Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Malam tahun baru


__ADS_3

Mereka sampai kembali ke vila disambut Revan yang duduk santai sambil ngopi. Matanya fokus melihat hp. Nando langsung melepas pelukannya dari pundak Ine. Yang lain mesem mesem melihatnya. Ine terlihat sedikit kecewa.


"Mana Putri?" tanya Ine mengalihkan perhatian Revan dari gawai.


"Dirumah, aku bilang ada tugas," kata Revan sambil nyengir. Anak buahnya kompak geleng geleng kepala. Revan memang sangat tertutup tentang Putri. Menyembunyikan wanita yang dia cintai dengan begitu rapat. Dari manapun, termasuk dari pergaulannya sendiri di kantor.


"Padahal gak akan keanginan lho kalau kamu ajak. Kasihan ih, tahun baru disuruh dirumah sendirian," komentar Ine.


"Dia bisa sama Bapak atau keluarganya," jawab Revan.


Tim narkoba itu mampir di sebuah rumah makan. Untuk makan siang. Boby ditodong teman temannya suruh traktir.


"Ow, jadi ini maksud kamu," kata Clara pada Ine.


"Iya dong… masak iya dia bahagia kita gak kebagian," kata Ine santai.


Rumah makan bertema keluarga itu menyediakan live music. Clara tidak menyangka bila orang orang dalam rombongannya itu suka berjoget. Terjadilah sawer nyawer dengan penyanyi dan joget dengan asyik.


"Gak ikut joget?" tanya Clara pada Boby yang anteng di sampingnya. Boby menggeleng malu. Sebenarnya mau, tapi gak berani karena ada Pocik.


"Ikut joget gak papa kok, aku gak marah," kata Clara. Boby tetap menggeleng. 


"Aku juga suka joget, tapi gak mau joget kalau ada kamu. Malu," jawab Boby sambil mengecup tangan Pocik. Clara tertawa.


"Berjanjilah satu hal padaku Poc," kata Boby masih menggenggam tangan Pocik.


"Apa?" tanya Clara.


"Aku mau keterbukaan sebuah hubungan. Aku mau kejujuran. Sedihmu, sakitmu, bahagiamu. Ceritakan padaku semua. Seperti kamu yang mau menerimaku apa adanya. Aku akan menerima dan menanggung semua sedih dan bahagia bersama kamu," kata Boby serius. Clara hanya mengangguk. Kembali memandang teman teman Boby yang berjoget minus Ine. Gadis itu asyik dengan game online di hpnya. Bagaimana kalau penyebab kesedihanku mamamu? Tanya Clara dalam batin.


Mereka menghabiskan waktu di tempat itu. Mengunjungi banyak objek wisata sampai malam. Clara semakin dekat dengan para anggota tim. Juga tahu bagaimana kedekatan Revan dan Ine.

__ADS_1


"Van aku capek," kata Ine sambil menghentak hentakkan kakinya. Mereka sedang menyusuri jalanan kayu di kawah sikidang. Perjalanan memang panjang. Jalan kaki yang lumayan membuat lelah.


"Ya udah istirahat sebentar. Kalian duluan," kata Revan.


"Gendong," kata Ine tanpa ragu nemplok di punggung Revan.


"Haih… manja!! Kamu pikir tubuhmu ini masih ringan? Kamu bukan bocah SD lagi. Cari pacar sana biar ada yang menggantikan tugas beratku," omel Revan tapi tetap menggendong Ine. Berjalan lebih dulu dari yang lain. Ine tertawa ngakak. Mereka terlibat pembicaraan seru berdua. Dengan Ine yang nemplok dipunggung Revan tanpa rasa bersalah. Seperti masa kecil mereka dulu. Ine selalu minta gendong di segala situasi sama kakaknya itu.


Nando menatap nanar. Mau apa dia? Mengakui Ine sebagai pacar juga gak berani.


"Ine pasti menunggu keberanianmu Mas," kata Clara.


"Tapi… minimal aku akan babak belur dulu Mbak. Kemudian dipindah tugaskan entah dimana kalau Revan tidak menyetujui," kata Nando tidak percaya diri. 


"Dia tidak sekejam itu," sahut Boby.


"Tapi bisa lebih kejam dari itu hahahaha," lanjut Jon sambil ngakak ngakak. Mereka semua ikut tertawa.


***


Baru saja istrinya minta dana arisan. Padahal notif dari m bankingnya baru saja berbunyi. Boby minta uang untuk ngajak makan makan temannya. Katanya syukuran habis melamar Clara. Haaahhh… lamaran??? Sebentar lagi anak itu pasti minta nikah. Biaya nikah Boby, kebutuhan Ayuna, dan biaya masuk universitas Jesi…… belum terjadi, tapi Tono sudah mengurut keningnya. Usahanya memang sudah jalan. Keuntungannya juga besar, tapi kebutuhannya luarrrr biasa besar.


Tono pulang dengan lesu. Santi mendekat dengan cepat.


"Pa, jangan lupa uang arisan mama ya," kata Santi mengingatkan. Tono membuka hpnya. Mengirim sejumlah uang ke rekening istrinya.


"Sudah Ma," kata Tono sambil menunjukkan bukti transfer. Santi tersenyum senang mencium pipi Tono.


"Boby ada tugas ya? Semalam gak pulang. Sampai sore gini juga gak pulang," kata Santi.


"Boby staycation sama teman temannya. Sama Clara juga. Katanya mau ngelamar Clara di puncak sikunir," jawab Tono. Santi diam saja meski tidak suka dengan kata 'ngelamar'.

__ADS_1


"Ma, bolehkah Papa minta tolong sama Mama?" tanya Tono sambil menggenggam wanita yang dicintai hampir separuh hidupnya itu. Tono menjelaskan kondisi keuangan keluarga. Dan meminta istrinya untuk tidak ikut arisan lagi. Juga membujuk Jesi untuk mau mengundur kuliahnya.


"Papa tega ih, Jesi kan juga mau kuliah sama kaya Mbak Clara," ucap Jesi sambil membawa dua cangkir teh hangat untuk mertuanya. Menantunya itu ternyata mencuri dengar.


"Iya, tapi diundur tahun ajaran depan saja ya Jes," nego Tono. Pria tua itu sudah menganggap Jesi anaknya sendiri. Bagi Tono tidak masalah siapapun yang dicintai anaknya. Dia juga akan mencintainya sama besar.


"Masih enam bulan lagi daftar kuliah Pap, kalau papa gak mau biayain Jesi minta ortu Jesi saja," kata Jesi berlalu. Menghentak hentakkan kakinya kasar. Tahu benar kalau mertua lelakinya tidak ingin besannya terlibat urusan uang. Bagi Tono anak lelakinya yang harus bertanggung jawab penuh untuk Jesi setelah menikahinya. Sementara Dito belum bisa, maka tanggung jawab itu ada di pundaknya.


"Papa ih, malu kalau sampai Jesi minta uang sama orang tuanya," kata Santi. Yang memang memiliki sifat gengsi tinggi. Tono menghembuskan nafas kasar.


"Ya sudah bilang sama Jesi cari kampus yang murah aja," kata Tono menyerah.


***


Malam pergantian tahun akan tiba. Tim narkoba itu merayakan diatas ketinggian Dieng. Ditemani kabut dan hawa sejuk dingin. Mereka berpindah dari Villa. Memilih menyewa tenda di tepi danau. Revan datang bersama Beri. Membawa satu krat bir merek ternama. Juga bahan dan satu set alat bakaran yang disewa di daerah situ. 


"Pak Revan, kalau gila gak tanggung tanggung," kata Jon sambil gekeng geleng kepala.


"Juragan mebel gitu lho," sahut Ine.


"Yang juragan bapakku," jawab Revan singkat.


"Iya, tapi kamu dapat hasilnya tanpa bekerja," jawab Ine. Revan hanya nyengir. 


Menikmati malam tahun baru. Diatas ketinggian dengan barbekyu dan canda tawa. Clara tidak pernah bermimpi untuk menikmatinya. Apalagi ada Boby disampingnya. Pria yang jelas jelas begitu mencintainya. Clara bersandar pada lengan Boby. Bersyukur atas apa yang sedang dinikmati hari ini.


"Dingin?" tanya Boby sambil menciumi topi hangat Clara.


"Enggak, aku bahagia….," kata Clara.


"Woi sini ikut main," kata Beri. Mereka akan main truth or dare.

__ADS_1


__ADS_2