ini terlalu dipaksakan. Kita…. Bisa jalan masing masing saja… hehehe tentu saja jalan masing masing masa mau gendong gendongan," Clara tertawa sendiri dengan istilahnya. Sedang Rama bengong di sampingnya. Clara menggenggam tangan Rama.


"Tapi aku harap kamu beneran mengerti maksud aku. Aku… merindukan orang lain," kata Clara kemudian bangkit menuju kelasnya.


***


Clara muring muring sendiri sama calon kakak iparnya yang manjanya kebangetan.


"Aku udah baik hati ngukur baju orang rumahmu sampai datang kerumahmu. Masa iya aku harus datang ke rumah kakakmu!" kata Clara kesal.


"Dia punya anak kecil Ra, gak bisa pergi pergi. Maklum lah. Biar pahalamu makin banyak dan terbebas dari api neraka, walaupun kamu yang jaga neraka," kata Hani sambil nyekikik. Menempelkan mukanya pada jendela kaca mobil Clara. Saat ini mereka menuju rumah kakak Hani. Merlin ngintil dari sejak Clara pulang kampus. Gadis indo itu sibuk makan keripik tempe. Anteng duduk di jok belakang.


"Kurang ajar. Dasar ipar nyebelin. Kalau aku jaga neraka, aku udah masukin kamu didalamnya dan gak boleh keluar lagi," jawab Clara sambil sibuk memecah jalan sore itu dengan mobil mininya.


"Iya dan kamu masuk neraka lewat jalur prestasi karena nolongin ga ikhlas," jawab Hani.


"Dan kamu aku masukin neraka lewat jalur zonasi," balas Clara. Mereka berdua berpandangan sejenak. Kemudian tertawa bersama.


Mobil memasuki area perumahan cukup elit. Hani menyuruh Clara menepi di depan sebuah rumah. Clara membulatkan matanya saat melihat mobil dan motor Boby terparkir di dalamnya.


"Ini rumah Boby!" pekik Clara.


"Iya… hehehe kak Jesi kan masih ikut mertua," jawab Hani sambil nyengir.

__ADS_1


***


__ADS_2