Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Putaran roda kehidupan dan canda


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Boby menceritakan singkat kedekatannya dengan Tono.


"Aku besar dan dekat dengan pembantu. Mama selalu sibuk dengan geng arisan atau sosialitanya. Papa yang sering ngajak main sepulang dia dari toko. Padahal mama yang ada di rumah tidak pernah peduli padaku. Papa yang memperhatikan kebutuhanku. Bahkan yang aku cari saat aku merasa tidak enak badan," kata Boby pilu. Clara agak terbengong. Benarkah Mama mertuanya seburuk itu??


"Papa itu… seperti sahabat dan malaikat yang dikirim Tuhan untukku… aku… takut Poc… aku takut Papa kenapa kenapa," kata Boby sudah sambil bercucuran air mata. Clara mengambilkan tisu untuk Boby. Pria itu memelankan laju mobil sedikit. Demi mengusap air mata yang mulai merembes.


"Mau aku gantikan nyetir Kak?" tanya Clara.


"Tapi…..aku gak bisa nyetir mobil manual," lanjut wanita itu setengah bodoh. Boby jadi tertawa diantara tangisnya.


"Bodoh! Kalau gitu ngapain nawarin!" kata Boby games. Mengacak rambut Pociknya sejenak.


"Hihihi entah…. Aku cuma mau bantu, tapi bingung bantuin apa," jawab Clara.


"Cukup berada didekatku. Diam di sampingku dan tersenyumlah, karena senyummu lebih dari sejuknya embun pagi," gombal Boby.


"Basah dong kalau embun," jawab Clara.


"Kan emang paling enak pagi, berdiri kemudian basah," jawab Boby balik ke mode pabrik. Setengah gila setengah mesum. Mereka kemudian berdebat tentang apa saja. Melumerkan kesedihan dan ketegangan tentang kondisi papa yang amat disayangi.


Clara yang penasaran bertanya sedikit dalam tentang Santi.


"Mama emang seburuk itu. Pemalas dan tidak suka bekerja. Bahkan untuk masak dan menyiapkan makanan buat anak anaknya. Akan tetapi papa selalu bilang. Seburuk itu juga tetap mamamu. Jadi yah.... Begitulah.... Mama emang buruk, tapi seburuk itu dia tetap mamaku," kata Boby mengakhiri kisah. Dia emang bucin tipe akud. Bucin pada orang orang yang dicintainya. Jika sudah bucin dia mau menyerahkan segala yang dimiliki. Juga menutup mata dengan segala kekurangan orang orang itu. Itu berlaku juga untuk Clara. Sayangnya, Clara menyadari itu juga berlaku untuk keluarganya. Sekarang Clara tahu kenapa Boby sesenang itu jika dia masak camilan atau masak lauk yang dia sukai. Mirip bocah yang dimasakkan ibunya. Nungguin, icip icip padahal belum matang, dan lain lain kelakuan bocah saat dimasakkan ibunya. Perlakuan seperti itu tidak didapat Boby semasa kecilnya. Yang lebih sering diabaikan sang mama.


Kondisi papa baik, walaupun terjadi gejala stroke, namun sudah melewati masa kritis. Mungkin nanti akan ada sedikit terapi penyembuhan. Boby mencium tangan Tono dengan takzim. Orang tua itu tertidur dengan lelap. 


"Pulanglah Ma, To, biar aku dan Clara yang nunggu disini," kata Boby. Akhirnya dua orang itu pulang. Tersisa Clara dan Boby di ruangan itu. Sofa bed yang disediakan hanya cukup untuk satu orang saja. Boby memilih tidur di kursi. Duduk dekat dengan ranjang Tono. Malam hampir dini hari itu mereka terlelap dengan cepat.


Pagi hari Tono terbangun dengan kondisi yang lebih segar. Mengelus kepala Boby yang telungkup di sampingnya.


"Pagi Pa," sapa Boby yang langsung bangun.


"Pagi Bob," senyum Tono terlihat miring. Dua orang pria itu langsung menoleh pada Clara yang masih nyaman tidur. Menggeliat saja karena suara sapaan. Tono dan Boby kompak menempelkan telunjuk di bibir mereka. 

__ADS_1


"Apa yang Papa rasakan?" bisik Boby dengan suara pelan.


"Tangan Papa mati rasa Bob," bisik Tono. Hanya sedikit menggerakkan tangan kirinya.


Suster datang mengagetkan Clara. Wanita itu lupa kalau tidur di sofa bed yang sempit. Hampir terjatuh kalau Boby tidak sigap menangkapnya. Mereka bertiga termasuk suster cekikikan dengan ulah konyol Clara.


"Ini baskom dan waslap untuk mandinya. Mau saya mandikan atau mandi sendiri?" kata suster ramah.


"Terimakasih Sus. Biar saya mandikan," kata Boby. Suster pun berlalu.


"Bob, Bob, kenapa yang memandikan kamu? Papa jadi gak punya kesempatan diraba raba suster cantik," canda Tono. Clara dan Boby tertawa.


"Sehat dulu Brow, pulih dulu baru mikirin cewek cantik. Nanti Papa bisa pilih yang pakai gula apa yang asin. Mau satu bungkus atau satu toples," kata Boby ikut setengah kopling.


"Janjimu janji palsu Bob. Kalau Papa milih cewek lagi… nanti Papa gak sehat lagi karena dibacok Mamamu," jawab Tono yang membuat pagi itu menjadi ceria. Meski tangan kirinya masih sedikit kebas dan mulutnya agak susah digerakkan.


Clara membeli sarapan saat Boby memandikan Tono. Pulang membawa dua bungkus makanan dan teh hangat. Tono sudah rapi memakai baju ganti Boby yang ada di mobil. Kemarin saat masuk belum sempat dibawakan baju. Jadilah pria tua itu punya tampilan gaul. Celana jeans sobek lutut dan kaos bergambar Dragonball. Kartun kesayangan Boby.


"Wooo Papa ganteng sekali…. Sekarang Clara bingung bedain mana Papa mana suamiku," kata Clara.


"Mau gimana lagi…. Kamu ganteng juga turunan dari Papa. Master lebih ganteng dari turunannya," kata Tono sombong. 


"Tapi selera Clara tetap polisi ganteng yang bobrok, aki aki bercucu satu tidak masuk," jawab Clara. 


"Tapi Papa juga gagah lho Ra," kata Tono tidak terima.


"Iya… tapi selera Clara tetap yang bobrokan, gak bobrok gak seru," jawab Clara tanpa filter. Mereka kembali cekikikan lagi. Suasana pagi tambah seru saat Tono tidak mau makanan jatah rumah sakit. Akhirnya berbagi nasi bungkus milik Boby. Putra sulungnya itu menyuapi Tono sambil makan sendiri.


"Bob, kamu makan ayamnya tapi Papa cuma kamu kasih nasi," protes Tono pada suapan Boby. Putranya itu nyekikik saja. Memang sengaja menjahili Tono.


Dito dan Santi datang saat semua sudah beres. Boby dan Clara tergesa turun. Hari sudah beranjak. Kalau tidak bergegas bisa dipastikan mereka terlambat ngampus dan apel pagi.


"Kakak aku mandi duluan," kata Clara berlari menuju kamar mandi rumahnya yang hanya satu. Boby sigap menarik tangan Clara.

__ADS_1


"Aku ada apel pagi Poc. Kamu gak akan dihukum kalau telat, sedang aku bisa kering dijemur Revan," kata Boby berhasil menguasai kamar mandi duluan. Walaupun dengan teriakan kesal dari istrinya.


***


Tono pulang dari rumah sakit setelah tiga hari dirawat. Walaupun harus melakukan fisioterapi setelahnya. Bisnis kini dipegang Dito mengingat kondisi Tono yang sedang pemulihan. 


Clara menghadapi UAS lagi. Kini lebih banyak prakteknya. Jadilah dia sering pulang malam. Clara masuk rumah yang masih gelap gulita. Ternyata Boby juga belum pulang. Semakin kesini semakin mereka mirip orang asing yang tidur satu kamar. Satu sibuk kerja tanpa kenal waktu, satu sibuk kuliah dan kegiatan lain.


Clara masuk kamar. Dikejutkan dengan lilin dan taburan kelopak mawar diatas kasur. Boby memeluk tubuh mungilnya dari belakang. Sambil membawa lilin kecil yang tertancap pada cup cake mini.


"Happy birthday," bisik Boby pada telinganya. Clara sudah menangis haru. Ini kejutan ulang tahun romantis yang pertama dalam hidupnya. Biasanya dia abai saja dengan ulang tahunnya. Berbalik memeluk suaminya dengan sayang. 


"Make a wish dulu dong. Pegel ini bawain lilin," kata Boby.


"Aku mau kita saling ada dan saling menjaga selamanya," kata Clara sebelum meniup lilin. Boby memberikan kecupan mesra di bibirnya. Soal perlakuan romantis, Boby memang ahlinya. Dasarnya buaya darat juga.


Mereka makan di kamar dengan suasana lilin. Lampu sengaja tidak dinyalakan.


"Mana kadoku?" tagih Clara.


"Ada, selesaikan makanmu dulu," jawab Boby sambil nyengir. Clara langsung curiga. Cengiran Boby seperti ini adalah nyengir mesum. Kadonya pasti gak jauh jauh dari 'itu'.


Benar saja, saat selesai makan Boby memberikan kotak sedang untuk Clara. Isinya baju kurang bahan yang sangat transparan.


"Astaga… kado macam apa ini!!" pekik Clara kaget.


"Ini kado untuk kesenangan bersama," kata Boby gembira. Menyuruh Pocik memakainya. Wanita itu menurut saja. Memakai baju itu di bawah tatapan Boby. Menggoda suaminya dengan gerakan lambat yang membuat Boby panas dingin.


"Kamu mulai nakal ya," kata Boby sudah sambil melongo.


"Kamu yang ngajarin," jawab Clara sambil duduk dipangkuan Boby. Sudah pakai baju merah transparan. Merasakan benda keras milik Boby dibawah sana.


"Ini buat apa?" tanya Clara bingung. Ada pita pink kecil juga di kotak itu. Boby tersenyum.

__ADS_1


"Ini buat ini," kata Boby sambil melepas celananya. Memasangkan pita pink kecil itu pada leher perkututnya. Clara langsung melongo. Tertawa sambil menutup matanya. Tidak sanggup melihat kegilaan suaminya.


"Gimana??? Udah cakep belum buat kado??" tanya Boby sebelum melakukan aksi iya iya.


__ADS_2