Akulah Pelakornya

Akulah Pelakornya
Tama dan Citra


__ADS_3

“Citra,” ucap Tama saat mellihat wanita itu berdiri diambang pntu rumahnya. Clara menoleh ke arah Tama. Melihat Suaminya takjub dengan adanya Citra dirumahnya. Bahkan Clara masih melihat binar cinta Tama. Pandangan yang tidak pernah ditujukan Tama kepadanya. Bagaikan luka yang ditambah kucuran air jeruk. Hati Clara pedih seketika.


“Maaf, aku sudah memberitahumu untuk datang kesini Mbak, tapi hpmu gak aktif. Suster Wiwik juga sudah menghubungimu dan Tama, tapi hp kalian kompak gak aktif. Jadilah aku menemui Daus tanpa seijinmu,” penjelasan Citra entah mengapa terlihat menyebalkan di telinga Clara. Gadis itu cuma diam. Memandangi Daus yang anteng dalam dekapan Citra. Biasanya bocah itu langsung merengek minta gendong saat Clara pulang. 


“Gak papa, nikmati waktumu Mbak,” kata Clara segera berlalu masuk kamarnya.


"Aku mau pamit pulang sekarang Mbak," kata Citra sebelum Clara sampai kamar. Clara cuma mrngacungkan tangan membentuk tanda oke.


Hujan sudah turun dengan derasnya. Bahkan dengan sedikit angin yang mempermainkan. Tama sampai didepan Citra.


“Masuk dulu, hujannya lebat,” kata Tama pada Citra.


“Ini udah malam Tam, aku mau pulang saja,” kata Citra menghindar. Sesuai janjinya pada Clara, Citra akan menghindari Tama sebisanya. Asal dia diperbolehkan bertemu Daus, itu sudah cukup untuk Citra.


“Kamu mau kemana hujan badai begini Cit?” kata Tama khawatir.


“Pulang, Aku bawa motor kok,” kata Citra sambil menunjuk motor bebek yang terparkir di halaman.


“Nanti dulu, tunggu hujannya reda,” Tama mencoba mencegah Citra. Citra menggeleng pelan. Sepertinya penghuni rumah ini tidak baik baik saja. Mata Clara sembab seperti habis menangis. Citra tidak ingin mengganggu. Citra menyerahkan Daus pada Sus Wiwik. Menciumi Daus banyak. Kemudian pamit diiringi dengan tangisan Daus yang tidak mau pisah dari ibu kandungnya.


“Aku antar kalau begitu,” kata Tama tidak tega CItra hujan hujanan. Menarik tangan Citra menuju mobilnya.


"Aku bisa pulang sendiri Tam," kata Citra, namun tidak dihiraukan Tama.


Tama tetap mengantar Citra walaupun dengan protes keras. Akhirnya disinilah Citra, duduk berdampingan semobil dengan Tama.

__ADS_1


“Aku gak enak sama Mbak Clara kalau begini. Dia udah baik banget ngizinin aku ketemu Daus. Aku gak mau dia mikir yang macam macam sama kita Tam. Dia wanita yang baik,” kata Citra. Tama tersenyum kecut.


"Dia tetep mikir kita yang macam macam. Aku udah bikin dia marah banget tadi. Dan itu semua salah kamu. Kamu harus tanggung jawab," kata Tama sambil menepikan mobil di kost yang dia miliki. Rasa bersalah menghantuinya, namun rasa cinta dan rindunya pada Citra lebih besar.


"Tam, kita kemana? Gak aneh aneh deh!! Antar aku pulang!!" kata Citra gusar. 


Tama terus melajukan mobilnya memasuki gerbang kost dan berhenti di depan kamar kost ujung. Yang setahu Tama masih kosong. Mengambil kunci di atas lubang angin angin pintu dan menyeret Citra masuk kedalam. Selanjutnya Tama mencurahkan segala rasa di dadanya bersama Citra. Menciumi Citra dengan ganas.


"Tam, sudah!!! Ini dosa," teriak Citra mencoba mengelak. Mendorong dada Tama menjauh.


"Kenapa cinta kita selalu menjadi dosa Cit? Kenapa hati kita selalu jadi korban? Aku sudah berusaha melupakanmu Cit! Usahaku sekeras apa untuk melupakanmu!! Aku sudah mencoba Cit!!! Sudah mencoba dengan keras!!" teriak Tama dengan mata merah. Butiran air bening menetes di sela sela matanya. Citra tercengang melihatnya. 


"Aku sudah memilih Clara sebagai istri. Bahkan dua kali lihat saja orang lain akan jatuh cinta dengan gadis itu. Dia gadis yang mudah di cintai. Tapi aku tidak bisa mencintainya! Aku tidak bisa gara gara kamu!!! Kamu Cit!!! Kamu yang selalu ada dihatiku!!! Kenapa dunia menolak cinta kita!!!" kata Tama dengan emosional sekali. Memukul lemari plastik yang menjadi fasilitas kost kemudian membantingnya ke lantai.


Citra menepi di pojok ruangan. Membiarkan Tama melampiaskan emosinya. Citra mengerti. Sangat mengerti apa yang dirasakan Tama. Perasaannya kurang lebih juga seperti itu. Walaupun dia tidak bisa mengungkapkan sedrastis Tama. Pria dihadapannya ini memang selalu mengisi hatinya. Bahkan sejak kanak kanak. Pria ini yang mengajarkan rindu…. Juga cinta yang tak bisa dimiliki. Yang mematahkan hatinya berkali kali, namun cinta di hatinya juga tetap utuh.


"Aku mengerti… aku mengerti. Aku juga cinta kamu Tam. Cintaku juga masih utuh," kata Citra sambil sesenggukan.


***


Suara gaduh dalam kamar kos pojokan mengganggu penghuni kos lain. Termasuk Hani.


"Itu bukannya mobil Pak Kost? Bawa cewek lagi," kata Hani yang sudah ngincer sejak ada mobil memasuki halaman kost. 


"Iya, kayaknya berantem…. Ih gak denger gara gara hujan. Mendekat yuk," ajak Mita yang sama keponya. Akhirnya dua orang itu mendekat. Sedikit banyak nguping pembicaraan mereka. 

__ADS_1


"Astaga… kasihan Clara," gumam Hani.


"Dah lah Han, bukan urusan kita. Yok balik kamar," bisik Mita sambil menggandeng tangan Hani. Menjauhi kamar, menuju kamar mereka sendiri.


Hani ada dikamarnya sambil mondar mandir. Sesekali mengecek kamar pojokan. Belum ada tanda tanda penghuninya keluar. Padahal suara teriakan juga sudah tidak terdengar.


"Apa yang mereka lakukan di kamar?" gumam Hani kepo.


Hani kembali mengetuk kamar Mita setelah satu jam berlalu dengan tenang. Hujan juga sudah reda.


"Mit, mereka belum keluar," bisik Hani pada Mita yang udah siap siap tidur.


"Yaudah gak usah kepo. Lagian dia bapak kost disini. Mau apa kamu?" kata Mita.


"Tapi kasihan Clara kalau gini," kata Hani sungguh sungguh. Dia prihatin pada teman somplaknya.


"Kira kira ngapain mereka udah satu jam lebih diem diem bae. Padahal tadi sibuk saling teriak?" tanya Hani.


"Main monopoli kali apa uler tangga?" jawab Mita asal.


"Edan apa dua orang saling mencintai dikamar main uler tangga!! Yang ada maen uler gondrong!" kata Hani.


"Nah tu tahu, ngapain masih diperjelas? Udahlah, bukan urusan kita," kata Mita. Hani balik kamar dengan sebal.


Separuh hatinya kepo, separuh hatinya kasihan sama Clara. Akan tetapi bukankah keponya baik? Kalau dia kasih tahu Clara apa yang terjadi, dia gak salah. Dia menyampaikan kebenaran.... Dan... Mungkin akan ada hot gosip baru. Bapak kost di grebek ibu kost bersama wanita lain. Haaaaa.... Mungkin seru. Tapi dia masih ragu memberitahu Clara. Temannya pasti terluka. Mungkin nanti dia juga bisa diusir dari kost ini. Hani bingung sendiri.

__ADS_1


Dua jam berlalu. Bapak kost masih anteng dikamar. Hani tidak tahan lagi. Dia mengambil ponselnya. Dering beberapa kali kemudian diangkat.


"Beb, aku mau kasih tahu kamu......"


__ADS_2