
Tok tok tok…. Pintu kamar mereka diketuk seseorang. Terdengar cekikikan dibaliknya. Boby berdecak kesal. Turun dari tubuh Pocik dan membuka pintu.
"Surpriseee!!!!!" teriak Jon, Beri, Ine, dan Nando.
"Asyyyyuuuu!!!" umpat Boby pada keempat rekannya. Empat rekannya itu tertawa cekakakan. Clara duduk terbengong di tepi tempat tidur.
"Sedang apa kalian disini!!!" kata Boby tidak senang. Maunya romantis berdua sama Pocik. Malah ada cecunguk cecunguk ini. Gagal sudah... Gagal!!! Boby menyesal melakukan riset tempat ini dengan komputer kantor.
"Menyelamatkan Clara dari terkaman buaya darat," jawab Ine sambil merangsek masuk kamar. Clara tertawa ngakak dibuatnya. Ine melempar tas Boby pada empunya. Ditangkap Boby dengan mata melotot tidak suka.
"Aku sekamar sama Clara. Kalian terserah… aku ngantuk mau tidur," kata Ine mengusir cepat rekan rekannya. Mendorong Boby sampai luar pintu kamar.
"Dasar munyuk!! Grandong wedok!!" umpat Boby pada Ine kesal. Sebelum Ine menutup pintu kamar sambil cengar cengir.
"Kenapa tidak ajak Revan sekalian!!" kata Boby sambil menyandang tas. Mengganjal pintu dengan tangannya. Belum ikhlas pisah kamar dengan Pocik.
"Besok dia datang sama Putri," jawab Ine santai. Kemudian menutup pintu.
"Lengkap sudah!! Sekalian ajak Pak Sidiq dan Bu Nir!!" suara Boby masih terdengar mengomel. Ine cuma mesem mesem sambil melepas sepatunya. Naik ketempat tidur yang Clara duduki.
"Ayo tidur Ra," ajak Ine pada Clara.
"Darimana kalian tahu kami disini?" tanya Clara agak heran.
"Dari searching komputer Boby dikantor. Kami mau ngerecokin dia sambil minta traktir," jawab Ine sudah sambil rebahan. Mencari pose wenak untuk tidur. Clara membenarkan tali wadah gunungnya yang tadi sempat dilepas Boby.
"Haa kami tepat waktu ternyata," kata Ine sambil tertawa. Clara tersenyum malu.
"Jangan pernah mau diajak menginap dengan lelaki macam Boby. Mulutnya lebih manis dari pemanis buatan yang bikin batuk. Apa lagi Boby yang jam terbangnya sudah tinggi," kata Ine sudah sambil merem. Clara tertawa mendengarnya.
"Kalian mau minta traktir Kak Boby dalam rangka apa?" tanya Clara kepo. Setahu Clara ini bukan ulang tahun Boby. Ine cuma tersenyum. Melihat jam di tangannya.
"Beberapa jam lagi kamu tahu. Ayo tidur Ra…. Kita harus bangun sebelum subuh untuk melihat golden sunrise," kata Ine kemudian memejamkan mata. Clara ikut berbaring dan memejamkan mata.
__ADS_1
***
Pukul 04:00 kamar Clara dan Ine digedor Boby. Clara mengerjap saja masih enak pelukan sama guling dibawah bed cover. Apalagi suhu disini makin pagi semakin menggigil.
"Ra, ayo bangun," kata Ine menggoyang goyangkan tubuh Clara. Beberapa kali dicoba Clara masih bergeming.
"Ngantuk," jawab Clara. Kemudian sibuk menutup diri dengan bed cover.
Ine membuka kamar dan mengadu pada Boby.
"Pacarmu gak mau bangun," kata Ine. Boby masuk kedalam kamar. Membangunkan Clara dengan cara menciumi dan mengobok obok tubuhnya. Otomatis membuat Clara menggeliat bangun.
"Kakak!!! Iiihhh!!" Clara berkelit.
"Bangun Sayang, atau kita akan ketinggalan golden sunrise," kata Boby.
Clara akhirnya bangun. Sudah ditunggu teman teman Boby. Mereka sudah segar padahal Clara masih setengah bangun. Ternyata mereka juga sudah pesan dua kamar di sebelah kamar Clara. Semalam Boby tidur sama Nando. Jon sekamar sama Beri.
"Revan belum datang?" tanya Boby pada rekan rekannya. Boby merasa tidak lengkap juga kalau tidak ada dia. Udah terlanjur ramai begini.
Rombongan itu naik mobil Boby sampai awal pendakian bukit sikunir. Kemudian jalan kaki dari sana. Udara dingin menusuk kulit. Padahal Clara sudah pakai jaket tebal, syal dan topi hangat. Benar benar suasana yang enak buat ngebi diatas tempat tidur. Clara beberapa kali tersandung karena matanya yang masih lengket.
"Hati hati Poc, buka matamu," kata Boby sambil memegangi pundak Clara. Merangkul dengan sayang.
"Kenapa kalian gak ada yang ngantuk?" tanya Clara terheran sendiri dengan Boby dan teman temannya. Habis perjalanan jauh, tidur lewat tengah malam, bangun dini hari, tapi seolah mereka sudah tidur cukup dan segar bugar. Clara emang terbiasa begadang, tapi kalau perjalanan jauh, begadang, dan bangun pagi baru ini. Mereka tidak hayub hayuben kaya dia.
"Karena kami tahu persis kalau tidak segera bangun akan kena guyur air comberan, guling guling lapangan, kemudian lari sampai berkeringat," jawab Jon membuat semua polisi itu tertawa. Clara menoleh pada Boby minta penjelasan.
"Itu hukuman kami kalau kami terlambat bangun di asrama dulu," jelas Boby sambil mempererat pelukannya di pundak Pocik. Selain karena hawa dingin juga mengurangi ketegangan di puncak nanti.
Perjalanan selanjutnya disambut undakan tangga buatan dan banyak pedagang yang memulai membuka warungnya. Hawa dingin masih tidak bersahabat. Mereka terus bercanda tentang apa saja. Hal hal lucu sampai Jon yang meniru aksi garangnya Revan kalau lagi ngamuk.
Rombongan itu tiba di puncak gunung. Boby dan Clara agak tertinggal. Fisik Clara tentu kalah dibandingkan para polisi itu. Meskipun hanya melakukan pendakian singkat kurang lebih 45 menit. Mereka tiba disambut cuaca cerah. Lima puncak gunung terlihat dari sana. Hamparan pemandangan yang tidak pernah dilihat Clara dimanapun.
__ADS_1
"The real negeri diatas awan!!" pekik Clara senang. Salah satu mimpinya terwujud kalau begini. Dulu sering ngiler kalau lihat temannya pergi ke Dieng. Apa daya keluarganya bukan orang mampu yang bisa memiknikkan semua anggota keluarganya. Sedang untuk pergi sendiri, Clara tidak berani. Tempat ini lumayan jauh.
Mereka duduk di atas bebatuan. Para pengunjung lain juga mencari tempat yang indah. Untuk berfoto atau sekedar cuci mata. Tidak banyak ternyata. Mereka akan membludak nanti, karena ini masih tanggal 31 pagi.
Clara duduk bersebelahan dengan Boby. Ine nempel sama Nando. Tanpa Revan, Nando lebih berani mendekati Ine. Memeluk pundak Ine secara posesif. Kawan kawannya sampai heran Ine mau dipeluk cowok. Matahari perlahan terlihat. Menampakkan sinarnya yang keemasan. Kelima puncak gunung itu menerima anugerah sinar indah itu lebih dulu dari tempat yang lain. Orang orang yang menyaksikannya tercengang. Salah satu keagungan Tuhan terlukis nyata disana. Indah sekali.... sinar matahari yang mengusir kabut kabut tipis. Memecah buliran embun yang sebagian sudah menjadi es karena hawa dingin. Segala lelah untuk sampai ditempat ini terbayar sudah. Sinar keemasan yang indah....
Clara masih menatap takjub pada matahari. Tiba tiba Boby memanggil nama lengkapnya. Pria itu sudah berlutut disampingnya.
"Clara Nessa…. Bersama terbitnya mentari… ijinkan aku menyampaikan rasaku. Aku Bripda Boby Adya Haryanto ingin melamarmu. Menjadikan istri sekaligus ibu dari anak anakku kelak. Aku berjanji menemanimu dalam suka dan duka. Dalam sakit dan sehat. Maukah kau menikah denganku?" tanya Boby sambil memegang sebuah kotak cincin emas putih. Yang mata cincinnya semakin berkilau karena cahaya matahari. Aksinya itu menarik pengunjung lain disana. Mendapat tepukan tangan dari orang orang. Clara bengong ditempat. Matanya mengembun bersama hangatnya embun lain yang mencair. Tidak menyangka Boby melakukan hal ini. Romantis sekali.
"Ra," kata Boby lagi, karena yang dilamar sibuk bengong. Clara tersadar belum menjawab lamaran Boby.
"Aku mau!!! Aku mau!! Jadilah suamiku dan teman dalam suka dukaku. Jadilah imam sekaligus ayah dari anak anaku kelak," Jawab Clara sambil sesenggukan. Tepuk tangan semakin menggema. Boby bangkit dan memakaikan cincin di jari manis Clara. Mereka berpelukan sesaat. Hawa dingin yang menusuk perlahan menghangat karena pelukan dan cinta. Karena kebahagiaan memberi sugesti hangat dan nyaman.
Nando menepuk nepuk pundak Ine yang ternyata bisa nangis haru.
"Udah Mbak, dikira kamu mantan si cowok yang ditinggal nikah lagi," kata Nando menyebalkan. Mengingatkan kisah cinta Ine dan Revan dulu. Nando tahu kisah itu dari olok olokan teman temannya di kantor. Ine berbalik menabok kepala Nando dengan keras.
"Bodoh!!! Ngerusak suasana!! Awas kalau kamu ngelamar aku gak lebih romantis dari ini!!!" ancam Ine. Yang membuka perasaannya sendiri pada Nando.
"Cieee…. yang udah minta dilamar," ejek Jon. Mereka tertawa bersama. Ine terlihat salah tingkah. Merasa bodoh karena keceplosan.
"Masalahnya berani gak mengakui suka sama Ine didepan Revan??" tanya Boby sambil melihat Nando. Yang dilihat pura pura gak dengar.
"Yuk Mbak turun, cari tisu buat ngelap air mata kamu dan keringat dingin aku," kata Nando beranjak menarik Ine. Mereka turun duluan dari puncak itu.
"Memangnya kenapa sama Pak Revan?" tanya Clara belum mengerti.
"Ine itu adik angkat Pak Revan dari kecil. Gak ada yang berani dekat dengan dia karena Revan yang terkenal garang," kata Boby.
"Yaa karena juteknya juga sih, kena batunya dia jatuh cinta sama Nando yang bocah ingusan," lanjut Jon sambil tertawa.
Rombongan itu turun gunung disambut gorengan hangat dan kopi. Sesuatu yang menggoda diawal pagi yang dingin ini. Nando dan Ine melambai lambai pada sebuah warung. Mereka ikut masuk kesana. Clara dan Boby semakin lengket kaya perangko. Berjalan agak jauh dibelakang Jon dan Beri.
__ADS_1
"Makasih buat lamarannya yang indah," kata Clara sambil memeluk lengan Boby erat.
"Sama sama Pociku sayang," kata Boby sambil membelai topi Clara dengan tangannya yang lain.