Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Boby pusing


__ADS_3

Tono memandang heran pada anak sulungnya. Tumben sekali menyusulnya sampai toko besi. Saat toko hampir tutup lagi.


"Kenapa Nak?" tanya Tono. Boby langsung duduk di depan papanya. 


"Apa… disini aman? Boby mau bicara sesuatu yang serius," kata Boby dengan muka tegang. Segala galanya tentang Pocik membuatnya cepat merasa pusing dan hilang konsentrasi dengan cepat. Boby sadar itu. Betapa dia bucin dengan gadis imud itu.


Tono melirik sekitar. Kedatangan Boby ditoko merupakan hal langka. Beberapa karyawati sudah melirik kepo. Hah!!! Mau gimana lagi. Boby itu tampan turunan darinya.


Mereka berpindah di sebuah angkringan. Berbicara sambil minum kopi dan merokok. Kenikmatan mana yang bisa menandingi. Boby perlahan menceritakan fakta yang dia temui. Bingung juga harus berbuat apa.


"Aku seperti terjepit Pa, satu mama satu istriku. Pesta diadakan seminggu lagi… aku mau semua baik baik saja, tapi malah seperti ini. Pa, bukankah mama sudah memberikan restunya? Kenapa malah begini!!" kata Boby kesal. 


Tono menghembuskan nafasnya. Dia adalah orang yang mengenal istrinya melebihi siapapun didunia ini. Dia tahu Santi tidak tulus. Akan tetapi tidak menyangka sejahat ini.


"Papa akan bicara dengan mamamu. Kamu juga harus bicara dengan Clara. Buat dia mengerti kalau mama hanya butuh lebih banyak waktu untuk menerimanya. Papa juga akan bujuk mamamu untuk mau minta maaf. Pernikahanmu harus terjadi," kata Tono akhirnya. Boby mengangguk. Pria tua ini selalu pemecah masalah yang baik. Nasehatnya selalu bertemu dengan akalnya. Tono merangkul putra sulungnya itu dengan bangga.


"Dengar Nak, di dunia ini ada banyak hal yang bermasalah. Yang terpenting adil dalam menyelesaikannya," kata Tono. 


Mereka akhirnya pulang. Disambut oleh aduan Santi pada suaminya. Tono langsung mengajak Santi makan malam berdua. Dan Boby bersiap menuju rumah Clara. Jesi langsung jadi ratu rumah sesaat. Menyuruh ini itu pada Atun. 

__ADS_1


"Enak ya Mas kalau sepi gini. Kita yang jadi nyonya dan tuan rumah. Bukan hanya sebagai anak, tapi pemilik rumah beserta isinya," kata Jesi bangga. Dito manggut manggut. Mereka klop selama ini karena sefrekuensi. Sama sama ambisius, sama sama mau terlihat kaya dan bergengsi. Mirip dengan Santi.


Boby sampai dirumah Clara. Sepi…. Bahkan lampu luar rumah saja belum menyala. Padahal Boby mencoba menekan bel rumah. Tidak terjawab. Akhirnya pintu dibuka dengan kunci cadangan yang dia bawa. Ternyata kosong. Pocik gak dirumah. Boby mencoba menghubungi ponselnya. Tidak diangkat bahkan dalam lima kali panggilan. Entah kenapa rasa cemas langsung menghantui Boby. Dia mencoba menghubungi Hani. Bertanya apa Clara dirumah ibunya. Jawaban Hani juga tidak. 


Boby mencoba berkeliling ke tempat tempat yang biasa didatangi Clara. Bahkan keliling semua depot es. Tidak ketemu. Boby panik sendiri. Akhirnya sampai pada rumah Ine. Meminta Ine membobol posisi sinyal hp Clara secara ilegal. 


"Kamu gila Bob! Kita bisa kena masalah," kata Ine mencak mencak.


"Plis Ne, bantuin aku sekali ini. Aku benar benar panik," kata Boby penuh permohonan. Hampir mirip orang gila menurut Ine. Dia tidak tega. Akhirnya Ine membantu. Ini adalah keahlian Ine dalam tim itu. Dia adalah IT canggih milik Revan. Bukan sekedar adik yang harus dijaga.


"Sinyalnya ditemukan di sekitar bukit bulan. Mau kita bantu carikan?" kata Ine mulai cemas. Ini sudah jam 10. Clara sudah seperti sahabat untuk Ine. Boby menggeleng.


Sendirian Boby mencari Pocik ke bukit bulan. Dua jam perjalanan ditempuh lebih cepat karena Boby ngebut. Sampailah pada hotel yang dulu disewa Pocik saat galau. Tidak ketemu. Boby mengelilingi hotel sekitar bukit. Waktu sudah dini hari Boby benar benar cemas dan khawatir. 


"Datang ke Resort Bintang sekarang," perintah Ine. Boby langsung searching Resort Bintang. Tidak jauh. Betapa terkejutnya Boby melihat teman teman satu timnya sudah berkumpul di bagian mini bar resort termasuk Revan. Juga Pocik yang telungkup dimeja.


"Astaga!!! Astaga!! Poc, Poc kamu kenapa??" tanya Boby. Aroma wine menguar dari mulut Pocik. Yang ditanya cuma mesem mesem sambil berusaha mencium bibir Boby. 


"Kata pelayan dia menginap sejak sore. Sudah pesan kamar. Tapi baru dibar sejak sejam lalu  Dia berencana healing mungkin," jelas Ine. Boby membiarkan bibirnya dicium Pocik di hadapan banyak orang. Kemudian memeluk tubuh mungil itu dengan erat.

__ADS_1


"Lepas Bob…. Sayang…. Aku mau cium… aku mau bercumbu…. Aku mau hiks…hiks…" rancu Clara dalam apitan tubuh Boby. 


Revan menyerahkan kunci kamar Clara.


"Mabuk berat. Bawa kekamar saja. Tadi masih sadar saat kita temukan. Sekarang sepertinya sudah sangat tidak sadar. Selesaikan masalahmu Bob. Aku berharap sungguh untuk kebahagiaan kalian," kata Revan sambil menepuk pundak Boby dan berlalu. Teman temannya juga satu satu berlalu sambil memberi semangat. Boby mengucapkan terimakasih dengan tulus.


Boby menggendong Pocik sampai kamar. Tidak peduli tatapan penghuni resort lain. Clara terus meracau dan menangis. Bahkan teriak teriak. 


"Sayang…. Aku Pocikmu…. Aku permen manis yang tidak direstui. Aku janda buruk…. Batalkan semuanya….. atau noda jandaku menghiasi muka keluargamu….. hiks…. Hiks….," 


Boby membaringkan gadis kesayangannya itu di kasur dengan nyaman. Clara sempoyongan bangun. Menubruk tubuh Boby yang mengunci pintu. Merabanya sampai pada adik Boby. Mencium bibir Boby dengan rakus. Boby merasakan sisa wine yang diminum Pocik dengan jelas. Kembali membawa gadis itu untuk berbaring. Clara duduk lagi dan melepas kaos dan celana jeansnya.


"Astaga Poc…. Sadar sayang….. hentikan ini," kata Boby sambil memegangi tangan Clara yang siap melepas pengaitnya.


"Kamu mau kan??? Lakukan….. lakukan kemudian tinggalkan aku…. Aku buruk aku janda….. hiks…. Tidak ada yang tahu aku hanya bercinta denganmu……." kata Clara menuntun tangan Boby menuju gunung. 


Boby membaringkan Clara. Sambil meremasi gunung kenyal yang cukup menggoda. Clara meeennn ddesaaah. Gerakannya jadi sedikit tenang. Sesaat Boby terbakar nafsunya. Melihat Pocik setengah polos begini. Detik berikutnya dia sadar. Gadis itu tidak akan menginginkannya saat sadar. Boby mennn cummm bbbu sebentar leher putih Clara. Meninggalkan satu kissmark disana. Kemudian meraba pinggangnya sendiri. Memborgol tangan Clara bersama kaki meja samping tempat tidur. Gadis itu menjerit. Gadis itu berontak. Teriakan dan sumpah serapah keluar dari mulutnya. 


Boby menjauh sejenak. Mengambil jarak pada Pocik. Meneguk air mineral fasilitas kamar sampai habis satu botol. Menenangkan dirinya sendiri. Matanya sudah berkabut parah. Naff ssunya sudah sampai di puncak kepala. Dua kepala yang dia miliki sudah berdenyut semua. Rasa sesak dan terhimpit yang menyiksa. Boby kembali melihat Pocik. Gadis itu justru sudah polos bulat bulat.

__ADS_1


"Astaga… astaga….. kau mengujiku Poc!!! Berrr rreeeng sskk!!" umpat Boby kesal. Kembali mendekati kasur Pocik. Memandangi kulit putih kekuningan. Khas wanita asia. Bukan kulit orang eropa. Puncak pink yang menggiurkan. Juga paha yang saking putihnya mencetak gurat gurat hijau merah di bawah kulit. Boby menelan ludah kasar. Harus apa??? Harus diapakan? Sebagai lelaki bobrok dia sudah sangat bernafsu…. Akan tetapi Pocik selalu ingin melakukannya saat sudah resmi. Gadis itu hanya mabuk dan bersedih. Tidak sadar…. Tapi seminggu lagi mereka juga menikah. Justru bisa menjadi alasan Boby agar gadis itu tidak bisa mundur dari pernikahan.


Pocik semakin gila. Dia membuka lebar lebar kakinya. Organ kesukaan Boby terpampang nyata. Terlihat pink tanpa rambut. Rapat karena memang belum dijamah. Pocik ternyata tipe agresif kalau mabuk. Mulutnya terus mengeluarkan kalimat menggoda untuk Boby. Boby kembali mengambil air mineral. Kali ini untuk mengguyur kepalanya sendiri. Boby menghembuskan nafasnya berkali kali. Sebelum melepas ikat pinggang yang dia kenakan.


__ADS_2