Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Cerita Nina


__ADS_3

Clara keluar dari dapur langsung dikejutkan oleh kehadiran Nina yang ternyata nyempil dibalik pintu dapur.


“Astaga…  aku kira penampakan Mbak,” kata Clara sambil ngelus dada. Nina nyengir. 


"Masa penampakan secantik aku Ra," jawab Nina.


“Aku pamit ya Mbak,” lanjut Clara berlalu cepat menuju halaman rumah.


“Kamu mau pulang naik apa?” tanya Nina mengikuti Clara.


“Ojek aja, gak usah nganter aku,” jawab Clara sudah on dengan hpnya.


"Aku antar, nanti ongkos ojek mu buat aku," kata Nina sambil menarik tangan Clara menuju mobilnya.


"Emang kamu kurang kaya?" tanya Clara saat mereka sudah masuk mobil. Nina tertawa ngakak.


"Kurang lah. Semua orang pasti merasa dirinya miskin. Mau punya rumah tujuh tingkat dan mobil tujuh puluh juga merasa miskin kalau gak nerimo," kata Nina. Clara cuma senyum menanggapi. Hatinya sedang kalang kabut. Agak sakit hati dengan ucapan Mbah Narti. Semua salahnya? Dia yang harus berjuang? Haaahhh persetan! Dia berjuang Tama gak ada usaha ya sama aja bohong. Mobil berjalan pelan keluar dari halaman rumah.


"Aku minta maaf karena kamu masuk dalam keluarga yang kacau ini," kata Nina memecah keheningan yang ada dalam mobil. Clara tersenyum menanggapi.


"Bukan salah kamu Mbak, aku yang salah karena memaksa masuk. Walaupun sudah tahu ada badai. Aku bahkan tahu Tama tidak mencintaiku saat menikah denganku," jawab Clara sambil menyandarkan kepala. Menghembuskan nafas perlahan dari hidung dan mulutnya. Menghirup oksigen banyak banyak agar pusing dan suntuk menghilang. Mengamati jalanan malam yang tenang. Tanpa hujan tanpa angin. Beda jauh dengan dirinya.


"Sebenarnya juga salah aku Ra. Kamu tahu kenapa percintaan Tama dan Citra ditolak keluargaku? Itu karena aku. Keluargaku mungkin sudah trauma dengan kisah cinta majikan dan pegawainya…." kata Nina mengawali kisah.


Nina juga jatuh cinta pada salah satu pegawai ayahnya yang bekerja di penggilingan padi. Cinta beda kasta itu berakhir di pelaminan. Mendapat restu keluarga full.


"Jarot tidak lagi bekerja sebagai pegawai bapak setelah menikah. Dia dipercaya bapak mengelola sawah dan tambak ikan di dekat waduk. Tempatnya cukup jauh dari desa ini, karena bapak sudah tua. Cukup capek mendatanginya," kata Nina.

__ADS_1


Dua tahun pernikahan Jarot justru menyelewengkan hasil sawah dan ikan. Uangnya habis untuk berjudi dan menyokong keluarganya sendiri secara gila gilaan. Padahal hasil tambak dan sawah itu cukup banyak.


"Bahkan sawah dan tambak ikan itu digadaikan dia sebelum pergi menghilang. Bapak sempat sakit karena memikirkannya. Kami berhasil menebus kembali tambak dan sawah itu dengan dana yang tidak sedikit," kata Nina sambil menghela nafas panjang. Kejadian itu juga berat untuk Nina.


"Lalu?" tanya Clara kepo.


"Lalu kita bercerai. Satu anak jadi rebutan hak asuh. Dia minta hak asuh karena akan kecipratan warisan kelak. Bukan karena sayang dengan anaknya. Akhirnya hak asuh jatuh di tanganku setelah perdebatan alot melalui jalur pengadilan…. Bodohnya…. Tak lama aku jatuh cinta lagi. Dan lagi lagi pada pegawai bapak,"


Nina dan Heri direstui sampai menikah. Akan tetapi Heri juga bukan pilihan yang tepat.


"Heri itu manja, mirip benalu malah. Hobinya foya foya dan bersenang senang dengan uang kami. Malas sekali bekerja. Suka dengan panggilan 'bos'. Jajanin teman sana sini padahal temanya toxic. Ah…. Tapi aku mau cerai lagi juga mikir. Masa iya janda dua kali. Biarlah asal dia anteng di tempat. Jadi suami dimuka publik. Terserah setelah itu. Aku sudah terbiasa tanpa kehadirannya," kata Nina sambil mengambil tisu di mobil. Menghapus titik bening yang mengganggu penglihatan. Clara menepuk bahu Nina menguatkan.


"Udah, sayang perawatanmu kalau nangis. Tarik benang dimatamu bisa kusut nanti. Mau aku hibur dengan menyanyikan lagu romantis?" tanya Clara sambil masih menepuk nepuk pundak kakak iparnya. 


"Apa?" 


"Kok munyok?" tanya Nina.


"Iya lah, kalau nyamuk kepleset mendarat di kulitmu Mbak," jawab Clara sambil nyekik. Nina ini memang lagi gila gilanya perawatan. Bahkan masih terlihat seumuran dengan Clara. Padahal jarak umur mereka jauh. Maklum, dia lah yang pegang semua bisnis bapaknya setelah meninggal. Gambaran juragan sawah, tambak, dan tuan tanah yang dekil gak ada sama sekali di dalam diri Nina. Sepenuhnya wanita itu tersentuh teknologi dan perawatan kecantikan.


"Kamu juga cantik dan mulus Ra. Alami malah. Aku heran aja kenapa adiku gak tergoda sama kamu. Mungkin benar katamu. Tama cuma bisa ngaa cceng sama Citra. Hahahaha," kata Nina. Yang ternyata mencuri dengar percakapan Clara dan ibunya. Clara cuma tersenyum kecut.


"Lepaskan saja adikku Ra. Siapa yang tahan dengan lelaki macam itu. Bukan salah kamu. Ibuku salah kalau hanya menyalahkan kamu. Pernikahan ini yang salah dari awal. Cari pria lain yang membuat kamu bahagia. Tapi kumohon pikirkan sekali lagi. Aku suka adik ipar kaya kamu. Sedikit gila dan cuwawakan. Kalau Citra terlalu kalem," kata Nina sambil melirik sejenak kearah Clara. Yang dilirik matanya berbinar binar. Baru ini ada keluarga Tama yang mendukungnya.


"Makasih Mbak," ucap Clara pendek.


"Tapi kumohon pikirkan lagi. Aku yakin Tama juga mencintaimu. Dia memohon kita mau bicara denganmu kemarin. Dia…. Terlihat merindukanmu dan menyesal. Yahh… walaupun aku mengakui Tama memang pengecut," kata Nina lagi.

__ADS_1


"Haaa bagaimana satu hati ditempati dua cinta Mbak?" jawab Clara sambil menghela nafas.


"Bisa asal kamu mau dimadu. Hahahaha,"


"Aku pilih jadi janda daripada dimadu. Kenapa namanya madu. Padahal rasanya tidak manis sama sekali?" tanya Clara.


"Kamu gak enak, tapi buat laki lakinya kan enak," kata Nina.


"Berarti gak adil dong," kata Clara lesu.


Hening…..


Mereka sudah sampai didepan rumah Clara. Nina mengerem mobilnya. 


“Aku berjanji untuk menyatukan Citra sama Tama kalau kamu berencana mundur, tapi aku gak yakin. Karena Tama itu pengecut dan juga nampak mencintai kamu Hahahaha,” kata Nina jujur sekali.


Clara turun dari mobil setelah cipika cipiki sama Nina.


"Tetaplah jadi adiku walaupun semuanya berakhir," pesan Nina sebelum Clara berlalu masuk rumah.


Clara masuk rumah dengan keadaan lelah. Lelah fisik dan pikirannya. Bicara dengan keluarga Tama membuatnya semakin pusing. Entahlah…. mandi dan tidur. Berharap semua ini mimpi. Clara ingin terbangun menjadi clara gadis SMK Tata Busana. Berangkat sekolah  dengan semangat. Permasalahannya hanya mata pelajaran yang susah dimengerti oleh otaknya yang kecil ini. Tidak pelik seperti sekarang ini. 


Otaknya masih berputar putar. Bahkan saat dini hari. Clara berselancar di sosmednya. Mencoba mendengarkan musik. Hasilnya sama. Matanya seger gak ngantuk. Pikirannya penuh. Akhirnya Clara membuka chat Boby yang seharian sengaja diabaikan. Isinya menanyakan kabar, ngirimin video lucu dan lain lain. Clara membuka satu satu. Lumayan bisa tertawa.


'Ayo tidur!' Chat dari Boby karena dia terlihat online.


'Oke.' Jawab Clara singkat.

__ADS_1


__ADS_2