Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
berusaha bangkit


__ADS_3

Clara akhirnya berhasil mendapatkan uang tambahan dari seorang rentenir yang mau menampung BPKB nya. Mereka sanggup bernafas lega. Tengah malam dua orang itu balik lagi menuju Kota Gudeg. Sebenarnya banyak teman atau keluarga yang masih baik pada mereka. Sebut saja Nina, Revan, atau keluarga Clara. Akan tetapi mereka terlalu malu untuk berhutang pada mereka. Menunjukkan kondisi ekonomi mereka yang tidak stabil dan cenderung di kasihani. Pasangan itu ambruk kelelahan di kamar kontrakan mereka.


***


Hari gajian tiba. Gaji Boby tidak bisa terbilang sedikit. Gaji itu sangat cukup untuk hidup dan menabung tiap bulannya. Akan tetapi ada dua hutang yang harus mereka cicil. Hutang dari Dito, dan hutang gadai motor. Juga uang jajan Santi yang tidak boleh kurang. Belum lagi kontrakan paviliun ini yang juga dibayar tiap bulan. Jadilah pasangan itu bagi bagi gaji Boby. 


"Kenapa gajimu seperti barang gaib Kak? Pagi diterima, siang hilang entah kemana," kata Clara sambil nyengir.


"Entahlah," kata Boby ikut nyengir.


Clara mencoba mencari pekerjaan. Kota ini tidak sama dengan kotanya. Tidak banyak pekerjaan untuk desainer seperti dia. Terpaksa Clara menurunkan standarnya. Lagi lagi bekerja pada pabrik garment yang semula selalu dihindarinya. Kali ini kondisinya berbeda. Kuat tidak kuat Clara harus kuat. Clara menghindari mesin jahit. Jadilah dia menjadi tukang gambar di pabrik itu.


"Bukan warga sini yak?" tanya temannya satu bagian. Clara tersenyum menggeleng.


"Udah nikah belum?" tanya temannya lagi.


"Sudah, Mbak udah nikah belum?" tanya Clara balik.


"Udah, anakku kembar cowok semua. Namaku Marni, ini sari," kata Marni memperkenalkan diri. Mereka mencoba saling mengakrabkan diri. Lumayan untuk Clara. Punya teman di kota perantauan.


Boby dan Clara pulang dengan wajah sama sama kelelahan. 


"Mau aku pijit?" tawar Boby sudah memegang kaki Clara.


"Kakak kan juga capek," kata Clara sambil memejamkan mata. Menikmati pijatan Boby dikakinya.

__ADS_1


"Gak, aku lebih sering duduk. Gak capek," jawab Boby. Yang selalu ingin menebus waktu yang terbuang selama mereka berpisah.


Clara membuka hp nya. Status Jesi dan Dito bertengger. Mereka asyik tour wisata. Memamerkan mobil baru Jesi dan rumah baru mereka. Clara mengerutkan dahinya. Kalau usaha Papa Tono bangkrut, kenapa mereka justru bisa membeli mobil keluaran terbaru, juga rumah baru??


"Kak," kata Clara sambil menunjukkan hp nya. Boby melihatnya sekilas.


"Iya, Jesi katanya dapat warisan dari kakeknya, jadi bisa beli mobil baru. Dito juga berhasil jadi makelar tanah. Dapat vee lumayan bisa buat beli rumah baru," jelas Boby.


"Kakak percaya?" tanya Clara. Mustahil mereka dapat keuntungan berlipat seperti itu. Warisan apa?? Kalau Jesi dapat warisan, Hani pasti juga dapat. Mereka kakak beradik. Hani saja barusan kirim pesan pinjam uang. Dan Dito yang tiba tiba jadi makelar tanah??? Bicara aja jarang jarang, bukan orang yang supel dan marketing handal.


"Lalu kamu mau apa? Jangan iri dong Poc sama keberhasilan adikku. Mereka itu adikku, keluargamu juga," kata Boby panas. Dia tidak ingin Clara meragukan keluarganya.


"Tapi Kak, itu terlalu kebetulan setelah hutang 100 juta yang mereka timpakan begitu saja pada kita! Kakak pernah melihat total hutang papa dalam catatan resmi? Apakah benar 200 juta dan kita sama sama menanggung cicilan 100 juta?" tanya Clara mencoba melogiskan pikiran Boby. Pria itu diam sejenak.


Pagi datang. Suasana masih canggung untuk Clara dan Boby. Mereka saling diam. Bersiap sarapan dan kerja juga saling diam. Sampai tiba pada motor masing masing. Boby melihat Clara intens. Menunggu Pocik minta salim. Tidak ada salim. Clara melesat dengan motornya begitu saja. Boby memandang kepergian Clara dengan kecewa.


Siangnya pasangan itu sama sama menahan diri untuk tidak menghubungi.


"Ra, nanti pulang cepet, kerjaan kita sedikit. Mampir ke kontrakanmu boleh?" tanya Sari.


"Boleh dong, yuk mampir aja," kata Clara ceria. Punya teman di tempat asing seperti ini memang menyenangkan.


Mereka ngobrol di kontrakan. Dari obrolan itu Clara tahu Marni dan Sari adalah wanita wanita 'bebas'. Bebas melakukan hubungan badan dengan banyak pria. Hal yang memang sedikit wajar pada pabrik garment. Tidak semua pekerjanya begitu, tentu tidak. Tapi pasti ada yang 'bebas' seperti itu.


"Suamiku tahu aku selingkuh kesana kesini, tapi dia diam saja. Soalnya kalau aku diceraikan, banyak yang mau nampung aku jadi istrinya," kata Sari bangga. Clara cuma bisa ngakak ngakak dalam hati ngelus dada.

__ADS_1


Boby pulang saat mereka masih asyik ngobrol. Saling memperkenalkan diri dengan teman baru Clara. Sedang Clara masih sangat acuh pada Boby.


"Suamimu kerja dimana Ra? Gagah banget?" bisik Marni saat Boby masuk untuk mandi.


"Toko teknik Mbak, semacam toko besi tapi gak jual semen dan pasir," jawab Clara. Yang memang dilatih Boby untuk menjawab apa pekerjaannya.


"Ganteng juga ya," komentar Sari. Clara langsung siaga satu. Suami dipuji ganteng sama wanita 'bebas' bukan hal yang menggembirakan. Boby bisa jadi masuk calon mangsa mereka untuk berselingkuh.


"Haa matamu perlu diperiksakan Mbak. Ganteng apanya…. Dia itu ileran dan moody parah," kata Clara menjelek jelekkan Boby. Sayangnya Boby mendengar semua itu dari kamar mandi. Tersenyum sekilas. Punya cara agar Pocik mau berdamai dengannya.


Boby nimbrung percakapan dengan para wanita. Sedikit menggoda goda Sari dan Marni membuat mereka semakin geer saja.


"Kenapa emak emak justru terlihat cantik?" tanya Boby.


"Ah, Mas Boby… ya cantikan Clara lah. Tapi Mas Boby juga mempesona, gak kalah ganteng sama berondong berondong diluar sana," puji Sari siap terkam. Kalau Boby terus menunjukkan ketertarikan. Gak peduli istri Boby adalah temannya. Justru sebuah kebanggaan tersendiri kalau Boby mau selingkuh dengannya. Artinya dia lebih menarik dari Clara.


"Ah, aku kok capek ya… ngantuk juga. Kalian pulang deh," kata Clara jelas jelas mengusir mereka berdua. Boby tersenyum geli.


Dua orang itu meninggalkan kontrakan Clara dengan sedikit kecewa. Clara langsung mendengus kesal pada Boby. Rasa kesalnya bertambah. Boby mendekat. Mencium Clara dengan paksa. Clara diam tidak menanggapi. 


"Cieh… yang cemburu… makin cantik aja deh," goda Boby pada Clara. Wanita itu diam. Berlalu dari hadapan Boby. Membanting pintu kamar mandi dengan keras.


"Awas pintunya copot Poc, nanti kita kena cars sama pemilik kontrakan," teriak Boby sambil nyekikik. Setelah Clara mandi, Boby terus menggoda istrinya. Membuat Clara teriak teriak memarahinya. Boby sengaja membuat Clara menumpahkan emosinya. Agar rasa dongkol hilang dari hatinya. Perlahan pria itu men cumm bbu Pocik. Membisikkan satu kata wajib untuk seorang suami kalau sedang marahan sama istri.


"Maaf,"

__ADS_1


__ADS_2