
Clara pulang ngampus langsung menuju rumah orang tuanya. Rencananya dia mau nginep disana. Agar Boby nanti enak jemputnya. Gak harus putar putar kota. Mengingat besok nikah kantor dan jarak rumah Clara dan rumah orang tuanya cukup jauh.
"Eh, calon manten… tambah berseri seri aja mukanya," sapa Hani ceria. Senang sekali adik iparnya nginep disini. Berencana tidur bertiga nanti sama Rina, Clara, dan Hani. Pillow talk sebelum tidur sepertinya asyik.
"Eh, kakak ipar somplak… mana suamimu?" tanya Clara celingukan mencari Tito.
"Masuk siang lah," kata Hani. Sejak menikah, Tito menetap kerja di pabrik sedang Hani memutuskan resign. Ketentuan pabrik mereka memang tidak mengizinkan suami istri satu kerjaan. Sekarang dia kerja satu tempat sama Rina.
Malam menjelang. Mereka sudah menggelar kasur di depan tivi. Berebut guling kesayangan kayak bocah. Ibu dan ayah cuma bisa geleng geleng kepala. Jarak umur mereka memang tidak jauh. Rina seumuran sama Hani. Sedang Clara hanya selisih setahun sama Rina. Clara tidur memeluk Hani. Mengusap perutnya.
"Ini sudah ada keponakanku belum sih?" tanya Clara.
"Entah, jangan tanya keponakan deh. Tanya prosesnya bikinnya aja gimana??" bisik Hani setengah gila. Akan tetapi Rina dan Clara justru mendekat kearah Hani. Dua gadis itu kepo sama proses pembuatan keponakan.
"Katanya sakit ya?" tanya Rina. Clara manggut manggut. Dirumah ini sudah menjadi rahasia umum kalau Clara ternyata belum tersentuh Tama. Clara sendiri tidak cerita, tapi Hani yang tahu dari Jesi.
"Sakit, perih, berdarah, sampai beberapa kali rasanya sama, sampai susah buat jalan….. tapi habis itu rasanya nikmaatt… geli, enak, nagih," kata Hani. Dua gadis di sebelahnya tambah melongo. Belum bisa mengerti rasa yang dilukiskan Hani.
"Kita digigit, tapi gak sakit. Kita di tunggangi tapi jalannya menuju surga dunia. Rasanya melayang terbang ke awang awang. Nikmatnya melebihi apapun yang pernah kalian nikmati," kata Hani. Entah mengapa tubuh Clara langsung merinding hebat. Teringat permainan Boby saat di tepi pantai dulu. Rasanya mau lagi. Ah… ini gila. Ada apa dengan tubuhnya???
"Ah, udah ah tidur," kata Rina. Tidak tahan melanjutkan.
"Rasanya beda. Tersentuh dengan nikmat," kata Clara sambil senyum senyum. Dua orang yang bersamanya langsung menoleh.
__ADS_1
"Udah pernah? Sama yang mana?" tanya Hani. Clara tergagap sendiri. Dia bisa membongkar rahasia dapurnya yang paling belakang kalau begini.
"Ah, udah tidur!!! Bikin panas dingin. Dasar Ipar edan!!" kata Clara menabok lengan Hani.
"Ya nasib…. ya nasib…. Hampir dua kali dilangkahi Clara. Tito yang kayak gitu juga udah punya istri. Apa daya….. jodohku masih misteri Ilahi," kata Rina. Hani dan Clara tertawa ngakak.
"Kalau tiga kali dapat piring cantik pasti," komentar Hani.
"Cangkemu Han!! Kamu doain aku janda dua kali!!" kata Clara kesal. Memukulkan guling ke muka Hani. Mereka akhirnya jejeritan saling pukul guling. Sampai ditegur Ayah karena hari kian malam.
***
Sanggul sederhana menghiasi rambut Clara yang kecoklatan. Kebaya merah maroon membalut tubuhnya. Make up tipis tipis dipoles membuat kecantikan Clara semakin bersinar. Boby melongo melihat Clara. Sampai ditabok Tono yang ikut turun mobil.
"Ngedip! Awas kemasukan laler mulutmu," kata Tono sambil nyekikik. Kebiasaan Boby melongo saat melihat cewek bening emang semakin parah.
"Satu pesan saya buat Mbak Clara. Pokoknya lihat depan saja. Kalau lihat belakang anda akan tersadar lelaki macam apa yang sudah anda nikahi," kata Pak Sidiq. Seisi ruangan langsung tertawa. Boby itu terkenal sebagai playboy di seluruh penjuru kantor. Mantannya di polres itu saja bisa lebih dari tiga.
Mereka bergandengan keluar dari ruangan. Tanpa diduga teman teman tim Revan menunggu. Mengguyur Boby dengan tepung dan air.
"Play boy laku!!! Play boy laku!!!" teriak mereka. Benar benar merayakan lakunya Boby dengan meriah. Clara tidak terkena tepung. Dia sempat ditarik Ine sesaat sebelum Boby ditepungin. Pak Sidiq keluar ruangan. Ikut memukul dada Boby dengan seplastik kecil tepung.
"Habis ini kamu harus tobat!!" kata Pak Sidiq kemudian berlalu. Bu Nir cengar cengir dibelakang suaminya. Ternyata Revan sudah meminta izin Pak Sidiq melakukan kegaduhan ini. Kalau bukan Revan pasti tidak diizinkan.
__ADS_1
Boby mandi di kantornya. Mencomot baju ganti milik Jon. Clara setia menemani. Meskipun diajak Tono ikut pulang. Selesai mandi Boby kembali mencomot motor Revan dan berboncengan pulang sama Clara.
"Kok kesini? Aku kan sudah bilang ke rumah ibu. Motorku disana," kata Clara protes. Jalan yang dilalui Boby menuju rumah pribadinya.
"Kalau dirumah ibu, aku gak bisa numpang tidur. Aku ngantuk," jawab Boby. Yang katanya nanti malam ada penangkapan lagi.
"Kenapa penangkapan selalu di malam hari? Kan gelap, ngantuk lagi?" tanya Clara sambil bersandar pada punggung Boby dengan nyaman.
"Kalau siang nanti dikira depcolector, kalau mau terang ya tinggal nyewa genset hajatan," jawab Boby setengah kopling. Clara mencubit perut Boby.
"Serius Kak. Aku kan kepo," kata Clara.
"Karena menunggu lengah Sayang. Tersangka pasti istirahat kan. Juga para tetangga atau anak buahnya yang lain. Menghindari kerumunan dan bocor informasi saat di TKP," jelas Boby. Clara manggut manggut.
"Tapi kan kalian juga capek Kak," kata Clara.
"Aku lupa rasanya capek, karena hal yang paling capek menurutku adalah mengejar cintamu," gombalan Boby meluncur sempurna. Clara semakin mengeratkan tangannya di pinggang Boby.
Mereka sampai dirumah Clara. Boby sudah nyaman menyalakan kipas di kamar Clara. Sedang gadis itu sibuk ganti baju dan menghapus makeup. Clara meninggalkan Boby saat pria itu sudah setengah tidur. Berencana untuk menjahit.
"Poc, temani aku tidur. Aku mau tidur dipeluk kamu," kata Boby sambil melambai lemah. Mukanya sudah ngantuk sekali. Clara melihatnya merasa lucu. Mirip bocah minta dikeloni ibunya.
Clara akhirnya berbaring di samping Boby. Lelaki itu langsung nyungsep di dada Clara dengan nyaman. Clara mengelus rambut Boby yang lebat. Tipe rambut yang berbeda jauh dari rambutnya yang tipis dan ikal. Boby memiliki rambut lurus, hitam dan tebal. Tak berapa lama Clara merasa dadanya basah. Boby tidur dengan mulut terbuka dan air liur yang mengalir deras. Clara menahan tawanya sekuat tenaga. Agar tidak mengganggu bayi tua yang tidur nemplok dengan nyamannya. Walaupun tidak bisa menghindari saat tubuhnya bergetar menahan tawa.
__ADS_1
"Tidurlah Kak, aku mencintaimu. Aku juga akan terus berjuang untuk mendapatkan restu yang sesungguhnya. Doakan aku," kata Clara sebelum mencium sayang rambut Boby. Kemudian ikut memejamkan matanya dengan nyaman.
'Restu??? Yang sesungguhnya????' batin Boby. Dia sebenarnya terbangun karena tubuh Pocik yang bergetar, namun tetap mempertahankan posisi. Ah, sudah… nanti dia cari tahu. Sekarang tidur saja dulu. Boby merasa ini adalah posisi ternyaman untuk tidur.