
Hari yang ditentukan tiba. Clara sudah minta izin dua hari Bu Nir. Acara akan diadakan minggu malam. Keluarga Clara kamis sore sudah bersiap.
"Peralatan Daus beres Sus?" tanya Clara memastikan.
"Sudah Bu, beres. Semoga gak ada yang ketinggalan," jawab Sus Wiwik. Clara mengacungkan jempolnya. Berlima dengan Daus Clara berangkat menuju rumah mertua.
Sampai rumah heboh disambut Nina.
"Naaaa ini dia adik ipar yang mau aku aniaya," kata Nina sambil menciumi pipi Clara. Namun cuek saja pada Daus yang sebenarnya justru ponakan. Bahkan pada Tama pun cuek saja.
"Nih aku bawa rujak,” kata Clara sambil menyerahkan bungkusan cukup besar. Nina melorok kaget dan takut. Clara tertawa senang sekali melihat ekspresi Nina.
Mbah Narti datang menyambut rombongan Clara.
“Masuk masuk. Istirahat dulu. Besok rewangannya baru dimulai kok,” kata Mbah Narti. Mereka bertiga berbincang sejenak di ruang tamu. Asyik membicarakan apa saja sambil makan rujak buah. Sedang Tama cuek saja entah kemana. Clara pura pura sesak nafas saat makan rujak. Nina langsung heboh.
"Aduh, masa beneran kamu ngeracun kita Ra," kata Mbak Nina gak percaya. Saat Mbah narti ikut heboh, Clara gak kuat menahan tawa.
"Aaahhhhhaaaahahaha, kalian kena prank," kata Clara. Langsung diamuk Mbah Narti. Wanita tua itu baru pertama ini dikerjain seperti itu.
"Dasar mantu sableng," kata Mbah Narti gemas, tapi tak luput ketawa juga. Beliau tahu menantunya yang ini menyenangkan walau sedikit jahil.
Clara mematung di depan kamar Tama. Ragu memasuki kamar tersebut. Benarkah dia harus tidur sekamar dengan Tama? padahal masuk kamar Tama di rumah saja bisa dikatakan tidak pernah.
“Ngapain bengong? Kamu lupa cara membuka pintu?” tanya Tama membuka kamarnya duluan.
“Aku tidur dikamar Daus saja,” kata Clara mau berlalu. Tama memegang tangannya. Langsung ditepis keras oleh Clara. Sejak penolakan Tama tempo hari, Clara enggan bersikap manis lagi. Enggan berharap pada lelaki yang secara hukum adalah suaminya itu.
“Kamar Daus sempit disini. Sus Wiwik tidur dikamar itu. Kamu gak ada tempat di sana,” Kata Tama sambil bersandar di pintu kamar. Clara menghiraukannya. Berlalu menuju kamar Daus.
__ADS_1
Sampai dikamar Daus, ternyata kamar itu penuh sesak. Mbak Jiah juga tidur dikamar itu dengan kasur gulung. Clara menghela nafas jengah. Berbalik ke kamar Tama dengan berat hati. Melihat hamparan sofa ruang tamu dengan nanar. Andai dia tidak berada di rumah mertua, pasti sudah memilih tidur disana daripada tidur sekamar dengan Tama. Clara sudah benar benar di tahap malas sama suaminya sendiri. Tama mesem mesem melihat Clara masuk kamar.
“Sudah aku bilang gak percaya sih,” katanya sambil mepet ke sisi kasur. Memberikan bagian Clara untuk tidur di sisinya.
“Masih ada kasur gulung gak? Aku tidur di bawah saja,” kata Clara celigukan. Andai dikamar itu ada sofa atau sejenisnya. Gadis itu rela tidur disana.
“Gak ada. Tidur di sini saja. Aku gak akan ngapa ngapain kamu. Janji,” kata Tama sambil membalik posisinya membelakangi Clara.
“Aku mau tidur pakai jaket. Gak boleh melewati bagianmu ya Mas!” kata Clara. Tama tersenyum
“Mau tidur lengkap pakai sepatu juga boleh kok,” jawabnya enteng. Clara diam tidak menanggapi.
Malam kian merangkak naik. Rembulan dilangit sana menunjukkan keanggunan dengan sinarnya yang kemilau. ditemani kerlip bintang dan pekat langit malam. Clara masih terjaga, walau sudah berusaha tidur. Selain karena tempat yang baru, juga karena tidak nyaman tidur satu kasur dengan Tama. Untung malam ini cukup dingin. Jadi Clara tidur dengan jaket pun masih aman tidak kegerahan.
Clara ingin pipis, tapi sepertinya kamar mandi di rumah ada dibagian belakang. Tidak per kamar seperti rumah Tama. Clara bangkit menuju belakang rumah. Alangkah terkejutnya karena kamar mandi terpisah dari bangunan utama. Gelap lagi. Tiba tiba bulu kudunya merinding. Sebagai gadis yang tumbuh di kota, pemandangan malam hari dengan penyinaran minim seperti ini cukup horor.
"Mas, temani aku pipis. Aku takut," kata Clara sambil menggoyang goyangkan tubuh Tama yang terlelap.
"Mas, serius aku takut. Udah mau keluar ini pipisnya," kata Clara lebih keras.
"Kamu masih aja penakut Cit, dari kecil sampai sekarang masih sama," kata Tama sambil mengucek matanya.
"Cit?" tanya Clara heran. Tama tersadar sepenuhnya. Terkaget karena wanita yang mengganggu tidurnya bukan Citra. Wanita yang baru saja dia mimpikan.
"Ccclara…. haaa mau pipis yaa. Yuk aku antar," kata Tama beranjak dari kasur. Clara mengekor di belakangnya.
"Kenapa kamar mandi terpisah dari bangunan rumah? Kalau malam atau hujan jadi ribet cuma mau pipis doang. Mana penerangannya minim. Serem tau," kata Clara ngomel ngomel.
"Kenapa kamu cerewet kaya nenek nenek," jawab Tama santai sambil menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Aku tunggu disini, cepet," lanjut Tama. Clara berlalu melewati Tama. Saat mereka bersisian ada suara burung gagak diatas mereka cukup keras. Clara terlonjak dan reflek memeluk Tama.
"Astaga!!! Kenapa horor begini," kata Clara menyembunyikan mukanya di dada Tama.
"Dasar penakut, selain cerewet kamu itu penakut juga ya Ma," kata Tama nyekikik sambil mengelus punggung Clara. Gadis itu tersadar dan segera mendorong tubuh Tama menjauh. Menuju kamar mandi dengan muka sebal.
Balik dari kamar mandi Clara melihat ramai ramai di depan jalan rumah Tama. Letak kamar mandi yang agak menyamping dari rumah, membuat Clara bisa melihat jalan didepan rumah Tama.
"Ada apa Mas?" tanya Clara heran. Tama menoleh sejenak kearahnya.
"Entahlah, kamu balik ke rumah. Biar aku cek," kata Tama langsung meninggalkan Clara begitu saja. Clara tetap mengekor di belakang Tama.
Mereka berdua menuju rumah depan Tama.
"Ada apa De?" tanya Tama pada orang yang akan masuk rumah.
"Mbah Jumi meninggal Mas," kata orang tersebut.
"Innalillahi wainnalillahi rajiun," ucap Tama dan Clara bersamaan. Keduanya pun masuk rumah itu.
"Kamu pulang aja," kata Tama saat mereka hampir sampai pintu masuk rumah.
"Seneng banget ngusir orang," jawab Clara tetep kekeh ikut masuk. Suara tangisan terdengar dari dalam rumah. Seorang sudah ditutup dengan kain jarik. Dan dua orang lain sudah menangis sesenggukan di dekat jenazah.
"Turut berduka Ndah, Man," kata Tama pada dua orang kakak beradik itu. Clara mengekor dibelakang Tama. Juga mengungkapkan kalimat duka cita.
"Apa Citra sudah tahu?" tanya Tama. Pada dua kakak beradik itu.
"Sudah Mas, Citra sudah menuju kesini," jawab mereka singkat. Melirik sebentar pada Clara yang berada disamping Tama. Gadis itu masih oglah ogloh. Belum sadar siapa yang mereka bicarakan barusan.
__ADS_1
Selanjutnya Tama terlibat Rewang dengan warga lain. Membersihkan rumah orang yang berduka dan lain lain. Menyuruh Clara balik kerumah saja untuk istirahat. Gadis itu menurut dan masuk rumah. Matanya juga sudah lengket minta ketemu sama bantal.