Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Panas!!!


__ADS_3

Hape Clara berbunyi. Video call dari Maya.


"Raaa… kamu jadi ambil peterban gak?" tanya Maya. Bu Nir dibelakangnya sambil dadah dadah.


"Bu Nir…. Mbak Maya…. Aku kangeeenn," kata Clara lebay.


"Mainlah kesini," kata Bu Nir sambil mengacungkan peterban langka yang Clara cari.


"Mauuu….," jawab Clara berpikir sejenak. Ah iya ini bukan jadwal Boby ngajar karate. Jadi dia tidak akan ketemu pria itu.


"Mau… Clara mau Bu, Clara dapat pesanan jahitan harus pake itu. Udah keliling toko toko jahit gak ketemu," curhat Clara.


"Kemarilah, nanti makan bakso bersama," kata Bu Nir yang juga kangen sama mantan anak buahnya. Padahal sudah tahu kalau Clara buka jahitan sendiri. Bukan memusuhi sebagai saingan, Bu Nir malah banyak membantu Clara untuk jahitan yang dirasa sulit.


"Otw," jawab Clara bersemangat.


Awalnya Clara mau datang sendiri, namun Rama ngotot ikut. Masih mau nempel kaya permen karet sama Clara. Akhirnya mereka disini. Di Depan butik Bu Nir yang Clara rindukan.


Belum juga masuk butik. Beberapa kendaraan ikut masuk pelataran rumah Bu Nir. Motor Revan, Nando dan Ine. Jantung Clara berdesir saat melihat mobil Boby diantaranya. Boby turun mobil dan tatapannya mengarah tajam pada Clara dan Rama. Clara menggenggam tangan Rama demi mendapat kekuatan bertahan. Bertahan dari rasa rindu pada Boby yang kian menjalari otaknya. 


"Siapa mereka?" tanya Rama yang ikut berhenti karena Clara juga berhenti.


"Anak buah Pak Sidiq," jawab Clara menarik tangan Rama masuk butik.


Rencananya Clara cuma mau ambil peterban dan kabur, tapi dicegah Bu Nir dan Maya.


"Udah kesini jarang jarang, sekali kesini cuma sebentar… belajar sombong kamu," kata Maya gak terima.


"Iya Ra, tunggulah sebentar… Ibu lho udah pesen bakso banyak. Nanti kita makan sama sama," kata Bu Nir. Terpaksa Clara tinggal sejenak. Sambil gosip sana sini. Termasuk Maya yang kepo sama Rama.


"Jadi kamu sama si Boba itu udah putus?" bisik Maya biar gak kedengeran yang lain. Clara diam sejenak. Bingung sama hubungannya dengan Boby.


"Entah," jawab Clara. Maya yang lagi asik ngobras langsung menoleh.

__ADS_1


"Lah, bocah iki piye to( lah, bocah ini gimana sih)??" tanya Maya heran.


Perhatian mereka tertuju pada pada seorang cewek sexy yang turun mobil bersama dua orang lelaki lain. Clara langsung menghela nafas jengah. Itu cewek yang di rumah sakit tempo hari. Yang monyong monyong sama Boby. Ketiga orang itu langsung masuk dan bergabung dengan para polisi. Yang entah lagi sibuk ngapain.


Bu Nir menyuruh mereka masuk untuk makan bersama tim Revan. Clara menolaknya… tapi apa daya…. Maya justru menariknya masuk.


"Aku mau lihat Boba itu kalau cemburu kaya apa," bisik Maya sambil nyekikik. Yang tahu persis Boby masih sangat mencintai Clara. Dan Clara saat ini membawa gandengan baru. Hiyaaa sepertinya asyik buat jadi tontonan.


Nando yang lagi minum langsung terbatuk saat melihat Bu Nir, Maya, Clara, dan Rama beriringan masuk ruangan. Clara dan Rama masih betah gandengan tangan.


"Makan dulu, bakso datang," kata Bu Nir santai. Belum mengerti kalau ada yang terbakar di antara mereka.


"Ndo, ambil kipas angin," perintah Revan sambil melirik Boby yang mukanya gak santai. Matanya lekat memandang Rama dan Clara yang duduk bersebelahan.


"Kurang kenceng acnya?" tanya Bu Nir.


"Nggak Bu, takut ada yang kepanasan," jawab Revan sambil nyengir. Yang lain menahan tawa. 


Rama langsung paham situasi. Mengawasi Boby dengan pandangan yang tidak bersahabat. Yang diawasi tidak gentar. Ikut melorok seakan siap menerima tantangan.


"Sayang… cobain bakso punyaku," kata Rama menyodorkan sendoknya kedepan bibir Clara. Terus menggantung dan semakin dekat dengan bibir Clara. Gadis itu terpaksa menerimanya. Membuka mulut untuk suapan Rama. Boby langsung melotot tajam. Sedang Rama merasa jadi pemenang.


"Enak kan?" tanya Rama.


"Ya rasa bakso Mas, masak rasa sayur asem," jawab Clara.


"Ada yang asem tapi bukan sayur," cletuk Maya. Mereka kembali tertawa.


"Jon, simpan pistol Boby," kata Revan.


"Kenapa Pak?" tanya Jon.


"Takut buat bunuh diri," jawab Revan. Semua orang tertawa dibuatnya. Untung Pak Sidiq dan Bu Nir gak gabung makan.

__ADS_1


Boby mendapatkan ide. Dia harus memastikan sesuatu. Gina juga tahu situasi. Tahu benar siapa Clara untuk Boby. Beberapa kali Mama Santi menceritakannya. Akan tetapi dia malas main main dengan tim narkoba ini lagi. Tadi saja dia datang untuk kepentingan mengambil gambar saat mereka rapat kembali. Untuk menentukan langkah mereka selanjutnya. Kalau bukan urusan pekerjaan Gina malas bertemu tim setan ini lagi.


"Gi, ambilin minum," kata Boby. Mukanya menoleh pada Gina, tapi matanya lekat melirik Clara. Gina dengan malas berdiri. Mengambil minum di dekat Nando.


"Makasih Gina sayang," kata Boby singkat. Matanya lekat memandang Clara yang berubah sendu. Haaa… dia yakin masih ada tempat.


Tawa dan canda terus mengalir di antara makan bakso itu. Boby yang jadi bahan bulan bulanan temannya.


"Ndo, sambelku kebanyakan, pedes," kata Ine menggapai gapai es teh disisi Nando. Pria itu tanggap mengambilkan es teh untuk Ine. Menukar mangkok mereka dengan suka rela.


"Mbak makan yang ini aja. Sambelku sedikit kok," kata Nando. Kemudian lanjut makan bakso bekas dari mangkok Ine tanpa canggung. Ine menatap Nando sejenak…. Dengan pandangan yang….. entah.


Boby menarik tangan Clara saat gadis itu membantu art Bu Nir menyingkirkan mangkok.


"Kak ini dirumah orang," kata Clara berusaha berkelit. Namun Boby justru semakin menariknya kedalam bagian rumah yang lain. Yang sudah dihafal. 


Mencium bibir Clara tanpa aba aba. Menyalurkan rasa cemburunya dengan ganas. Bodohnya Clara menanggapinya. Membuka mulutnya. Mengizinkan Boby mengacak acak mulutnya dengan gemas. Walaupun setelah ciuman mereka berakhir, pipi Boby pedas menerima tamparan keras dari tangan Clara.


"Jangan pernah melakukan paksaan lagi padaku!! Jangan dekati aku!! Kita udah punya pasangan masing masing!" kata Clara mencak mencak.


Boby tersenyum walaupun pipinya panas luar biasa. 


"Kamu masih mencintaiku Poc," kata Boby menahan lengan Pocik yang mau berlalu.


"Tidak, jika kau terus menjadi menyebalkan!!" kata Clara penuh emosi. Boby merasa kecil. Kata kata 'tidak' dari Pocik dan gandengan teman kampusnya yang terlihat anak baik baik. Haa siapa yang mau dengan pria bobrok seperti dirinya?


Revan melihat Boby kembali dengan lesu. Duduk di sampingnya dengan pandangan galau.


"Kenapa mukamu?" tanya Revan. Boby menggeleng. Revan melihat pipi Boby yang memerah. Juga sudut bibirnya yang tertempel lipstik. Gina tidak meninggalkan tempat.


"Habis ditampar Clara karena menciumnya?" tebak Revan tepat. Boby melongo. Revan tertawa kecil sambil menyerahkan tisu. Menunjuk sudut bibirnya sendiri. Boby langsung mengerti. Mengelap sudut bibirnya. Ada lipstik Clara yang menempel.


"Aku… tidak ada harapan Pak. Aku mengakui keburukanku pada Pocik kemarin. Kemudian kejadian Gina di rumah sakit, sekarang dia punya gandengan pria itu," kata Boby lirih dan sendu. Revan jadi tidak tega.

__ADS_1


__ADS_2