Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Godaan


__ADS_3

Satu tahun lebih berlalu…


Boby rutin pulang walau sebentar. Saat kenaikan semester selalu mengambil jatah cutinya.


Satu tahun yang panjang untuk Clara. Dia tepat waktu menyelesaikan tugas akhirnya sebelum wisuda bulan depan. Membuat konsep fashion show yang agak unik. Bertema Mak Lampir (sinetron yang tayang di era tahun 90 an akhir) Rambut model yang semua di cat putih dan wajah dan tangan yang dibikin hitam atau glowing tanpa banyak makeup menor yang sedang tren. Memiliki arti bahwa setiap wanita itu cantik tanpa harus mengikuti standar kecantikan yang ada. Clara mendesain setidaknya 5 pc baju dalam fashion show itu. Standing applause dari dosen dosen pembimbing membuat lega para peserta TA termasuk Clara. Sebentar lagi ada gelar yang tersemat di belakang namanya. Sebagai sarjana terapan kesenian atau S.Tr. Sn. Gelar yang diperjuangkan dengan susah payah dan banyak pengorbanan.


Air mata kembali datang saat wisuda. Semua orang bergembira dengan keluarga dan pasangannya. Clara wisuda hanya ditemani ayah dan ibunya. Itu pun harus dengan banyak perjuangan untuk ibu yang sekarang rentan sakit. Boby dipastikan tidak bisa datang. Sudah berkali kali minta izin keluar asrama, namun hasilnya nihil. Terakhir dengan sangat memelas Boby meminta maaf tidak bisa hadir.


"Ada gitu anak Ayah yang bisa punya gelar sarjana. Ayah bisa cukup umur buat lihat wisuda kamu," kata Ayah bangga. 


"Dia berjuang sendiri mendapatkannya Yah," kata Ibu. Mereka berpelukan bertiga. Dengan toga Clara yang masih menempel. Air mata Clara deras mengalir. Haru karena berhasil, dan haru karena rindu. Lambang keberhasilannya tidak disaksikan suami bobroknya.


Clara pulang kerumah ibu usai wisuda. Disambut seluruh keluarga besarnya. Makan makan yang dimasak oleh Hani dan Rina. Juga kakak pertamanya. Pesta kelulusan Clara berlangsung seru. Dengan tiga keponakan lucu yang ngerecokin sepanjang acara. Makan makan dan tawa… walaupun sudut hatinya merindukan Boby.


"Nginep lah disini," pinta Rina saat Clara mau pulang kerumahnya.


"Aku ninggal banyak kerjaan dirumah Mbak, gak bisa. Bisa dibacok ibu ibu yang pesan kebaya nanti," canda Clara. Akhirnya keluarganya melepas kepulangan Clara.


Clara pulang ke rumahnya sendiri. Memutar kunci pintu depan. Sepi kembali datang. Membuka kamar berharap ditemukan lilin dan kelopak mawar lagi…. 


Nyatanya hanya sepi….. nyatanya hanya kehampaan menyambutnya. Bayangan Boby memberi kejutan pulang hanya ada di benaknya. Clara berkalang sepi. Berteman angan angan. Tanpa terasa air matanya menetes pada kain yang sedang ia gambar polanya. 


"Kakak Pocik kangen," gumam Clara seorang diri. Melanjutkan kebaya yang sedang dalam proses potong.

__ADS_1


Sedang diujung jauh. Di asrama tepi hutan. Seorang taruna baru saja mengikuti kelas tambahan. Teman temannya sudah bisa bersantai, tapi dirinya tidak bisa. Inilah mengapa dia terpilih secara khusus. Padahal sudah beristri dan umurnya yang terbilang tua dari yang lain. Boby harus mengikuti kelas khusus yang mempelajari radikalisme. Bau baunya dia akan ditempatkan pada divisi anti teror setelah lulus. Boby ingat hari ini Pocik lulus. Sesal dalam hatinya sungguh terasa. Tidak bisa mengikuti wisuda Pocik.


"Kek, ngelamun saja kau ini," sapa Fadli dengan logat khas Sumatra. Boby memang dijuluki Kakek oleh teman temannya. Karena umurnya yang lebih tua dan kegilaan yang melekat kuat pada dirinya.


"Kangen istri. Hari ini dia wisuda. Dan aku terkurung dalam tembok asrama," kata Boby sambil mendaratkan dirinya di sofa ruang santai dengan lesu.


"Haa… istrimu sudah wisuda dan kau masih berjuang naik semester," ejek Jojo. Boby tersenyum. Melempar Jojo dengan bantal. Fadli mendekat. Memberikan secarik surat pada Boby.


"Dari Rini," kata Fadli singkat. Taruna taruna itu kemudian men cieh cieh Boby. Sudah tiga kali Boby dapat surat cinta dari taruni disini. Pesonanya sebagai buaya darat ternyata masih banyak menarik minat kaum hawa. Boby hanya tersenyum kecil. Melemparkan kertas itu balik pada Fadli.


"Bacalah," kata Boby tidak minat.


"Aku pula yang baca??" tanya Fadli terkejut. Boby mengangguk.


"Aku baca keras keras ini," kata Fadli lagi. Yang lain sudah pasang kuping. Lagi lagi Boby mengangguk.


"Cem mana bisa menarik banyak bunga Bang?" tanya teman Boby.


"Gampang, berikan senyuman sewajarnya. Berikan perhatian sedikit, ada saat dibutuhkan. Mereka makhluk makhluk bertelinga tajam. Sesering mungkin beri pujian tulus," jawab Boby.


"Tak catet lah," kata Putra antusias.


"Dijawab gak ini?" tanya Fadli sambil mengacungkan surat Rini. Boby menggeleng. 

__ADS_1


"Katakan padanya aku sudah beristri," jawab Boby tegas. Sebenarnya beberapa kali Boby sudah mengatakan kalau dirinya beristri. Entah… pesonanya membuat para taruni taruni yang tinggal di gedung sebelah tidak percaya. Boby memang menonjol. Di Awal latihan, fisiknya terlihat paling prima. Dengan badan kekar yang sudah terbentuk. Apalagi kemampuan berkelahi jarak dekatnya setara dengan instruktur karate disini. Wajahnya bisa dikatakan biasa saja dibanding dengan taruna lain yang lebih tampan. Akan tetapi caranya memperlakukan wanita selalu spesial. Sudah melekat menjadi sifatnya. Jadi banyak taruni yang baper.


Esoknya Rini sengaja ambil duduk di dekat Boby.


"Kak, kata Fadli kamu gak mau balas?" tanya Rini agak sendu.


"Fadli bilang gak apa sebabnya?" tanya Boby fokus melihat papan tulis depan. Dosen sedang menjelaskan materinya.


"Katanya Kakak sudah beristri," kata Rini pelan. Tersedak ludahnya sendiri. Boby mengangkat tangan kirinya. Menunjukkan jari manisnya yang melingkar cincin pernikahan.


"Aku gak percaya!! Itu cuma cara Kakak menghindar. Mana ada taruna disini yang sudah menikah," kata Rini dengan nada meninggi. Membuat dosen pengampu mendengar interaksi mereka.


"Kalian berdua keluar! Lari keliling lapangan sampai berkeringat!" seru dosen itu. Boby menghela nafas jengah.


Berdua mereka lari mengelilingi lapangan luar kelas yang cukup besar. Hawa dingin tempat ini tentu saja susah membuat mereka berkeringat dengan cepat.


"Maaf Kak," kata Rini diantara lari mereka. Merasa bersalah sekali karena Boby ikut menanggung kesalahannya.


"Tidak masalah, anggap saja olahraga di siang hari bolong. Aku sedikit pusing dengan ocehannya," jawab Boby. Dua puluh menit kemudian mereka sudah berkeringat. Rini terengah engah kelelahan. Mukanya memerah. Boby mewakili mereka melapor. Dosen mengizinkan mereka masuk kelas lagi. Akan tetapi bel berakhirnya jam pelajaran berbunyi. 


Rini masih terengah engah di luar kelas. Duduk di pinggir taman sendirian. Boby kembali dari kantin. Menyerahkan satu botol air mineral pada Rini. Kemudian berlalu tanpa kata dengan cuek. Wujud kasihan sebenarnya. Atau Boby yang memang terbiasa bersifat manis pada wanita.


Rini menerimanya. Mengejar langkah kaki Boby. Menarik Boby menuju sudut sepi kampus. Dengan nekat mencium bibir Boby secara paksa. Boby diam. Meski lidah Rini menari nari dengan lincah. Menanti belitan balasan dari lidahnya.

__ADS_1


Clara sedang menjelujur jahitan di rumahnya.


"Aw!" pekik Clara karena tangannya tiba tiba tertusuk jarum yang dia pegang.


__ADS_2