Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Pengakuan Boby


__ADS_3

Clara akhirnya mengambil hpnya dan menelpon Rama. Bilang kalau dia dirumah ibunya dan ada lah keperluan yang mendesak. Membuat Rama mengurungkan niatnya. Boby tersenyum senang mendengarnya.


Mereka makan malam dirumah. Meskipun Boby berniat mengajak Clara dinner romantis. Clara tidak berani bertemu siapapun karena lehernya yang babak belur. Boby melingkarkan tangannya pada pinggang Clara usai makan malam. Menciumi rambutnya dengan sayang.


"Kerumah yuk, kenalan sama keluargaku secara resmi," ajak Boby. Clara menoleh pada Boby.


"Apa benar mamamu sudah menerimaku? Kenapa berbalik menerimaku?" tanya Clara penuh selidik. Boby tersenyum.


"Dia bilang sendiri kok mau ngelamar kamu," jawab Boby sambil mengelus punggung Clara.


"Kenapa? Kenapa berbalik setuju?" kejar Clara tidak mau tertipu.


"Mungkin karena tidak tahan melihatku hancur," jawab Boby.


"Hancur? Hancur yang bagaimana?" tanya Clara. Boby kemudian menceritakan aktivitasnya selama setengah tahun lebih ditinggal Clara. Termasuk jajan apem di malam hari.


"Apa!!" Clara pura pura kaget gak percaya. Padahal ini yang dia incar. Kejujuran Boby. Langsung menyingkirkan tangan Boby dari pinggangnya. pingin jujur, tapi setelah jujur dia jadi agak jijik. Boby mengangguk.


"Aku putus asa Poc, aku sedih. Aku tidak pernah main cewek lagi setelah ketemu kamu, bahkan saat kamu masih berstatus istri Tama. Lalu kamu tinggalin aku saat aku minta kamu untuk berjuang. Hatiku hancur…. Aku merasa hanya aku yang mencintai kamu," kata Boby.


"Kamu… sudah tidak perjaka sebelumnya?" tanya Clara. Setahu Clara, Boby tidak serusak itu saat dulu menjadi kekasihnya. Clara yakin Boby tidak segila itu. Apa lagi kata kata 'tidak main cewek lagi' meluncur pada bibir Boby. Artinya Boby sering main cewek sebelumnya. Boby mengangguk.


"Aku sudah rusak sebelum bertemu kamu kembali," jawab Boby jujur.


"Kenapa?" tanya Clara. Boby bercerita bahwa disiplin dan kerasnya tembok asrama membuatnya lepas kendali saat keluar. Beberapa temannya juga memilih jalur apem sebagai pelampiasan, walaupun tidak semua begitu. Apalagi tekanan pada dunia kerja juga beda dengan pekerjaan lain.


"Terkadang menjadi super hero sekalipun terasa berat dan kejam. Belum jika berhadapan dengan atasan yang korup. Seolah kita bekerja tanpa hasil karena terus dihalangi. Jika terus berdiri pada kebenaran, pilihannya dua. Mati atau ikut menerima suap. Dua cara yang sebenarnya satu muara... Neraka," curhat Boby. Yang merasa beruntung karena pimpinannya bukan manusia gila uang semua.


"Karena itu aku tidak terima saat mama mempermasalahkan status mu. Aku yang bobrok. Aku yang perjaka rasa duda. Kamu aku minta berjuang bersama malah pergi…. Aku putus asa Poc," kata Boby.

__ADS_1


"Tapi putus asa gak harus lari ke jalan perapeman dan mabuk," sanggah Clara. Boby mengangguk.


"Aku tahu aku salah. Aku mengakuinya sekarang. Aku tidak ingin ada permasalahan yang timbul dari masa laluku kelak. Aku mohon terima aku dan segala yang pernah terjadi. Aku janji untuk memperbaiki diri," kata Boby serius. Clara memalingkan mukanya. Menepis tangan Boby yang berusaha merangkulnya lagi.


"Pulanglah Kak, ini sudah malam," kata Clara.


"Tolong buka blokir hp kamu. Ijinkan aku menjadi suamimu. Mama sudah menyampaikan restunya. Tidak ada penghalang untuk hubungan kita," kata Boby serius.


"Pulanglah, aku ngantuk mau tidur," jawab Clara tidak membahas hubungan lebih.


"Aku… belum memiliki kepastian?" kejar Boby.


"Belum, biarkan aku berpikir dulu. Biar aku tenang dulu," jawab Clara. Boby mengangguk. Mencium kening Clara sejenak.


"Maaf mengecewakanmu Poc. Selamat malam," kata Boby beranjak pergi dari rumah Clara. Berharap Pocik tidak melupakan kenangan seharian ini. Berharap Pocik menerima dirinya yang terlanjur bobrok.


Clara memegangi kepalanya setelah Boby pergi. Entah kenapa terasa pusing. Clara sudah dengar kelakuan Boby dari Hani, tapi mendengar sendiri dari mulut Boby bukan hal yang mudah. Kejujuran Boby pantas diapresiasi, namun bobroknya tidak. Siapa yang menjamin Boby tidak mengulangi perbuatannya?? Ahhh entah…. Clara pusing sendiri. Mengunci gerbang, pintu utama, kemudian tidur. Ada parfum Boby yang tertinggal di kasurnya. Clara senyum sendiri. Serasa tidur ditemani Boby. Haa... Kenapa masih sesenang ini padahal tahu betul lelaki macam apa dia. Clara merasa bodoh.


***


Masalah Boby Clara putuskan untuk dikesampingkan. Dia belum minat membuka blokiran nomor Boby dari kontaknya. Clara kecewa… biar rasa kecewanya menguap dulu.


Nina membuat status untuk bisnis barunya. Sebuah franchise minuman teh. Clara tertarik dan mulai bertanya tanya.


'Cari tempat Say, nanti aku hubungkan sama marketingnya.' Pesan dari Nina. Haaa tempat dimana? Clara mulai menscroll mencari info di internet. Sementara belum ketemu…. Coba nanti.


***


Tiga hari berlalu….

__ADS_1


Boby melihat hp nya dengan gelisah. Belum bisa mengirim pesan pada Pocik. Ah, dia harus apa?? Padahal pengintaian sedang terjadi, bahkan sebentar lagi akan diadakan penangkapan. Tidak mungkin dia main kabur kaburan. Bisa dimaki maki Revan lagi.


Nando melintas didepan mejanya. Sibuk diajari jadi asisten Revan. Sepertinya atasannya itu sedikit tertarik dengan kepatuhan Nando.


"Ndo," panggil Boby.


"Iya Mas," jawab Nando mendekat. Bocah baru lulus pendidikan lanjutan sebagai reserse itu memang sangat sopan dan alim. 


"Apa yang kamu lakukan kalau sedang pusing?" tanya Boby. Yang sudah berjanji untuk tidak mabuk dan ngapem lagi. Mencoba mencari pelampiasan lain saat mumet seperti ini.


"Minum obat Mas," jawab Nando polos. Boby garuk garuk kepala. Tidak salah sih jawaban Nando, tapi kok bikin dia gemes. 


"Pusing yang lain Ndo, pusing karena banyak pikiran," jelas Boby lagi.


"Mungkin bisa mengurangi jumlah otak Mas dikepala, jadi gak usah mikir lagi," jawab Nando sambil berlari. Beri keselek karena jawaban Nando. Jon dan Ine langsung tertawa ngakak.


"Bocah edan!!" umpat Boby kesal.


"Mohon maaf Bob, dia lupa kalau kau gak punya otak. Apalagi coba yang mau dikurangi??" kata Jon membumbui. Mau gak mau seisi ruangan tertawa termasuk Boby… sudahlah… Pocik dipikir nanti. Pekerjaannya sedang butuh perhatian.


Tim narkoba polres xxx akan beraksi di bawah pimpinan Iptu Revan Aji Pratama. Mereka sudah duduk di ruang meeting untuk memperjelas apa saja yang akan dilakukan nanti. Revan menjelaskan dua lokasi yang akan mereka datangi. Dua tersangka di dua lokasi berbeda. Tak lain tak bukan adalah dua pemuda yang diintai kemarin.


"Kita punya tamu menyebalkan. Bagi siapa yang mau jadi artis, bisa mendaftar," kata Revan mempersilahkan tiga tamunya memasuki ruangan. Dua pria dan satu cewek sexy. Beri, Jon, dan Boby langsung mengeluarkan siulan mereka untuk si cewek.


"Kalian suka sama tamu kita?" tanya Revan.


"Suka Komandan, apalagi kalau cewek semua dan modelnya gitu semua," cletuk Boby.


"Bagus, mulai sekarang kamu bisa jadi polisi artis. Mereka adalah wartawan dari stasiun tv xxx," kata Revan. Boby langsung mencebik.

__ADS_1


"Gak jadi suka komandan, mereka bikin ribet," jawab Boby lagi. Tidak peduli walaupun tiga orang itu melotot ke arahnya. Yaa… bagi polisi yang akan melaku aksi, wartawan itu bikin ribet.


"Mau gimana lagi… Aku disini karena perintah atasan kalian," jawab Gina, cewek sexy tadi tanpa gentar, walaupun semua polisi menatapnya dengan tatapan tidak suka.


__ADS_2