
Clara terbangun sudah berada di kamarnya. Sudah lepas sepatu dan diselimuti dengan nyaman. Tubuhnya sudah mendingan. Betapa terkejutnya dia saat melihat meja samping tempat tidurnya. Ada teh hangat yang dimasukkan dalam termos travelnya. Juga camilan sekotak brownies dengan tulisan diatasnya. 'Sorry'. Clara tersenyum sendiri. Tahu benar kalau ini ulah Boby. Untuk apa pria itu meminta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu? Bukankah Clara sudah menerimanya dengan lapang? Ah, lapang apanya!! Tiap masa lalu Boby terungkap dia tetap merasa kesal. Clara bermonolog pada dirinya sendiri. Semoga Boby benar benar mau berubah. Doa Clara sebelum bangkit dari kasurnya.
Hari ini jadwal dia mau survey tempat es teh yang baru. Sudah diminta konfirmasi sama marketingnya. Tangannya pegal, tapi tidak ada waktu istirahat untuk Clara.
"Mbak Clara?" tanya si marketing memastikan. Takut salah karena yang datang mirip anak SMA dengan tubuh imud imud.
"Iya Mbak, saya Clara," jawab Clara sambil menerima uluran tangan Mbak Joice. Wanita muda yang berpenampilan super modis. Perkenalan berlangsung singkat. Clara menyetujui harga sewa kios.
"Kamu masih muda sekali mbak," kata Mbak Joice. Bangga ada anak muda yang berani berbisnis kaya Clara.
"Tapi aku udah janda," kata Clara sambil tertawa. Dia menceritakan kalau uang berbisnisnya dari mantan suami.
"Yah, walaupun statusku riskan, tapi dompetku tidak riskan Mbak," kata Clara. Mereka berdua tertawa.
"Aku juga janda anak satu Mbak," kata Joice.
"Cuma bedanya aku gak dapat apapun dari mantan suami. Haa mau dapat apa? Hidup aja numpang sama aku. Udah numpang, masih selingkuh lagi," kata Joice dengan senyum getir.
"Aku juga diselingkuhi Mbak," kata Clara akur. Joice mengangguk.
"Faktor utama yang mudah untuk hakim mengabulkan cerai ya selingkuh itu. Lagian selingkuh gak ada obatnya. Sekali selingkuh, dia tetap doyan selingkuh. Kamu tahu alasan suamiku selingkuh? Karena finansialnya kalah dari aku hahahaha tidak logis sekali," kata Joice sambil tertawa.
"Lah, finansial kalah ya kerja lebih giat lha kok malah selingkuh," komentar Clara. Joice membenarkan.
"Dan dia melakukannya berkali kali. Seperti penyakit. Bilang sembuh, tapi besoknya kumat lagi," tambah Joice. Entah mengapa Clara jadi takut diselingkuhi Boby.
Mereka berpisah setelah Clara membayar sewa. Giliran menghubungi pihak franchise. Seharian itu Clara gunakan untuk sibuk berkutat dengan bisnisnya. Pulang kerumah sudah malam. Clara melihat motornya sudah terparkir. Artinya Boby sudah pulang kerja. Mobilnya anteng di depan rumah Clara dari sore tadi sebelum berangkat survey. Clara memang memberikan kunci cadangan rumahnya pada Boby.
Clara masuk rumah. Boby tertidur di depan tv. Dengan dua bungkus sate ayam yang masih anteng. Artinya Boby menunggunya pulang untuk makan bersama.
"Kak," kata Clara sambil membelai kepala Boby. Bukan tipikal kebo seperti yang mamanya bilang. Mata boby langsung mengerjap.
"Pocik… lama sekali aku kelaparan sampai ketiduran," kata Boby bangkit dari tidurnya. Mencium bibir Pocik lama. Clara menanggapi ciuman Boby. Rasa kesalnya tadi siang sudah menguap. Hanya meninggalkan rasa sayang dan cinta yang besar pada Boby.
__ADS_1
"Aih senangnya Pocikku udah gak ngambek lagi," kata Boby sambil membelai pipi Clara.
"Pokoknya sebelum burungmu itu digunakan untuk malam pertama, aku mau dia dicuci dulu yang bersih. Pakai rinso kalau perlu. Bekas celup sana celup sini," kata Clara sambil beranjak menuju dapur. Membuat teh untuk mereka berdua dan ambil piring.
"Beres aku mandikan pakai cairan cintamu," kata Boby sambil mengikuti Pocik.
"Atau mau dimandikan sekarang? Pakai lidahmu," bisik Boby sambil menggigit daun telinga Clara.
"Hiyek… gak mau….," kata Clara yang masih perawan ting ting.
"Enak lho Sayang, banyak orang melakukannya. Kamu harus cobain kapan kapan," kata Boby.
"Gak mauuu… yang atas urusan yang atas, yang bawah biar diurus yang bawah," kata Clara. Boby tertawa mendengarnya. Bicara sama perawan emang gitu. Lihat saja nanti. Ancam Boby dalam hati.
Mereka makan dengan tenang. Boby membeli satu bungkus ekstra sate. Biar sate bagiannya aman. Tahu benar kalau Pocik makan sate bisa kalap. Mereka duduk berdua setelah itu. Clara bersandar dengan nyaman didada Boby.
"Mau anak berapa?" tanya Boby sambil menciumi rambut Pocik.
"Belum mikir, tapi kalau aku mau menunda, apakah kamu akan marah Kak?" tanya Clara.
"Aku masih sekolah, menjalankan dua bisnis sekaligus kuliah saja waktuku keteteran habis. Kalau tambah anak aku takut tidak bisa mengurusnya dengan baik," kata Clara.
"Boleh, hamil dan melahirkan itu hak kamu sepenuhnya. Aku tahu jadi ibu itu tidak mudah," kata Boby. Clara tersenyum mendengarnya.
"Makasih Kak," kata Clara sambil mencium pipi Boby.
"Hum…. Cuma cium pipi balasannya?" tanya Boby tidak terima.
"Mau apa?? pulang sana!" Clara malah mengusir Boby. Yang diusir tidak terima. Terjadilah ciuman panas lagi. Clara tidak lupa menepis tangan Boby yang suka tidak terkondisi dengan benar. Akan tetapi kali ini Boby cukup nekat. Mengikat tangan Clara dengan satu tangan diatas kepala Clara. Satu tangannya yang lain menjelajah gunung yang membuat Clara men dee ssah.
"Kak!!! Aku gak mauuu," kata Clara berusaha menyadarkan Boby. Berkelit dari cengkeraman tangan Boby. Pria itu melepasnya. Menghormati keputusan Pocik walaupun nafsunya sendiri sudah diubun ubun.
"Aku pulang ya," pamit Boby cepat sebelum otaknya berubah pikiran karena nafsu.
__ADS_1
***
Hari ini Clara mau nyebar undangan untuk keluarga dekat. Bagian keluarganya sudah diserahkan Tito yang siap membantu. Sedang untuk keluarga Boby rencananya mau diserahkan nanti malam. Dua minggu lagi nikah kantor. Dan satu bulan lagi hari H.
Clara menuju rumah Mbah Narti. Nina sudah tidak sabar minta ulem duluan. Itu alasannya…. Alasan yang lain tentu saja mau ngerumpi cantik.
"Lama kamu!! Lotis ku sudah dikerubungi semut sambelnya," sungut Nina bahkan saat Clara belum turun dari mobil. Clara tertawa mendengarnya.
"Ya biar, mungkin semutnya lagi ngidam jadi mau sama sambel lotis," kata Clara santai. Cipika cipiki sama mantan kakak ipar sekaligus mentor bisnisnya. Clara mau seperti Nina. Wanita tegar yang berdiri pada kakinya sendiri.
"Ngeles kaya sopir bajaj. Harusnya kamu ganti itu mobil pakai bajaj," kata Nina sambil merangkul Clara masuk rumah.
"Mana ada sopir bajaj secantik ini, nanti dikira artis lagi syuting," kata Clara.
"Haaa artis apa? Tukang es teh aja belagu," ejek Nina. Padahal dirinya juga begitu.
"Tukang es itu enak tau…. Habis gak habis tetep habeeesss!!!" kata mereka berdua. Kemudian tertawa bersama. Karena pada dasarnya es tetap mencair. Jadi laku gak laku tetap habis esnya.
Mbah Marni datang menyalami Clara. Walaupun tidak suka dengan mantan menantunya yang nekat menggugat anaknya, namun dia menghormati Clara yang berteman baik dengan Nina.
"Makin cantik aja kamu," kata Mbah Marni.
"Cinta Bu, saat kamu dicintai dengan tulus, maka kecantikan terpancar dari kebahagiaan hatimu," kata Nina. Clara langsung pura pura pingsan di sofa. Mereka tertawa bertiga.
Nina senang bukan main dengan ulem dari Clara yang diterimanya.
"Akhirnya Bripda Boby Adya Haryanto yang tertulis di ulem. Bukan bocah yang kamu bawa kemarin di nikahan Tama," kata Nina sambil ketawa ketiwi.
"Jadi kalian sempat putus kemarin?" tanya Nina. Clara mengangguk. Menceritakan tentang kejujuran Boby dan masa lalunya yang bukan lagi amburadul, tapi bobrok.
"Serius Boby sebobrok itu!!!" kata Nina terkejut. Clara mengangguk sambil mencocol mangga muda kesambal lotis.
"Dan.... dia berjanji untuk berubah? Kamu minta jaminan apa biar dia gak mengulanginya?" tanya Nina serius.
__ADS_1
"Gak ada sih. Tapi aku memberinya satu kesempatan saja. Jika dia mengulangi perbuatannya, maka aku akan meninggalkannya," kata Clara yakin. Nina manggut manggut.
"Setahuku lelaki tipikal 'jajanan' itu susah sembuh. Yah seperti selingkuh…. Tapi aku serius berdoa untuk kebaikanmu dan Boby. Semoga jodoh dunia akhirat. Semua orang berhak diberi kesempatan. Semoga dia benar orang yang konsisten dengan janjinya," do'a Nina. Clara mengamini dengan keras. Sekali lagi Clara merasa ragu dengan Boby.