
Boby dan Clara tiba di hotel saat hari sudah petang. Lelah nampak di wajah mereka berdua. Dua orang pengantin baru itu amburuk tidur tanpa melakukan malam pengantinnya. Padahal hape Clara dan Boby sibuk. Penuh pesan dan missed call dari teman teman Boby. Juga Hani dan Merlin. Mereka sengaja menggoda pengantin baru itu.
Clara bangun duluan dari Boby. Kekasihnya itu masih molor dengan nyaman. Bukan! Dia sekarang suaminya. Beberapa hari tidur sekamar dengan Boby membuat Clara terbiasa bangun sambil memandangi muka Boby. Wajah yang tidak over. Bisa dikatakan wajah Boby itu versi cowok dari Santi. Bibir yang tebal, alis tebal, tulang pipi yang tidak begitu menonjol, dengan lidah yang terbelah di tengah. Boby itu sebenarnya sedikit cadel kalau bicara. Akan tetapi tidak terlalu terlihat. Masih parah Dito. Matanya terbuka saat Clara menyentuh rambutnya.
"Pagi suamiku," kata Clara sambil memberikan ciuman di kening Boby.
"Pagi istriku yang cantik," balas Boby dengan senyum yang merekah sempurna. Boby tidak terima hanya dicium keningnya. Membaringkan Pocik dan menciumi bibir Pocik dengan ganas. Tangannya sudah tidak terkondisi. Biasanya Clara akan menolak, namun sadar Boby sudah resmi menjadi suaminya membuat Clara berusaha menikmati sentuhan Boby. Lagian… mereka sudah begituan. Pikir Clara.
Boby membuka baju Clara dengan cepat. Menghisap puncak pink yang begitu menggiurkan. Clara tidak tahan. Tubuhnya menggeliat menerima pancingan Boby.
"Kak…." gumam Clara.
"Panggil nama," kata Boby sambil meremas organ berpuncak pink agak keras.
"Aahhh…. Kak," Clara kembali menn ddee ssah.
"Panggil nama aku bilang," kata Boby sambil menggigit daun telinga Clara.
"Bbooby," kata Clara akhirnya. Boby tersenyum memelorotkan segitiga Clara dengan cepat. Membuka kaki Clara lebar lebar.
"Bagus, tidak boleh memanggil Kakak kalau kita sedang enak. Panggil nama jika kamu enak. Salah panggil kakak aku akan menghukummu. Hukumannya akan sangat menguntungkanku," kata Boby sebelum tenggelam dibawah Clara.
Clara menjerit dengan apa yang dilakukan Boby. Pria itu menyedot organnya dengan mulut. Menjilati bagian paling sensitif dengan lihai.
__ADS_1
"Kakak!!!" pekik Clara keenakan. Langsung menutup mulutnya sendiri. Boby menyudahi aktivitasnya.
"Satu, aku menghitung kesalahanmu," kata Boby. Clara kembali menjerit saat boby menghisap lagi.
"Kkk… Booby…." kata Clara. Sedikit menyebalkan karena dia harus merubah panggilan disaat genting seperti ini. Dia harus dipaksa sadar. Padahal bagian tubuhnya sangat enak untuk terhanyut.
Boby menghentikan aktivitasnya. Sadar kalau Clara sudah banjir. Melepas semua yang melekat. Menampilkan tubuh polosnya pertama kali pada istrinya. Clara terpesona. Otot Boby memang tidak bisa diabaikan. Boby menuntun tangan Clara mengelus lengannya. Kemudian perutnya. Clara senang melakukannya. Clara melihat benda itu. Panjang dan tegak.
"Mau pegang?" tanya Boby. Clara menggeleng malu.
"Aku pelan pelan. Boleh menjerit atau teriak yang terpenting santai," kata Boby. Pelan pria itu membobol pertahanan Clara. Benar saja. Baru masuk setengah kepalanya Clara berteriak.
"Kakak sakiiiittttt……!!!" Clara mencoba menggeliat. Boby memegangi tangan Clara. Gadis itu tidak bisa berkutik.
"Dua," kata Boby sebelum menciumi seluruh muka dan tubuh Clara. Membuat wanitanya sedikit rileks. Saat dee ssaah aann mulai muncul lagi, Boby menghentak tubuh bagian bawahnya. Clara lagi lagi menjerit. Air mata merembes dengan deras. Boby diam lagi. Meringis menahan ngilu dan nikmat. Clara bukan yang pertama. Akan tetapi ini adalah lubang tersempit yang pernah ditemui. Boby melirik bagian tubuh bawah mereka. Milik Clara sedikit memerah dan penuh.
Boby mempercepat gerakannya. Perlahan Clara dapat menikmati. Hasil dari kerja keras tangan, bibir dan pinggul Boby yang terus memberi pancingan. Walaupun rasa perih masih ada. Sakit, perih, dan penuh. Clara mengangkat kepalanya. Melihat senjata Boby turun naik semakin cepat. Peluh sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Semakin lama ada rasa aneh yang menggeliat.
"Kkkkaaakk,"
"Tiga," sahut Boby cepat.
"Uudddaaahhh…. Aku… maaahuu pipis," kata Clara terbata. Boby tersenyum. Benar benar perawan polos yang tidak tahu kkllii mmaa kkss. Batin Boby. Dia justru mempercepat gerakanya.
__ADS_1
"Kkk Bboobbb…. Aaahhh….. Bobiiihhh …. Bobbbiihhh," Clara semakin meracau. Menyebut nama Boby dengan sexy. Membuat pria itu semakin semangat berpacu.
Clara mengejang. Organnya berdenyut menjepit milik Boby dengan kuat. Boby diam sesaat. Meringis merasakan enaknya pijatan Clara di organnya. Juga hangat guyuran kenikmatan milik Clara. Ini langka… biasanya gerakan otot wanita tidak begitu terasa, tapi Clara seakan menyedot kuat. Wanita itu terengah engah dibawah Boby. Ada sensasi lega dan melayang yang dirasakan.
"Enak?" tanya Boby saat Clara membuka matanya. Clara mengangguk. Peluh sudah licin menghiasi kulitnya.
"Sekarang giliranku ya," kata Boby. Melepas tautannya di tubuh Clara. Membalik tubuh wanitanya dengan cepat. Clara kembali meringis saat Boby kembali memasukinya. Tangan Boby terulur kedepan tubuh Clara. Berpegangan pada gunung yang tentu saja menggantung dengan indah. Boby terus bergerak. Clara sudah mau mengejang lagi. Mulai merancu lagi. Memanggil manggil nama Boby dengan jeritan. Lagi lagi Boby merasakan guyuran dan pijatan nikmat.
"Astaga Poc kamu enak sekali," puji Boby dengan tulus. Cairan Clara sampai menetes saking banyaknya. Bercampur dengan ddaa rrah yang sudah membasahi sprei.
"Bobiihh… aku udah…. Capek," kata Clara. Ambruk dari posisi setengah merangkak. Boby tersenyum.
"Aku belum. Dan kamu harus tanggung jawab," kata Boby kembali membalik tubuh Clara menghadap samping. Kembali bergerak dengan liar. Mengangkat satu kaki Clara didadanya. Clara menjerit. Setengah sadar setengah nikmat.
"Panggil namaku," perintah Boby sambil menepuk ppaan ttatt Clara.
"Bbobihhh bbobihhh," rintih Clara. Kali ini Boby benar benar mengejar kenikmatannya. Mata Clara setengah terpejam. Mulutnya terus memanggil nama Boby dengan sexy. Boby bergerak dengan cepat. Clara mencapai lagi. Akan tetapi kali ini digasak Boby dengan kasar. Dia juga mau sampai. Banjir…. Cairan mereka bersatu dengan sempurna.
Boby melepas tautannya. Clara diam. Lemas. Mulutnya terbuka dengan bulir keringat besar besar didahi.
"KO," kata Boby sambil tersenyum. Menurunkan suhu AC dalam kamar itu. Berbaring menyelimuti tubuh mereka. Memeluk Clara dengan sayang. Memelintir puncak Clara agar istrinya itu sedikit mendapat kesadaran.
"Emmmhhh," gumam Clara.
__ADS_1
"Terimakasih, kamu hebat sekali. Aku mencintaimu Poc," puji Boby sebelum Clara jatuh kealam mimpi. Entah mimpi entah pingsan.
Clara terbangun tanpa Boby. Tubuhnya remuk semua. Terutama bagian inti yang terasa mengganjal dan perih. Perutnya juga lapar luar biasa. Clara melirik jam yang tergantung. Ini sudah siang. Mencoba bangun perlahan sambil meringis. Melihat bagian bawah tubuhnya. Sedikit terkaget dengan bercak darah dan bekas basah. Tidak ada yang mengganjal. Tapi rasanya barang Boby tertinggal disana. Clara menyadari sesuatu. Boby membohonginya!! Ini pertama kali untuknya.