
Hari bergulir…. Waktu kian beranjak. Ternyata sudah setengah tahun saja pernikahan Boby dan Clara. Hinaan dan cacian mampir deras karena Clara yang belum juga hamil. Padahal mereka tidak tahu kalau Clara sengaja menundanya. Termasuk datang dari ibu mertua yang sok menginginkan cucu. Padahal jalur mengatai menantunya yang satu itu mandul. Hubungan Clara dan Santi memang sangat menjauh. Clara sengaja menjauh demi terciptanya hubungan yang 'baik baik saja' daripada dekat kian berseteru. Boby mendukung alasan Clara menjauh. Tidak memaksa harus dekat dan akrab dengan mamanya. Yang penting sebulan sekali berkunjung saja. Siapa tahu lama lama mereka akrab.
Boby sedang menikmati sarapan masakan Clara. Entah mengapa masakan istrinya itu semakin enak di lidahnya.
"Kak sanggulku udah bener belum?" tanya Clara yang ribet dengan baju pink cerahnya. Hari ini dia akan mendampingi Boby menerima pangkat barunya.
"Udah, kamu udah cantik," jawab Boby cuma melirik sekilas. Fokus lagi dengan piringnya.
"Kakak iihhh, dilihat dulu dong!!" kata Clara mulai kesal. Boby kembali melihat ke arah Clara. Wanita itu berbalik. Sanggulnya sudah rapi sekali.
"Sudah cantik Sayang. Sini sarapan dulu," ajak Boby. Clara manut duduk di samping Boby. Makan sarapannya dengan tenang. Kemudian mereka berangkat ke kantor. Boby hanya memakai baju putih dengan dasi merah dan celana kain hitam. Tidak memakai setelan seragam polisi lengkap. Pangkatnya akan naik menjadi Briptu.
Usai upacara Clara dan Boby cus pulang. Rencananya mereka mau berlibur sejenak. Mumpung Boby bisa rehat dari aktivitasnya. Pulang, ganti baju, berkemas kemudian cuss staycations.
Saat akan berangkat, hp Boby berbunyi nyaring. Telepon dari Dito. Memintanya ketemu sejenak. Boby menyanggupinya. Membawa Clara ikut serta. Mungkin akan berbicara sesuatu sebentar. Siapa sangka kabar yang dibawa Dito membuat mereka kepikiran.
"Maksudmu papa bangkrut?" tanya Boby tidak percaya. Clara menggenggam tangan Boby dibawah meja. Tangan yang bergetar dan berkeringat. Dito mengangguk.
"Aku sudah berusaha menanganinya Mas, tapi biaya berobat papa yang tanpa jaminan kesehatan apapun dan segala jenis kebutuhan rumah tidak menutup. Sekarang kami bingung menggaji karyawan toko, rumah, dan cicilan hutang bulan ini. Depcolector sudah sering menelpon," kata Dito lemas.
"Apa tidak ada aset beku? Perhiasan contoh simpelnya?? Ini masalah gaji. Jangan biarkan mereka yang lelah membantu kita tidak segera memperoleh haknya," kata Clara nimbrung. Dito langsung menatap tidak suka pada kakak iparnya itu.
"Hehehe… maaf aku hanya berkomentar," kata Clara tahu diri. Tahu diri kalau dia bukan anggota keluarga yang pantas dimintai pendapat.
"Istriku benar To, apa tidak ada aset yang bisa dijual dulu?" tanya Boby serius. Dito menggeleng.
"Perhiasan milik anggota keluarga dirumah adalah hak mereka (para wanita), Mas. Papa melarangku meminta. Mobil juga dipakai untuk kuliah Jesi dan kebutuhan Ayuna kalau minta jalan jalan. Kasihan masak harus panas panasan," kata Dito menjelaskan.
Hening….
__ADS_1
Entah mengapa Clara merasa penjelasan terakhir terdengar lebay. Namanya suami istri… dalam suka dan duka. Masak iya suami kesulitan istri tidak bantu. Walaupun hal kecil menjual perhiasan mereka. Masalah kuliah juga. Dia justru sering kuliah pakai motor. Sejak bayi juga terbiasa panas panasan naik motor dibonceng sana sini naik motor.
"Jual saja mobilku," kata Boby mengejutkan Clara.
"Aku… juga ambil pinjaman untuk pernikahan. Sampai sekarang belum lunas. Tabunganku dulu belum cukup untuk menikahi Pocik. Dia saja hanya aku gaji satu juta per bulan," kata Boby jujur. Clara merasa haru dengan suaminya. Tahu betul betapa malunya Boby saat menyerahkan nafkah tiap bulannya. Selalu meminta maaf dan meminta Clara bersabar. Tak lupa berterima kasih untuk hidup yang layak hasil kerja keras Clara sendiri.
"Apa Mas bawa bpkbnya?" tanya Dito antusias. Clara langsung melorot horor pada Dito. Sama sekali tidak memikirkan perasaan Boby. Mobil itu dibeli Boby dari kerja kerasnya sebagai polisi di awal karir. Bisa dibilang mobil itu pencapaian Boby selama bekerja.
"Tidak, ada dirumah kita. Aku bisa mengambilnya," kata Boby sambil beranjak. Clara ikut berdiri.
"Kamu disini dulu Poc, aku bisa mengambilnya sendiri," kata Boby. Clara menggeleng.
"Aku temani kamu dimanapun. Dalam suka dan duka," kata Clara tegas.
Berdua mereka mengambil bpkb mobil yang mereka tumpangi balik kerumah. Boby sempat mengelus sayang mobil itu. Clara tahu kesedihan di mata Boby. Sebuah pencapaian yang direnggut paksa.
"Aku menyesal terlalu boros Poc. Andai aku tidak boros dulu, aku bisa membeli aset lain selain mobil. Tidak perlu berhutang saat menikah. Bisa membantu papa lebih dari mobil ini juga. Sekarang monumen penghasilanku satu satunya terjual. Kerja kerasku benar benar tidak terlihat," kata Boby sambil tersenyum getir. Clara mendekat. Berjinjit untuk bisa melingkarkan tangan di leher suaminya. Mencium bibir Boby dengan mesra.
"Selanjutnya aku monumen keberhasilanmu. Aku… dan anak anak kita kelak," hibur Clara. Boby tersenyum ceria kembali.
Mereka berangkat dengan dua mobil. Mobil Boby ditinggal di toko besi milik Tono. Clara tetap mau staycations. Berdua mereka tetap menuju Selo. Kota diatas ketinggian. Yang terapit diantara gunung Merapi dan Merbabu.
"Siyap??" tanya Clara pada Boby yang memegang stir mobil.
"Tentu saja," jawab Boby ceria. Kepergian mereka di antar oleh tatapan iri dari Dito. Iri dengan keberhasilan pasangan baru itu. Mereka tetap bisa enak enakan staycations, sedang dia pusing mikirin bisnis. Hah, lihat saja!! Mereka akan merasakan sengsara nanti. Batin Dito dalam hati.
Sementara itu di dalam mobil pink milik Clara.
"Kak,"
__ADS_1
"Hummm,"
"Apa bedanya bego sama kamu?" tanya Clara. Boby melirik sekilas.
"Jelas beda lah…. Aku Boby si manusia tampan. Bego cuma alat keruk tanah," jawab Boby.
"Hampir benar."
"Trus?" tanya Boby antusias. Tahu benar kalau Pociknya mau ngegombal.
"Kalau bego pengeruk tanah, kalau kamu pengeruk hatiku….. ea ea ea," jawab Clara sambil menoel dagu Boby. Pria itu tertawa ngakak.
"Lalu apa bedanya kamu sama mantan mantanku?" tanya Boby balik.
"Jelas beda lah!!! Aku masih perawan bahkan saat sudah berstatus janda!!! Sedang mereka kamu perawani saat masih berstatus gadis!!!" jawab Clara berapi api. Selalu sewot dan tegangan tinggi mirip sutet kalau membahas mantan Boby yang sudah dilubangi semua.
"Salah," jawab Boby santai. Tidak peduli istrinya sudah berapi api.
"Trusss!!!" jawab Clara tidak sabaran.
"Kalau mantan hanya dermaga persinggahan. Kalau kamu adalah pelabuhan terakhirku. Tempatku nyaman berkeluh kesah. Tempatku pulang dan tidur. Setelah banyak mengarungi badai kehidupan di tengah lautan. Kamu adalah pujaan. Cinta yang akan ku usahakan, untuk selalu bersama sampai tua," gombal Boby sambil mencium tangan Pocik. Pipi wanita disampingnya langsung bersemu merah. Clara mencium pipi Boby sekilas.
"Ah, jadi pujangga dadakan cuma dapat ciuman di pipi," sungut Boby sambil memanyunkan bibirnya. Kebiasaannya kalau sedang tidak suka.
"Trus apa?" tanya Clara heran. Boby membelokkan mobil ke parkiran sebuah Mall yang kebetulan mereka lewati. Mencari tempat parkir di sudut paling gelap dan sepi.
"Kakak mau makan?" tanya Clara heran.
"Iya, mau makan kamu," jawab Boby sambil mencium Bibir Clara.
__ADS_1