
Tama pulang ke rumahnya sendiri setelah mengantar Clara kembali ke rumahnya. Ibu Tama melihat anaknya pulang dengan cerah.
“Ibu setuju kamu nikah sama Clara. Dia gadis yang baik menurut Ibu,” kata ibunya begitu Tama masuk rumah.
“Aku mau lihat Daus,” kata Tama sambil berlalu. Tidak peduli dengan gadis baik yang disebut ibunya. Tama benar menemui Daus yang ada di kamarnya. Bocah berusia setahun itu sedang main sama tukang momongnya. Langsung tersenyum girang saat melihat Tama masuk.
‘Apa…apa …apa…” celoteh Daus. Sambil merangkak ke arah Tama.
“Anak Papa… udah mandi yaa harum banget,” kata Tama sambil mengangkat Daus ke dalam gendongannya. Mereka kemudian sibuk main berdua. Susternya bilang Daus agak rewel tadi setelah Tama pergi. Tama juga merasakan tubuh Daus agak hangat.
Semakin malam tubuh Daus semakin terasa demam. Bocah itu juga rewel setengah mati. Tama dan tukang momong Daus sudah bingung berdua.
"Kita bawa kerumah sakit Mbak Sus!" Kata Tama sambil menggendong tubuh Daus keluar rumah. Demamnya sudah 39 lebih.
Suasana rumah sepi sepi saja. Kamar Nina, kakak perempuan Tama tertutup rapat. Bahkan kakaknya itu tidak tahu Daus sakit. Tama menghela nafas panjang. Hatinya sebenarnya perih kalau seperti ini. Kenapa keluarganya mengambil Daus kalau begini? Kenapa tidak membiarkan Daus bersama ibu kandungnya dan…. Mereka bersama. Ah…. Citra…. Sekilas wajah ayu itu kembali memenuhi pikiran Tama.
Sampai dirumah sakit Daus diberikan obat penurun panas di bagian duburnya. Lelaki kecil itu menangis ketakutan di pelukan Tama.
"Kenapa Daus sering seperti ini Dok?" tanya Tama pada dokter yang berjaga.
"Demam karena banyak faktor Pak, imun tubuh bayi masih belum terbentuk dengan baik. Adek minum susu formula?" tanya dokter sambil melirik botol susu yang dipegang suster Daus.
"Iya Dok, anak saya memang minum susu formula," jawab Tama.
__ADS_1
"Susu formula tidak mengandung umun sebaik ASI, kenapa tidak ASI?" tanya dokter yang lagi lagi membuat hati Tama jatuh.
"Saya dan istri berpisah Dok," jawab Tama singkat dan lirih. Dokter tidak lagi bertanya melihat raut sedih Tama.
Mereka diizinkan pulang setelah mengambil obat Daus. Anak itu kini tidur dipelukan susternya. Tama melirik sekilas sambil terus menyetir mobilnya.
"Tidurlah Mbak Sus, nanti sampai rumah saya bangunkan!" perintah Tama. Dia kasihan pada wanita setengah baya itu. Hari harinya full mengurus Daus dari pagi sampai pagi. Walaupun bayaran yang diterima juga tidak sedikit tentunya.
"Enggak Pak, sebentar lagi sampai rumah. Tidur dirumah saja," jawab Suster Wiwik. Tama tersenyum.
"Terimakasih sudah merawat Daus dengan tulus. Tidak ada lagi yang peduli dengan anak ini selain kita berdua," kata Tama getir.
Mereka tiba di rumah dini hari. Panas Daus langsung turun drastis. Tama memutuskan tidur bersama Daus malam ini. Sus Wiwik tidur dikamarnya. Tama membelai pipi gembil bocah itu. Kontur wajah, hidung dan alis bocah itu mirip Citra, ibunya. Sedang mata dan bibirnya mirip Tama. Daus benar benar perpaduan mereka.
***
Clara senyum senyum bahkan saat hari sudah malam. Hari yang menyenangkan baru saja dilewati. Mengenal keluarga Tama membuat gadis itu berbunga.
"Itu artinya Tama serius sama kamu," komentar Ibu dan kakak perempuannya saat cerita hari itu dia berkenalan dengan keluarga Tama. Ah…. Tama yaaa…… ada gitu orang yang menyukainya dengan cara unik. Gak pakai babibu, kemudian nembak. Gak pakai babibu, kemudian ngenalin ke orang tua. Memikirkannya saja membuat Clara kembali senyum senyum. Kakak perempuannya padahal sudah ngorok disampingnya dari tadi.
Clara melihat hpnya. Belum ada balasan dari Tama sejak pesan terakhir dia kirimkan. Berisi ucapan selamat tidur dan terimakasih untuk hari yang menyenangkan. Tama memang bukan tipe pacar posesif yang minta kabar tiap menit. Dia bahkan jarang berhubungan dengan Clara lewat hp. Percakapan mereka terbatas saat bertemu muka. Tidak masalah…. Mungkin memang tipe orang yang begitu. Yang penting dia serius. Bahkan mau mengenalkan keluarganya di dua kali kencan mereka. Clara tertidur malam itu dengan perasaan berbunga.
***
__ADS_1
esoknya dua insan itu bertemu dengan suasana hati yang berbeda di tempat kursusan. Clara dengan senyuman di wajahnya dan Tama dengan ngantuk di matanya.
“Mas Tama kok kelihatan ngantuk banget. Semalam tidur jam berapa?” tanya Clara khawatir. Melihat lingkaran hitam di mata Tama terlihat cukup gelap.
“Aku tidur dini hari, Daus kemarin panas. Tengah malam dibawa kerumah sakit. Syukurnya masih boleh dibawa pulang,” jawab Tama.
“Kamu ikut bawa kerumah sakit Mas?” tanya Clara takjub.
“Iya lah, aku Papanya,” kata Tama yakin. Clara semakin tergila gila dengan pria disampingnya itu. Selain serius dia ternyata sangat sayang dengan keponakannya.
‘Sama punakan aja sesayang itu, apalagi sama anak dan istrinya nanti.’ batin Clara berbunga bunga.
***
Minggu pagi tiba. Clara sudah bersiap dengan celana jeans dan kaos oblongnya. Katanya Tama akan berkunjung kerumah hari ini. Menyuruh Clara dandan yang cantik. Gadis itu mengira dia akan diajak piknik lagi atau kencan kemanaaa gitu.
Ternyata yang datang satu mobil dengan Full orang didalamnya. Clara shock dengan tamu itu. Tama membawa Ibu, Kakak perempuan beserta suami dan dua anaknya, juga pembimbing kepanjangan yang kemarin berdebat dengan Clara. Yang ternyata adalah pakdenya Tama.
"Mas, kok bawa banyak orang?" tanya Clara pada Tama yang baru turun dari mobil. Yang ditanya nyengir kuda menunjukkan gigi putih rapinya.
"Maaf Yang, gak bilang dulu, tapi aku mau kasih kejutan buat kamu. Aku hari ini mau ngelamar kamu," jawab Tama santai tanpa merasa bersalah sama sekali. Clara sampai melongo dibuatnya. Gadis itu diam dengan mulut terbuka beberapa saat sebelum tersadar karena semua tatapan keluarga Tama tertuju padanya.
"Astagaaaa astagaaaa…… Mas, kamu gila….. Ibuuuuukkkkk!!!" teriak Clara sambil masuk rumah. Bahkan gadis itu tidak mempersilahkan para tamu masuk dulu. Tama tertawa dengan ekspresi Clara yang kocar kacir.
__ADS_1
Orang rumah shock dengan tamu tanpa rencana itu. Ibu Clara menerima tamu dengan daster rumahan dan Ayah Clara hanya pakai celana pendek dan kaos oblong yang beliau pakai dadakan tadi. Benar benar kontras dengan tamu yang datang dengan pakaian resmi dan batik.