Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Merelakan


__ADS_3

Serangkaian acara peringatan kematian usai. Clara sampai terheran heran sendiri. Kalau di rumahnya upacara peringatan kematian hanya sekedar bagi bagi nasi box, kemudian malamnya ngaji. Itu pun yang diundang hanya keluarga dekat. Lha di kampung Tama semua orang di undang. Bagi bagi nasi boxnya juga bukan cuma se RT, tapi sekampung. Pengajiannya juga sekampung. Clara terheran heran sendiri dengan tradisi ini.


Minggu hampir tengah malam Clara dan rombongan sampai di rumah. Muka muka lelah tergambar nyata. Clara langsung ambruk di tempat tidurnya setelah mandi dan ganti daster. Suara ketukan terdengar dari pintu.


"Ma, Papa boleh masuk?" tanya Tama. Clara langsung menghela nafas sebal.


"Gak, aku mau tidur. Capek," kata Clara ketus. Hubungan mereka sangat menjauh. Lebih tepatnya Clara mengacuhkan Tama pol polan. Saat Clara sudah jatuh ke alam mimpi, tiba tiba ada tangan melingkar di perutnya.


"Aku udah kebiasaan tidur meluk kamu," bisik Tama saat Clara mengerjap kaget. Dengan malas Clara bangkit sambil membawa guling. Menuju kamar Daus dan tidur disana dengan nyaman.


***


Esoknya semua orang bangun dalam keadaan lelah. Bahkan Daus tidak nyenyak tidurnya. Terus bergerak dan rewel.


"Sus, nanti bawa Daus ke SPA bayi ya," kata Clara saat sarapan. Mukanya terlihat lelah dan kurang tidur, karena semalam tidur dengan Daus.


"Kalau capek jangan masuk kerja dulu,” kata Tama sambil melihat muka Clara intens. Clara cuma mengabaikannya, kemudian pamit kerja seperti biasanya. Tama mencuri satu ciuman kecil di pipi Clara. 


“Cieee yang liburan lama,” kata Maya saat melihat Clara.


“Liburan apanya Mbak, aku rewang yoo di peringatan kematian bapak mertua,” kata Clara sambil mulai melihat daftar kerjaannya.


“Rewang sampai dua hari?” tanya Maya heran. 


“Iya mbak, heboh kaya mantu,” jawab Clara. Kemudian mereka asyik bercerita tentang pengalaman Clara rewang sambil bekerja. Bu Nir menanggapi sesekali. 

__ADS_1


Siang menjelang. Ada ojol datang membawa buket bunga besar. Penghuni butik jadi heboh sendiri.


"Buat kamu Ra," kata Maya. Clara kepo dan membuka kartu ucapan.


'Buat Mama cantik. Maafin Papa yaa…' Maya langsung heboh sama Bu Nir.


"Suamimu romantis sekali Ra," komentar Bu Nir takjub. Clara senyum senyum dan meletakkan bunga itu di sudut ruangan. Hatinya cukup berbunga dengan permintaan maaf yang romantis seperti itu. Tidak menyangka juga Tama bisa romantis.


Boby datang lebih awal dari jam dia ngelatih anak anak karate. Sudah pakai baju karate lengkap cuma ditutup jaket. Nyelonong masuk butik dengan pedenya.


"Halo selamat sore semua…. Gimana bajuku udah jadi belum?" tanya Boby sambil nyender nyender didepan pintu.


"Tutup pintunya Bob, kamu bikin acnya gak dingin kalau dibuka terus," kata Maya. Boby mencebik dan berjalan di sofa sudut ruangan. Matanya sempat melirik Clara yang cuek saja. Mereka saling lirik sekilas.


"Jodoh ditangan Tuhan May. Kalau mau tahu kapan aku nikah, tanya aja sama Tuhan. Kalau pingin cepet dijawab ketemu aja sama Tuhan. Noh… telentang di atas rel kereta. Yakin langsung ketemu Tuhan saat keretanya lewat," jawab Boby santai. Membuat tiga wanita di butik itu nyekikik. Termasuk Clara.


"Inspirasi buat yang ditanya tanya kapan nikah sama sodara," komentar Bu Nir.


Boby minta sedikit perubahan di bagian badan.


"Kurang kecil, aku jadi kaya bapak bapak bodyku yang macho ini gak kelihatan," kata Boby sambil mematut diri dicermin. Maya dengan sabar menanggapi dan mencatat keinginan Boby. Pria itu kemudian berjalan kesudut ruangan.


"Ada bunga nih," kata Boby sambil membaca kartu ucapan. Clara melirik saja. Bu Nir bilang kalau bunga itu dari suami Clara.


"Wooowww sepertinya habis melakukan kesalahan besar sampai minta maaf dengan cara seperti ini," komentar Boby dengan muka masam. Clara cuma diam tidak menanggapi. Sambil  terus bekerja menjahit kemeja yang sudah di oberasnya lebih dulu. Sadar tidak dapat tanggapan, Boby kemudian berlalu nyelonong begitu aja keluar butik.

__ADS_1


Cemburu….. Boby cemburu dengan suami Clara. Haaa memang siapa dia? Gadisnya itu memang udah jadi suami orang. Selayaknya romantis dengan suami sendiri….. tapi… kesalahan apa yang dilakukan? Sampai harus minta maaf dengan cara seperti itu? Apa kesalahan itu menyakiti Pocik? Apa Pocik terluka hatinya??? Sekilas Boby menoleh kedalam butik. Melihat Pocik yang sedang sibuk dengan mesin jahit. 


'Tuhan, jaga segala yang ada pada dirinya. Hatinya, jiwa dan raganya, karena aku tak mampu mendekapnya saat dia menangis dan ikut tertawa saat dia bahagia.' Ucap Boby dalam hati. Dia menghembuskan nafas beberapa kali. Menenangkan hatinya yang langsung berubah galau.


***


Clara dapat pesan dari Tama. Memintanya untuk pulang cepat. Clara menyanggupinya. Badanya juga lelah luar biasa. Siap tahu Tama menyiapkan kejutan lain. Pria itu menjemput Clara. Bahkan datang sebelum jam kerja Clara berakhir. Boby langsung muka jutek saat melihat siapa yang turun dari mobil. Konsentrasinya mengajar karate terpecah seketika.


"Sore Bu, saya Tama suami Clara," kata Tama memperkenalkan diri pada Bu Nir.


"Wow, ini suaminya. Senang ketemu sama kamu Mas. Mau jemput Clara? Tunggu sebentar ya kami lagi beres beres mau tutup," kata Bu Nir ramah. Clara terheran sendiri kenapa Tama datang. Padahal dia bawa motor sendiri tadi saat berangkat.


"Kenapa kesini?" tanya Clara saat mereka sudah diluar Butik.


"Jemput kamu. Motornya ditinggal disini dulu. Aku mau ajak kamu kesuatu tempat," kata Tama sambil merangkul pinggang Clara.


"Another surprise," bisik Tama ditelinga Clara. Membuat mata gadis itu berbinar dengan cantiknya.


"wow wow wow," jawab Clara semangat. Sambil memeluk buket bunga dari Tama siang tadi. Cewek mana yang gak suka dikasih surprise??? Mereka beriringan menuju mobil. Sekilas Tama melirik Boby yang terus memperhatikan mereka. Tersenyum dengan sombong. Pamer kalau dia emang suami Clara dan pasangan bahagia. Haaa Tama benar benar tidak suka dengan mantan Clara itu. Sedikit terkejut saat tahu bahwa mereka bertemu di tempat kerja. Sepertinya Tama harus mempertimbangkan mengizinkan Clara bekerja di tempat ini.


Boby menatap mobil Tama yang berlalu. Lagi lagi sesak menguasai dadanya. Sekali lagi mencoba merelakan. Walau hatinya begitu perih dan sakit.


"well.... Dia udah bahagia," gumam Boby seorang diri. Kemudian melanjutkan mengajar jurus pada bocah bocah kecil itu.


"Tendang! Siku! Kuda kuda yang kuat. Jangan goyah kaya emak emak lihat diskonan sembako!!" teriak Boby sambil mengecek kuda kuda anak didiknya.

__ADS_1


__ADS_2