Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
persidangan


__ADS_3

Clara sudah bertemu Pak Juni. Pengacara yang disewa Nina untuknya. Sudah menuliskan surat gugatan. Juga fotocopy buku nikah yang sedikit unik. Bolak balik tanpa dipotong. Siap mengajukan gugatan esok lusa.


***


Tama tersenyum sinis menerima surat pemanggilan dari pengadilan agama. 


"Akhirnya sampai juga," gumam Tama. Dia kemudian meraih ponselnya. Beberapa kali berdering, orang di seberang sana menjawab dengan formal.


"Kita sudah dapat surat panggilan dari PA," kata Tama. 


"Bagus, ayo kita mulai Pak," jawab orang seberang.


***


Hari persidangan pertama tiba. Clara gugup sampai tangannya berkeringat. Ini kali pertamanya Clara masuk pengadilan. Nina dan Boby tidak mendampinginya. Keluarganya juga tidak diizinkan mendampingi. Hanya berdua dengan pengacara.


"Apa yang akan terjadi nanti?" tanya Clara pada Pak Juni disampingnya.


"Agenda pertama hanya mediasi. Tidak perlu segugup itu," jawab Pak Juni.


"Lebih bagus kalau suamimu itu tidak datang terus. Proses perceraian akan mudah. Hakim akan menjatuhkan verstek. Putusan yang diambil hakim karena tergugat tidak hadir atau diwakilkan pengacara walaupun sudah dipanggil secara patut. Kamu akan bercerai dengan mudah, tapi sepertinya mustahil. Lihat siapa yang datang lebih dulu," kata Pak Juni sambil menyeringai. 


Clara melihat didepan sana sudah ada Tama dan pengacaranya bahkan datang lebih dahulu.


"Halo istriku, aku harap kamu mau mengurungkan niat," kata Tama sambil mengulurkan tangan. Clara hanya melirik sekilas. Tidak berniat menjabat tangan Tama yang terulur.


"In your dream!" Jawab Clara ketus. Memilih melewati Tama. Kemudian duduk di ruang tunggu sidang. Melihat Clara yang dingin, ketus, dan cuek membuat rasa gemas Tama kembali timbul. Ah… teringat segala kenangan manis bersama istrinya itu. Main bersama dengan Daus. Seolah mereka keluarga utuh. Kemudian pikirannya melayang pada Citra. Ah…. Lagi lagi Citra…. Lagi lagi Citra….


Hakim sudah memanggil masuk dalam ruang sidang. Clara dan Tama memberi hormat. Kemudian duduk di kursi berdampingan. Mengutarakan keinginan penggugat dan keinginan tergugat. Tama kekeh mempertahankan pernikahan ini. Hakim kemudian memberikan wejangan dan berharap bisa mediasi. Menyayangkan kalau pernikahan ini sampai kandas padahal belum genap setahun. Juga nasib Daus, anak adopsi mereka yang pasti kebingungan. 


Mediasi berlangsung. Clara dan Tama masuk ruang mediasi di luar ruang sidang.

__ADS_1


"Bagaimana kalau saling memaafkan. Mengambil cuti dan berlibur bersama?" tanya mediator.


"Saya sanggup," jawab Tama mantap.


"Saya gak mau. Sebelum mediasi ini saya sudah melakukan banyak cara agar pernikahan ini tetap utuh. Nyatanya saya dikhianati dengan sangat kejam. Saya sudah sakit hati. Saya gak mau," kata Clara ngegas. Hakim mediasi akhirnya menyerah. Membuatkan surat pengantar. Sidang diskors sampai pekan depan.


***


Sidang berikutnya berisi pembacaan tuntutan dan kronologi. Pak Juni mewakilkan pembacaan tuntutan itu. Membeberkan kronologi kejadian yang membuat kliennya menuntut cerai.


"Pada tanggal xx bulan xx tahun xxxx tergugat mengajak makan penggugat, kemudian tergugat salah sebut penggugat dengan nama wanita lain saat mereka sedang mesra. Tergugat tidak jera dan justru mengajak wanita lain itu untuk intim dengannya. Dan kejadian itu diketahui penggugat sendiri," kata Pak Juni. 


Entah mengapa mendengar kronologi yang dibacakan membuat Clara kembali bersedih. Dia berencana menjadi istri selamanya. Menikah sekali dengan orang yang tepat…. Nyatanya sakit sekali…. Clara tidak sanggup bertahan. Clara mengusap matanya dengan tisu.


"Ma, aku mau bicara," kata Tama saat keluar ruang sidang. Clara berjalan cepat. Tama sigap menarik lengan Clara.


"Aku mohon hentikan persidangan ini. Kamu akan kalah telak. Kamu akan tetap menjadi istriku," kata Tama. Dia berambisi untuk tidak menyatukan Clara dan Boby. Dendamnya pada Boby sungguh sudah sampai ubun ubun. Apalagi setelah kejadian perampokan dirumahnya. Buku nikah yang raib bersama beberapa barang berharga. Pencurinya sangat profesional dan terlatih. Siapa lagi dalangnya?


"Setahuku perselingkuhan adalah hal yang fatal. Tenang saja…. Aku akan menjanda dengan cepat. Perjuanganmu sia sia. Kamu sia sia dari dulu!" kata Clara kemudian menghempaskan tangan Tama dengan kasar. 


"Tapi buku nikah yang ada di kamu itu juga tindak kejahatan. Aku tahu buku itu dicuri dari rumahku. Dan…. Tentu saja mantan pacarmu yang polisi itu pelakunya. Kau bisa rujuk denganku… atau aku akan menuntutnya secara pidana. Karir polisinya akan hancur, dan dia akan masuk penjara. Aku punya bukti kuat kalau dialah pelakunya," kata Tama. Berhasil menghentikan langkah kaki Clara. Gadis itu membeku di tempat. Apa benar Kak Boby pelakunya? Tiba tiba Clara merinding sendiri. Takut terjadi sesuatu pada Boby.


Tama benar…. Mungkin Boby pelakunya. Dia sendiri mencurigai Boby. Bagaimana kalau Tama benar memperkarakannya? Benarkah Boby akan dipenjara? Tidak…. Tidak boleh. Jika itu terjadi maka dialah yang akan merasa sangat bersalah. Boby melakukan semua kejahatan itu demi dia.


Clara mengambil hpnya. Bermaksud menghubungi Boby, namun tidak terjawab. Ah, biarlah. Biasanya Boby akan menghubunginya balik kalau tahu dia menelfon.


Sampai malam belum ada kabar dari Boby. Hpnya juga tidak aktif. Clara takut. Dia sudah dapat pesan dari pengacara Tama untuk tawaran rujuk.


Esoknya saat berangkat kerja, Clara kaget saat melihat Boby berada di depan rumah Bu Nir.


"Aku sibuk, pekerjaanku padat. Kenapa?" tanya Boby.

__ADS_1


"Aku mau bicara sama kamu. Luangkan waktu untukku satu jam saja Kak, aku mohon," kata Clara sambil memegang tangan Boby. Ini pertama kalinya Clara mau memegang Boby duluan.


Maya langsung pura pura gak lihat. Ngacir kabur masuk butik lurus menuju kamar mandi. Takut jadi baygon dadakan.


Clara dan Boby saling tatap. Boby melihat kekhawatiran pada mata Pociknya.


"Kenapa?" tanya Boby masih dengan saling tatap.


"Aku mohon satu jam saja waktumu," kata Clara. Tidak mungkin membicarakannya disini. Boby mengangguk.


"Sepulang kerja aku jemput disini," kata Boby kemudian berlalu.


Mereka sudah duduk bersisihan. Duduk di taman kota yang tidak terlalu ramai.


"Apa benar kamu yang mengambil buku nikah dari rumah Tama Kak?" tanya Clara to the point. Boby tersenyum mendengarnya.


"Tidak, bukan aku pelakunya," jawab Boby yakin.


"Tapi Tama bilang punya bukti kuat kalau kamu pelakunya," kata Clara khawatir.


"Kalau begitu suruh dia membuktikannya," jawab Boby sambil senyum.


"Apa aku bisa yakin bukan kamu pelakunya dan kamu bisa menjamin itu?" tanya Clara lagi.


"Kenapa? Dia mengancammu lewat aku?" tanya Boby.


"Dia... Menyuruhku rujuk dengannya. Atau dia akan memperkarakan kamu atas kasus pencurian," kata Clara khawatir. Boby tertawa mendengarnya. Bibirnya tertawa hatinya mengumpat! Tama benar benar picik!


"Kak, aku tidak mau kamu terlibat masalah karena aku. Aku akan merasa bersalah sekali," kata Clara sambil memegang tangan Boby. Pandangan mereka bertemu. Mata Clara sudah mengembun.


"Dengar, dia hanya mengertak. Dia tidak akan menemukan bukti apapun yang berhubungan dengan aku. Kalau kamu berencana rujuk dengannya, itu artinya kamu menyia nyiakan perjuanganku selama ini. Aku justru akan bersedih. Bebaskan dirimu dari pernikahan ini. Terbang sejauh yang kamu mau setelah ini. Jangan pernah menangis lagi karena aku akan bersedih," kata Boby.

__ADS_1


Tatapan mereka masih terkunci. Boby mendaratkan satu kecupan kecil dibibir Clara. Ciuman yang mampu menenangkan hati Clara yang galau luar biasa. Ciuman reuni. Ciuman yang mengakui bahwa hati mereka masih sangat terkait dari dulu. Bahkan saat jarak dan waktu memisahkan cukup jauh.


__ADS_2