Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Clara manusia kurang ajar


__ADS_3

Setahun berlalu….


Jasmine sudah bisa berjalan bahkan lari, walaupun tanpa rem. Pertumbuhan gadis kecil itu memang terhitung cepat. Meski dia memiliki badan gemoy. Struktur wajahnya dan sifatnya mirip Boby. Cuma rambutnya yang mirip Clara.


Hari ini mereka pulang ke Solo. Mengendarai mobil butut yang berhasil mereka beli dari hasil menabung. Selalu menerapkan setengah setengah. Setengah hari di rumah Boby, setengah hari di rumah Clara. Kemudian cuss pulang ke Jogja.


Boby disambut Santi dengan ramah. Hanya Boby. Tidak dengan Clara dan Jasmine. Walaupun tetap akting jadi nenek yang baik. Karena Pak Lik dan Bu Lik Boby kebetulan bertamu ke rumah Santi.


"Halo cucu nenek. Wah, kalungnya baru ini," akting Santi didepan semua orang. Menengadahkan tangan mau menggendong Jasmine. Meskipun matanya terlihat iri melihat kalung emas cucunya sendiri. Jasmine justru menangis dalam pelukan Clara. Melengos gak mau lihat Santi.


"Mungkin Dira gak mau kalau orang yang nyapa gak tulus," kata Clara seenak udelnya. Jasmine emang selalu gak mau dekat dekat Santi. Tidak minat sama sekali dengan neneknya yang itu. Padahal neneknya sudah akting jadi nenek yang baik.


Clara bangun siang di rumah Boby. Menuju dapur berniat pipis. Belum ada nasi apalagi lauk. Bahkan belum ada manusia yang bangun. Cucian piring menggunung. Padahal ini sudah jam setengah delapan. Clara dengan santainya melewati onggokan cucian piring yang berbau itu. Entah sudah berapa lama tidak dicuci. Ogah mengerjakan pekerjaan rumah dirumah itu. Padahal itu makanannya hari hari di Jogja. Pekerjaan rumah dan segala kerempongan mengurus Jasmine. Boby melarangnya bekerja. Memintanya fokus pada rumah dan Jasmine saja.


Clara keluar dari kamar mandi melihat Jesi dengan muka kusutnya mencuci piring. Sekarang wanita itu bekerja sebagai pembantu MUA.


"Yang bersih yaa," sapa Clara santai.


"Bersih lah…. Disini selalu aku yang nyuci piring. Bukan cuma cuci piring. Semua pekerjaan rumah aku yang handel. Mama cuma rebahan tiap harinya," kata Jesi memulai sesi sambatnya sama Clara.


"Yaa disuruh, namanya juga tinggal bersama. Bukannya kamu mantu kesayangannya?" jawab Clara santai. Meneguk air putih dari galon dengan santai.


"Mana mau disuruh! Kamu tahu sendiri wataknya. Kesayangan apanya!! Kami sering perang dingin Mbak!! Sekarang biaya operasional rumah ini aku yang tanggung. Jumlahnya bisa sejuta lebih Mbak," kata Jesi. Clara tersenyum mengejek.


"Ya wajarlah. Yang hidup di sini juga kamu dan keluargamu. Biaya hidup disini lebih murah Jes. Kalau di Jogja satu juta gak cukup buat sebulan," kata Clara kemudian berlalu. Bodo amat dengan Jesi. Membangunkan Boby dan Jasmine. Berniat sarapan soto bertiga di waduk dekat sini.


Clara bercerita tentang keluh kesah Jesi pada Boby.


"Aku gak nyangka lho Jesi dan mama bisa gak akur. Biasanya kompak selalu," kata Clara agak heran. Boby tersenyum. 

__ADS_1


"Entahlah, wanita memang sulit dimengerti. Tapi paling enak di telan njangi," jawab Boby koplak.


"Jadi wanita mana yang rencananya mau kamu telan njangi!!!" kata Clara sambil mlorok mlorok berancak pinggang. Boby langsung kicep. Menunduk melihat tanah. Mirip bocah dimarahi orang tuanya.


"Enggak kok, Papap gak nakal," kata Boby. Jasmine memang tidak bisa bilang bapak. Selalu menyebut Boby dengan panggilan papap. Jadilah itu panggilan kesayangan.


Jasmine ikut beracak pinggang mirip Clara. Gadis kecil itu memang peniru emaknya. Membuat Clara dan Boby tertawa dengan tingkahnya. Tawa Boby berhenti ketika Clara kembali melotot padanya.


"Nyemplung waduk sana!!" kata Clara.


"Ntar kalau aku dicaplok siluman buaya cantik gimana?" tanya Boby memelas.


"Gak ada!!! Yang ada siluman buaya buntung. Pas sama buaya darat kaya kamu," kata Clara.


"Mantan," kata Boby membenarkan. Jasmine lari ke tepi waduk. Membuat Boby sigap mengejarnya.


"Mandi," jawab Jasmine sambil mengedipkan mata sipitnya. Membuat Boby menciuminya gemas.


Usai sarapan mereka berencana balik ke rumah Boby. Mandi dan bersiap menuju rumah Clara. Begitulah agenda mereka saat pulang.


"Aku sebenarnya malas balik ke rumahmu," kata Clara.


"Trus mau balik ke rumahmu aja? Biar aku balik sendiri berkemas barang barang kita," kata Boby. Clara menggeleng. 


"Aku gak akan biarin kamu pulang sendiri. Bisa dikuasai mamamu nanti. Aku mau nempel kayak permen karet disampingmu. Biar dia cemburu. Biar dia melek kalau aku istri kesayangan," kata Clara nyekikik jail. Boby tersenyum saja. Sampai sekarang hiburan Clara mau pulang kerumah Boby adalah muka cemburu Santi. Karena Boby terlihat sangat menyayangi Clara dan Jasmine. Clara tidak mau melewatkan kesempatan itu. Tidak rela juga Santi nempel nempel sama Boby. Sebelum Santi nempel dia akan selalu nempel sama Boby lebih dulu.


Mereka berdua sampai dirumah Boby. Santi lagi rebahan di ruang tamu.


"Dari mana?" tanyanya pada Boby. 

__ADS_1


"Sarapan soto dekat waduk," jawab Boby santai.


"Kok ya sarapan diluar. Sayang uang hasil kerjamu kamu hambur hamburkan. Punya istri sarjana sama saja. Gak ikut cari uang. Cuma ngurus rumah jadi babu," kata Santi. Boby sudah akan menjawab, tapi duluan dijawab Clara.


"Tapi saya babu berkualitas Ma, sarapan selalu tersedia sebelum jam 8. Jasmine juga terurus dengan baik. Rumah juga bersih berkilau. Bukan babu yang hobi rebahan seumur hidupnya. Sampai anak dan menantunya cari sarapan sendiri karena belum ada lauk dan nasi matang jam segini," kata Clara lantang. Santi langsung diam. Boby cuma senyum senyum sambil mengelus kepala Clara.


Keluarga itu sampai di rumah Clara. Rumah dimana Jasmine dimanja dengan jajanan. Satu kresek penuh berisi jajanan warung dari nenek.


"Bu, kalau jajanan sebanyak ini Dira gak mau makan lah," kata Clara pusing.


"Ya biar. Gak makan gak apa apa yang penting mau jajan," jawab Ibu santai. Clara nyengir. Nenek memang lebih memanjakan daripada ibu sendiri itu ternyata nyata.


"Dulu waktu aku masih kecil gak diginiin," kata Clara.


"Iya, anak sama cucu itu beda kadar sayangnya," jawab Ibu santai sambil memberikan baju baju imut untuk Jasmine.


***


Tiga tahun berlalu…..


Keluarga kecil itu berpindah pada sebuah rumah kecil setengah jadi. Rumah sederhana yang dibeli sesuai kemampuan. Mereka trauma dengan cicilan. Jadilah semua dibeli dari hasil tabungan. 


"Pap, aku boleh minta sesuatu gak sama kamu?" tanya Clara usai mereka menandatangani surat jual beli di notaris.


"Apa?" tanya Boby kepo.


"Tolong rahasiakan kalau kita berhasil membeli rumah ini. Terutama dari keluargamu. Aku juga akan merahasiakan ini dari keluargaku karena ada Hani. Bilang saja kita ngontrak. Biar Dito dan Mamamu gak banyak maunya," kata Clara.


"Oke, sesuai maumu Buk," kata Boby menyanggupinya. Clara dan Boby juga selalu tampil compang camping saat pulang. Clara selalu mempreteli semua perhiasannya. Hanya menyisakan satu cincin kecil di jari manisnya. Pakai daster dan pakaian yang disetting itu itu aja. Agar Santi tidak mupeng dengan apa yang Clara miliki. Santi masih Santi. Dito dan Jesi juga masih sama. Akan tetapi Clara menghadapi mereka dengan berbeda.

__ADS_1


__ADS_2