
Pagi datang. Berita tentang meninggalnya Mbah Jumi, ibu dari Citra sudah tersebar seantero kampung. Termasuk didalam rumah Tama.
"Apa dia akan datang?" tanya Mbah Narti pada Nina.
"Yang ku dengar iya Bu. Anak lelakimu sudah disana sejak kemarin malam," kata Nina resah. Mereka berdua saling berpandangan. Untuk melarang Tama rewang di tempat orang meninggal rasanya tidak etis sekali, tapi mereka yakin Tama akan kembali mengingat Citra jika wanita itu kembali.
"Semoga Clara tidak tahu fakta ini. Juga Tama sudah tidak ada rasa dengan Citra. Bukankah Clara gadis yang cantik dan menyenangkan? Rasa rasanya siapapun akan jatuh hati kalau dekat," kata Mbah Narti entah untuk menenangkan diri atau apa.
"Terimakasih Bu, aku emang seperti itu," sahut Clara sambil masuk dapur. Membuat Mbah Narti dan Nina menahan nafas. Takut pembicaraan mereka sebelumnya terdengar Clara.
"Kamu sudah bangun? Kita gak jadi mulai rewangan pagi ini. Tetangga depan rumah meninggal," kata Nina. Clara mengangguk sambil meminum air dingin yang ia ambil dari dalam kulkas.
"Oke, hari ini kita jadwalnya layat berarti," kata Clara santai.
"Tapi bolehkah aku layat diluar saja? Aku takut poci," lanjut Clara.
"Poci?" tanya Mbah Narti heran tidak mengerti.
"Iya Bu, nama gaul dari pocong. Udah ganti nama dia. Wah kalian gak gaul," kata Clara sambil nyengingis.
"Astaga, ada ada aja. Dasar penakut. Semua orang kalau mati ya jadi Poci," jawab Nina.
"Iya Mbak dan sementara ini aku belum mati dan tidak berencana mati, jadi masih boleh takut poci," jawab Clara sambil nyekikik. Membuat dua orang di dapur juga santai. Sepertinya Clara tidak mendengar ucapan mereka barusan.
Clara berjalan kearah kamar mandi sambil membawa baju ganti. Matanya menoleh melihat halaman tetangga depan rumah yang sudah terpasang tenda dan jajaran kursi. Tama tidak pulang dari semalam.
__ADS_1
"Citra ya…. Seperti apa wajahnya??" gumam Clara seorang diri sebelum masuk kamar mandi. Sejujurnya dia dengar apa yang dikatakan ibu mertua dan iparnya. Lagi lagi senyuman berhasil mengubur kesedihannya.
Lantunan ayat ayat suci terdengar dari pengeras suara yang ada di sudut halaman. Ini hari Jumat. Kata orang orang jenazah akan dikebumikan sebelum jumatan. Clara duduk berdampingan dengan Nina di halaman. Beberapa kali melihat Tama yang sibuk jadi panitia sejak semalam.
Seorang wanita menggandeng bocah kurang lebih berusia 4 tahunan turun dari taksi. Matanya sudah sembab. Berjalan cepat masuk kedalam rumah. Semakin dekat semakin tangisnya terdengar. Sialnya dia tersandung di halaman. Tubuhnya limbung akan jatuh. Tama dengan sigap memegangi tubuh Citra. Membimbingnya dalam dekapan dan masuk rumah. Mata orang orang tak luput dari adegan itu. Beberapa diantaranya sudah berbisik.
Nina sudah duduk resah di samping Clara. Kejadian itu pasti membuat Clara panas hati.
"Wooo itu Citra?? Ah, aku berani saingan. Ternyata masih cantikan aku," kata Clara sambil menyelipkan kacamata hitam di telinganya. Matanya sudah mengembun, namun masih sok tegar. Nina terkejut mendengarnya.
"Kamu tahu Citra?" tanya Nina.
"Tahu Mbak, aku tahu semua kisahnya sebelum menikah…." kata Clara santai bergosip soal Citra yang dia ketahui.
Sampai pemakaman itu usai Tama menjadi tiang kokoh yang selalu disandari Citra. Bahkan saat tradisi brobosan di Bawah mayat yang akan dikuburkan pun, Tama yang menopang tubuh Citra yang lemas.
“Nggak Mbak, Aku udah gak sakit hati. Aku cuma sakit perut karena lapar,” kata Clara sambil masuk rumah.
“Yok makan yok,” ajak Clara santai. Sakit hati? haaaa kata apa itu? Apa hati Clara masih bisa sakit? Perlakuan Tama memang selalu seperti itu. Hati Clara sudah menebal, gak sakit lagi. Minimal pura pura tegar.
Bahkan Pakde Wito ngamuk di rumah sepulang pemakaman.
"Kenapa kamu biarkan Tama seperti itu Nar? Bisa jadi omongan orang lagi!" kata Pakde Wito ngamuk sama Mbah Narti.
"Kamu tahu sendiri gimana Tama Mas. Hanya bapaknya yang mampu menghentikan," Mbah Narti gak mau kalah.
__ADS_1
"Tetap saja perbuatan seperti itu memalukan. Apa lagi ada istrinya disini. Kenapa kamu jadi istrinya juga diam saja Ra!!" kata Pakde Wito beralih pada Clara yang sedang santai makan.
"Aku harus gimana De? Apa aku harus bikin sinetron tandingan di upacara pemakaman orang? Yakin gak bikin tambah malu?" tanya Clara santai. Pakde Wito terdiam. Pergi begitu saja tanpa sanggup berkata kata lagi.
Tama belum pulang bahkan saat jumatan usai. Nina dan Mbah Narti sudah sibuk mempersiapkan rewangan esok hari. Beberapa tetangga sudah datang kerumah juga. Clara berinisiatif memanggil Tama dirumah Citra. Hati dan bibirnya melengos melihat Citra masih bersandar nyaman di dada Tama. Rumah Citra sudah agak sepi.
Clara memberanikan diri mendekat.
"Mas, belum lupa jalan pulang kan? Rumahmu didepan sana. Setidaknya makan dulu. Berduka juga butuh tenaga. Apa lagi jadi sandaran. Biar gak mleyot saat disandari," bisik Clara. Citra tersadar dari isakannya langsung duduk tegak kikuk melihat Clara.
"Turut berduka Mbak, tapi biar saya ajak balik dulu 'suamiku'. Dia belum makan bahkan dari pagi," kata Clara sambil menarik tangan Tama berdiri. Menegaskan kata suami dengan begitu ketara.
Clara langsung melepas tangan Tama saat sudah keluar dari rumah Citra.
"Cepat makan kemudian terserah!!" kata Clara sebelum mendahului Tama berjalan cepat. Tidak mau air mata yang mulai mengambang di pelupuk mata ketahuan siapapun. Clara lurus masuk kamar dan menguncinya. Meredam isakan diantara bantal. Lara yang menghimpit dadanya sebenarnya dalam, namun Clara bukan tipe orang yang menunjukkan sakitnya. Apalagi cara Tama memandang Citra dan sebaliknya. Dua orang itu masih terlihat saling mencintai. Lalu apa dirinya???
***
Suara dipintu membuat Clara tergagap. Dia menangis sampai tertidur. Haaa bodoh…. Bisa dipastikan matanya bengkak parah. Hari sudah sore ternyata.
"Bu, Bu,...." suara Sus Wiwik sambil terus mengetuk pintu. Dengan malas Clara bangkit. Memutar slot kunci dan membuka pintu perlahan. Sus Wiwik datang dengan nampan berisi makanan.
"Bu, makan dulu…. Mau….. saya temani?" tanya Sus Wiwik prihatin. Dia pasti juga tahu apa yang dialaminya. Tahu perjuangan Clara merebut hati Tama. Tahu bahwa hubungan Tama dan Clara mulai manis. Dan sekarang….. entahlah…
"Makasih, aku makan dikamar…. Sendiri…. Tolong urus Daus dengan baik," kata Clara menerima nampan dari Sus Wiwik. Mencoba tersenyum walau matanya bengkak luar biasa.
__ADS_1
Dari kejauhan Tama melihat Clara. Lagi lagi rasa berdosa hinggap di hatinya. Clara gak salah kalau marah. Dia pantas dimarahi Clara. Sangat pantas daripada dimarahi semua orang yang ditemui di rumah ini. Sepulang dari rumah Citra semua orang ngomel sama Tama, tapi malah belum diomeli Clara. Gadis itu memilih mengurung diri saja. Tama takut bertemu Clara.