
Suasana di mobil hening. Boby mengarahkan mobil menuju rumah Clara.
"Aku gak mau pulang Kak," kata Clara saat mobil mulai memasuki area perumahan. Boby menoleh pada Clara sejenak.
"Ini sudah malam kamu mau kemana?" tanya Boby. Clara menggeleng lemah. Bersandar pada kaca mobil di sisinya. Mobil akhirnya hanya lewat di depan rumah Clara.
Clara memejamkan matanya. Berharap segala kilasan hanya sekedar mimpi. Nyatanya matanya segar. Dia sedang tidak bermimpi.
"Maaf, aku menamparmu tadi," kata Clara akhirnya. Boby tersenyum.
"Cara paling ampuh menuntaskan sesak di dada. Ya marah marah walaupun bukan dengan objek yang kita benci. Itu psikologi sederhana," kata Boby. Kali ini giliran Clara yang tersenyum.
"Terimakasih sudah membantu Kak," kata Clara sambil melihat Boby. Pria itu hanya mengangguk.
"Kita mau kemana?" tanya Clara karena mobil berjalan cepat entah menuju kemana.
"Ketempat yang indah, pasang sabuk pengamanmu!" perintah Boby karena alarm sabuk terus berbunyi. Clara manut melakukannya. Terserah mau dibawa kemana…. Dia pokoknya gak mau pulang dan ketemu Tama.
Mobil melaju jauh, kemudian mulai mendaki bukit. Perlahan berhenti pada sebuah tempat parkir yang luas. Suasana disana masih cukup ramai. Padahal ini sudah tengah malam. Mereka turun dari mobil.
"Ini dimana Kak?" tanya Clara. Matanya takjub dengan pemandangan sekitar. Mereka berada diatas ketinggian yang dikelilingi Kerlip lampu di bawahnya. Juga kerlip bintang diatasnya.
“Baguskan? Aku biasa kesini kalau lagi galau,” kata Boby. Mengerem mulutnya sendiri bilang galau memikirkan Clara.
“Emang kamu pernah galau?” tanya Clara. Boby tertawa.
“Hatiku terbuat dari daging Poc, sama dengan milikmu. Bukan berlapis semen atau es. Tentu saja aku pernah galau,” jawab Boby. Clara tertawa.
mereka duduk di sebuah warung dan memesan kopi panas. Rasanya benar benar seperti di awang awang. Taburan kerlip bintang dan lampu didepan mereka. Terdiam menikmati pemandangan hebat yang disuguhkan. Clara menarik nafas dalam berkali kali. Menghembuskannya lagi. Membuat rongga dadanya lebih lega lagi. Rasanya berteriak dengan Boby tadi memang sangat membantu. Kopi mereka datang dengan sepiring pisang coklat yang menggiurkan. Mereka menikmatinya sambil memandang belantara lepas yang berkerlip.
“Aku kenal Mas Tama saat sama sama kursus,-”
__ADS_1
“Tidak, aku tidak mau dengar kisah tentang orang itu jika itu membuatmu terluka,” potong Boby dengan selipan emosi yang terlihat.
"Lalu kita bicara apa?" tanya Clara. Otaknya masih buntu untuk berbicara. Padahal biasanya dia paling pintar cari topik pembicaraan.
"Aku lulus dari SMA. Tidak sempat ikut wisuda karena lulus seleksi SPN. Ikut pendidikan selama 7 bulan di asrama. Wah….. pendidikan yang menyiksa jiwa dan raga," kata Boby memulai kisahnya. Boby menceritakan kejadian lucu saat di asrama.
"Aku menyembunyikan semvak (pakaian dall am pria) temanku saat jam mandi tinggal sedikit. Akhirnya dia apel sore tanpa semvak," kata Boby sambil nyekikik. Clara ysng sebenarnya agak risih dengan pembahasan mencoba tertawa dan mengimbangi obrolan.
"Apa rasanya tanpa semvak?" tanya Clara.
"Geli lah, benda itu kan seperti penghambat biar gak geser geser. Kalau gak pakai ujungnya kena celana ya geli. Bisa bisa berdiri tanpa ada sebab," kata Boby sambil lekat memperhatikan muka Clara. Boby sadar lawan bicaranya sedikit tidak nyaman.
"Kenapa mukamu begitu?" tanya Boby.
"Lha kamu ngomong kaya gitu langsung nyeplos. Aku kan jadi gimanaaa gitu," jawab Clara.
"Jadi pengen?" tanya Boby penuh selidik. Harusnya muka Clara tidak serisih itu. Bukankah dia wanita bersuami?
"Apa kamu belum pernah?" tanya Boby penuh keraguan.
"Pernah apa?" tanya Clara tidak mengerti. Boby mengangkat alisnya demi bisa melihat lebih dalam kemata Clara. Mencari kejujuran bahwa gadis itu benar benar tidak mengerti. Apa wanita didepannya ini masih virgin?
"Lalu apa balasan temanmu untuk kamu?" tanya Clara. Boby tersentak seketika.
"Aku harus apel pagi dengan pakai sepatu kanan semua. Gara gara temanku usil menukar sepatu kami saat tidur. Hahaha untung gak ketahuan instruktur. Walaupun perut kami sampai kebas menahan tawa," kata Boby. Clara tertawa ngakak. Boby senang melihatnya. Tawa lepas pertama setelah badai yang begitu dahsyat tadi. Apa lagi dia pencipta tawa itu.
"Lalu apa kabar kakimu?" tanya Clara.
"Ya mleyot kanan semua lah. Bayangkan itu sepatu sefty dengan ujung besi," kata Boby. Clara semakin ngakak.
"Well, ini sudah dini hari. Dua jam perjalan dari sini untuk sampai rumah. Kita harus pulang aku ada tugas pagi ini," kata Boby. Clara langsung murung lagi.
__ADS_1
"Tidak bisakah kita disini saja? Aku malas pulang. Gak mungkin juga pulang kerumah orang tuaku. Aku takut mereka kepikiran," kata Clara memelas. Boby menghembuskan nafas kasar.
"Kalau gitu kamu nginep saja disini. Aku balik pakai ojek. Aku gak bisa izin mendadak. Pekerjaanku banyak. Bisa digorok pak Revan nanti," kata Boby. Bermaksud membujuk Clara pulang.
"Carikan aku hotel. Kamu kerja bawa mobilku dulu. Nanti sepulang kerja jemput aku disini," kata Clara yang kekeh gak mau pulang. Boby menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menoleh sejenak kearah parkiran. Kerja? Bawa mobil Clara? Warna pink? Hedeeehhh….
Akhirnya berdua mereka cari hotel yang tepat untuk Clara. Agak memakan waktu karena Boby memastikan keamanan gadis itu. Dengan terburu dia meninggalkan Clara di hotel. Ini sudah pagi. Jarak tempat ini sampai kantornya sekitar dua jam lebih. Dia harus bergegas. Entah bisa bertukar kendaraan tidak nanti.
"Kalau butuh apa apa telpon saja. Pakai telpon hotel juga boleh kalau malas ngidupin ponsel," kata Boby sebelum dia balik.
***
Apel pagi hampir dimulai. Boby tergesa turun dari mobil Clara dan berlari menuju lapangan. Revan menatapnya dengan heran. Untung bawahannya itu belum bisa dikatakan terlambat.
"Mobil baru?" tanya Revan saat mereka selesai apel. Berjalan beriringan menuju ruangan.
"Bukan, mobil pinjaman," jawab Boby.
"Pacar baru?" tanya Revan kepo.
"Bukan, istri orang," jawab Boby.
"Wow wow... Apa gob blok mu makin parah sampai pacaran sama istri orang?" tanya Revan.
"Apa menikah bikin Pak Revan jadi emak emak kepo?" tanya Boby balik. Revan tertawa.
"Menikah membuatku awet muda Bob, bayangkan mobil yang terus ganti oli dan di serpis. Huuu kenceng tarikannya. Gak karatan kaya punya kamu. Haaa seumur hidup paling cuma buat pipis. Pol mentok sama sabun," ejek Revan pada Boby. yang diejek cuma bisa senyum gemetar gemetar kesal.
Siangnya Boby lah yang mengejek atasannya itu. Revan ketahuan istrinya sendiri saat berdebat dengan mantan kekasihnya. Yang ternyata sudah diperaa wani Revan sebelum mereka menikah.(lebih jelasnya baca nopel othor yang I Love U, Mas)
"Enak ya masakan Bu Revan. Pakai minum es teh lagi. Kayaknya teh celup. Tapi gak celup sana celup sini. Mending sama sabun atau cuma dibuat pipis, daripada gak dapat jatah gara gara ketahuan nyelup di lubang lain. Hahahaha," kata Boby senang. Sambil memakan bekal makan siang Revan. Yang di ejek cuma bisa melorok horor sejenak. Sebelum sibuk dengan hpnya.
__ADS_1
NB: seting tempat ini ada beneran walaupun bukan Bukit Bulan namanya. Hayooo ada yang bisa tebak nama lokasi wisata yang sebenarnya?