Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Berbicara dengan Tama


__ADS_3

Seminggu berlalu. Semua berjalan pada putaran waktu yang sama. Akan tetapi setiap insan berbeda menanggapinya. Ada yang merasa lambat karena terbelenggu kerinduan. Ada yang merasa cepat karena terkurung dalam kebahagiaan. Clara masih betah berada di rumahnya. Sudah mem block nomor Tama dari hpnya. Dia mau tenang dulu. Gak mau berurusan dengan pria yang masih berstatus suaminya.


Kebaya pink soft yang dipegang pengerjaannya sama Clara sedang proses finishing. Besok mau di coba pemiliknya. Yang katanya anak salah satu rekan kerja Pak Sidiq. Langganan butik ini memang kebanyakan gak jauh jauh dari dunia kepolisian.


“Beres Ra?” tanya Maya memastikan.


“Rendi Mbak, eh… redy. Tinggal besok fitting,” kata Clara sambil nyengir. 


Bel kecil di pintu butik berdenting. Menandakan ada seseorang yang masuk. Dua wanita punggawa butik itu langsung menoleh. Kompak melengos juga setelah tahu siapa yang datang.


“Selamat sore para bidadari… apa kabar kalian semua? Aku baik, cakep, dan berencana untuk terus jadi cakep,” kata Boby sambil nyengir menunjukkan gigi rapi putih berjajarnya. Boby si pengganggu. Ya, akhir akhir ini anak anak butik menjulukinya dengan itu. Bahkan Bu Nir pernah mengusirnya gara gara bikin kisruh saat butik lagi rempong rempongnya.


“Tugasmu kan ngajar bocah karate diluar sana Bob. Gak usah masuk butik sini,” kata Maya galak.


“Tapi tugas lainku adalah menghibur kalian. Aku gak mau kalian bersedih,” kata Boby sambil berdiri disamping Clara.


"Kita gak ada yang sedih. Jadi gak perlu hiburan," kata Clara.


"Sungguh? Aku senang sekali mendengarnya. Aku gak suka kesedihan menggelayut dimata indahmu,-" perkataan Boby berhenti karena Maya langsung pura pura muntah.


"Uwek… uwek…." Boby melirik sinis. Clara langsung nyekikik.


"Kamu penyakitan maag atau ngidam?" tanya Boby.


"Aku neg denger omongan kamu Bob," jawab Maya.


"Kalau gitu tak kasih uang. Beli permen pedas ke turki sana! Permen manisnya udah ada disini." kata Boby sambil melirik Clara. membuat Clara tersenyum kecil. Pocik berarti permen manis. Haaa panggilan lucu yang diberikan Boby dulu saat mereka masih ingusan. Pembicaraan absurd mereka berakhir saat anak anak sudah tiba di halaman. Boby terpaksa keluar dari butik dan mengajar bersama Kombes Sidiq.


Clara selesai dengan pekerjaannya. Berjalan keluar butik sambil melihat Boby yang dengan sabar memberi arahan pada anak anak. Ojek yang dia pesan masih belum datang.


"Ra, aku boleh bicara?" tanya Tama yang datang entah dari mana. Clara sampai terlonjak kaget. Kelu dengan mulutnya untuk menolak.

__ADS_1


"Yuk, mobilnya ada disana," ajak Tama lembut. Menunjuk mobil yang agak jauh terparkir dari butik. Enggan membuat keributan, Clara menjawab pelan.


"Aku rasa gak ada yang perlu dibicarakan. Aku akan menggugat cerai dan kita akan berpisah baik baik Mas," kata Clara. Melambai pada ojek yang sudah datang.


"Tapi aku mau bicara sama kamu! Plis beri aku waktu untuk bicara. Aku gak mau pisah dari kamu," kata Tama sambil mencengkram tangan Clara. 


"Lepas!!" kata Clara pelan. Tidak dihiraukan justru Tama semakin erat menggenggam tangan Clara.


"Lepasss!!!" teriak Clara.


"Gak!! Kita harus bicara!!!" kata Tama keras.


"Gak mau!! Lepas!! Aku gak mau bicara!!" suara Clara meninggi. Mereka sudah menjadi perhatian orang orang sekitar termasuk Pak Sidiq. Juga tukang ojeg yang bengong gak ngerti. Tama menarik tangan Clara untuk ikut. Clara menolak dengan tegas. Aksi tarik tarikan terjadi. 


"Woooii… jangan bikin keributan di rumah saya!!" bentak Pak Sidiq membuat Tama membeku.


"Kamu!! Jangan paksa pegawai saya untuk ikut kalau dia tidak mau," kata Pak Sidiq sambil mendekat.


"Saya suaminya! Saya mau bicara dengan istri saya," kata Tama ngegas.


"Clara, kamu mau bicara enggak?" tanya Pak Sidiq. Clara menggeleng dengan cepat.


"Naik ojek dan pergi!" perintah Pak Sidiq. Clara dengan cepat menurut. Tama berjalan cepat menuju mobilnya. Meninggalkan Pak Sidiq dan Clara begitu saja.


Baru keluar dari kompleks perumahan Pak Sidiq, motor yang ditumpangi Clara dipepet mobil Tama. Clara menghembuskan nafas jengah. Tama keluar terburu buru dadi mobil. Menyerahkan beberapa lembar uang merah pada ojol.


"Selesaikan saja rutenya. Ini buat Bapak," kata Tama. Menggandeng tangan Clara untuk mengikutinya.


Clara masuk mobil dengan sedikit paksaan dari Tama.


"Cih, andai kamu seberani ini dari dulu. Gak ada aku, Mbak Citra dan Daus yang tersakiti," kata Clara mengejek. Tama cuma melirik. Tidak menanggapi. Hening….. tidak ada pembicaraan apapun.

__ADS_1


"Cepat bicara kalau mau bicara," kata Clara sebal. Berbagi udara dan ruangan dengan Tama kini membuat Clara tersiksa. Rasanya sakit dan jijik. 


"Aku lagi nyetir, gimana bisa ngomong," jawab Tama.


"Yang nyetir kaki dan tanganmu. Mulutmu gak ikut nyetir," bantah Clara gak mau kalah.


"Ayo bicara baik baik Ma, bicara dengan kepala dingin. Jangan seperti ini. Berikan aku waktu bicara. Berikan aku waktu menjelaskan," kata Tama dengan lembut. Berharap besar agar Clara mengabulkannya. Clara menghembuskan nafas kasar. Ya benar. Mau tidak mau memang dia harus bicara bukan? Bahkan untuk bicara perceraian sekalipun.


Mereka pergi ke sebuah cafe mewah. Lagi lagi Tama mengambil tempat privat. Terus menggandeng tangan Clara seakan gak mau lepas. Takut Clara kabur dan meninggalkannya.


"Kamu mau pesan apa Ma? Makan malam sekalian ya.. kamu pasti belum makan malam," kata Tama manis sekali. Membuat pelayan yang menyodorkan buku menu senyum senyum mupeng. Andai dia punya suami semanis ini. Harapan didadanya.


"Aku gak minat makan atau berencana lama lama disini. Aku gak mau pesan apapun!" kata Clara ketus.


"Dua espresso dan dua mile rasa coklat Mbak," kata Tama cepat sambil menyerahkan buku menu. Pelayan mengangguk dan mencatat pesanan. Keluar ruangan sambil melirik sebal ke arah Clara. 


'Punya suami semanis itu, tapi istrinya ketus,' batin pelayan sambil berlalu. Dunia memang begitu. Yang terlihat di permukaan belum tentu yang terjadi sesungguhnya. Karena itu jangan mudah menilai dan menghakimi apa yang nampak sekilas saja.


Perbincangan berlangsung alot. Tama tetap mau bertahan dan Clara sudah jengah menahan.


"Beri aku kesempatan Ma, semua orang pernah berbuat salah. Apa kamu rela pernikahan ini bubar bahkan belum setahun pernikahan?" tanya Tama memelas.


"Belum setahun pernikahan saja aku sudah banyak kau sakiti Mas. Bayangkan kalau aku bertahan lebih lama. Aku bisa lebih kurus dari ini," kata Clara gemas. Tama merengkuh tangan Clara dalam dekapan tangannya.


"Beri aku satu kesempatan. Aku sudah mulai mencintaimu. Aku berjanji untuk tidak menemui Citra. Kamu juga salah sok sokan nyuruh Citra nemuin Daus," kata Tama sambil menggenggam erat tangan Clara.


"Aku janji untuk menjadikan kamu satu satunya dihatiku. Bantu aku melupakan Citra. Bantu aku Ma," kata Tama memelas. 


Clara menggeleng. Dia sudah memberi kesempatan. Berkali hatinya mencoba memaafkan, berkali hatinya tersakiti. Rasanya sungguh sakit. Kata kata Tama yang manis seperti ini pernah dia dengar…. Hasilnya dia memergoki Tama selingkuh dengan mudahnya.


"Bagaimana jika kalian bertemu lagi? Bagaimana jika takdir mempertemukanmu dengan Citra lagi. Apa aku harus dicampakkan lagi? Apa aku harus melihat kalian tidur berdua lagi?" tanya Clara pilu. Air mata yang sudah berusaha ditahan tahan luruh lagi. 

__ADS_1


Clara menarik tangannya dari dekapan tangan Tama. 


"Aku sudah berjuang Mas. Aku sudah berjuang sampai habis hatiku. Aku sudah berusaha menerimamu dan memaafkan semua kesalahanmu. Aku pernah berjuang, namun cuma aku yang berjuang. Kata katamu berusaha saling mencintai juga pernah aku dengar. Bagiku cukup. Sudah cukup," kata Clara kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan itu. 


__ADS_2