
Sementara itu Clara pulang kerumah Daus sudah tidur dengan Sus Wiwik. Dia ditunggu pulang sama Mbak Jiah.
"Mas Tama belum pulang?" tanya Clara.
"Belum Bu, bapak belum pulang. Tadi sempat telpon ke rumah bilang kalau pulang besok. Soalnya hp Ibu mati katanya," jawab Mbak Jiah. Clara melihat hpnya. Benar saja. Untung bisa sampai rumah tadi. Bisa pesan ojek sampai butik dan pulang dengan motornya sendiri. Sekilas wajah Boby memenuhi pikirannya. Hah!!! Tidak!!! Clara tidak minat selingkuh atau hal hal lain yang coba ditawarkan Boby dengan halus tadi. Apalagi Tama sudah berubah dan berjanji mencintainya. Sedikit lagi mencapai keluarga sakinah. Kenapa harus ia hancurkan? Konyol bukan?
"Ya udah tidur sana Mbak. Selamat malam," kata Clara sambil menuju kamarnya.
"Malam juga Bu," balas Mbak Jiah.
***
Hari baru tiba. Sampai Clara pulang kerja, ternyata Tama belum pulang juga. Gadis itu mulai risau. Apalagi pesan pesan yang dikirim hanya terabaikan saja. Bahkan ada yang tidak terkirim.
"Bapak ada telpon ke rumah gak?" tanya Clara pada Sus Wiwik yang lagi main sama Daus.
"Enggak Bu, kita malah mau nanya ke Ibu ada kabar dari bapak enggak. Soalnya tadi anak buah di bengkel bapak kesini. Kayaknya nanyain pekerjaan," jawab Sus Wiwik. Clara langsung mengambil hpnya. Mencoba menghubungi Tama. Nihil… hp Tama mati. Clara mencoba menghubungi Mbak Nina baru dering pertama bell rumah mereka berbunyi.
"Daus, Mama…." suara Tama. Clara langsung mematikan panggilan berlari menuju gerbang.
"Mas Tama!!! Bikin khawatir saja!! Kenapa gak kasih kabar? Kenapa hpnya mati? Hampir aku mau menghubungi Mbak Nina. Siapa tahu kamu pulang kerumah ibu," cerocos Clara tanpa henti. Tama cuma tersenyum. Memeluk Clara dengan satu tangan. Mengacak acak rambut Clara dengan gemas.
"Maaf yaa… hp ku habis batre, casku ketinggalan di… hotel, jadi mati deh," kata Tama memandang Clara dengan intens. Sedetik dia merindukan gadis ceria ini. Detik berikutnya wajah Citra kembali melintas.
"Kamu baik kan? Apa kamu nakal selama aku tinggal?" tanya Tama lagi, seolah khawatir dengan apa yang dilakukan Clara saat dia pergi.
"Emangnya aku bocah. Bahasamu nakal," jawab Clara sambil menabok lengan Tama. Mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Hp Clara berbunyi. Telpon dari Mbak Nina.
"Halo Mbak," jawab Clara ceria.
"Ada apa telpon Ra? Belum diangkat, malah dimatiin," suara Mbak Nina di sebrang sana.
"Enggak apa apa Mbak, tadi mau nanyain Mas Tama. Ketlisut seharian, tak pikir pulang ke rumah ibunya," jelas Clara. Nina tertawa di ujung sana.
"Bahasamu ketlisut. Kaya barang aja. Eh, sekitar seminggu lagi kita ngadain pengajian buat peringatan kematian bapak. Kamu dua atau sehari sebelumnya kesini ya. Sekali kali lah cuci piring disini. Nanti aku mau jadi kakak ipar yang kejam," kata Nina sambil cekikikan.
"Boleh, aku nanti bawakan oleh oleh rujak pakai apotas. Biar mati semua trus warisannya buat aku. Gak sulit akting nangis sehari dua hari," jawab Clara. Nina semakin tertawa ngakak. Adik iparnya ini emang asik. Mereka dekat walau hanya berkomunikasi lewat hp. Ada saja yang jadi bahan candaan dengan Clara. Membuat Nina tak bosan berchating dengan Clara.
"Dasar adik ipar gak ada akhlaq! Inget datang sebelum hari H yaa. Kita rewangan. Jangan terima beres doang kamu," kata Nina.
"Woke Mbak, aku bawa orang serumah nanti, tapi gak janji bantu banyak. Aku gak bisa masak," kata Clara mengakhiri panggilannya.
"Kok pulangnya jadi telat Mas?" tanya Clara membuka percakapan.
"Urusannya agak jadi panjang," jawab Tama singkat. Pikirannya langsung melayang pada orang yang berhasil dia temukan.
Citra…..
Ya, selama ini Tama mencari keberadaan gadisnya itu. Berhasil. Citra ditemukan oleh orang suruhannya di sebuah kamar kost sederhana di ibu kota. Berdua hidup dengan anak pertamanya. Bertahan hidup dengan menjadi tukang cuci piring di sebuah restoran. Dan kemarin mereka bertemu. Harusnya Tama hanya melihatnya. Janjinya pada diri sendiri adalah melihat saja. Memastikan Citra baik baik saja. Kemudian kembali bersama Clara. Mencoba mencintai Clara seperti janjinya.
Flash back on…..
"Citra," sapa Tama saat wanita itu selesai bekerja. Citra membeku di tempatnya. Segera mengambil langkah lebar menghindari Tama. Walau hatinya dipenuhi desiran kerinduan dan pandangannya mengabur oleh air mata.
__ADS_1
Tama membeku di tempat. Tahu Citra menghindarinya. Tahu dia diabaikan. Sekilas senyuman Clara membayang. Harusnya ia melangkah pergi dan meninggalkan ibu kota. Nyatanya kakinya justru melangkah ke dalam mobil. Menghalangi langkah Citra menuju kost kumuh di belakang resto.
"Masuk! Aku mau bicara!" kata Tama menyeret Citra masuk kedalam mobilnya.
Nyatanya pertemuan itu membuat mereka menuntaskan rindu yang masih sama membaranya. Yang masih sama kuatnya. Tama kembali merengkuh Citra dalam dekapan erat. Ac hotel yang sudah dingin tidak mampu mendinginkan tubuh mereka yang baru sama terbakarnya karena aktivitas cinta barusan.
"Aku mau pulang Mas, kasihan Ferdi menunggu," kata Citra berusaha melepaskan tangan Tama dari pinggangnya.
"Tunggu sebentar… lima atau sepuluh menit saja. Diam disini dalam pelukanku," kata Tama.
Citra justru bergerak lebih kuat.
"Kita buruk Mas. Lagi lagi berdosa. Apa lagi kamu sudah menikah. Kasihan istrimu," kata Citra sendu. Memakai pakaiannya dengan terburu. Tama bengong melihatnya. Ah, benar…. Dia buruk sekali.
Akan tetapi lagi lagi cinta yang menancap kuat membuat Tama enggan pergi dari ibu kota. Esoknya dia melangkah dalam kost petak Citra. Memperkenalkan diri pada Ferdi sebagai pakde. Mengajak ibu dan anak itu jalan jalan. Bersenang senang senang layaknya keluarga utuh.
"Aku pamit pulang. Kamu baik baik disini Cit," kata Tama sambil membelai rambut hitam Citra.
"Jangan datang lagi," kata Citra yang dia ucapkan setengah hati, karena hari bersama Tama adalah hari terbahagia dalam hidupnya. Akan tetapi Citra sadar pria dihadapannya ini sudah beristri. Ini sangat tidak adil untuk istrinya. Tama tersenyum dan melambai pergi pada Citra.
Flashback off…
Tangan Clara mencoba jalan jalan didada Tama. Mencoba lebih berani. Sentuhan godaan agar mereka bisa lebih mesra. Tama menoleh ke arahnya. Dari wajahnya jelas merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Clara. Bahkan jijik.
"Aku mau tidur," kata Tama beranjak dari sisi Clara begitu saja. Menepis tangan Clara dengan kasar. Clara menatap kepergian Tama dengan nanar…. Salahkah dia? Kenapa suaminya kembali seperti itu? Padahal semua mendekat dengan baik akhir akhir ini. Clara mencoba kembali tegar. Mengusap titik titik bening yang mulai membasahi matanya tanpa permisi. Kemudian mematikan tv menuju kamarnya sendiri.
Tama mengintip lewat celah pintu. Membuka sedikit celah agar matanya dapat mengawasi Clara. Melihat Clara berlalu dengan isakan kecil yang berusaha ditahan. Sungguh dia merasa berdosa dengan gadis itu. Dia adalah istri sah Tama. Berusaha lebih intim adalah usahanya. Tidak ada yang salah. Akan tetapi bertemu dengan Citra membuat rencananya mencoba mencintai Clara menjadi porak poranda. Huft..... Tama pusing. Mengacak rambutnya sendiri sebelum pergi tidur.
__ADS_1