Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Kembali bersama


__ADS_3

Jesi menggendong Ayuna keluar kamar. Melihat Santi yang asyik memandangi hapenya. Mencari baju baru untuk arisan sosialita dua minggu kedepan. Santi memang aktif mengikuti arisan arisan sosialita. Dengan dresscode masing masing dalam setiap pertemuan. Sebenarnya dresscode itu selalu memusingkan kepalanya. Mau gimana lagi. Demi gengsi dan teman teman sosialitanya.


"Ma, nanti adiku datang kerumah ya, mau ngukur baju buat nikahan dia. Enak dia dapat sumbangan baju dari adik calonnya buat seragam. Padahal satu keluarga besar. Keluargaku sama keluarga dari calonnya," cerita Jesi.


"Wow, apa dapat orang kaya?" tanya Santi yang antusias bergosip.


"Ya kalau calonnya Hani biasa aja Ma, tapi adiknya kaya. Udah punya rumah sendiri, udah punya butik sendiri, sama franchise teh. Denger denger dia juga kuliah di ISI," kata Jesi.


"Wow hebat juga ya," puji Santi tanpa tahu siapa yang dia puji.


Bel pintu berbunyi. Menandakan ada tamu dari gerbang. Atun sigap menuju teras.


"Itu mungkin Ma," kata Jesi antusias. Memberikan Ayuna pada neneknya. Kemudian berdiri menyambut tamunya.


Clara enggan masuk rumah, namun Jesi dengan ramahnya menyuruhnya masuk. Jesi sendiri lupa siapa Clara. Ayuna menangis di gendongan Utinya. Terpaksa membawanya ke depan. 


"Jes, kamu susui seben…." kata kata Santi terputus setelah melihat salah satu tamunya.


"Ma, kenalin ini adiknya Tito namanya…." Jesi lupa menanyakan nama. Menoleh pada Clara.


"Clara," kata Santi datar. Jesi baru ingat siapa Clara.


"Oh my God, Mbak Claranya Mas Boby??" tanya Jesi entah pada siapa. Santi mendekat pada Jesi menyerahkan Ayuna yang geger. Kemudian menyalami Clara, Hani, dan Merlin.


Suasana langsung canggung karena Jesi menyusui Ayuna di dalam.


"Apa kabar?" tanya Santi membuka percakapan.


"Baik Tante," jawab Clara canggung.


"Dia temanmu?" tanya Santi. Matanya melihat Merlin yang masih asik mangku toples kripik dari rumah Clara.


"Saya Merlin Nyonya, saya teman Manusia kerdil ini kuliah," jawab Merlin sambil nyekikik memandang Clara. Santi ikut tertawa mendengarnya. Dia teringat percakapan dengan Jesi baru saja. Melirik mobil pink diluar pagar. Mobil matic keluaran belum lama. Harganya masih mahal. Benarkah Clara sekaya itu? Lumayan juga kalau begitu. Batin Santi.


Jesi datang dengan Ayuna yang anteng. Siap untuk diukur. Pengukuran baju selesai dengan cepat. Clara mencatat request kusus model baju yang dimau Jesi.


"Aku manut Mbak Clara aja yang bagus untuk ibu ibu baru melahirkan yang kaya apa," kata Jesi. Clara berfikir sejenak. Kemudian menggambar sketsa model baju sejenak.

__ADS_1


"Begini?" tanya Clara sambil menunjukkan hasil gambarnya. Jesi melihat. Santi ikut kepo.


"Bagus Mbak… ini bagus bangeeett," puji Jesi tulus. Dalam hati Santi juga mengakui hasil gambaran dan desain Clara yang bagus. Entah dengan hasilnya. Batin Santi tidak yakin.


"Gak lihat Boby?" tanya Santi saat Clara dan temannya mau pamit.


"Dia tidur sejak pulang tugas dari kota sebelah tadi siang. Kalau Mama yang bangunin pasti ngebo. Kamu aja yang bangunin sana! Ini sudah mau magrib," kata Santi. Menarik tangan Clara kedalam rumahnya. Membuka pintu kamar Boby dengan santai.


"Tidak perlu Tante, kalau gak mau bangun diguyur saja," kata Clara menolak masuk kamar cowok.


"Kamu tega guyur anakku pakai air!!" kata Santi sambil melotot. Seolah Clara baru saja ketahuan menganiaya Boby. Santi yang sebenarnya menerima Clara sepenuh hati, membuat dia mudah marah pada gadis itu. Walaupun sedikit ngiler tentang profil Clara yang diceritakan Jesi tadi.


Suara Santi sampai kedalam kamar. Membuat Boby menggeliat pelan.


"Bu… bukan begitu Tante….eh, maksudnya…" Clara kebingungan sendiri menjelaskan. Dia merasa dimarahi padahal baru cuma urun rembug (usul). Kesadaran Boby seketika pulih. Mendengar suara yang lama dia rindukan. Langsung duduk. Mengucek matanya sekilas. Takut masih bermimpi.


"Pocik!!" pekik Boby ketika bayangan Pocik tidak hilang saat dia sudah mengucek matanya. 


Dua orang wanita beda generasi yang berdiri di depan kamarnya langsung menoleh.


"Hei hei hei, datang ke rumahku kemudian kabur setelah melihatku? Itu gak adil Sayang," kata Boby kepedean. Menghadang jalan Clara yang baru sampai ruang keluarga. Suara Boby agak keras. Mengundang Tono dan Dito menonton aksinya. Atun ikut nyembul dari balik dapur.


Clara memalingkan wajahnya. Malu melihat tubuh Boby yang hanya berbalut boxer gambar Dragonball. Sedikit berdebar juga karena otot perut dan lengannya yang sexy.


"Kak malu," kata Clara sambil menunduk.


"Gak usah malu, aku senang kamu datang," kata Boby belum nyambung. Berusaha menggenggam tangan Clara.


"Bukan aku!! Tapi kamu!!! Ddee...ragonball mu itu!!" jerit Clara masih dengan nunduk. Boby melihat dirinya. Terkaget dengan tubuh polosnya. Tawa langsung meledak seisi ruangan. Clara ikut senyum kecil. Boby menyadari itu.


"Lagian aku datang kesini bukan buat kamu. Aku mengukur tubuh Jesi. Aku belum lupa sama adegan sosor menyosormu di rumah sakit. Selamat sore aku pamit pulang," kata Clara lurus melewati Boby. Yang dipamiti terbengong dengan muka merah padam. Ah, kenapa dia lupa kalau gak pakai baju!!!


Keluarganya tertawa melihatnya. Atun juga baru tahu kalau tubuh majikannya itu sebagus itu. Melotot tanpa berkedip. Santi melesat menuju ruang tamu sambil menoyor kepala Boby.


"Bikin malu," kata Santi. Dito masih ngakak ngakak sama Tono.


"Gak papa Bob, dia tahu gambarnya Dragonball. Berarti sempat melirik," kata Tono somplak.

__ADS_1


Santi mengantar tamu Jesi sampai halaman. Tersenyum melihat Clara yang membuka pintu mobil dengan kunci. Dua orang temannya ambil tempat disisi sopir dan jok belakang.


"Mobilnya bagus. Pasti mahal," komentar Santi saat mobil Clara berlalu.


"Iya bikin iri. Kayaknya hidup Mbak Clara sempurna banget. Minta beliin Papa sana Ma, tapi nanti didorong. Kan Mama gak bisa nyetir," jawab Jesi sambil nyengir masuk rumah.


***


Boby menuju rumah Clara malam harinya. Menyadari kalau Pocik hanya ngambek. Boby masih merasa dicintai Pocik. Mungkin perlu sedikit rayuan dan permohonan. Dia juga baru menyadari kalau nomor hpnya tidak diblokir lagi. Pocik memberikannya kesempatan.


Terdengar suara mesin jahit manual dari dalam rumah. Boby membunyikan bel dengan berdebar. Clara membuka pintu dan langsung menutupnya lagi setelah tahu siapa yang datang. Akan tetapi gerakannya kalah cepat dengan tangan Boby yang langsung mengganjal pintu.


"Poc, tolong, aku mau jelaskan. Luka ku sakit lagi kalau harus menahan pintu," kata Boby sambil meringis. Seolah menahan ngilu di lengannya. Padahal cuma ekting. Lengannya udah baikan.


Clara tidak tega juga kalau begini. Dia melepas pintu dan balik menjahit lagi. Boby mencabut colokan mesin jahit Clara.


"Aku mau bicara," kata Boby memelas.


"Ngapain nyari aku lagi? Aku memutuskan untuk tidak bisa menerima kamu lagi," jawab Clara kesal.


"Karena kejadian dirumah sakit?" tanya Boby bersandar pada mesin Clara. Semakin yakin kalau wanita didepannya ini cuma butuh dirayu rayu.


"Itu satu faktornya. Faktor yang lain karena kebiasaan burukmu jajan apem," jawab Clara.


"Aku bisa berubah…. Aku janji! Masalah Gina aku sudah tegas menolaknya. Kami juga tidak ciuman seperti yang kamu pikir. Poc aku mohon beri aku kesempatan untuk berubah. Aku sudah sangat cinta sama kamu," kata Boby sudah berlutut pada Clara yang duduk di depan mesin jahitnya. Menciumi tangan Clara yang ada di pangkuan gadis itu. Tidak menolak. Boby senang sekali.


"Apa aku akan bahagia sama kamu? Apa kamu bisa menjaga hatiku untuk tidak patah lagi?" tanya Clara sendu.


"Aku berjanji dengan seluruh hidupku," jawab Boby yakin. Boby menarik tubuh Clara untuk memeluknya. Boby bersandar dengan nyaman pada dada Clara.


"Aku cuma memberikan kesempatan sekali. Kalau kamu ketahuan sama cewek lain, atau jajan apem, aku akan memutuskan hubungan kita," ancam Clara.


"Sekali saja cukup," kata Boby yakin.


***


Aku mau nyanyi sama readers. Begadang jangan begadang.... Kalau tiada artinya.... Begadang boleh sajaaaaa aaaaaa kalau bikin cerita. Hahahaha selamat dini hari para readers kesayanganku. Semoga bobok kalian nyenyak. Gak kayak aku yang ketar ketir. Hihihihi. Good morning and have a nice day every one.

__ADS_1


__ADS_2